Istri Untuk Fernando

Istri Untuk Fernando
seratus delapan puluh


__ADS_3

Rara bersama Arana hadir di resepsi pernikahan Tamara dan suami barunya, tentu tanpa Fernando, selain tak diundang, lelaki itu juga sudah berangkat bersama sahabatnya mengantarkan Ayudia dan si kembar ke Amerika.


Di ballroom salah satu hotel ternama di ibukota resepsi itu diselenggarakan dengan meriah.


Suami dari Tamara adalah salah satu pengusaha sukses di ibu kota,


Menurut cerita dari Nicholas, papa tirinya adalah duda beranak dua, yang mana anak-anaknya sudah beranjak dewasa.


Beda usia empat belas tahun dengan Tamara, mereka dijodohkan oleh kakek Nicholas, semacam pernikahan bisnis.


Remaja itu juga bercerita karena mommy-nya tak berhasil mendapatkan Investasi dari daddy-nya, sementara perusahaan kakeknya yang sedang membutuhkan dana cukup besar, akhirnya mommy-nya terpaksa menerima pernikahan bisnis itu.


Nicholas menunggunya di parkiran, remaja itu menyambut uma-nya dengan senyuman.


Sudah tiga hari mereka tidak bertemu, Nicholas menginap di rumah mommy-nya.


"Aku kangen Uma sama Arana,"ujar remaja itu sambil memeluk ibu sambungnya, "biar aku yang gendong Arana,"pintanya.


"kamu kenapa disini? nanti dicariin mommy loh,"ujar Rara sambil berjalan menuju ballroom.


"Lagi Rame, jadi mommy nggak mungkin ngeh kalau aku pergi, lagian aku kan kangen sama adik aku yang cantik ini,"ucapnya sambil menciumi pipi chubby Arana.


Rara hanya menggelengkan kepalanya,


"Oh ya Uma, kalau ada ucapan buruk dari mereka nggak usah dianggap ya! tujuan Uma kesini hanya untuk menemui mommy kan?"


Rara mengernyit bingung, tapi tetap mengangguk menuruti ucapan putranya.


Ballroom sangat ramai, entah berapa banyak orang yang hadir di resepsi pernikahan itu.


Ini kali pertama Rara hadiri di pernikahan dengan tamu undangan sebanyak ini.


Ia mengikuti putranya membelah kerumunan para tamu yang hadir, mungkin akan langsung menemui mempelai.


Rara naik ke pelaminan dengan Nicholas yang menggendong adiknya,


Rara tau tatapan sinis dari kakek Nicholas yang ditujukan padanya.


Ia sadar, karenanya Tamara tidak bisa bersatu dengan Fernando, yang notabenenya ayah kandung Nicholas.


Belum lagi mengenai fakta bahwa Fernando diam-diam memiliki kekayaan melimpah, meskipun tak punya perusahaan sendiri.


Bahkan kakek dari Nicholas membuang muka saat Rara berada di hadapan lelaki tua itu.


Berbeda dengan papinya, sang mempelai wanita menyambutnya dengan senyuman secerah mentari pagi, Tamara bahkan memeluknya erat.


"Makasih ya Ra, udah Dateng, aku seneng banget,"ujarnya.


"Selamat ya mbak,"ucap Rara.


"Aku minta maaf pernah ganggu kamu, dan makasih udah jaga Nicho dengan baik,"


"sama-sama mbak,"

__ADS_1


"jangan lama-lama mommy, tamu udah ngantri,"bisik Nicholas memperingatkan.


Wajah Tamara berubah menjadi kesal, putranya mengganggu kesenangannya.


sang pengantin wanita juga sempat mencium pipi Arana, ia gemas dengan balita itu, "mirip banget Nicho kecil tapi versi cewek,"celetuknya.


Rara tersenyum dan menangkupkan kedua tangannya ketika berhadapan dengan suami baru Tamara.


Lelaki dengan wajah oriental yang masih terlihat tampan diusianya.


Nicholas mengajak ke salah satu meja bertulisan nama Amara dan Arana.


Meja yang disediakan untuk keluarga dan tamu VIP.


Dari cerita Nicholas juga, diketahui bahwa yang hadir kebanyakan adalah karyawan dari suami mommy-nya.


Karena Tamara dan suaminya tak mau repot melakukan resepsi dua kali, sehingga semua undangan dijadikan dalam satu kali resepsi.


Selama Rara menikmati hidangan, Nicholas memangku dan menyuapi Arana.


"Uma, setelah ini aku ikut pulang ya!"cetus Nicholas.


"ijin mommy dulu,"


"aku malas Uma, aku bosan disini,"


Rara mengelap mulutnya dengan Tisu, ia menatap putranya, "Nicho, hormati mommy dan keluarganya, setidaknya menginap lah,"


Selalu saja begini, putra sambungnya yang manja hanya ketika bersama dirinya, Rara menghela nafas, "gini deh, kalau kamu menurut sama mommy kamu, Uma akan ajak kamu liburan bareng aunty Cristy dan aunty Fitri ke Bali dua minggu lagi, ada Xander juga, gimana?"


"Benarkah?"


"Tentu, nanti Uma yang akan bilang mommy kamu,"


"Apa Daddy tau?"tanya remaja itu memastikan.


"Daddy masih di Amerika,"jawab Rara,


Senyum mengembang menghiasi wajah remaja itu.


Belum selesai menghabiskan makanannya, Papi dari Tamara menghampirinya, tau apa yang aman terjadi, Nicholas bangkit menghalangi lelaki tua itu.


"Kalau Opa berani menyakiti Uma, Nicho nggak segan-segan buat menghancurkan pesta ini,"ancamnya.


Rara memegang tangan putra sambungnya, seraya menggelengkan kepalanya.


"Gara-gara kamu, cucu saya jadi kurang ajar,"ucap lelaki tua itu.


Rara hanya menunduk tak membalas ucapan lelaki itu,


Seperti tak puas papi dari Tamara menatapnya sinis, "Nando pasti buta mau dengan wanita rendah seperti kamu, suatu saat saya yakin Nando akan menyesal telah membuang anak saya,"usai mengatakannya, lelaki tua itu meninggalkan tempat itu.


Nicholas hampir saja menyusul kakeknya,

__ADS_1


"Nggak perlu Nicho, bagaimanapun beliau kakek kamu, hormati dia,"Rara memperingatkan putranya.


"Tapi dia udah nyakitin Uma,"


Rara menarik tangan putranya untuk duduk kembali, "dengan kamu marah sama opa, tuduhan beliau terhadap Uma, berarti benar, jadi tolong tenanglah,"


Nicholas mengatur nafasnya untuk mengendalikan amarahnya, ia kembali memangku adiknya sambil menyuapinya.


Temperamen putra dan suaminya sepertinya sama, meskipun kebiasaannya jauh berbeda.


Tak lama Rara berada di pesta itu, hanya sebentar menikmati hidangan, ia undur diri dari sana, dengan alasan sudah malam, dan Arana juga harus tidur.


Nicholas mengantar uma-nya hingga parkiran, membukakan pintu dan menempatkan adiknya di tempat duduk yang dikhususkan untuk balita itu.


"Ingat Nicholas, uma nggak mau dengar laporan kamu berbuat ulah selama berkumpul dengan keluarga mommy,"


"iya Uma,"ujar remaja itu mengangguk lalu mencium punggung tangan uma-nya.


Baru saja tiba memasuki unit Apartemen miliknya, suaminya melakukan panggilan video.


Karena lelah dan belum bersih-bersih Rara memilih menunda mengangkat panggilan itu.


Baru setelah ia dan Arana bersih-bersih juga berganti baju, Rara mengambil ponselnya.


Ada banyak panggilan tak terjawab dan pesan dari suaminya.


Rara melambaikan tangannya sambil berucap salam,


Fernando yang terlihat di layar, tertegun sejenak melihat senyuman istrinya.


"kok nggak jawab salam sih?"Protes Rara.


Fernando menjawab salam istrinya.


"gimana tadi? apa ada yang jahat sama kamu?"


Rara menggeleng, tak mungkin bukan ia menceritakan perilaku kakek dari putranya, "Mbak Tamara cantik banget sama gaun pengantin itu, suaminya juga tampan, kayaknya papa tiri Nicholas orang yang baik,"


"lebih tampan suami kamu Amara, aku nggak suka kamu memuji lelaki lain didepan aku,"


Rara tertawa melihat mimik wajah suaminya, "maafkan istrimu suamiku, aku tak bermaksud seperti itu, lalu kamu sedang ada dimana sekarang?"tanya Rara melihat tempat dibelakang suaminya.


"aku lagi bersama Troy, sepertinya aku akan menunda kepulanganku, ada misi khusus, nggak apa-apa kan?"


Rara tersenyum dan mengangguk, "yang penting kamu jaga diri baik-baik ya,"


"apa kamu tidak bisa menyusul aku kesini? aku kangen kamu,"


"nggak bisa mas, sebentar lagi Nicho ujian kenaikan kelas, bukankah sebagai orang tua yang baik, aku harus mendampinginya?"


"aku akan menyelesaikan misi dengan cepat, aku mau setelah pulang dari sini, aku mau menghabiskan waktu berdua hanya dengan kamu,"


Rara mengangguk setuju, tak mungkin bukan dalam keadaan seperti ini, ia menolak permintaan suaminya.

__ADS_1


__ADS_2