
"Fernando apa kamu tidak memikirkan apa yang akan terjadi dengan kakak Rara dan keluarganya? Kenapa kamu berbuat seperti itu?"ucap Umi Fatimah dengan nada tinggi.
Lelaki itu menyeringai, "aku nggak peduli, apa mau aku telpon atasan kakak kamu yang kedua Ra?"
Rara menggeleng, "jangan lakukan itu, aku mohon,"pintanya.
"Kalau begitu jangan tinggalkan aku, simpel kan?"tawar lelaki itu.
Melihat raut wajah calon menantunya memelas, Umi Fatimah semakin tidak tega, "gini aja do, setelah kepulangan kamu dari Amerika, umi akan temani kamu untuk datang ke rumah orang tua Rara, supaya ada jaminan, setidaknya walaupun kalian tidak menikah sekarang, orang tua Rara sudah tau, kalau kamu adalah ayah dari anak yang dikandung Rara, apakah itu cukup menjadi jaminan Rara tidak akan meninggalkan kamu, tapi ada syarat yang harus kita sepakati bersama,"
Fernando menaikkan sebelah alisnya, seolah bertanya apa syaratnya.
Umi Fatimah menghela nafas, "kamu tidak boleh menyentuh Rara hingga kalian sah menikah, dan kembalikan pekerjaan kakak Rara yang pertama,"
"Tidak bisa umi, untuk yang satu itu, apa umi mau, anak umi berburu Psk lagi untuk melampiaskan hasratnya?"
"Apa hanya itu yang kamu pikirkan Do?"
"Itu kebutuhan umi, Nando butuh itu,"
Lelah menghadapi keras kepala putranya, Umi Fatimah memilih berlalu ke kamar, namun saat memegang gagang pintu, ia berkata, "jangan melakukan hal itu disini, umi nggak rela, dan kamu Rara, jangan mau kalau diajak melakukan dosa,"ucapnya lalu memasuki kamarnya.
Rara terdiam, ia hanya menatap meja dengan hiasan bunga berwarna merah.
"Kita kembali ke apartemen sekarang,"ucap Fernando berdiri, sambil meraih pergelangan tangan kekasihnya.
Rara menepis tangan lelaki itu, "malam ini aku mau tidur disini, aku lelah,"ucapnya sambil berlalu menuju kamar Fernando.
Lelaki itu menghembuskan nafasnya kasar, ia memilih mengikuti kekasihnya masuk kedalam kamar miliknya.
Keesokan paginya, ketiga orang itu sarapan bersama, tidak ada pembicaraan diantara mereka, semua sibuk dengan makanan masing-masing, hingga sarapan telah habis.
Seperti biasa, umi Fatimah akan berangkat mengajar terlebih dahulu, beliau harus sampai di sekolah pukul setengah tujuh pagi, sedangkan Rara akan membersihkan rumah hingga jam tujuh nanti.
Sebenarnya umi tidak pernah menyuruh calon menantunya untuk melakukannya, hanya saja Rara sendiri yang ingin melakukannya, katanya kebiasaannya saat masih bersama orang tuanya.
Itu semua tak luput dari pengamatan Fernando, kekasihnya sedang mengepel lantai ruang tengah, sedangkan dirinya masih sibuk dengan tab yang ada ditangannya, ada sesuatu yang harus ia kerjakan.
"Kenapa nggak sewa ART aja sih, kamu kan lagi hamil?"ujar Fernando tanpa melihat wanita itu.
"Orang cuman dikit, aku juga nggak capek kok,"sangkal wanita hamil itu.
"Ra kamu lagi hamil anak aku, dan aku bukan orang yang kekurangan uang hanya untuk membayar upah ART,"
"Aku tau, tapi aku suka melakukan ini, dengan ini aku tidak perlu olahraga agar mengeluarkan keringat,"
"Tapi kamu lagi hamil sayang, kamu nggak perlu mengerjakan hal itu untuk mencari keringat, cukup sama aku, kita bisa berperang peluh,"
Rara yang sudah menyelesaikan pekerjaannya, memilih tak menanggapi ucapan frontal itu.
Ia lebih memilih mencuci piring di dapur, namun belum selesai mengerjakannya ada tangan yang mengelus perutnya yang sedikit mulai membuncit,
"Sayang bisakah kita periksa kandungan kamu, sebelum aku berangkat ke Amerika? Aku ingin melihat anak aku,"
Rara masih sibuk membilas piring-piring bekas sarapan mereka, "aku baru periksa belum lama, masa diperiksa lagi,"
"Tapi aku pengin lihat,"
"Aku ada foto hasil USG kok, nanti aku kasih ke kamu,"
"Aku ingin dengar kata dokter tentang perkembangan kandungan kamu secara langsung,"
__ADS_1
Malas berdebat Rara menganggukkan kepalanya, "setelah aku pulang bekerja ya!"
"Kenapa nggak ijin aja? Lagian kenapa kamu mesti kerja sih, memang uang yang aku kasih kurang?"
"Nggak gitu mas, aku kerja tinggal beberapa hari lagi kok, kan yang cuti melahirkan udah masuk, aku lagi mengalihkan sisa pekerjaan aku ke dia,"
"Jadi kamu mau resign?"
"Iya, kan aku mau pulang kampung,"
"Kenapa nggak disini aja sama umi?"
"Mas, aku masih ada orang tua, sudah tiga bulan aku nggak pulang ke rumah,"
"Apa kamu mau dijodohkan lagi?"
"Emang ada lelaki yang mau dengan kondisi aku yang seperti ini?"
"Aku lah,"
"Kecuali kamu, udah ya! Aku mau siap-siap berangkat,"ujar Rara sambil berlalu menuju kamar untuk mengenakan baju seragamnya,
Seharian ini setelah mengantarkan kekasihnya, Fernando lebih memilih mengunjungi sahabat-sahabatnya,
Pagi-pagi ia merecoki Alex di kantornya, ia dengan sengaja membuat sahabat brengseknya kalang kabut, gara-gara perkataannya.
Di depan Sandra sekertaris dari pengacara itu, Fernando sengaja berucap, "Lex cewek yang Lo tiduri pas di club nyariin tuh, katanya ketagihan sama permainan panas Lo,"ucapnya Frontal.
Alex menatap tajam sahabatnya, namun beralih pandang ke sekretarisnya, "itu udah lama san, sebelum aku sama kamu kok,"ucapnya khawatir.
Bukannya menanggapi bosnya, Sandra malah menyodorkan Map berwarna biru, "tolong tanda tangani ini pak,"
Walau begitu Alex tetap menerima map itu, membacanya sejenak lalu menandatanganinya, lalu menyerahkan ke sekretarisnya.
Fernando tertawa, "iya deh Perebut bini orang,"
Kesal Alex melempar remasan kertas kearah sahabatnya, "sialan Lo, lakinya sendiri yang ngasih ke gue, karena kebetulan gue suka sama dia ya ga keberatan lah,"
"Iya deh sebahagia Lo deh, perebut bini orang,"
"Ngeledek Mulu Lo, nggak ada kerjaan apa? Ngerecokin gue Mulu,"
"Lex, Rara hamil,"ucap Fernando tiba-tiba.
Alex yang sedang mengetikan sesuatu di keyboard komputernya hanya melirik sekilas, "bukannya itu yang Lo harapkan?"
"Masalahnya umi nggak setuju kalau gue nikahi Rara sekarang, alasannya karena perempuan hamil, tidak boleh dinikahi, meskipun anak yang dikandungnya adalah anak dari laki-laki yang menghamilinya,"
Alex menatap sahabatnya, "lalu apa yang mau Lo lakuin?"
"Itu yang pengen gue tanya ke Lo,"
Alex terdiam sejenak, Lalu menghela nafas, "buat surat perjanjian yang isinya kesepakatan Lo berdua kalau dia mau Lo nikahi setelah melahirkan, tapi Saran gue, Lo ke rumah orang tuanya dulu,"
"Masalahnya bos Lo yang nyebelin, nyuruh gue ke Amerika kan? Termasuk elo,"
"Lo bisa minta tolong Umi Fatimah untuk datang ke rumah orang tua Rara, Lo juga bisa meminta tolong ke ibunya Rama buat temenin umi,"
"Gitu ya! Thanks ya! Gue mau ke Rama dulu,"pamitnya berlaku dari ruangan sahabatnya.
Fernando mengemudikan mobilnya menuju cafe dimana Rama biasa mengerjakan pekerjaannya dari sana,
__ADS_1
Usai menyapa bang satria dan curhat sedikit, lelaki blasteran itu beranjak naik menuju ruangan sahabatnya,
Seperti sudah jadi kebiasaannya, jika memasuki ruangan milik Rama, ia tidak mengetuk pintu terlebih dahulu, di sana ada Benedict sedang mendiskusikan pekerjaan.
Fernando duduk di sofa bersebelahan dengan Rama, sedangkan Benedict duduk di sofa singel,
Lelaki bermata hijau itu hanya memandangi kedua sahabatnya yang terlihat serius berdiskusi soal pembangunan cluster yang ada di tanggerang selatan.
Hingga lima belas menit berlalu, mereka baru saja selesai berdiskusi,
Benedict melirik Fernando yang sedang mendongakkan kepalanya bersandar di sofa dan menutupi wajahnya dengan lengannya.
"Kenapa Lo?"tanyanya.
Fernando hanya diam tak menanggapi, hingga pulpen yang dipegang Benedict, ia lemparkan tepat mengenai lengan lelaki itu.
"Apaan sih Lo? Ganggu aja,"ungkap Fernando kesal.
"Lo ngapain datang kemari?"
"Suka-suka gue dong, kaki-kaki gue,"
"Bangsat Lo, gue kirim ke pulau buat jaring ikan baru tau rasa,"ancam Benedict.
"Sebelum Lo ngusir gue, Lo dulu yang bakal menyendiri ke pulau, karena patah hati di tinggal Ayu,"ancam balik Fernando.
Benedict yang hendak berdiri ditahan oleh Rama, "santai bro, Lo kayak nggak tau polahnya Dodo,"
Rama beralih menatap sahabat yang duduk disebelahnya, "kenapa Do? Ada masalah?"
Fernando melirik ke Rama, "gue mau pinjem nyokap Lo, buat nemenin Umi gue, buat jalan-jalan ke Malang, semua biaya gue yang tanggung,"
"Tumben Lo, ada apaan nih?"tanya Rama Heran.
"Kalau perlu sama Tante Anna sekalian,"
"Ngapain bawa-bawa nyokap gue?"tanya Benedict kesal.
"Ya udah kalau nggak boleh, berarti nyokap nya Rama aja,"jawab Fernando dengan wajah menyebalkan menurut Benedict.
"Lo telpon sendiri sana," ucap Rama.
"Sama Rani sekalian ya Ram,"
Rama mengangguk, "do gue denger Lo lagi serius sama cewek ya! Kok nggak dikenalin ke kita-kita?"
"Emang perlu ya?"tanya Fernando.
"Si Dodo dodol, Lo anggap kita sahabat bukan sih?"
Fernando tertawa, dengan tatapan meledek ia menatap Benedict, "gue sahabatan sama Rama, nggak pake Lo, mentang-mentang big bos, kalau ngasih kerjaan nggak kira-kira, gue ngawasin resort dua pulau, belum yang di Lembang, eh ditambah ngerjain proyek di Malang, seenggaknya yang lain kasih ke siapa dulu kek, udah gitu pake acara ikut ke Amrik, gue tuh jongos Lo bukan sahabat Lo,"
Benedict bangkit, ia mencengkram kerah kemeja slim fit milik Fernando, "Lo kaga terima? Gue ngelakuin itu, biar Lo nggak main cewek mulu bangsat, umi Lo sendiri yang minta ke gue, biar Lo sibuk, kaga usah mikirin ************ mulu,"ungkapnya emosi lalu mendorong lelaki itu dan jatuh tepat di sofa.
"Jangan bohong Lo bangsat,"maki balik Fernando.
Benedict mengambil ponselnya di meja, ia mengutak-atik sejenak, lalu terdengarlah suara rekaman umi Fatimah saat berbicara dengan Benedict.
"Denger sendiri kan Lo! Kenapa Sampai umi Fatimah meminta itu ke gue? Bukan karena Lo butuh duit, tapi buat menghilangkan kebiasaan buruk Lo, Gonta ganti cewek,"
Bukannya menanggapi ucapan Benedict, ia malah menghubungi ibu Rama, untuk memberitahukan tentang rencana liburan bersama umi Fatimah.
__ADS_1
"Rama gue balik," ujarnya keluar dari ruangan itu, tanpa berpamitan pada sahabatnya yang satu lagi.