Istri Untuk Fernando

Istri Untuk Fernando
lima puluh lima


__ADS_3

Lewat tengah hari, Fernando datang ke rumah sakit bersama Rara, ada Oscar yang tengah menunggunya,


Lelaki yang berprofesi sebagai dokter bedah sekaligus direktur rumah sakit itu, membawa sahabatnya ke taman belakang rumah sakit.


"Menurut pengakuan dokter juga perawat yang menangani korban kecelakaan saat itu, ada ibu hamil yang mengalami keguguran, Karena korban mengalami koma sementara untuk menghubungi keluarganya, pihak kepolisian agak kesulitan, karena ponsel milik korban hancur, sementara hanya terdapat, buku tabungan, KTP dan ATM, beruntung ada kartu nama yang terselip, dan setelah dihubungi ternyata itu kartu nama milik kakak pertamanya yang bekerja di Kalimantan, itupun tidak bisa langsung datang kesini, sehingga atas persetujuan kakak pasien, perawat menguburkan janin itu disini,"Tunjuk Oscar pada sebuah batu yang menjadi penanda.


Ini pertama kali, Rara mengunjungi kuburan janinnya, tangisnya pecah, ia berjongkok sambil memegangi batu penanda itu.


Fernando memenangkan wanita itu, mata lelaki itu berkaca-kaca, ia memeluknya, mencoba menenangkannya.


Jujur saja Oscar bingung, kenapa sahabatnya bertingkah seperti itu, "Do, sebenarnya ada apa sih? Bukannya dia itu temennya Ayu ya! Terus dia baru kerja jadi admin di rumah sakit ini kan, kenapa bisa kenal sama Lo?"tanyanya.


Fernando menuntun Rara untuk berdiri, lelaki itu merangkulnya, "dia Rara calon bini gue yang menghilang tiga tahun lalu, dan janin itu adalah calon anak gue,"jawabnya.


Oscar tak menyangka, pantas saja Fernando begitu ngotot meminta wanita ini untuk bekerja bersamanya.


"Kok Lo nggak ngasih tau kita-kita sih?"protesnya.


Ketiganya berjalan kembali menuju ruangan milik Oscar di lantai teratas gedung rumah sakit itu.


"Ini gue kasih tau,"


"Telat do, udah basi, tapi bukannya kejadian itu, tepat kita berangkat ke Amerika kan?"


"Iya, gue menyesal banget, rasanya gue pengen cekik bos Lo,"


"Lalu apa rencana Lo?"


"Gue mau nikah, tapi gue nggak mau ngundang Lo sama bos Lo,"


Oscar juga Rara terkejut mendengar ucapan lelaki itu.


"Serius Lo nggak mau gue Dateng do? Emang gue ada masalah sama Lo? Bukannya Lo mulu yang cari masalah sama gue,"


"Karena selama tiga tahun Lo nggak ngasih tau kejadian yang menimpa calon bini gue,"


"Eh bangsat, Lo nggak pernah ngenalin calon bini Lo ke gue, kita juga lagi ke Amerika Dodo," ungkap Oscar kesal.


"Bodo amat, oh ya gue dateng kemari, buat minta Lo pecat calon istri gue,"


"Do, Amara baru kerja disini tiga hari, kalau Lo lupa,"


"Gue nggak peduli Oscar, atau Lo mau gue kasih tau Ayu, kalau tiap lo libur, Lo nyamperin Anin ke Jogja, buat ngajak Anin kencan,"


"Senjata Lo kenapa Ngancem terus sih, kesel gue lama-lama,"


"Makanya turuti mau gue, apa perlu gue kasih tau Anin, PSK mana yang pertama kali main sama Lo,"


"Tunggu mas, apa Anin yang dimaksud itu Anindia putri adiknya Dia?"sela Rara.


Fernando mengangguk, "iya sayang, Oscar lagi pacaran sama Anin tanpa sepengetahuan Ayu, coba bayangin reaksinya Ayu, setelah tau, adik perempuannya didekati oleh salah satu sahabat suaminya yang brengsek,"


"Gue nggak kayak Lo sama Alex, celup sana sini ya!"

__ADS_1


"Terus bulan lalu yang main ke club terus minta anak buah mami buat ** siapa ya?"


Merasa kalah, akhirnya dengan terpaksa Oscar menuruti kemauan Fernando,


"Amara, mulai sekarang kamu tidak usah datang lagi untuk bekerja, kamu saya pecat,"


"Nggak usah dikasih pesangon, entar gue kasih saham gue yang di rumah sakit ini,"


"Sialan Lo do, cabut sana, lama-lama gue darah tinggi, berurusan sama Lo,"


Usir Oscar pada sahabatnya.


Setelah urusan di rumah sakit selesai, Rara meminta diantarkan ke rumah miliknya,


Karena jalanan tak memungkinkan untuk parkir ke dalam gang, agak sulit, Fernando menumpang parkir di salah satu mini market tak jauh dari jalan masuk gang,


"Kamu ngapain ikuti aku?" Protes Rara ketika mengetahui lelaki itu mengikutinya padahal tadi dirinya sudah berpamitan,


"Aku kan belum pernah main ke rumah kamu yang disini sayang,"


"Kamu balik aja sana ke apartemen, besok aku mau ke  rumah umi kamu ambil ijazah,"


"Aku cuman mampir doang Ra, cuman ingin tau rumah Kamu, ya abisin kopi satu cangkir lah,"


"Tapi kamu terlalu mencolok,"ujar Rara melihat penampilan lelaki itu dari atas ke bawah, Fernando mengenakan kemeja hitam slim fit yang lengannya digulung juga celana formal hitam dan sepatu hitam yang terlihat mengkilap.


"Harusnya kamu bangga Ra, kamu punya calon suami tampan dan bisa kamu pamerkan ke tetangga kamu,"


Malas berdebat, Rara memilih jalan terlebih dahulu, "aku kan bilang kan bilang kalau kita sudah putus hubungan,"


"Tapi aku udah ta'aruf sama anaknya pak kyai di kampung,"dustanya.


"Kok Andi nggak cerita,"


"Bukannya mas Andi juga nggak cerita soal keberadaan aku selama ini?" Rara keceplosan, ia menutup mulutnya sendiri.


"Jadi Andi tau kamu ada dimana dan dia nggak mau kasih tau aku?"


Sudah kepalang tanggung, dalam hati, ia meminta maaf dengan kakak sulungnya itu, "siapa yang rela adiknya nikah sama cowok yang merusaknya,"


"Kan aku mau memperbaikinya,"


"Capek aku berdebat sama kamu,"


Rara mempercepat langkahnya, tentu saja kaki pendeknya mudah untuk disusul oleh langkah pria jangkung itu.


Di dalam gang beberapa kali, Rara menyapa tetangganya yang kebetulan ia temui, ia tersenyum ramah,


Melihat hal itu, Fernando kesal sendiri, ia cemburu, bahkan hari ini, Rara belum memberikan senyuman yang dulu membuat dirinya jatuh cinta.


Hingga sampailah keduanya di rumah dengan cat dinding luar berwarna hijau dan pintu berwarna cokelat.


Rara terlihat mencari sesuatu di ranselnya, ternyata wanita itu mencari kunci rumahnya.

__ADS_1


Kesan pertama ketika Fernando melihat isi ruang tamu rumah milik Rara adalah kosong maksudnya tak dipenuhi barang-barang, hanya sofa sederhana dan meja, tak ada pajangan apapun di dinding.


"Aku baru pindah kesini belum lama, dan ini sofa juga peninggalan yang ngontrak dulu,"


Rara mempersilahkan lelaki itu duduk, sementara dirinya masuk ke dalam rumah tak lama ia benar-benar membawakan cangkir berisi kopi susu, "maaf ya, cuman ada kopi susu sachet, aku biasa minum ini, kalau kamu nggak mau nggak apa-apa kok, kamu kan biasa minum kopi mahal,"ucapnya merendah.


"Aku maulah, kan ini buatan calon istri aku,"


"Mas, kan aku bilang,,,"


"Ra menurut kamu, aku bakal rela begitu, kamu menikah dengan lelaki lain selain aku?"


Rara terdiam mendengar itu,


Fernando mengambil ponselnya, ia mengutak-atik ponsel mahal itu, ia melakukan panggilan video,


Mendengar sapaan salam terdengar dari seberang sana, Rara terkejut, itu suara Andi disusul Dika,


"Halo calo Abang iparku,"sapa balik Fernando setelah sebelumnya ia menjawab salam.


"Ada apa Do, kamu menghubungi kami?"ujar Andi.


"Mas Andi, memangnya benar Amara sudah Ta'aruf sama lelaki lain, atau mas Dika mungkin tau,"


Keduanya terlihat bingung, sementara Rara menutupi wajahnya.


"Nggak kayaknya, benar kan dik, kamu nggak terima Rara di ta'aruf sama laki-laki lain,"ucap Andi dan Dika menanggapi dengan gelengan kepala.


Fernando melirik sekilas pada wanita yang sedang menutupi wajahnya.


"Mas, kalau aku ketemu Amara, aku bakal nikahi dia kalian setuju kan?"tanya Fernando.


"Memangnya kamu sudah ketemu Rara Do?"tanya Dika.


"Iya, aku sudah ketemu Amara, bahkan dia sendiri yang menghampiri aku ke apartemen,"


Mendengar hal itu membuat kedua lelaki itu terkejut,


"Jangan membohongi kami Do,"ujar Andi tak percaya.


Fernando mengubah mode kamera belakang, terlihat Rara menunduk yang sedang duduk di sofa.


Kedua kakak lelakinya kompak berteriak,


"Kalian berdua menyembunyikan keberadaan calon istri aku, bisa-bisanya kalian membohongi aku, wah apa ya balasan yang pantas untuk pembohong, silahkan pilih, aku membawa adik bungsu kalian pergi, dan melakukan hal yang sama seperti tiga tahun yang lalu atau kalian restui pernikahan kami atau kalian punya opsi lain, ya mungkin berhubungan dengan pekerjaan atau keluarga kecil kalian begitu?"


"Kamu mengancam kami Do?"Ucap Andi marah.


"Memangnya kalian merasa aku mengancam kalian? Kan aku bilang balasan yang pantas untuk pembohong seperti kalian,"


"Kenapa sih do, kamu ingin sekali menjadikan adik kami Istri kamu, bukankah laki-laki seperti kamu bisa mendapatkan perempuan yang lebih baik dari adik kami,"ucap Dika.


"Karena hanya adik kalian yang membuat aku jatuh cinta,"

__ADS_1


"Kalau begitu jangan sentuh adik kami hingga kalian resmi menikah, kamu mengerti Do,"mungkin Andi tau tak ada gunanya berdebat dengan orang macam Fernando, merasa tak ada pilihan lain, ia memilih merestui hubungan adik bungsunya dengan lelaki blasteran itu.


Sedangkan Dika mengikuti kata Andi.


__ADS_2