
Rencana tinggal rencana, seminggu berlalu, Rara menunda kepulangannya, karena penasaran dengan apa yang terjadi pada dirinya beberapa malam kebelakang.
Rara bahkan sengaja tidak tidur hingga dini hari, namun lelaki itu tak kunjung datang.
Sudah lewat tiga hari, Rara menunggu, mulai tak sabar, ia menanyakan tentang Fernando pada Richard, namun hasilnya mengecewakannya.
Assisten Benedict mengatakan tak tau urusan Fernando dengan Troy.
Merasa tak ada kejelasan, Rara mengajak putranya berbicara.
"Menurut kamu, apa lebih baik kita kembali?"tanya Rara pada putranya usai menyelesaikan panggilannya pada Richard.
Nicholas mengangguk setuju, "Uma telpon uncle Richard dan beritahu padanya jika kita akan kembali,"jawabnya.
Rara yang baru beberapa menit yang lalu menutup panggilan dengan Richard, sekarang menghubungi kembali lelaki itu,
"nyonya Wolfer, saya sudah bilang jika saya tidak tau tentang urusan suami anda dengan Troy, tolong jangan bertanya terus, saya sangat sibuk sekarang,"terdengar suara lelaki yang tengah menahan kekesalan diseberang sana.
"maaf Richard, saya hanya memberitahu, jika saya akan kembali ke Indo secepatnya, terima kasih telah menjamu kami selama disini,"
Malas menunggu jawaban dari lawan bicara Rara mengakhiri panggilannya.
Baru beberapa detik, assiten Benedict menghubunginya kembali, tapi tentu tak akan Rara angkat, malas sekali berurusan dengan lelaki ketus seperti Richard.
"Kita bereskan barang-barang, Uma akan mengabari Mariah untuk datang membantu,"ujar Rara pada putranya.
Nicholas mengangguk setuju dan masuk ke dalam kamarnya, begitu juga dengan Rara sambil menggendong putrinya.
Rara berfikir, walau tak bisa bertemu dengan suaminya, setidaknya, ia telah sampai di negara ini.
Berjalan-jalan dan menikmati suasana di sana.
Rara memesan tiket pesawat kelas satu, seperti keberangkatannya, ia tak peduli semahal apa, toh dirinya menggunakan uang suaminya.
Ia juga baru tau setelah diberitahu oleh putranya, jika kartu hitam yang diberikan Richard padanya, adalah kartu ajaib yang bisa membeli barang-barang mewah dan rumah berharga fantastis.
Rara akan kembali ke negaranya dua hari kemudian,
Karena masih kesal dengan suaminya yang tak kunjung pulang, ia memutuskan mengajak anak-anaknya berbelanja barang-barang mewah.
Rara tau jika yang datang menggagahinya adalah suaminya, tapi kenapa lelaki itu tak ada setiap ia bangun, bahkan sudah tiga hari ini sosok itu tak lagi mendatanginya.
Apa suaminya sengaja mempermainkannya?
Apa alasannya?
"Tumben Uma mau belanja ke tempat seperti ini?"tanya remaja itu heran ketika mereka baru saja masuk ke salah satu toko brand ternama disudut kota New York.
__ADS_1
Perempuan yang mengenakan kerudung berwarna nude itu, menatap putranya, "Uma ingin menghabiskan uang Daddy, jadi silahkan ambil apa yang kamu inginkan,"
Mungkin remaja itu tau Uma-nya sedang kecewa, tak banyak bertanya, Nicholas mengambil satu barang yang menurutnya cocok untuknya.
Rara mengambil beberapa tas yang menurut manager toko adalah edisi terbatas.
Bukan untuk dirinya, Rara teringat dengan Sandra, Sinta juga Natasha, sepertinya membelikan ketiga sahabatnya tak masalah, pasti mereka akan senang.
Sementara untuk Fitri dan Cristy, ia membelikan Sling bag, dengan brand yang sama namun berbeda model.
"Itu untuk sahabat-sahabat uma bukan? lalu untuk Uma apa yang dibeli?"tanya Nicholas.
Rara hanya mengangkat bahunya, untuk dirinya sendiri ia tak belanja apapun.
Tau akan sifat uma-nya, Nicholas memilihkan tas ransel kecil dengan brand yang sama.
Dan untuk balita berumur hampir satu setengah tahun itu, Rara membelikan sepatu dengan brand dan toko yang berbeda.
Puas berbelanja, Mereka kembali ke Penthouse usai makan malam disalah satu restoran mewah.
Alangkah Terkejutnya, ibu dan anak itu ketika keluar dari privat lift yang membawanya masuk menuju Penthouse.
"Apakah kalian bersenang-senang istriku dan anak-anak ku?"Tanya lelaki dengan setelan jas resmi layaknya seorang CEO yang Rara biasa lihat di drama Korea,
Sepatu hitam yang mengkilat, setelan celana dan jas mungkin dari butik ternama yang begitu pas membungkus tubuh kekar lelaki itu, belum lagi jam tangan dengan harga fantastis, gaya rambut rapih, sungguh sangat berbeda dengan keseharian lelaki itu saat di Indo, walau sama-sama mengenakan jas saat bekerja, tetap saja auranya berbeda.
"Apa kamu hanya akan diam saja saat suami kamu datang Amara?"
"Dan kamu Nicholas, apa kamu tak ingin memberikan Daddy sebuah pelukan?"
Lalu Arana yang sedang berada di stroller menjulurkan tangannya, meminta ayahnya untuk menggendongnya.
Sadar akan kesalahannya, Rara mengambil tangan suaminya lalu menciumnya, begitu juga dengan Nicholas.
Dan disinilah keluarga kecil itu sekarang, duduk saling berhadapan di ruang makan,
Rara duduk bersebelahan dengan putranya, sementara Fernando duduk bersama putrinya.
"Aku dengar dari Richard kalian akan kembali? bahkan kamu sudah memesan tiket pesawat untuk kembali?"tanya Fernando pada istrinya.
"Apa kamu lupa Amara, aku meminta kamu untuk menunggu? kenapa kamu tak sabar?"lanjutnya.
Rara yang sedari tadi menunduk, mengangkat wajahnya, pandangan mereka bertemu, "aku bertanya pada Richard, tapi dia bilang tidak tau tentang kamu, karena terlalu lama Nicho tak bersekolah, aku memutuskan untuk kembali,"jawabnya.
"Apa kamu tidak bisa belajar jarak jauh Nicho?"tanya Fernando menatap putranya.
"Bisa Daddy, tapi aku ingin datang langsung ke sekolah,"jawab remaja itu.
__ADS_1
"Oke, jadi tolong bawa adik kamu ke kamar sekarang, Daddy ingin berbicara dengan Uma,"
Nicholas menuruti perintah daddy-nya, ia menggendong adiknya dan membawanya ke kamar miliknya.
Rara sempat berpesan agar Nicholas mengajak adiknya untuk menyikat gigi dan membersihkan diri, serta berganti piyama, tak lupa memberikan botol susu milik balita itu.
Merasa telah tenang dan bisa berbicara dengan suaminya, Rara mempersilahkan lelaki itu untuk berbicara terlebih dahulu.
"Bisakah kamu menunda kepulangan kamu Amara?"Tanya Fernando.
Keduanya masih duduk berhadapan di meja makan.
"Untuk apa? kamu saja baru menemui aku sekarang,"jawab Rara sedikit kesal.
"Apa kamu tidak merasakan kehadiranku?"
"Iya aku tau itu kamu, tapi aku merasakan kamu menganggap aku seperti layaknya mantan teman kencan kamu, yang setelah puas melampiaskan hasrat, kamu pergi begitu saja di pagi hari,"
"kenapa jadi bahas masa lalu sih? ini tentang aku dan kamu,"
"maaf aku nggak bermaksud menyinggung kamu, tapi bisakah kamu beritahu alasan kamu hanya menemui ku di malam hari dan paginya kamu menghilang?"
Fernando menghela nafas, "pekerjaanku masih banyak Ra, aku membantu perusahaan Ben, kalau aku ada disisi kamu, aku tak akan bisa cepat menyelesaikan pekerjaan ini,"
Rara kesal mendengar ucapan suaminya, malas berdebat, ia memilih bangkit namun tangannya ditahan oleh suaminya.
"aku belum selesai bicara Ra, kamu mau kemana?"tanya Fernando berdiri sambil memegang tangan istrinya.
"Aku akan mengurus anak-anak, lagian suamiku sendiri menganggap aku sebagai penghalang pekerjaannya yang banyak, jadi buat apa aku disini,"
Fernando memegang kedua lengan istrinya, ia menunduk menyamakan tingginya, agar bisa sejajar pandangan dengan wanita itu.
"Maksud aku nggak gitu Ra, aku hanya ingin menyelesaikan ini dengan cepat, lalu kita bisa bersama-sama lagi,"
Rara mengalihkan pandangan lalu melepaskan kedua tangan suaminya dari lengan miliknya, "iya aku ngerti, maka dari itu silahkan kamu bekerja, dan aku bersama anak-anak,"
Fernando memeluk paksa istrinya, "aku tau kamu marah, tapi aku minta pengertian kamu lagi, ada proyek cukup besar di perusahaan milik Ben yang harus ditangani, sementara kamu tau bukan Ben masih belum kembali, dia masih patah hati karena perceraiannya,"
Rara tak membalas pelukan itu, malas tentu saja, suaminya seolah menganggap dirinya sebagai penghalang pekerjaan lelaki itu.
"aku mohon, kamu tetap disini ya, setidaknya sampai pekerjaan ini selesai,"pinta Fernando.
"aku udah terlanjur pesan tiket pesawat lusa, sayang kalau dibatalkan,"
Fernando melepaskan pelukannya, ia menunduk dan menatap istrinya dengan tatapan penuh harap, "Aku mohon Ra, aku janji akan menyempatkan waktu untuk pulang kesini, meskipun sebentar, aku butuh kamu,"
Tak punya pilihan lain, akhirnya, Rara mengangguk menyetujui permintaan suaminya.
__ADS_1