Istri Untuk Fernando

Istri Untuk Fernando
lima puluh


__ADS_3

Melihat diamnya ketiga orang itu, Rara menjadi tak enak sendiri, ia berusaha menghilangkan kecanggungan diantara mereka,


"Jadi Di, sejak kapan Lo nikah?"tanyanya.


"Udah tiga tahun lebih,"jawab Ayudia.


"Kok temen SMA nggak ada yang ngasih tau ya!"


"Gue nikah di KUA, sederhana aja Ra, nggak nyebar undangan,"


"Pantesan nggak kedengaran kabarnya, terus Lo udah ada anak belum?"


"Udah kembar cowok cewek, belum lama ulang tahun yang ke dua,"


"Cepat juga ya! Jadi sekarang Lo sekarang tinggal dimana?"


"Di rumah laki gue,"


"Iya dimana?"


Ayudia menyebutkan kompleks perumahannya,


Rara melongo mendengar alamat tempat tinggal sahabatnya, "bukannya itu kompleks elit ya! Jadi suami Lo orang kaya ya di?"tanyanya berbisik.


"Biasa aja Ra, Liat tuh, mana ada orang kaya makan di warung bakso kayak gini Ra,"ujarnya sambil melirik suaminya.


"Tapi Di, kok bisa cogan kayak laki lo, mau sama Lo yang kayak gini,"bisiknya menahan tawa.


"Sialan Lo, itu namanya rejeki Ra, nah Lo tuh dilamar sama AA, dia kaya raya tau, tapi jangan mau sama AA deh,"


"Gue juga nggak mau, kayak player gitu kayaknya, mantan gue yang wajah lugu aja, nggak taunya brengsek, apa lagi kayak si doi,"


Usai keempatnya menghabiskan makanannya, mereka beranjak keluar dari warung bakso itu, semua makanan tadi sudah dibayar oleh Benedict.


Saat didepan warung bakso terjadi perdebatan pasangan suami istri itu,


"Kamu pulang sama aku,"ujar Benedict tak mau dibantah, saat Ayudia hendak menaiki motor.


"Nggak mau, aku mau anterin Amara pulang dulu,"tolaknya.


"Ada Nando yang antar,"


"Nggak bisa, mana mau Amara pergi berdua sama yang bukan apa-apanya,"


"Bunda nurut sama ayah ya, bunda tau kan, ada yang harus bunda jelaskan sama ayah,"

__ADS_1


Mendengar ucapan Benedict, Fernando tertawa, "ciye... Langsung ganti panggilan,"ledeknya,


Benedict menatap tajam sahabatnya, hal itu justru membuat Ayudia ikut tertawa, sementara Rara hanya diam, bingung mau menanggapi apa,


"Gini aja Ayah Ben, aku antar Amara, lalu kamu ikut dibelakang aku, jadi nggak usah diperpanjang, nanti nggak sampai-sampai rumah,"


Fernando mendekati sahabatnya dan berbisik, "udah ikutin aja, sampai rumah Lo kerjain tuh bini lo,"


Tanpa banyak kata, Benedict masuk ke mobil bersama Fernando, sementara Ayudia menaiki motor bersama Rara.


Usai mengantarkan Rara, terlihat Ayudia keluar dari mulut gang, Fernando menyunggingkan senyumannya.


"Bun, motornya kasih Nando, biar dia yang bawa pulang, katanya dia kangen sama Aileen,"ucap Benedict.


Ayudia menuruti kemauan suaminya, ia menyerahkan helm dan motor kepada Fernando, sementara ia mengikuti suaminya memasuki mobil hitam itu.


Fernando tak berniat menemui kekasihnya sekarang juga, ia mempunyai rencana untuk membuat wanita itu tidak lari lagi, ia memilih mengunjungi Aileen,


Fernando tiba lebih awal dibanding sahabatnya, setelah mencuci tangan, ia menghampiri Aileen yang sedang bermain dengan salah satu Maid di teras depan rumah.


Tak lama kemudian pasangan suami istri itu baru saja sampai, terlihat wajah masam sahabatnya, sedangkan Ayudia terlihat biasa saja, bahkan wanita itu sempat menyapa putrinya, namun seperti biasa, jika Aileen sedang bersama dirinya, balita itu tidak akan pernah mau menanggapi siapapun walau itu bundanya.


"Abis makan malam, gue mau ngomong sama Lo Yu,"ucap Fernando.


"Oke, kalau gitu, Ayu masuk dulu A,"


"Ben kemana nduk?"tanya Anna yang melihat kedatangan menantunya sendirian.


"Mas Ben lagi di ruang kerja, katanya ada yang perlu di urus sebentar,"


Mereka mulai makan, hingga Benedict datang dan duduk disamping istrinya, seperti biasa lelaki itu meminta istrinya untuk menyuapinya.


Anna dan Fernando sudah terbiasa dengan tingkah manja lelaki itu.


Usai makan, si kembar kembali bermain di kamar khusus bermain, ada Fernando dan Ayudia yang mengawasi, sedangkan Anna memilih untuk beristirahat di kamar, sedangkan Benedict melanjutkan pekerjaannya.


"Ayu, gue serius masalah mau lamar Amara,"ucap Fernando memulai pembicaraan.


"A, mending jangan deh, cari perempuan lain aja deh,"


"Kenapa emang? Emang gue nggak pantas buat dia?"


"Ini bukan pantas nggak pantas A, gimana ya menjelaskannya, Ayu bingung,"


"Dibikin simpel aja sih yu, gini yu, mungkin menurut Lo gue terlalu cepat mengambil keputusan, sama halnya kayak Ben dulu, gue juga ngerasain hal yang sama, berdebar-debar, ngerti nggak sih?"

__ADS_1


"Tapi tetap beda A,"


"Beda gimana? Apa dia janda atau udah nggak perawan? Gue nggak peduli itu, gue sadar diri, gue orang kayak apa, dan Lo tau, ini pertama kalinya nyokap gue langsung setuju begitu gue kasih lihat Amara tadi, Lo dengar sendiri kan?"


"Kenapa nggak sama Asha aja sih A?"


"Ini lagi Asha, asal Lo tau, kita berlima dari dulu nggak pernah menganggap Asha itu cewek,"


"Parah A, kalau Asha dengar gimana?"


"Asha tau kok, dia nggak bakal marah, kenapa jadi bahas Asha sih, yang gue mau bahas itu Amara, coba gue pengen dengar, tentang sahabat Lo yang satu itu,"


Ayudia menarik nafas dan menghembuskannya perlahan, "Amara itu salah satu sahabat Ayu sejak SMA, kami cukup dekat, biasanya kami sering belajar bareng sama Dikta juga,"


"Tunggu, Dikta itu cinta pertama Lo bukan si?"tanya Fernando menyela, ia jadi teringat lelaki yang dekat sekali dengan Rara saat keduanya ada di Surabaya,


Ayudia mengangguk, "dan sejak lulus SMA, Amara kuliah di kampung halaman orang tuanya hingga lulus dan bekerja di sana, terus Amara juga anak yatim piatu, setahun yang lalu orang tuanya meninggal karena kecelakaan, Amara punya dua kakak, yang udah pada nikah, satu kakak pertamanya tinggal di Kalimantan sedangkan yang kedua tinggal dikampung halaman orang tuanya,"


"Amara pulang ke Jakarta buat nyari kerjaan, sekaligus move on, dia dua kali gagal nikah, yang pertama calonnya menghamili cewek lain, terus yang kedua ternyata suami orang, jadi Amara itu semacam trauma gitu, padahal kata Amara, wajah calon-calonnya itu lugu, makanya pas Aa bilang mau lamar, dia nggak percaya, yang modelnya lugu aja ternyata brengsek apalagi model player kayak Aa,"


Fernando tau betul tentang Amara alias Rara, karena mau bagaimanapun, wanita itu yang ia tunggu selama tiga tahun, namun ia ingin mengorek informasi hal yang membuat Amara meninggalkannya, tetapi sepertinya wanita itu bahkan tidak bercerita tentang kisah mereka berdua kepada Ayudia,


"Gue emang brengsek jadi cowok, gue player, betul gue akuin, tapi itu dulu, Lo tau kan yu, sejak gue putus sama mantan gue yang beda agama, gue nggak pernah Deket lagi sama cewek, maka dari itu pas liat Amara, kayanya gue udah feeling, kalau dia jodoh gue,"ujarnya tetapi ada sedikit kebohongan dalam ucapannya.


"Terserah Aa, yang jelas Amara nggak kenal istilah pacaran, jadi jangan harap AA bisa pegang-pegang sebelum sah,"


"bahkan gue udah buat dia hamil anak gue" ucap lelaki itu dalam hati.


"Seenggaknya sebelum lo pergi, Lo deketin gue ke dia,"


"Gampang A, cariin Amara kerjaan deh,"


"Nggak usah kerja, biar gue yang nafkahi,"


"Nggak bakal mau Amara kayak gitu, dia itu sebelas dua belas Sama Ayu,"


Obrolan mereka terus berlanjut hingga Benedict menghentikan obrolan itu,


Malam itu Fernando memilih menginap di kediaman sahabatnya, ia tidur bersama Aileen.


Hanya dengan mengelus rambut balita itu, tak lama Aileen tertidur.


Pikiran Fernando menerawang jauh, apa Rara telah melupakannya, kenapa seolah wanita itu tidak mengenalinya, bahkan menolak untuk disentuh, padahal dulu, keduanya sering berbagi Saliva juga peluh, membayangkan saja, rasanya hasratnya mendadak bangkit.


Rasanya, ia ingin menghampiri wanita itu, dan menggaulinya hingga pagi, tiga tahun ia sama sekali tak berhubungan dengan siapapun,

__ADS_1


Ia tak akan melepaskan wanita itu kali ini, suka tidak suka, wanita itu harus jadi istrinya,


Sepertinya ia harus menanyakan keberadaan anak yang dikandung wanita itu, mungkin hanya berbeda beberapa bulan dari Aileen.


__ADS_2