
Fernando terbangun saat hari sudah gelap, ia melihat sekeliling kamarnya, gelap dan sepi.
Dulu mungkin dirinya menyukai suasana seperti ini, namun sejak menikah dengan Rara, ia justru benci suasana gelap dan sepi di kamarnya,
Karena suasana seperti sekarang berarti istrinya tak ada disisinya, tak terdengar suara ataupun tawanya.
Fernando bangkit, perutnya terasa lapar, ia teringat tadi pagi sarapan dengan bekal yang dibawakan oleh Anna.
Lelaki itu memutuskan untuk mandi terlebih dahulu, sebelum berangkat lagi ke rumah sakit, mungkin saat ini Aileen sedang merengek mencarinya.
Tak lama, lelaki itu telah siap dengan Hoodie army dan celana jeans hitam, ia mengambil ponsel serta dompet di kabinet sebelah ranjang.
Ada beberapa panggilan tak terjawab juga pesan masuk yang kebanyakan dari Anna, ia menghubungi balik ibu dari Benedict.
Bukan Anna yang menjawab tetapi suara cempreng balita merengek mencarinya.
Fernando mengambil kunci mobil sambil mendengar keluhan dari Aileen,
"Iya ini Papa juga mau ke sana, maafkan papa tadi ketiduran,"
"....."
"Gimana kalau cokelatnya besok aja, ini udah malam, nanti giginya dimakan ulat loh,"
"....."
"Iya, ya udah papa tutup dulu ya,"
Setidaknya dengan adanya Aileen dirinya tak terlalu bersedih ketika istri dan anaknya tak kunjung kembali.
Fernando menghela nafas, hingga saat ini istrinya belum sampai rumah, padahal Cristy bilang sedari tadi siang Rara sudah pulang.
Apa tadi saat dirinya tidur, istrinya kembali lalu pergi lagi karena melihat ada ia di rumah?
Pikiran-pikiran buruk itu ia tepis, tidak mungkin istrinya seperti itu.
Apa Cristy membohonginya?
Memikirkannya saja dirinya pusing, mungkin dengan mendengar ocehan Aileen akan mengobati rasa sepinya.
Namun saat Fernando membuka pintu mobilnya, tepat didepan gerbang rumahnya, ada sebuah mobil berhenti, entah apa yang dibicarakan oleh mereka didalam sana.
Lima menit berlalu, tak ada tanda-tanda ada yang keluar dari dalam mobil hitam itu.
Fernando pikir itu tamu sebelah rumahnya, tentu akan menyulitkannya yang akan mengeluarkan mobil miliknya.
Lelaki itu berjalan menuju ke depan pintu gerbangnya, ia berniat akan menegur sang empunya mobil.
Namun apa yang dilihatnya, membuatnya terpaku, tepat didepan pagar rumahnya ada Pradikta yang membawakan koper dan stroller lalu membukakan pintu mobil, lalu Rara keluar dengan menggendong Arana.
Bahkan ia bisa mendengar percakapan kedua orang itu,
Tak ada pelukan atau mencium kening seperti dulu pernah ia lihat, hanya ada lambaian tangan wanita itu untuk Pradikta hingga mobil berbelok diujung gang.
Rara terlihat membuka stroller yang terlipat lalu meletakkan Arana di sana.
__ADS_1
Jantung Fernando berdetak lebih cepat dari biasanya, wanita itu berjalan ke arahnya dengan mendorong stroller dan menarik koper besar itu.
Rara mencari kunci di tas ransel miliknya, namun belum sempat ia menemukannya, gerbang itu terbuka.
Fernando berdiri tepat disisi gerbang yang terbuka,
Terlihat raut terkejut di wajah wanita berhijab itu, tetapi dalam hitungan detik ekspresi itu berubah.
Senyum lebar menghiasi wajah Rara melihat siapa yang berdiri di hadapannya.
Wanita itu mengucapkan salam, lalu menghampirinya, mengambil tangannya lalu mencium punggung tangannya, dan menanyakan kabarnya.
Fernando masih diam melihat semua yang dilakukan istrinya, hingga panggilan lembut itu menyadarkannya.
"Mas, kok diam aja sih? Aku nanya nggak di jawab, jadi aku boleh masuk ke rumah umi kamu nggak?"tanya Rara.
Fernando tersadar, lalu mengambil alih koper yang ditarik istrinya, lalu mendorong stroller itu, dan menutup kembali pintu gerbangnya.
Istrinya berjalan terlebih dahulu, namun langkahnya terhenti karena pintu itu terkunci,
Fernando memberikan kunci miliknya, dan Rara menerimanya.
Wanita itu berjalan menuju dapur, kebiasaannya setelah berpergian adalah meminum air terlebih dahulu di dapur.
Rara menuju ruang tengah dimana suaminya sedang menggendong putri kecilnya, sambil bergumam sesuatu.
"Kamu kenapa dari tadi diem terus, kamu sariawan atau lagi sakit gigi?"tanya Rara sambil membuka hijab lalu Ciput yang ada di kepalanya.
Fernando yang masih menunduk sambil menimang-nimang putrinya, mengalihkan pandangannya ke wanita yang membuatnya kalang kabut selama berhari-hari.
"Mana saya tau,"ujarnya mengangkat bahunya, "mas aku titip Arana sebentar ya, aku mau mandi,"
Wanita itu berlalu begitu saja, seolah tak ada apapun yang perlu dibicarakan diantara mereka berdua.
Fernando menatap putri kecilnya, benar-benar mirip dirinya, ia jadi teringat fotonya saat kecil, persis sama, bisa dibilang dirinya versi perempuan.
Ia menciumi putrinya, wangi khas bayi, sepertinya ini aroma kedua favoritnya.
Saat sedang asyik bermain dengan putrinya, ponselnya berdering, ia mengambilnya dari saku celananya, tertera nama Anna dilayar ponselnya.
Fernando lupa, jika dirinya akan mengunjungi Aileen, seperti biasa, ia mengangkat panggilan video itu.
Terlihat wajah Aileen memenuhi layar ponselnya.
"Papa Nando dimana? Kenapa nggak sampai-sampai?"tanya balita itu.
Fernando tersenyum, "maaf princess-nya papa, sepertinya papa nggak bisa kesitu malam ini,"ujarnya.
Mata biru itu berkaca-kaca, "kenapa? Apa papa sakit?"tanyanya.
Fernando menggeleng, "papa ada urusan mendadak Ai sayang,"
Balita itu merengek, hingga Anna menghampirinya untuk menenangkannya.
Giliran wanita paruh baya itu menanyakan alasannya,
__ADS_1
"Nando ada keperluan mendadak Tante,"
"Sebentar aja do, setidaknya sampai Aileen tidur,"
Fernando diam berfikir hingga tepukan di lututnya menyadarkannya,
"Udah ke sana aja, kasian Aileen,"bisik Rara.
Lelaki itu terkejut, istrinya yang mengenakan piyama motif strawberry dengan kepala masih terlilit handuk, mungkin wanita itu habis mencuci rambutnya, sudah berada disebelahnya.
"Iya Tante, aku kesitu sekarang,"
Fernando mengakhiri panggilannya.
"Aku minta kamu jangan kemana-mana, tetap di rumah, aku pergi sebentar aja,"ujarnya.
"Memangnya mau kemana? Aku mau tidur,"ucap Rara sambil meminta Arana.
"Apa jaminannya kamu nggak ninggalin aku lagi?"tanya Fernando berdiri tepat dihadapan istrinya.
Rara mendongak menatap suaminya, "aku nggak kemana-mana, aku mau tidur, kamu ngerti kan, jadi cepetan sana, kasian Aileen nangis,"ujarnya sambil berlalu, namun langkahnya terhenti,
"Kamu ikut aku aja,"ucapnya sambil mencekal lengan istrinya.
Rara menggeleng, "aku mau tidur papa Fernando, jadi lepasin tangan kamu,"
"Amara, aku butuh jaminan, supaya kamu nggak ninggalin aku lagi,"
Rara menghela nafas, malas berdebat, "kamu ambil dompet aku di tas, bawa sana, dan lepaskan tangan kamu,"
Fernando melepaskan tangannya di lengan istrinya, lalu mengambil tas ransel milik istrinya, ia mengambil dompet berwarna maroon itu.
"Udah kan, sekarang silahkan pergi, jangan lupa kunci pintu gerbangnya, aku mau langsung tidur,"
"Tunggu Amara,"
"Apalagi sih mas,"ujar Rara kesal sambil menghembuskan nafasnya lelah.
Fernando mengambil putrinya dan meletakkannya di stroller, setelah memastikan putrinya aman, ia menghampiri istrinya.
Tangan kirinya memeluk pinggang wanita itu, sedangkan tangan kanannya memegang tengkuk dan bibir keduanya saling beradu.
Bibir yang selama tiga bulan kebelakang hanya bisa ia bayangkan, akhirnya sekarang bisa ia rasakan lagi secara nyata.
Tak cukup hanya beradu bibir, ia memasukan lidahnya, aroma pasta gigi yang sama dengannya.
Fernando semakin menekan tengkuk istrinya, rasanya ada sesuatu yang menggelitik perutnya, hormon kebahagiaannya meningkat.
Andai Rara tak menepuk pundaknya, mungkin ia akan terus melakukannya hingga berakhir di atas kasur.
"Aileen udah nungguin,"
Decakan keluar dari mulut Fernando, "jangan kemana-mana, aku akan segera kembali,"
Lelaki itu mencium kening istrinya lembut, lalu menyentuh pipi putrinya, ia bergegas keluar dari rumahnya.
__ADS_1