Istri Untuk Fernando

Istri Untuk Fernando
empat puluh tiga


__ADS_3

Siangnya Fitri mengantarkan Rara menuju Toserba yang berada di kota kecamatan, jaraknya sekitar tiga puluh menit menaiki motor dari rumah Mbah Sarmi.


Kemarin sebelum meninggalkan Rara di desa itu, Andi memberikan uang cukup banyak kepada adik bungsunya.


Rara membeli beberapa dalaman, juga baju rumahan, dan beberapa keperluan lainya, seperti keperluan mandi tak lupa membelikan keperluan rumah untuk Mbah Sarmi, camilan tak ketinggalan ia beli.


Fitri mengajaknya makan bakso yang terkenal di kota kecil itu usai berbelanja di toserba.


Sambil makan bakso keduanya bercerita, Fitri menceritakan kalau dirinya ingin sekali kuliah, tapi terbentur biaya, bapaknya yang seorang buruh tani dan mbak Nurul (ibunya Fitri) seorang buruh jahit lepas, karena masih ada dua adik laki-lakinya yang duduk di bangku madrasah Tsanawiyah dan adik bungsunya yang bersekolah di madrasah ibtidaiyah,


Saat menceritakan hal itu, Fitri berubah murung, melihat hal itu, Rara menyemangatinya agar tidak mudah menyerah.


Rara jadi teringat mempunyai tabungan cukup banyak, sebagian kecil gaji dari ia bekerja dan sebagian besar pemberian laki-laki itu.


Karena selama tiga bulan kebelakang menjalin hubungan, Rara mendapat uang bulanan dari lelaki itu, sepertinya ada sekitar dua ratus juta lebih.


Rasanya ia ingin memberikan uang itu pada Fitri untuk melanjutkan kuliah tapi kalau mengingat waktu sekarang sepertinya sudah terlambat untuk mendaftar kuliah.


"Fitri, gimana kalau kuliahnya tahun depan aja? Sambil ngumpulin uang buat kuliah, bukannya kamu ada kesibukan ngajar anak-anak ngaji?"ujar Rara.


Masih dengan wajah murung, Fitri menatap perempuan disebelahnya, "kayaknya memang susah mbak, biaya kuliah kan mahalnya minta ampun, kata bapak mending Fitri kerja aja,"


Rara memutar otaknya, sepertinya tidak bisa langsung memberikan uang itu kepada Fitri langsung, bisa jadi gadis itu akan tersinggung dan menolaknya,


"Gini deh, gimana kalau kita buka bisnis bersama, aku masih ada uang tabungan, kan ibu kamu jahit baju kan? Gimana kalau kita jualan baju gamis atau jilbab, kali aja tahun depan keuntungan dari jualan bisa dipakai buat kuliah,"ucap Rara memberikan harapan pada gadis muda itu.


"Mbak serius?"tanya Fitri.


Rara mengangguk, "terus bisa nggak kamu ajari aku ngaji, nanti tiap bulan aku kasih uang, ya itung-itung buat tambahan sama belajar jadi guru orang dewasa, selama ini kan kamu ngajarnya anak-anak kecil kan? Kali aja kamu bisa jadi guru SMA,"


"Boleh deh mbak,"


Kedua perempuan itu tersenyum senang, seraya melanjutkan memakan bakso yang mereka pesan.


Mereka pulang setelah menghabiskan masing-masing satu porsi bakso, tak lupa membungkus untuk Mbah Sarmi, orang tua Fitri dan kedua adiknya.


Sesampainya di rumah Mbah Sarni, perempuan tua itu sedang merapikan kayu bakar ditempat penyimpanan kayu yang ada dibelakang rumah.

__ADS_1


Rara menawari Mbah Sarmi bakso, katanya mumpung masih hangat.


"Kamu to nduk, mbok ya ndak usah repot-repot beliin Mbah, bakso sama jajanan,"ujarnya sambil menikmati bakso di dapur.


Rara yang sedang membereskan belanjaannya dan menyimpannya di lemari kayu menghentikan kegiatannya sejenak, "Mbah, Rara nggak repot kok, justru Mbah yang bakal Rara repot kan terus kedepannya,"


"Ndak to nduk, Mbah seneng ada yang nemenin, oh ya nduk, kata Andi kamu lulusan sarjana ekonomi ya? Kebetulan tadi pas Mbah jalan ke kebun, Mbah ketemu pak Bambang, beliau adalah guru olahraga di madrasah Aliyah, kata beliau kebetulan ada lowongan buat guru pelajaran ekonomi, kalau kamu mau, coba nanti ba'da asar kamu ke rumah beliau, minta antar sama Fitri, itu pisang Ambon dua sisir, tolong kasihkan ke pak Bambang,"


"Iya Mbah, Makasih ya udah bantuin Rara,"


"Sama-sama nduk, kamu kan adik menantunya Mbah, jadi kamu, Mbah anggap kayak anak sendiri,"


Keduanya terus mengobrol membicarakan hal-hal sekitar desa.


Sore hari dengan diantar oleh Fitri, Rara mengunjungi rumah pak Bambang, tak lupa membawa pisang Ambon titipan dari Mbah Sarmi.


Kedua perempuan itu disambut oleh pak Bambang juga istrinya, mereka membicarakan tentang lowongan pekerjaan guru mata pelajaran ekonomi yang sedang kosong, dikarenakan guru yang lama, menikah dan mengikuti suaminya ke kota.


Pak Bambang menanyakan lamaran milik Rara, namun wanita itu bilang belum membawanya, karena niat berkunjung ke desa ini hanya sekedar liburan saja.


Menjelang magrib kedua perempuan itu, pamit undur diri.


Sepertinya ia harus menanyakan pendapat kakak sulungnya.


Menumpang shalat di rumah Fitri, juga mengaji hingga waktu isya,


Rara meminjam ponsel Fitri untuk menghubungi Andi, ia menceritakan tentang masalah ijazah untuk melamar pekerjaan.


"Repot juga ya dek, kalau kamu kembali ke Jakarta, bisa-bisa kamu bakal mengulang kesalahan yang sama, ya udah lah dek, kayaknya mending ngajarnya ditunda dulu, kamu bisa cari kesibukan lain saja, kalau kamu butuh uang, kamu bisa kabari mas aja,"ucap Andi diseberang sana.


Usai menyelesaikan sambungan telpon itu, Rara menghela nafas, ia menatap Fitri, sepertinya gadis itu menaruh harapan padanya.


"Gimana mbak, bisa ambil ijazahnya?"tanya Fitri penuh harap.


Rara menggeleng, "sepertinya aku nggak bisa ngajar dulu fit, kita belajar jualan aja yuk,"jawabnya lesu.


"Tapi aku nggak ada pengalaman jualan mbak,"

__ADS_1


"Kita coba dulu aja, mungkin ini jalan rejeki buat kita,"


"Modalnya kayaknya gede mbak,"


"Kalau modal kayaknya ada sih, tapi kayaknya tunggu sebulan lagi deh, kalau aku udah pulih, kamu antar aku ke kota ya! Aku mau cairkan uang tabungan,"


"Sip mbak, tapi mbak, memangnya mbak bisa design baju, terus mesin jahit yang di rumah itu punya bos ibu, jadi ibu hanya mengerjakan kerjaan yang dari bos, palingan dikit-dikit bisa jahit-jahit yang ringan-ringan, nggak bisa fokus jahit gamis yang bakal kita jual,"


Rara terdiam, ia berfikir keras, "kita pikirkan besok ya fit, aku pulang dulu udah malam, nanti Mbah Sarmi nyariin,"ujarnya pamit


"Ya udah, hati-hati ya mbak!"ucap Fitri sambil mengantarkan Rara menuju pintu rumahnya, Rara juga sempat berpamitan dengan mbak Nurul dan Mas Supri orang tua dari Fitri.


Keesokan harinya, Rara mengajak Fitri untuk membeli ponsel di salah satu konter tak jauh dari toserba yang kemarin mereka kunjungi,


Harganya hanya satu jutaan, berbeda jauh dengan ponsel miliknya yang hancur saat dirinya kecelakaan.


Ponsel pemberian lelaki itu, yang harganya bisa membeli satu motor matic.


Tak lupa ia membeli kartu perdana juga, Rara berfikir, tidak bisa selamanya ia bisa meminjam ponsel milik Fitri, karena mau bagaimanapun, ia tidak bisa menghubungi mas Andi sewaktu-waktu.


Nomor kontak yang ada di ponsel baru hanya ada Mas Andi, mbak Anisa dan Fitri saja, sebenarnya ia hafal diluar kepala nomor ponsel lelaki itu, namun ia memilih tidak ingin lagi berhubungan dengan lelaki itu.


Meskipun Rara sangat mencintainya, tapi ia tidak ingin mengecewakan kakak sulungnya, ia beruntung, setidaknya hanya Andi yang tau, betapa bejad dirinya.


Kecelakaan kemarin, benar-benar menjadi titik balik dalam hidupnya, Rara ingat nasehat Andi sebelum kembali ke Kalimantan,


"Dek, mungkin ujian yang menimpa kamu bertubi-tubi bisa jadi itu teguran Sang Maha Pencipta, karena selama ini kamu jauh dari Nya,"


"Adik bungsu mas memang anak yang baik, tapi dalam hal agama kamu jauh dek, seenggaknya kalau kamu lebih mendekatkan diri pada Nya, ada benteng tersendiri untuk mencegah kamu berbuat maksiat,"


"Setidaknya kamu masih diberi kesempatan yang kedua untuk hidup lebih baik, jadi untuk kebaikan kamu sendiri, tolong jauhi lelaki yang membuat kamu seperti ini,"


Ucapan Andi terngiang-ngiang di telinganya, Rara bertekad dalam dirinya, ia harus membuka lembaran baru hidupnya, sudah cukup hidupnya diisi dengan maksiat.


Sesampainya Rara dan Fitri di rumah Mbah Sarmi, keduanya duduk di bangku kayu panjang diruang tamu,


Keduanya mendiskusikan tentang rencana membuka bisnis berjualan gamis, dengan mengandalkan mesin pencarian di ponsel, mereka mulai mencari tata cara membuka bisnis itu.

__ADS_1


Mereka terlihat bersemangat, keduanya saling memberikan ide masing-masing.


__ADS_2