
Rara mengurus Arana seorang diri, walau terbilang ibu baru, namun ia bisa menjalani perannya dengan baik.
Untuk pekerjaan rumah, seperti mencuci, setrika dan membersihkan rumah, semua dikerjakan oleh mbak Narti yang datang di pagi hari hingga siang menjelang sore.
Dan belanja bahan makanan, Rara lebih memilih membeli secara online disalah satu market place yang menyediakan bahan makanan segar.
Ibu satu anak itu nyaris tak pernah keluar dari pintu gerbang rumah mertuanya.
Komunikasi dengan mertuanya hampir dilakukan setiap hari, Umi Fatimah yang biasanya menghubunginya dulu, wanita paruh baya itu merindukan cucu perempuannya, namun apa daya, Nicholas harus menjalani ujian semester satu tingkat sekolah menengah pertama kelas IX.
Mertuanya berjanji akan mengunjunginya saat liburan sekolah nanti.
Usaha yang dilakoninya bersama Fitri juga masih berjalan sebagaimana mestinya, orderan sedang ramai-ramainya mendekati akhir tahun.
Beruntung Arana tidak rewel, sehingga Rara bisa bekerja melalui laptopnya.
Sedangkan Cristy, sepeninggal Fernando, beberapa kali wanita itu datang berkunjung, menjenguk bayi perempuan cantik yang mirip sekali dengan Fernando atau sekedar membicarakan usaha yang akan dijalankan bersama beberapa bulan lagi.
Cristy mulai menjadi model dari baju yang akan dijual di toko online milik Rara.
Meskipun hanya di foto dengan kamera ponsel milik Rara.
Halaman belakang menjadi studio dadakan untuk sesi foto dengan Cristy sebagai modelnya.
Sudah empat kali libur kerja, Cristy datang berkunjung.
Dengan adanya model, baju yang dijajakan semakin laris manis, sebuah hubungan menguntungkan bagi mantan pacar dan istri dari Fernando.
Rara bersyukur menjalani harinya dengan bahagia, walau tanpa kehadiran suaminya, yang sudah satu bulan lebih tidak menghubunginya sama sekali.
Pernah beberapa kali sahabat dari suaminya datang berkunjung, ada Oscar bersama Anindia adik dari Ayudia.
Awalnya Rara tak percaya mengingat perbedaan usia yang terpaut cukup jauh.
Oscar yang berusia tiga puluh empat tahun sedangkan Anindia baru berusia dua puluh dua tahun.
Anin biasa disapa, mengaku, jika Oscar telah melamar dirinya, namun adik dari Ayudia itu masih bingung, mengingat hingga saat ini kakaknya belum juga sadar sepenuhnya.
Lain dengan pasangan itu, ada Natasha yang mengajak lelaki yang baru mulai berkuliah, Kamajaya biasa dipanggil Kama.
__ADS_1
Perbedaan usia mereka lebih jauh lagi, Natasha yang berusia tiga puluh tiga tahun sementara Kama berusia sembilan belas tahun.
Ya walau dengan wajah baby face milik Natasha tidak akan terlihat seperti Tante-tante yang berhubungan dengan brondong jika sedang jalan berdua dengan Kama.
Natasha mengaku tidak berpacaran dengan Kama, hanya sekedar jalan bersama, belum berfikir ke arah serius, mengingat usia Kama yang masih sangat muda juga belum bekerja dan Natasha yang tak percaya dengan mahluk berjenis kelamin laki-laki.
Siapa yang tidak trauma dengan lelaki, jika Natasha dikelilingi oleh para lelaki brengsek yang hobinya berkunjung ke tempat mami Belinda, hanya Benedict yang jarang ia dengar berganti pasangan seperti halnya yang lain.
Karena alasan itulah hingga saat ini Natasha memilih sendiri, ia mau diajak jalan oleh Kama sekedar iseng untuk hiburan semata.
Semua itu ia ceritakan pada Rara disaat ia berkunjung membawakan hadiah stroller berharga fantastis untuk Arana.
"Jangan gitu mbak, nanti ke tulah omongannya sendiri loh, kalau jodohnya ternyata dedek gemes gimana?"ujar Rara mengingatkan.
"Aku cuman iseng Ra, lagian kasian itu bocah, hampir tiap hari nungguin aku pulang kerja,"
"Kalau cuman iseng kenapa dikenalin ke aku, yang istrinya sahabat mbak Asha, berarti mbak serius dong,"
Natasha menggeleng, "itu bocah nungguin aku diparkiran mobil, pas aku mau kesini,"jelasnya.
"Waktu yang akan jawab mbak, prediksi aku, kama jodohnya mbak Asha, walau mungkin menuju ke sananya perlu jalan yang berliku,"
"Memangnya mbak ada trauma apa sampai punya rasa takut kayak gitu?"
"Kamu nggak tau aja, Laki-laki disekitar aku cuman Ben doang yang nggak suka mainin cewek,"
"Wah suaminya Rara parah berarti mbak?"
"Paling parah dibanding yang lain, Sampai detik ini, aku itu heran kenapa anak umi Fatimah bisa brengsek kayak gitu, ditambah lagi dapat istri wanita baik-baik kayak kamu, benar-benar Nando jadi orang paling beruntung sepanjang hidupnya,"
"Ya nggak gitu juga mbak, aku nggak sebaik itu,"
Keduanya ada di kamar milik Rara bersama Arana sementara Kama sedang membeli makanan.
"Ra, cowok-cowok itu kalau abis ngapa-ngapain itu cerita ke aku, ya tau sendiri kan aku cewek satu-satunya dan yang paling waras diantara mereka,"
Rara tertawa mendengarnya, "bukannya beruntung dikelilingi cowok-cowok ganteng mbak?"
"Beruntung apaan sih Ra, apes ia, nih aku ceritain, dulu waktu Masa orientasi siswa, aku yang sepupunya Oscar hanya bisa pasrah saat dia mengajak aku bergabung dalam barisan teman-temannya yang baru dikenalnya, sejak itulah mereka dekat sama aku,"
__ADS_1
"Awalnya aku bangga, tapi lama kelamaan, aku kesal juga, aku dimusuhi mayoritas cewek-cewek di sekolah gara-gara dekat sama mereka,"
"Karena mereka juga aku tidak punya sahabat cewek selama masa SMA,"
Rara tertawa terbahak-bahak hingga Arana terkejut dan menangis, ibu baru itu berusaha menenangkan bayi bermata hijau itu dengan menyusuinya.
"Makanya jangan ngetawain aku Amara, Arana aja nggak terima aunty-nya diketawain,"
Rara yang sedang duduk di sofa untuk ibu menyusui hadiah dari Oscar, ia melirik sekilas dokter kandungan itu, "gimana aku nggak ketawa, abisnya ngebayangin nya aja nggak enak, berarti nggak ada yang bisa diajak beli lip tint bareng dong,"
"Boro-boro Ra, mungkin kalau kamu lihat foto SMA aku, kamu nggak bakal ngenalin aku deh, aku itu tomboy banget, beda banget sama sekarang, ya itu kebawa cowok-cowok itu,"
"Tapi kayaknya mas Nando nggak nyimpen Foto masa SMA-nya deh, soalnya aku belum pernah lihat,"
"Ya jelas nggak bakal, meskipun kata orang-orang Nando paling tampan diantara sahabatnya tapi dia paling anti di foto, kalau nggak kami paksa, sampai sekarang dia nggak punya akun medsos kan?"
Arana yang telah memejamkan matanya lagi, Rara letakan di boks bayi tak jauh dari ranjang, "aku juga sempat heran mbak, pengen tanya tapi males, biasanya cowok kayak mas Nando seneng Selfi, kayaknya terakhir aku foto bareng saat kami nikah,"
"Nando emang gitu, beda sama yang lain, dulu waktu SMA, dia itu hanya banyak omong kalau lagi ngumpul sama kita-kita, kalau sama yang lain dia dingin banget,"
"Bukannya mas Nando playboy ya? Biasanya kalau cowok kayak gitu banyak omong kan?"
"Justru yang begitu bikin cewek pada penasaran, Nando nggak pernah ngejar-ngejar cewek duluan,"
"Termasuk mbak Tamara?"
"Iya termasuk Tamara, dia yang paling agresif deketin Nando, kasih perhatian, nyamperin tiap istirahat, bawain minum pas dia pada main basket, lama-lama Nando luluh juga, mereka akhirnya jadian, heboh waktu itu hingga ke luar sekolah,"
Natasha meminum air mineral yang disediakan Rara, "hingga saat prom night angkatannya Tamara, Nando melihat pacarnya berciuman dengan cowok yang selama ini ngejar-ngejar Tamara, padahal beberapa hari sebelumnya untuk pertama kalinya mereka tidur bersama, sejak saat itu Nando berubah, dia menjadi pemain wanita,"
"Pantesan waktu pertama kali ketemu, mas Nando dingin banget sama mbak Tamara, biasanya kalau pacar pertama nggak kayak gitu, kayak benci banget,"
"Kalau aku jadi Nando juga pasti sakit hati Ra,"
Ponsel milik Natasha berdering, sebuah pesan dari Kama yang memberitahukan jika ia sudah berada diruang tamu.
Kedua wanita itu keluar dari kamar, Natasha menghampiri Kama untuk mengajaknya makan bersama di ruang makan, sementara Rara menyiapkan peralatan makan juga minum.
Kama membelikan ayam bakar di kedai tak jauh dari rumah umi Fatimah.
__ADS_1
Mereka makan bersama diselingi dengan pembicaraan ringan.