
Rara mengajak Ainsley dan Aileen ke kebun belakang rumah besar itu,
Ada berbagai sayuran dan beberapa buah yang ditanam di sana.
Rencananya ketiganya akan memanen bayam untuk makan siang nanti,
Kegiatan yang nyaris tak dilakukan oleh si kembar sejak bundanya terbaring koma.
Kedua balita itu terlihat bahagia mengikuti wanita hamil yang sedari tadi mencabuti bayam,
Ainsley membawakan keranjang kecil tempat bayam, sedangkan Aileen mengikuti Rara memanen.
Ketiganya saling berbagi tugas, hingga suara Fernando membuat mereka mengalihkan pandanganya.
Aileen langsung tersenyum lebar, balita itu bahkan berlari menghampiri Fernando.
Balita perempuan itu menanyakan aunty dan uncle nya, tetapi Fernando mengatakan, jika mereka menjenguk bunda Ayu terlebih dahulu.
Rara dan Ainsley menghampiri Fernando, keduanya sudah selesai memetik bayam.
Mereka masuk ke dalam rumah, Rara berpesan pada maid untuk memasak bayam itu, agar bisa dimakan nanti saat makan siang.
Fernando sengaja mengajak si kembar menuju tempat bermain, lalu menitipkannya pada maid yang biasa menjaga si kembar.
Lelaki itu beralasan, ada hal penting yang perlu dibicarakan dengan Rara, sehingga Aileen yang sedari tadi menempel padanya mau melepaskannya.
Fernando mengajak istrinya menuju kamar mereka, sesampainya di kamar, Fernando meminta istrinya untuk menunggu, lelaki itu akan mandi kilat.
Sedang menunggu suaminya Rara memilih duduk diam, hingga pintu kamar diketuk, wanita hamil itu membukakannya,
Ternyata Sinta yang sedang menggendong bayinya, ibu satu anak itu, hendak menitipkan putranya, karena akan membereskan kamar miliknya,
Rara mengajak masuk baby R, bertepatan dengan Fernando yang baru saja keluar dari kamar mandi sembari melilitkan handuk di pinggangnya.
Lelaki itu mengernyitkan dahinya, "kenapa Rayan ada disini?"tanyanya heran.
Tanpa menatap suaminya Rara berucap, "mbak Sinta mau beres-beres kamar, makanya dititipkan ke aku,"
"Emang nggak ada maid? Di rumah ini banyak maid, kenapa jadi kamu yang jagain sih?"ungkap Fernando kesal.
"Kami terbiasa saling bantu, jadi nggak masalah,"ujar Rara santai.
Fernando mengambil kaos yang disiapkan istrinya diatas ranjang, ia mengenakan dengan wajah muram,
"Amara, sekarang aku minta kamu kasih Rayan ke Sinta, aku lelah, aku ingin istirahat,"
"Sebentar doang mas, dikit lagi juga selesai mbak Sinta, orang cuman beresin kamar doang,"
Malas berdebat, Fernando mengambil ponselnya,
__ADS_1
"Ram, Lo ke rumah Ben sekarang juga, gue nggak mau tau,"
Tanpa mendengar jawaban dari seberang sana, Lelaki blasteran itu mengakhiri panggilannya.
Sepuluh menit berlalu, tak ada tanda-tanda Sinta datang, Fernando semakin kesal, wajahnya semakin muram, lelaki yang paling tidak sabaran diantara sahabatnya, mengambil alih Rayan dari dekapan Rara, lalu menggendongnya dan membawanya keluar.
"Mau dibawa kemana Rayan mas? Sini biar sama aku aja, paling mbak Sinta belum selesai.
Fernando membawa bayi itu menuju kamar Sinta, tapi tidak mendapati wanita itu berada di kamarnya.
Ia menanyakan keberadaan Sinta ke salah satu maid, dan katanya wanita itu ada di dapur sedang memasak.
Saat hendak menuju dapur, Fernando bertemu dengan Anna,
"Tante, tolong titip Rayan, kasih ke Sinta di dapur,"
Fernando memberikan baby R ke Anna dan mau tak mau, wanita paruh baya itu menerimanya.
Lelaki blasteran itu langsung menggandeng tangan istrinya menuju kamar keduanya.
Ia mengunci kamar itu, lalu membantu Rara membuka jilbabnya,
"Aku mau tidur sambil peluk kamu, aku kangen sama kamu, aku lelah,"keluhnya.
Sebagai istri yang baik Rara menurutinya, tak ada penolakan sama sekali.
Keduanya berbaring diatas ranjang, Fernando menenggelamkan kepalanya di ceruk leher istrinya, lalu tangannya mengelus perut buncit itu.
Rara hanya bisa mengelus rambut cokelat milik suaminya,
Fernando menghembuskan nafasnya kasar, "aku mau jujur sama kamu, tapi aku minta ke kamu, tolong hargai kejujuran aku dan jangan berfikir negatif tentang aku, kamu tau kan aku hanya mencintai kamu,"
Rara mengangguk.
Fernando mendongak dan mengecup bibir istrinya, lalu menenggelamkan kepalanya lagi ke ceruk leher dengan aroma strawberry itu,
"Tadi aku ketemu Tamara, dia masih meminta aku kembali, jelas aku menolaknya, aku menyuruhnya pergi dari kota ini kalau bisa keluar negeri sekalian, karena aku nggak mau dia terus-terusan mengganggu keluarga aku, dan aku memberikan sejumlah uang sama dia, sebagai ucapan terima kasih karena sudah membesarkan Nicholas, anggap aja ganti biaya hidup Nicholas selama ini, aku kasih dia dua milyar, apa kamu keberatan?"jelasnya diakhiri dengan pertanyaan.
Rara terkejut mendengar pengakuan suaminya, ia menggelengkan kepalanya tak percaya, "kamu ngomong gitu sama mbak Tamara? Kok kamu jahat banget sih?"
Rara mencoba bangkit tapi ditahan oleh Fernando, "aku udah berusaha jujur, tolong hargai aku,"
"Ini bukan masalah kejujuran, masalahnya kamu merendahkan harga diri seorang ibu, apa kamu tidak memikirkan perasaan seorang ibu? Sebagai calon ibu, aku tersinggung dengan perkataan kamu, meskipun itu bukan untuk aku,"
Fernando mengeratkan pelukannya, "salah dimana sih Ra, aku hanya membalas jasa dia karena udah besarkan anak aku?"
Rara memejamkan matanya, menghela nafas, mencoba meredakan amarahnya, "mas dengar ucapan aku baik-baik, yang namanya seorang ibu tidak mengharapkan apapun ketika membesarkan anaknya, seorang ibu ikhlas melakukannya, sejujurnya aku tidak suka ucapan kamu yang seperti itu, bahkan seluruh kekayaan yang kamu punya tak akan mampu menghargai perjuangan seorang ibu, kejam kamu,"
Fernando bangkit, ia duduk sambil menatap istrinya tajam, "kejam bagaimana sih, masih mending aku mau kasih dia uang untuk dia melanjutkan hidup, aku masih menghargai dia karena dia ibunya Nicholas,"
__ADS_1
Rara duduk berhadapan dengan suaminya, "nggak semua hal di dunia ini bisa dinilai dengan nominal uang, seorang ibu yang hamil, melahirkan dan membesarkan anaknya itu contohnya, nyawa loh mas taruhannya, makanya kalau seorang ibu yang melahirkan lalu meninggal itu syahid, Karena perjuangannya yang luar biasa, bisa-bisanya kamu ngomong gitu sama ibu dari anak kamu, lalu apa suatu saat kamu melakukan hal yang sama ke aku?"
Fernando melotot lalu menggeleng, "kamu berbeda Ra, aku mencintai kamu, aku nggak mungkin kayak gitu sama kamu,"
"Urusan hati nggak ada yang tau mas, perasaan bisa berubah seiring berjalannya waktu, buktinya kamu dulu, bukankah mbak Tamara cinta pertama kamu, dan sekarang kamu mengaku kamu sudah tidak mencintainya bahkan merendahkan harga dirinya,"
"Dulu aku nggak benar-benar mencintainya Amara, dia hanya cinta masa muda aku, berdebar juga cuman dikit, tapi kamu beda Ra, hingga detik ini aku selalu berdebar jika didekat kamu,"
Malas berdebat Rara menyerah, ia kembali membaringkan tubuhnya,
Fernando melakukan hal yang sama, ia kembali memeluk istrinya, "Rara sayang, kamu bisa merasakan jika detak jantung lebih kencang jika dekat kamu,"ungkapnya sambil mengambil tangan istrinya lalu diletakan di dadanya.
Rara bisa merasakannya,
"Kamu bisa merasakannya kan? Aku nggak bohong, dulu aku sampai periksa ke dokter buat memastikan kesehatan jantung aku, tapi tak ada masalah apapun, hingga aku konsultasi ke psikiater, aku nggak bohong Ra, aku benar-benar mencintai kamu, hanya kamu yang buat aku begini,"
Rara mengangguk percaya, wanita itu kembali mengelus rambut cokelat suaminya.
"Oh ya, aku mau ngomong, kalau Nicholas sudah aku masukan di kartu keluarga kita, Apa kamu nggak keberatan?"
Rara menggeleng.
Fernando mencium ceruk leher istrinya, "satu lagi, tadi saat aku di supermarket, aku ketemu Cristy, dia nanyain kamu sekaligus berterima kasih sama kamu, karena uang yang dulu kamu kasih, utang maminya lunas, dan sekarang maminya di penjara karena kasus judi ilegal,"
"Bisa gitu ya, ketemu dua mantan dalam satu hari,"
"Ck.. nggak sengaja Ra, mau lanjut nggak?"
Rara mengangguk.
"Sekarang dia kembali tinggal di kontrakannya dulu sebelum ketemu aku, dia juga udah kerja jadi kasir supermarket nggak jauh dari sini, kalau aku lihat, dia lebih bahagia dibanding dulu,"
Rara terkejut mendengarnya, "kamu nggak kasih uang lagi ke mbak Cristy, atau kasih rumah gitu?"
"Buat apaan Ra? Dia udah bahagia dengan hidupnya yang sekarang,"
"Ya kali aja kamu mau kasih kompensasi,"
Fernando memutar bola matanya malas, "nggak usah mulai Ra, aku tau kamu mau ngajak aku ribut,"
"Siapa yang ngajak ribut sih? Lagian nggak mungkin aku bisa menang dari kamu,"
"Itu tau, tapi tetap kamu pemenangnya loh,"
"Hah, maksudnya?"tanya Rara bingung,
"Kamu pemenang hati aku, kamu yang buat aku tergila-gila sama kamu,"
"Iya deh biar cepat, jadi mending sekarang kamu tidur, aku temenin,"
__ADS_1
"Sebelum aku tidur, bisa tidak kita main dulu, sekali aja, supaya tidur aku lebih nyenyak,"
Rara mengangguk, dan senyum lebar menghiasi wajah Fernando.