
Lebih dari seminggu Fernando bersama sahabat-sahabatnya, berada di Amerika bukan untuk berwisata, melainkan bekerja,
Benedict seperti sengaja membuatnya selalu sibuk, bahkan untuk sekedar mengecek notifikasi di ponselnya.
Fernando dan Rama membantu pekerjaan yang dikerjakan oleh Troy juga Richard dalam mengelola perusahaan, sedangkan Alex mengikuti kemanapun mister Wiliam pergi, sedangkan Oscar bersama Natasha bekerja di rumah sakit milik keluarga Wright.
Fernando lebih sering bersama Troy, karena asisten Benedict yang satu ini mengelola bisnis diluar keluarga Wright, meskipun dalam beberapa kesempatan ia juga ikut membantu.
Dari sinilah, Fernando tau, bisnis yang dijalankan sahabatnya, investasi yang dilakukan di negara-negara timur tengah juga Afrika.
Ia jadi tau seberapa kaya sahabatnya itu, jet pribadi yang ia naiki itu bukan seberapa untuk Benedict, sahabatnya bahkan memiliki saham cukup besar dalam bisnis kapal pesiar mewah.
Sedari Fernando menggeluti pengelolaan Resort dan villa, usai lulus kuliah, ia sering mengikuti Troy dalam bekerja, sekitar setahun ia mengikuti cara kerja salah satu asisten sahabatnya itu.
Dan dari situlah, ia tau betapa kejamnya Benedict dalan membalas perbuatan seseorang yang mengusik bisnisnya
Sahabatnya itu perlahan tapi pasti akan menghancurkan musuhnya tanpa menyentuhnya, tidak secara langsung tapi melalui tangan orang lain.
Pernah ia dengar cerita Troy, saat rekan bisnis Benedict mengkhianati kerjasamanya, maka lelaki itu akan terlihat menerimanya begitu saja, seolah dia seorang yang berjiwa besar memaafkan kesalahan rekannya, sehingga citranya di mata publik cukup baik.
Namun hanya dalam waktu satu tahun tanpa diduga, rekannya itu langsung jadi gembel dan tinggal di jalanan, entah bagaimana caranya.
Pernah juga ada seorang rekan bisnisnya yang juga berkhianat, dengan mengirim mata-mata di perusahaannya, dengan tanpa ampun, ia mengirim mata-mata itu yang seorang laki-laki normal ke klub pencinta sesama jenis, dan alhasil baru beberapa hari di sana laki-laki itu depresi bahkan sampai masuk rumah sakit jiwa dan berakhir bunuh diri.
Dan beberapa perbuatan yang menurut Fernando, diluar nalarnya.
Dari Troy, Fernando belajar cara mengelola bisnis juga membaca situasi dalam hal pembelian saham yang akan menguntungkan di masa depan.
Tanpa sepengetahuan sahabatnya yang lain, Fernando banyak melakukan investasi di bidang pertambangan, itu juga atas saran Troy.
Sehingga pundi-pundi uangnya bertambah diluar gaji yang diterimanya dari sahabatnya.
Bahkan Fernando memiliki rekening di salah satu bank terkenal di Swiss.
Meski tak sekaya Benedict, tapi dibandingkan dengan sahabatnya yang lain kekayaannya jauh melebihi mereka.
Berhari-hari mengikuti Troy, akhirnya tepat dua pekan di sana, ia meminta pulang ke Indo terlebih dahulu dibandingkan dengan teman-temannya, jujur saja ia merindukan kekasihnya, ia akan memberikan kejutan pada wanita yang ia cintai.
Setelah menempuh perjalanan panjang, akhirnya ia bisa menginjakan kaki di negaranya, ia menaiki taksi online dari bandara menuju rumah uminya.
__ADS_1
Hari sudah larut saat itu, Sepanjang perjalanan ia senyum-senyum sendiri, ia membayangkan akan memeluk diam-diam kekasihnya yang tengah tertidur di kamarnya.
Ia tiba di rumah uminya lewat tengah malam, beruntung ia selalu membawa kunci cadangan, ia membuka pintu rumah itu, dengan pelan-pelan ia menuju kamar miliknya, namun senyumnya berubah ketika mendapati ranjangnya kosong, ia juga membuka sedikit pintu kamar milik uminya, hanya terlihat wanita yang melahirkannya tengah tertidur pulas.
Fernando lebih memilih membersihkan diri terlebih dahulu,
Usai membersihkan diri dan berganti pakaian, ia merebahkan diri di ranjangnya, tak lupa mengambil piyama milik kekasihnya disisi lemari bersebelahan dengan bajunya.
Ia memeluk dan menciumi piyama bermotif strawberry kecil itu, ia tersenyum sendiri.
Karena kelelahan ia tertidur tanpa menghubungi dulu kekasihnya.
Esoknya Fernando bangun ketika matahari sepenggal naik, suasana rumah sepi sekali, mungkin uminya sedang berada disekolah,
Ia beranjak menuju dapur untuk mengambil minum, setelah sebelumya membersihkan diri, ia berusaha menelpon kekasihnya tapi tidak aktif, berkali-kali ia menghubungi tapi tak kunjung aktif, ia juga mengirimi pesan pada kekasihnya, tapi hanya centang satu.
Tepat dibawah nama My Strawberry, terlihat nomor milik kekasihnya terakhir aktif sekitar dua pekan yang lalu.
Ada rasa was-was melingkupinya, ia berusaha sabar menunggu uminya pulang mengajar.
Hingga lelaki itu tertidur di sofa ruang tengah dengan kondisi televisi menyala, seolah menontonnya yang tertidur.
Dan tepukan halus dipunggung tangannya juga sapaan dari wanita yang melahirkannya terdengar,
"Kenapa tidur disini do? Badan kamu nanti pada sakit," ucap umi Fatimah khawatir.
Fernando bangkit, ia memeluk tubuh mungil yang telah melahirkannya ke dunia ini, "umi apa kabar?"tanyanya.
Wanita paruh baya itu terkejut dengan perubahan sikap putra semata wayangnya, biasanya setelah lama tidak bertemu, Fernando hanya mencium tangannya saja.
"Umi baik do, kamu udah makan belum?"
Fernando menggeleng,
"Umi lagi nggak masak, apa mau umi pesankan makanan?" tawarnya.
Fernando yang telah duduk kembali menggeleng, "nanti aja mi, ada yang ingin Nando tanyain, Rara kok nggak di rumah sih?"
Mendapatkan pertanyaan seperti itu, membuat umi yang biasa tenang menjadi sedikit gugup, jujur saja, sudah beberapa Minggu ini kekasih dari puteranya tak kunjung pulang,
__ADS_1
Untuk pertama kalinya sepertinya ia harus berbohong pada puteranya.
"Apa kamu lupa, kalau Rara akan pulang ke Malang setelah dirinya resign dari pekerjaannya?"ucap perempuan paruh baya itu sambil berharap calon menantunya benar-benar kembali ke rumah orang tuanya.
Fernando menepuk dahinya, ia lupa soal itu.
"Ya udah nanti kalau umi libur, kita susul ke sana ya mi, sekalian melamar Rara ke orang tuanya, sekalian ajak Tante susi sama Tante Ana,"
Umi mengangguk, perempuan tua itu berlalu menuju kamar miliknya untuk berganti pakaian.
Lebih dari Tiga puluh menit berlalu, ia mendapati putranya baru saja dari luar rumah membawa bungkusan makanan,
"Nando beliin nasi Padang di depan komplek mi, tapi kayaknya kita harus mengundurkan waktu berkunjung ke rumah orang tua Rara mi, Nando ada pekerjaan mendesak di Bali, kayaknya abis makan, Nando langsung berangkat,"jelasnya sambil membawa bungkusan itu ke meja makan.
Antara lega bisa mengulur waktu, juga kasihan melihat kerja keras puteranya.
"Ya udah nggak apa-apa, kamu urus pekerjaan kamu, mungkin lebih baik, kita ke rumah orang tua Rara saat liburan sekolah saja, supaya umi bisa lebih lama di sana,"
Fernando yang sedang membuka bungkus makanan, diam berfikir lalu mengangguk, "baiklah mi, nanti Nando selesaikan urusan pekerjaan di Bali terlebih dahulu,"
Lelaki itu menyodorkan nasi dengan lauk ikan bakar dan rendang kesukaan uminya, sedangkan dirinya makan dengan lauk ayam bakar dan telur dadar.
Sambil makan keduanya mengobrol.
"Gimana kabar istri Ben di sana?"tanya umi disela-sela kegiatan makan bersama yang jarang dilakukannya bersama dengan putranya.
"Kalau kata Asha, Ayu baik-baik aja, kami sahabatnya tidak diberi kesempatan untuk bertemu, hanya asha yang selalu bertemu dengan Ayu karena dia adalah dokter kandungannya, Ben itu posesif banget mi,"
"Ya wajar kan begitu, Tante Anna beberapa kali telpon Umi, berbicara tentang sifat anaknya itu,"
"Ya begitulah dari dulu kan Ben memang egois untuk masalah sesuatu yang dimilikinya,"
"Tapi umi heran sama nak Ben, bukannya kamu sama dia sering berantem, tapi kenapa dia kasih kepercayaan begitu besar sama kamu,"
Fernando mengangkat bahunya, "mungkin biar bisa balas dendam sama Nando dengan cara memberi banyak pekerjaan, tau sendiri kan mi, diantara sahabat-sahabat yang lain, hanya Nando yang jarang berada di kota ini,"
Umi Fatimah tertawa, "betul juga, kamu jarang ngumpul sama umi, meskipun begitu, bukankah kamu jadi tambah kaya diantara sahabat kamu yang lain?"
"Ya iya sih, tapi kan Nando jarang ketemu umi,"
__ADS_1
Berusaha menghibur putranya, umi Fatimah berkata, "nanti juga bakal sering ngumpul, setelah umi pensiun,"
Keduanya melanjutkan obrolan yang jarang mereka lakukan, diantara kesibukan masing-masing.