Istri Untuk Fernando

Istri Untuk Fernando
seratus dua puluh tiga


__ADS_3

Fernando dan Nicholas baru saja menginjakan kakinya diatas helipad di atap gedung rumah sakit, setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu jam dari Lembang menuju ibukota menggunakan helikopter.


Di lantai berwarna hijau bertuliskan huruf H besar berwarna putih itu, ada Benedict dan Oscar yang telah menunggunya.


Tak banyak bicara, keempatnya turun dari sana menuju lantai empat dimana Rara sedang berjuang dan bertaruh nyawa.


Hening sepanjang perjalanan, tak ada yang bersuara sama sekali,


Didepan ruang bersalin ada Pradikta, Rama juga Anna tengah berdiri tepat di pintu masuk.


Fernando terkejut adanya Pradikta di sana, bisa-bisanya lelaki yang baru beberapa hari lalu ia hajar berada di depan ruang bersalin dimana istrinya berada.


Sedari tadi ia menahan amarah akibat ulah Benedict, juga uminya yang meninggalkan istrinya di rumah, dan sekarang Pradikta,


Fernando mencengkram kemeja milik Pradikta, "ngapain Lo disini? Nganter nyawa Lo?"


Benedict, Oscar dan Rama melerai juga menasehati Fernando agar menahan amarahnya.


"Jangan buat keributan Nando, dari pada kamu seperti ini, lebih baik kamu dampingi istri kamu didalam, dan tentang dia, istri kamu sendiri yang memintanya, jangan sampai istri kamu stres,"Anna menasehati lelaki blasteran itu.


Fernando melepaskan cengkeramannya sambil mendorong kasar Pradikta, "kalau bukan karena bini gue, udah Mampus Lo b*ngsat,"


Pradikta tersenyum mengejek, sambil membetulkan kerah kemejanya, "makanya jangan suka memaksakan cinta, jadi gini kan, sama aja Lo kayak dia,"ujarnya sambil menunjuk Benedict.


Hampir saja sebuah Bogeman mendarat di pipi Pradikta, andai Benedict juga Oscar tak sigap menahan lelaki yang tengah dipenuhi amarah.


"Masuk do, Amara lebih penting," Rama menasehati.


Fernando akhirnya menuruti nasehat salah satu sahabatnya.


Lelaki itu melewati dua pintu untuk sampai dimana istrinya sedang berjuang melahirkan buah hati mereka.


Sebelum masuk, ia sempat mencuci tangan juga meredakan emosinya, jangan sampai istrinya tertekan karena melihat raut wajah penuh amarah miliknya.


Di ruangan yang didominasi putih itu, ia bisa melihat istrinya didampingi umi Fatimah, tengah mengatur nafas.


Ada Natasha dan beberapa wanita berseragam rumah sakit yang mengarahkan pasiennya untuk mengatur nafasnya.


"Do, pangku Rara buruan, semangati bini Lo,"teriak Natasha.


Seketika Fernando tersadar, ia bergegas naik keranjang menjadikan tubuhnya sebagai sandaran dari istrinya.


"Ayo tarik nafas lagi Ra, rambutnya udah kelihatan, hembuskan lalu mengejan yang kuat,"perintah Natasha lagi.


Percobaan kedua belum juga berhasil, terdengar suara besi beradu dibawah sana, Natasha memutuskan menggunting sedikit ******** milik pasiennya, untuk memudahkan bayi keluar.


Keringat mengalir deras di dahi yang tak tertutupi hijab, nafasnya terengah-engah.


"Ayo Rara sayang, kamu bisa, aku disini dampingi kamu,"bisiknya.


Rara menaikan bola matanya menatap suaminya yang tepat diatasnya, "maafkan aku mas, aku banyak dosa sama kamu,"

__ADS_1


Fernando menggeleng, "Iya sayang, aku maafin kamu, tapi sekarang aku minta, kamu berjuang buat putri cantik kita, ayo sayang,"bisiknya lagi, sambil menyeka keringat istrinya dengan tisu pemberian uminya.


Sementara umi Fatimah memegangi tangan kanan menantunya, "ayo mantu umi, kamu pasti bisa,"ucapnya sambil menuntun menantunya untuk menyebut sang Pencipta.


"Ayo Ra, sekarang lagi,"


Rara menarik nafas kuat dan menghembuskannya disertai mengejan dengan kuat, kedua tangannya mencengkram apa saja yang di genggamannya, dan ucapan takbir yang keluar dari mulutnya, mengiringi suara tangisan bayi.


Kalimat syukur diucapkan hampir bersamaan oleh orang-orang yang berada di sana.


Natasha mengucap pujian pada bayi yang baru saja lahir, "Ra, bayi kamu cantik banget,"ujarnya sedikit mengangkat bayi itu.


Rara tersenyum dan masih terengah-engah mengatur pernafasannya.


Natasha meletakan bayi itu tepat dada Rara, untuk melakukan IMD, ada perawat yang membantu membersihkan sisa darah pada tubuh mungil itu.


Fernando yang memangku istrinya, bisa melihat bagaimana bayinya sedang mencari sumber makanannya.


Umi Fatimah berucap syukur menantunya bisa melewati perjuangan berat itu.


Wanita paruh baya itu sampai menangis bahagia, "selamat ya mantu umi,"ujarnya.


Rara tersenyum pada mertuanya sambil berucap syukur.


Karena tak kunjung berhasil meraih ****** sang ibu, akhirnya salah satu perawat membatu bayi merah itu meraihnya.


Dibawah sana ada Natasha dan seorang bidan mengurus sisa proses tadi.


"Apa ASI-nya sudah keluar nyonya?"tanya dokter anak itu.


Bukannya Rara yang menjawab, justru Fernando menyahutinya, "udah dokter dari bulan lalu,"


Orang-orang yang berada di ruangan itu tersenyum mendengar jawaban suami pasien.


"Perasaan yang ditanya Amara deh, ngapa bapak Fernando yang jawab,"ledek Natasha.


"Saya menjawab jujur dokter Natasha,"


Dokter kandungan itu menggelengkan kepalanya, tak habis pikir dengan sahabatnya.


"nyonya mau saya jahit ya!"ijin bidan yang bernama Asih.


"Kok dijahit, nanti istri saya kesakitan Bidan asih,"ujar Fernando.


"Supaya player macem Lo, bisa ngerasain perawan lagi, mengerti bapak Fernando,"sahut Natasha.


Lelaki itu tak menjawab, mungkin malu,


Semua prosedur pasca melahirkan sudah selesai, bayi mungil itu telah dibawa ke ruangan bayi untuk dihangatkan di inkubator, sementara Rara sudah rapih, dan bersiap diantar ke ruangan dengan kelas tertinggi di rumah sakit ini.


Ranjang didorong keluar oleh perawat dan bidan dibantu Fernando keluar dari ruangan bersalin.

__ADS_1


Rara yang masih berbaring di ranjang pasien, menoleh mencari keberadaan sahabatnya,


"Dikta.."panggilnya.


Yang dipanggil langsung menghampiri, "iya Ra, aku masih disini,"ujarnya sambil memegang tangan sahabatnya.


"Temenin ta,"ucap Rara.


Semua orang yang di sana terkejut dengan ucapan wanita yang baru saja melahirkan.


Mungkin mereka berfikir, bisa-bisanya tepat didepan suaminya Rara malah meminta lelaki lain menemaninya.


Sepertinya Rara tak mempedulikan tatapan tak percaya orang disekitar, ia tetap memegang tangan Pradikta.


Di perjalanan menuju ruang rawat, bagaikan anak kecil, Rara mengeluh pada sahabatnya,


"Ta, tadi sakit banget tau, pantesan orang lahiran taruhannya nyawa, aku takut kalau nggak bisa selamat,"


"Shut.... Udah lewat Ra, buktinya kamu bisa disini sekarang,"ucap Pradikta.


"Makasih ya Ta, kamu udah tunggu aku sampai selesai jalani proses ini, semoga kamu cepat nyusul,"


"Kenapa jadi aku?"


"Aku doain supaya kamu ngerasain kayak suamiku, tangannya merah tuh, aku cengkeram,"ungkapnya sambil tertawa.


Pradikta melihat pergelangan tangan lelaki dengan kaos hitam itu memerah, terlihat jelas mengingat kulit cerah dari lelaki blasteran itu.


Pradikta menahan tawanya, "bagus Ra, sering-sering aja, buat suami kamu kayak gitu, bales perbuatan dia ke sahabat kamu,"bisiknya sambil menunduk.


Fernando yang berada di samping ranjang, bisa mendengar semua pembicaraan antara istrinya dengan lelaki itu, hanya bisa mengepalkan tangannya menahan amarahnya,


Rara yang menyadarinya menyentuh punggung tangan itu, "nggak usah marah, memang kenyataannya kayak gitu kan? Dan kalau kamu pukul dikta lagi, aku benar-benar akan menghilang,"ancamnya tak peduli dengan orang lain yang mendengarnya.


Mereka memasuki ruang rawat, Rara sudah dipindahkan ke ranjang yang ada di ruangan itu.


Tersisa tinggal Fernando, umi Fatimah dan Pradikta yang sedari tadi mengobrol dengan Rara.


"Jadi kamu minta hadiah apa dari aku Ra?"tanya Pradikta yang duduk di kursi disisi ranjang.


Rara diam berfikir, "nggak usah Ta, kamu temenin aku dari awal, itu adalah hadiah terbesar yang aku terima,"


"Jangan gitu Ra, itu udah kewajiban kita sebagai sahabat dalam keadaan suka maupun duka,"


"Ya udah bilang ke Tante Arini, bawain aku puding strawberry besok,"


Pradikta mengangguk, "ya udah besok aku kesini sama mama, aku pulang ya Ra,"


"Makasih banyak ya, kalau nggak ada kamu, aku nggak tau mesti gimana,"


"Iya Amara, kamu lekas pulih ya,"

__ADS_1


Rara mengangguk, Pradikta melambaikan tangannya sebelum menutup pintu ruangan itu.


__ADS_2