Istri Untuk Fernando

Istri Untuk Fernando
47


__ADS_3

Fernando sibuk bekerja, entah di Bali atau di Lombok, lelaki itu mondar mandir kesana kemari, bahkan proyek yang di Malang, hanya diawasi oleh Bagus asistennya sesekali.


Lelaki itu benar-benar sibuk, hingga dua bulan berlalu Fernando belum juga bertemu dengan kekasihnya, di jeda waktunya bekerja, ia masih menghubungi wanita itu, tapi nomor ponselnya masih belum aktif dan ratusan pesan yang ia kirimkan masih cek list satu.


Hingga pekerjaannya senggang, ia baru bisa menghubungi uminya untuk bertemu di Malang.


Akhirnya ia bersama umi Fatimah, Tante Susi, Tante Anna dan Rani, akan menyambangi langsung kediaman orang tua kekasihnya itu.


Namun betapa terkejutnya rombongannya, mendapati wanita pujaannya tidak ada di rumah orang tuanya, bahkan sudah lima bulan lebih Rara tidak pulang.


Bapak dari Rara menanyakan siapa sebenarnya lelaki itu, tentu saja Fernando mengaku kalau dirinya adalah pacar putri bungsunya.


"Jadi gara-gara kamu, anak bungsu saya membatalkan pernikahannya dan lari bersama kamu?"tanya Bapak mulai emosi.


Fernando tersenyum, " bahkan Rara sudah hamil anak saya pak,"


Mendengar hal itu bapak tak bisa lagi menahan emosinya, secara membabi buta, ia memukuli Fernando, Umi Fatimah hanya diam ketika putra semata wayangnya dipukuli, hingga Dika datang melerai setelah istrinya memberi tahu kedatangan lelaki blasteran itu.


Usai kondisi mulai tenang, umi Fatimah angkat bicara, beliau bercerita, jika selama dua bulan Rara tinggal bersamanya, juga berniat menjadikan Rara menantunya,


Sempat ada penolakan keras dari bapak juga Dika, namun hal itu dibungkam oleh Fernando,


"Kalau kalian berdua menentang pernikahan saya dengan Rara, saya akan bawa kasus pemukulan yang anda lakukan ke  jalur hukum,"setelah mengatakan itu, Fernando menghubungi Alex untuk melaporkan kasus pemukulan yang menimpanya.


Umi Fatimah sempat protes, tapi selanjutnya beliau tidak bisa berbuat banyak, Anna dan Susi berusaha menenangkan umi Fatimah.


Tak mendapatkan hasil yang diinginkan, Fernando menelpon Alex kembali, untuk mencari tau, keberadaan kekasihnya yang tiba-tiba menghilang.


Lelaki itu kembali ke Jakarta.


Namun baru tiba di bandara, Fernando kembali memesan tiket pesawat untuk jurusan Kalimantan dimana kakak tertua wanitanya tinggal.


Di sana ia diperlakukan sama dipukuli, dan lelaki itu hanya pasrah, namun dengan itu juga ia mengancam akan memenjarakan kakak pertama kekasihnya jika tidak memberitahukan keberadaan kekasihnya.


Pulang dari Kalimantan ia kembali ke Bali, lagi-lagi urusan pekerjaan yang harus ditanganinya.


Tujuh bulan berlalu, ia tidak bertemu dengan kekasihnya, rasa rindu menggerogotinya, rasanya tersiksa sekali.


Sempat beberapa waktu yang lalu, Alex melaporkan penarikan uang dalam jumlah besar dari rekening milik Rara, tapi setelah disambangi ke tempat dimana uang itu ditarik, tidak ada petunjuk apapun, hanya terlihat saat wanita itu mengambil uang itu, setelah keluar, tidak ada CCTV yang bisa melacak kemana wanita itu pergi.


Fernando kembali ke Jakarta, ia mendengar dari Rama juga Alex, jika istri sahabatnya kabur, ia tidak terlalu tau detailnya, yang ia tau, Benedict terpuruk akibat menghilangkannya istrinya, bahkan sahabatnya itu, menetap lama di negara ini.


Kebetulan Fernando akan mengecek villa yang di Bogor sekalian berniat mengunjungi kampung halaman uminya.


Fernando menyetir sendiri mobil SUV miliknya, namun saat sedang di lampu merah, ia melihat seorang wanita yang sedang hamil berboncengan, wanita yang membuat sahabatnya terpuruk.


Ia mengikuti kemana motor itu melaju, hingga menuju restoran cepat saji, motor itu berhenti, kedua perempuan itu memasuki restoran cepat saji itu.


Fernando diam sejenak didalam mobil, kaca tembus pandang dari dalam restoran mempermudah dirinya mengamati, setiap aktifitas istri dari sahabatnya, hingga Fernando tak sabar untuk tidak menghampirinya.


Terlihat wajah terkejut wanita hamil itu, meskipun ia jarang akur dengan Benedict, tapi melihat sahabatnya terpuruk ia jadi ikut kesal, rasanya ingin sekali menghajar wanita penyuka cokelat itu.


Ia juga memaksa mengantarkan wanita hamil itu ketempat dimana selama ini, Ayudia tinggal, betapa terkejutnya dirinya ternyata selama ini Tante Anna yang tak lain ibu kadung dari sahabatnya menyembunyikan keberadaan menantunya.

__ADS_1


Fernando mau tak mau ikut serta dalam drama rumah tangga sahabatnya, sebenarnya ia sendiri sedang pusing memikirkan kekasihnya yang hingga saat ini tak terendus keberadaannya.


Ia teringat jika kekasihnya tengah hamil buah hati mereka, mungkin saja, sekarang bayinya sudah lahir, untuk menghibur dirinya sendiri, ia menyempatkan waktunya setiap pagi untuk menemani Ayudia berjalan-jalan didekat komplek rumah Natasha ketika dirinya berhasil membawa Ayudia kembali ke ibukota.


Fernando membayangkan seolah dirinya tengah mendampingi Rara menjalani kehamilannya, terkadang ia melihat sekilas wajah kekasihnya di diri Ayudia.


Ia bahkan mengajukan cuti bekerja kepada Benedict, beralasan ingin mendekati Natasha, padahal ia hanya ingin mendampingi kehamilan Ayudia.


Fernando dan Anna juga yang mengantarkan Ayudia untuk memeriksakan kehamilannya ke rumah sakit dimana Natasha membuka praktek, namun mereka datang di malam hari dimana poliklinik sudah sepi.


Fernando juga yang berperan dalam memenuhi keinginan ngidam ibu hamil itu.


Hingga tak sengaja, saat mereka berasal di mall untuk berbelanja kebutuhan bayi, Benedict memergoki dirinya bersama Ayudia juga Anna.


Fernando bisa melihat amarah Dimata sahabatnya itu, ia tau betul akan resiko yang harus ditanggungnya.


Benar saja, di rumah sahabatnya yang baru, ia dipukuli habis-habisan oleh Benedict, hingga hidung mancung dan bibirnya berdarah.


Sahabatnya masih saja melakukan hal yang sama jika miliknya diusik.


Fernando tak melawan, ia hanya diam menerima pukulan demi pukulan yang dilayangkan sahabatnya itu, hingga ucapan Ayudia mengehentikan pukulan itu.


Fernando beruntung ia tak sampai cacat, wajahnya hanya lebam-lebam, hingga Oscar datang mengobati lukanya.


Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri , bertapa Benedict mencintai istrinya itu, melihat itu, ia jadi teringat lagi dengan Rara, apa yang wanita itu lakukan sekarang? Apa wanita itu masih teringat tentangnya? Atau apa yang sedang dilakukan buah hati mereka?


Banyak tanya yang ada didalam hatinya, hingga lamunannya buyar ketika meja kaca dihadapannya hancur akibat ulah Benedict, yang tak terima di tinggalkan oleh istrinya.


Bukan hanya meja, bahkan sliding door pembatas taman samping rumah menjadi sasaran amarahnya.


Ia melihat Alex juga Rama yang berusaha membujuk Ayudia untuk kembali kepada suaminya, namun tak kunjung berhasil,


Ia tau betul wanita hamil itu keras kepala, ia menawarkan diri  untuk mengantarkan wanita hamil itu pulang menuju kediaman Natasha.


Tak ada yang berubah meskipun Ayudia kembali tinggal bersama suaminya, wanita hamil itu tetap memintanya untuk menemaninya berjalan-jalan pagi meskipun sekarang ini, wanita itu menggunakan kursi roda untuk berjalan.


Tak lupa makanan yang menjadi pesanan wanita hamil itu ia bawakan.


"Entar kalau anak Lo lahir, kayaknya bakal lebih nempel sama gue, dibanding bapaknya, hamil aja maunya deket-deket gue Mulu, bakal disangka gue bapaknya yu,"celetuk lelaki itu tiba-tiba.


"Emang Aa keberatan?"tanya Ayudia kesal.


"Ya nggak juga sih, masalahnya cewek-cewek jadi nggak berani ngedeketin gue, takut di cap pelakor,"


"Entar Ayu cariin istri deh A, yang seagama biar bisa direstui sama Umi,"


"Wah terima kasih sebelumnya, tapi yu, gue mau nanya boleh nggak? Tapi tolong jangan berpikir kalau gue nggak belain Lo, dalam keadaan apapun gue bakal pasang badan buat Lo,"ucap Fernando dan wanita itu  mengangguk.


"Lo serius mau pisah sama Ben?"


Tanyanya.


Ayudia mengangguk lagi.

__ADS_1


"Apa yang bikin Lo begitu ingin pisah dari Ben? Apa benar Lo nggak cinta sama Ben?"


Wanita itu menghela nafas pelan, "Ayu memang sampai detik ini belum bisa mencintainya, Ayu hanya suka dan nyaman dengan perlakuan lembutnya,"


"Apa Ben tau, tentang perasaan Lo yang sebenarnya?"


Ayudia mengangguk lagi, "sebelum ke US, Ayu sempat ketemu sama cinta pertama Ayu dulu saat SMA, walau saat itu kami nggak sampai jadian, kami hanya sama-sama tau kalau kami saling cinta, namun dia harus mengejar cita-citanya sehingga kami terpisah, sampai terakhir kami bertemu, kami masih merasakan rasa yang sama, tapi karena aku udah nikah, makanya dia cukup tau diri, walau dia bilang akan menunggu Ayu,"


Fernando tercengang mendengar pengakuan istri dari sahabatnya, bagaimana mungkin Benedict yang memiliki segalanya malah tidak memiliki cinta dari wanita yang ia cintai?


"Seandainya Lo jadi pisah sama Ben, apa Lo bakal balik sama cinta pertama Lo?"tanya Fernando penasaran.


Ayudia tersenyum, terlihat lesung pipinya, "ya nggak lah, dia terlalu bagus buat Ayu,"


Nando mengernyit bingung, "kalau Lo nggak balik sama dia, kenapa Lo mesti pisah sama Ben?"


"Ini bukan masalah Cinta nggak cinta, tapi Ayu memang nggak suka cara Mas Ben perlakukan Ayu, dia terlalu posesif, Ayu tau batasan sebagai seorang istri, Ayu nggak mungkin tiba-tiba balik ke cinta pertama Ayu, jadi nggak perlu tuh mas Ben membatasi ruang gerak Ayu,"


"Hampir dua bulan di New York, Ayu sama sekali nggak pernah keluar dari penthouse, kontak di handphone baru yang dikasih mas Ben, hanya berisi keluarga aja, sementara nomor teman-teman Ayu nggak ada, bahkan sampai Facebook pun Ayu nggak boleh pakai, bukannya Ayu nggak mau bersyukur dengan semua hal yang mas Ben kasih, tapi Ayu biasa sibuk dengan hidup Ayu, selama di sana, Ayu benar-benar seperti burung dalam sangkar yang menunggu empunya memberi makan, dan yang membuat Ayu tidak terima, mas Ben malah bertunangan dengan wanita lain dengan alasan bisnis, udah kayak di drama Korea A, yang itu Ayu nggak bisa maafin, disaat Ayu hamil anaknya, dia mengkhianati Ayu,"


"Tapi Ben udah putusin tunangannya, makanya dia balik kesini buat kembali sama Lo,"


"Apa di masa depan ada jaminan, jika mas Ben nggak akan mengkhianati Ayu?"


"Ayu bukan perempuan yang dengan be-besar hati buat berbagi meskipun agama kita mengijinkan,"


Nando terdiam mendengar ucapan wanita disebelahnya, ada hening sesaat diantara keduanya, sementara wanita hamil itu kembali menikmati sarapannya.


"Lalu apa rencana Lo setelah melahirkan dan seandainya kalian jadi berpisah?"


Ayudia menelan potongan terakhir sandwich miliknya, lalu meminum jus Alpukat nya hingga tandas.


"Ya melanjutkan hidup A, kan Ayu juga udah biasa jadi tulang punggung keluarga,"


"Tapi anak Lo kembar yu,"


"Adik-adik Ayu ada yang kembar A, kalau Aa lupa,"


"Dari adik kembar Ayu lahir, udah nggak ada ibu, makanya Ayu udah biasa bantuin Bapak buat urus mereka,"


"Tapi bukannya ngurus anak perlu uang juga, bagaimana Lo mau menafkahi mereka?"


"Ayu punya tabungan a, cukup buat usaha di rumah,"


"Kenapa Lo keras kepala sih? Pusing gue,"


Ayudia tertawa, "nggak usah pusing A, yang jalanin Ayu loh, cuman sampai lahiran aja kok, Ayu ngerepotin Aa, setelah itu nggak bakal lagi deh,"


"Gue seneng kok Lo repotin, itung-itung gue belajar jadi bapak, pas gue nikah, gue udah nggak kaget, menghadapi ibu hamil yang punya kepala batu,"


Lagi-lagi Ayudia tertawa, "tau Aa lucu gini, mending dulu pas Aa deketin Ayu, Ayu mau aja ya!"


"Bisa digantung gue sama Ben, muka gue belum sembuh sepenuhnya Ayu, Lo mau bikin gue bonyok lagi?"

__ADS_1


Ayudia tertawa keras, sepertinya wanita hamil itu senang melihat wajah menderita milik Fernando.


__ADS_2