Istri Untuk Fernando

Istri Untuk Fernando
seratus tujuh puluh sembilan


__ADS_3

Pagi harinya Fernando mengantarkan putranya menuju sekolah.


"Uma kemana? kok nggak siapkan sarapan buat aku?"tanya Nicholas saat perjalanan menuju sekolah.


Fernando melirik putranya, "Uma masih tidur,"jawabnya.


Nicholas mengernyit bingung,


"suatu saat nanti jika kamu sudah menikah, kamu akan mengetahui alasannya son,"


"Uma bilang, mommy kamu mau menikah?"tanya Fernando.


"iya, tapi mommy tidak mengundang Daddy, hanya Uma yang diundang,"jawab remaja itu.


"Apa alasan mommy tidak mengundang Daddy?"


Nicholas menaikan bahunya, "walau diundang, apa Daddy akan datang? bukankah sebentar lagi Daddy akan ke Amerika?"


"Setidaknya Daddy akan mengirim hadiah untuk mommy kamu,"


"jangan beri harapan ke mommy, sedikit saja Daddy bersikap baik, mommy akan salah paham,"


"Jadi menurut kamu, Daddy harus bersikap dingin pada mommy kamu begitu?"


"demi kebaikan kita semua terutama Uma, aku nggak mau Uma menangis,"


"wah ternyata kamu sesayang itu dengan istri Daddy?"


"Tentu saja, Uma menerima dan mengurus aku dengan baik, kalau boleh milih, aku lebih baik tinggal dengan Uma dari pada dengan Daddy jika kalian bercerai,"


Fernando melirik sinis putranya, ia juga berdecak, "Uma dan Daddy tidak akan berpisah son, Amara akan selamanya jadi istri Daddy, kamu mengerti Nicholas,"


"Terserah, tapi jika aku sudah punya uang sendiri, aku akan membawa Uma pergi jika Daddy menyakiti Uma,"ancam remaja yang sebentar lagi berusia tujuh belas tahun.


Fernando tertawa, "Apa Troy yang mengajari kamu?"


"Uncle Troy, tau jika Daddy pemain wanita, sehingga beliau berpesan untuk aku lebih kuat agar suatu hari aku bisa melindungi Uma dan Arana,"


"itu masa lalu son, Daddy sekarang hanya memiliki Uma, Daddy sama sekali tak berminat dengan wanita selain Uma, Daddy muak dengan wanita lain,"


"baguslah kalau begitu,"


"Daddy, apa boleh liburan kenaikan kelas aku mengunjungi uncle Troy?"


"minta ijin ke Uma,"


"baiklah,"


Mobil berhenti tepat didepan sekolah, "son sebentar lagi, kamu akan menginjak usia tujuh belas tahun, apa kamu tak ingin hadiah motor sport dari daddy?"


"aku akan minta pendapat Uma, kalau diijinkan, aku mau,"

__ADS_1


"oke,"


Setelah memastikan putranya memasuki gerbang sekolah, Fernando kembali mengemudikan mobilnya menuju apartemen.


Disisi lain, Rara terbangun, ia melihat sekeliling kamarnya, sepertinya ia kesiangan.


Teringat putranya, ia bangkit harus membuatkan sarapan dan mengantar ke sekolah, namun rasanya lelah sekali.


Ia melihat jam dinding yang ada di kamar, waktu menunjukan pukul delapan lewat lima belas menit.


Suaminya benar-benar keterlaluan, semalam memang sama-sama tidur, tapi itu tidak lama.


Rara merasa ia baru saja memejamkan matanya, tetapi ia dikejutkan dengan posisi lelaki itu sudah berada diatasnya.


Alasan suaminya tidak bisa tidur, sehingga Rara pasrah saja harus melayani suaminya.


Ia menghela nafas, sepertinya ia harus segera bangkit, mandi air hangat, agar tubuhnya lebih relaks, ia harus segera mengurus putrinya, ia tau jika suaminya pasti sedang mengantar putranya.


Rara mandi dibawah guyuran shower air hangat, hingga sebuah tangan memeluknya dari belakang.


Rara memutar bola matanya malas, bodoh sekali dirinya lupa tidak mengunci pintu kamar mandi.


Dibawah guyuran shower, suami istri itu berciuman,


Mandi yang harusnya selesai dalam waktu sepuluh menit, menjadi lebih dari tiga puluh menit.


Tak cukup dikamar mandi, Fernando memintanya lagi, saat mereka di kamar.


Lelaki yang tak mau repot dengan urusan dapur, memilih memesan makanan dari luar.


Tau istrinya kelelahan karena ulahnya, tadi Fernando sempat memandikan putrinya juga memakaikan baju.


Meskipun malas untuk memasak dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga, Fernando tak segan mengurus putrinya dengan tangannya sendiri.


Terkadang ia juga menyuapi putrinya.


"Sebentar lagi Nicholas akan berumur tujuh belas tahun, menurut kamu, bagaimana jika aku menghadiahkan motor sport sama dia?"tanya Fernando meminta pendapat istrinya.


"Boleh, asal punya SIM dulu,"jawab Rara sambil menikmati sarapannya yang terlambat.


"mungkin nanti dia akan meminta pendapat kamu,"


"apa tadi Nicho bilang begitu?"


"Ya, dia lebih menyayangi kamu dibanding aku Daddy-nya sendiri, bahkan tadi dia bilang akan membawa kamu jika suatu saat aku membuat kamu menangis,"


Rara tertawa, putranya juga pernah mengatakan hal yang sama, sejak kejadian uma-nya lari setelah melihat daddy-nya berinteraksi dengan wanita seksi.


"Makanya kamu jangan berulah,"


"siapa yang berulah? Cinta aku hanya untuk kamu Amara, aku nggak berminat menduakan kamu,"

__ADS_1


"iya aku percaya, ngomong-ngomong nanti agak siangan aku mau ketemu mbak Mella sama Mas Rudi, membahas masalah perabotan rumah, aku ijin keluar ya!"


"Aku ikut, udah lama aku nggak ketemu mereka secara langsung,"


Usai jam makan siang, Fernando dan Rara beserta Arana mengunjungi rumah baru mereka,


Di sana sudah ada Mella dan Rudi, teman kuliah Fernando dulu.


Dua orang yang ternyata adalah suami istri juga, menyodorkan gambar design ruangan di rumah tiga lantai itu.


Ada beberapa yang membuat Rara tertarik, ada juga masukan yang diberikan wanita itu, terutama design kamar putrinya.


Sementara untuk putranya, Rara meminta agar kedua orang itu menanyakan langsung, sesuai yang diinginkan Nicholas.


Tak lama remaja itu datang menumpang ojek online, karena tadi Rara mengabarinya untuk pulang ke rumah baru mereka.


Remaja itu meminta kamar dengan dominan warna Hitam, abu dan putih.


Rencananya keluarga kecil itu akan menempatinya bulan depan.


Taman juga sudah ditanami rumput dan beberapa tanaman hias di halaman depan ataupun dibelakang.


Kolam renang dibelakang dan diatas juga tinggal diisi air.


Malam harinya, keluarga kecil itu berbincang mengenai rumah mereka.


"Aku mau nanya ke kamu, tapi lupa terus, kenapa garasinya gede gitu, harusnya cukup dua mobil dan dua motor kan?"


"Ya aku akan membawa mobil yang merah kesini,"jawab Fernando.


"lagian punya mobil kayak gitu di Jakarta, mau dipake dijalan yang mana? macet dimana-mana, kalau weekend ramai orang pada kondangan, bisa sih tapi pas lebaran idul Fitri baru jalanan sepi,"


"kali aja kalau kamu mau antar anak-anak ke sekolah pakai mobil itu, tapi aku beli lagi aja disini, yang di Bali biarkan aja,"


"nggak usah mas, mobil aku udah lebih dari cukup,"


Fernando merangkul istrinya, "biar uang aku ada gunanya, kamu terlalu hemat,"


"atau nanti buat kamu saja son, bukankah keren, kalau anak sekolah pakai mobil sport,"ucap Fernando pada putranya.


Nicholas yang sedang bermain dengan adiknya melirik sekilas daddy-nya, "aku terserah Uma, kalau Uma ijinkan, aku mau,"


"kenapa jadi Uma? kalau kamu mau, tentu Uma ijinkan, tapi kamu harus memiliki surat ijin mengemudi baik itu motor atau mobil, oh ya Uma setuju kamu dibelikan motor oleh Daddy,"


"terima kasih uma,"ujarnya sambil menghampiri Rara, niat hati ingin memeluk uma-nya, tapi dicegah oleh Daddy-nya.


"Amara istri Daddy son, don't touch her,"Fernando memperingatkan putranya.


"lebih baik Daddy cepat pergi ke Amerika, supaya hidup kami tenang tanpa kehadiran Daddy,"


Perdebatan memperebutkan Rara sering terjadi diantara ayah dan putranya,

__ADS_1


Dan Rara hanya bisa Pasrah dan menenangkan kedua lelaki dengan wajah yang mirip itu.


__ADS_2