Istri Untuk Fernando

Istri Untuk Fernando
seratus tiga puluh satu


__ADS_3

Usai selesai makan-makan dan mengobrol, mereka akhirnya memutuskan menginap di rumah itu.


Rara dan Sinta tidur di kamar yang sama bersama bayi mereka.


Sementara Anindia dan si kembar juga Cristy tidur di kamar yang biasa ditempati oleh Nicholas alias kamar umi Fatimah.


Sedangkan yang lain, tidur di karpet yang ada di ruang tengah, sebagian ada yang di sofa ruang tamu, hanya Sandra yang tidur di sofa panjang.


Pagi harinya usai subuh, para perempuan memasak bersama untuk sarapan,


"Sering-seringlah kita kayak gini kalau lagi senggang, biar tambah akrab,"ujar Sandra sambil mengupas bawang.


"Aku selalu senggang San, kamu nih yang wanita karir, punya waktu pas weekend sama tanggal merah kayak sekarang,"sahut Sinta yang sedang mencuci sayuran.


"Aku kan single parent Nyonya Rama,"


"Ada bapaknya Xander tuh,"


"Tidak terima kasih,"tolaknya, "Ra, kamu kenapa bisa tau Mami Belinda?"tanya Sandra.


Tatapan mata Sandra, Sinta juga Cristy tertuju pada Rara dan Anindia yang kebetulan sedang memeras kelapa bersama.


Yang ditanya mendadak gugup, tapi berusaha menutupi kegugupannya.


"Cuman tau aja kok,"sahutnya asal.


"Nggak mungkin, kamu pasti tau sesuatu bukan?"tanya Sandra yang paling penasaran.


Bukannya menjawab pertanyaan Sandra, Rara malah menatap ke arah Cristy yang sedang memotong tempe dan Tahu,


"Mbak Cristy dulu sering diajak mas Nando ke mami Belinda ya?"tanyanya.


"Kok jadi nanya aku Ra? Kan yang ditanya Sandra kamu,"kilahnya.


"Amara jawab pertanyaan Sandra, tinggal jawab apa susahnya, jangan bilang kamu pernah main ke tempat mami Belinda diajak Nando,"sela Sinta.


Rara tertawa sambil menggeleng, "ya nggak mungkinlah, ya kali,"


"Memangnya mami Belinda itu siapa?"tanya Anindia heran.


"Dia itu pemilik tempat hiburan malam dimana cowok-cowok itu suka nongkrong,"jawab Sandra.


Melihat Raut kebingungan dari Anindia, Cristy angkat bicara, "itu semacam club' malam, diskotik gitu,"


Anindia yang lugu sepertinya masih bingung,

__ADS_1


"Anin, itu tempatnya orang joget-joget, terus minum-minuman keras alias Alkohol, terus ada sewa wanita penghibur juga alias pekerja **** komersil, ngerti sekarang?"


Anindia mengangguk, lalu bertanya, "apa bang Oscar sering ke sana?"tanyanya.


Ketiga cewek itu saling pandang termasuk Rara, mungkin bingung akan menjawabnya.


Akhirnya Sinta berucap, "mana saya tau, saya tidak pernah ikutan main ke sana, tanya Sandra sama Cristy,"


Giliran tatapan bertanya Anindia ditujukan kepada kedua wanita itu.


"Tanya sendiri orang yang bersangkutan sana,"ucap Sandra.


Dan saat itu Natasha datang bersama Kama, membawakan kopi yang dibeli dari coffee shop yang buka pagi-pagi buta.


Melihat Natasha yang sedang menaruh kopi di meja makan, Anindia mendekatinya setelah mencuci tangan,


"Mbak Asha, emang sering nongkrong di tempat mami Belinda?"


Natasha yang sedang menata kopi juga kue-kue menjawab seadanya, "pernah, diajak sama Oscar bulan lalu tanya kama nih, bareng dia juga soalnya,"


Namun setelahnya, Natasha menutup mulutnya sendiri, ia keceplosan membongkar rahasia sepupu sekaligus sahabatnya sendiri.


"Oh gitu ya,"respon Anindia terlihat biasa saja, gadis itu kembali ke dapur membantu Rara.


Mereka yang di sana saling pandang, seolah bertanya, kenapa reaksinya hanya seperti itu.


Mereka sepakat sarapan bersama di halaman belakang, yang tidak terlalu luas.


Para laki-laki menggelar tikar sementara para perempuan menyiapkan makanan.


Sinta dan Rara mengurus bayi masing-masing di kamar, ada juga Anindia yang sedang memandikan si kembar di kamar mandi.


Saat sedang  memakaikan baju si kembar Anindia berucap, "sebenarnya wajar nggak sih, laki-laki yang belum  menikah, menyewa jasa psk dengan dalih butuh pelampiasan karena tidak mau merusak pacarnya?"


Pertanyaan yang membuat kedua ibu baru itu menghentikan aktivitasnya, lalu saling melirik.


"Kok pada diam? Mbak Sinta dan mbak Rara tau bukan kalau bang Oscar suka sewa psk di tempat mami Belinda,"tebak Anin,


"Kamu tau dari mana Anin?"tanya Rara tanpa melihat adik dari Ayudia itu.


"Anin nggak sengaja dengar, waktu bang Oscar ngobrol sama bang Alex, saat Anin lagi ke rumah sakit jenguk mbak Ayu,"jawabnya.


"Terus setelah tau kelakuan Oscar, apa yang akan kamu lakukan?"tanya Sinta yang sudah selesai memakaikan baju putranya.


"Anin akan mikir berkali-kali untuk menikah dengan dia,"jawabnya.

__ADS_1


Rara dan Sinta kembali saling pandang,


"Gimana menurut kalian?"tanya Anindia.


"Anin, apa kamu mencintai bang Oscar?"tanya Rara balik.


"Anin nggak tau mbak, sebelumnya Anin nggak pernah dekat sama cowok manapun, lalu bang Oscar deketin Anin sejak masih Sekolah hingga sekarang,"


"Jadi kamu belum tau perasaan kamu seperti apa?"tanya sinta.


Anindia mengangguk.


"Aku sampai sekarang masih nggak habis pikir, kita bertiga perempuan baik-baik, nggak pernah aneh-aneh, kok bisa-bisanya disukai sama laki-laki brengsek macam mereka! Apa dosa kita?"ungkap Sinta Sambil menyusui putranya.


Rara juga melakukan hal yang sama, "dulu mas Nando pernah bilang, intinya kayak gini, laki-laki akan mencari perempuan baik-baik untuk dijadikan istri dan ibu dari anak-anaknya kelak, kurang lebih kayak gitulah,"jelasnya.


"Tapi mbak Rara, ini jelas-jelas Abang udah punya aku, kok masih nakal aja,"ucap Anindia.


"Ya emang kamu mau diapa-apain sebelum nikah Anin? Laki-laki dewasa macam Oscar itu butuh melepaskan hasratnya, memang kamu mau diajakin gituan sebelum menikah?"tanya Sinta.


"Ih amit-amit mbak, Abang itu cuman peluk sama cium kening dan pipi doang,"jawab Anindia polos.


Sinta dan Rara melongo mendengar jawaban polos adik dari Ayudia.


"Bukannya sudah empat tahun Oscar Deket sama kamu? Jadi selama empat tahun dia hanya seperti itu? Enak banget,"celetuk Sinta tak habis pikir, "contoh pacaran yang sehat,"lanjutnya.


"Emang mbak Sinta enggak?"tanya Rara.


"Boro-boro Rara, kalau ingat aku merasa berdosa banget, Rama itu  nyosor Mulu kalau ada kesempatan, nafsunya tinggi,"jawab Sinta jujur.


Rara menggigit bibirnya, menahan tawa, ia tak ingin suara tawanya membuat Arana terbangun.


"Terus kalau mbak Rara gimana sama mas Nando?"tanya Anindia yang sedang menyisir rambut si kembar.


"Ya gitu deh, kurang lebih sama lah,"jawab Rara ambigu,


"Ih mbak Rara, maksudnya itu sama kayak aku atau mbak Sinta?"


Belum sempat menjawab, Cristy datang mengajak sarapan bersama.


Rara meletakan Arana pada boks bayi, Sinta juga melakukan hal yang sama, karena boks bayi itu bisa menampung dua bayi.


Mereka sarapan bersama dihalaman belakang sambil mengobrol hal-hal random.


Nasi liwet, tahu, tempe, ayam panggang, sambal dan lalapan, daun pisang ditata bentuk memanjang ada nasi beserta lauk pauk untuk  masing-masing orang.

__ADS_1


Sebuah momen yang jarang ada di kehidupan mereka, berkumpul, makan bersama dan saling mengobrol.


Salah seorang dari mereka mengusulkan untuk merutinkan acara seperti ini setidaknya dua bulan sekali dengan bergiliran tempat.


__ADS_2