
Tidak ada kegiatan panas dimalam hari, keduanya tertidur lelap, namun di pagi hari yang cerah, Fernando benar-benar menggempur kekasihnya tanpa ampun, jedanya hanya saat sarapan, atau istirahat selama beberapa menit, hingga Rara meminta untuk berhenti.
Dan menjelang makan siang, wanita itu masih terlelap di bawah selimut dengan tubuh yang masih polos, sedangkan Fernando terlihat segar dengan wajah secerah mentari pagi.
Lelaki itu sedang sibuk dengan laptopnya, Fernando harus menunda pekerjaannya di Malang hingga seminggu lamanya, karena dirinya akan mengikuti Rara ke Jakarta esok hari.
Fernando tadi sempat menghubungi Rama, untuk mencarikannya apartemen yang dekat dengan kantor dimana kekasihnya bekerja, dan meminta orang suruhan Rama untuk mengisi beberapa barang yang diperlukan.
Rama yang sudah terbiasa dengan kelakuan sahabatnya, tidak banyak bertanya juga berkomentar.
Berbeda dengan Alex yang mengetahui dari awal jika sahabat brengseknya telah menemukan wanita yang akan dibawa ke jenjang serius, dengan kata lain hanya pengacara itu yang masih mencari-cari wanita untuk dijadikannya istri.
Keputusan untuk mengundur waktu kerjanya selama seminggu sempat mendapatkan teguran dari Benedict, namun dengan santainya Fernando berkata, "emang Lo doang Ben yang pengen nikah sama cewek baik-baik, gue juga lagi mengusahakan untuk itu, lagian selama ini kerjaan bereskan, Lo cukup kirim dana sama cetak biru buat rencana pembangunan itu,"
Tentu saja Benedict tetap saja mencaci maki sahabatnya yang paling menyebalkan diantara semua sahabatnya, namun lagi-lagi lelaki yang sedang berada di Amerika itu tidak bisa berkutik, ketika Fernando menyinggung tentang Ayudia, "Lo nggak izinin gue buat nunda pekerjaan ini, gue bilangin ke Ayu, soal kejahatan lo, gue yakin, ayu lebih dengerin gue, Lo tau kan gue sedekat apa sama Ayu, siap-siap Ayu bakal ninggalin Lo,"
Ancaman Fernando terbukti efektif, lelaki itu tau semua kebusukan sahabat-sahabatnya, licik memang, tapi itu hanya akan dilakukan dalam keadaan mendesak, seperti sekarang.
Tentu saja Fernando tau, Benedict paling malas berurusan dengan dirinya, sedari masih di bangku SMA, keduanya jarang akur, bahkan keduanya pernah beberapa kali baku hantam gara-gara masalah sepele, kalau sudah begitu, maka keempat teman yang lain akan mendamaikan keduanya.
Fernando masih sibuk dengan laptopnya ketika suara serak wanita memanggilnya, ia menoleh, ia mendapati kekasihnya sedang mengucek-ucek matanya.
"Mas, jam berapa sekarang aku kok lapar ya?"tanyanya.
Fernando melihat jam tangan mahalnya hadiah dari bos besarnya beberapa bulan lalu, "jam setengah satu, kamu mau makan sekarang?"
"Aku mandi dulu mas,"
"Mau aku bantu mandi?"godanya.
Rara menggeleng dengan cepat, "tidak terima kasih, aku bisa mandi sendiri, kalau kamu bantu aku mandi keburu pingsan aku karena kelaparan,"
Fernando tertawa keras, dirinya memang sengaja menggoda kekasihnya.
Lelaki itu tersenyum sendiri, ia bahagia bisa bersama dengan kekasihnya yang sekarang, ia lebih banyak bicara, meskipun beberapa kali wanitanya membuatnya kesal, tapi entah mengapa ia semakin mencintai kekasihnya itu.
Hingga beberapa saat wanitanya sudah siap dengan penampilannya, kaos putih over size milik Fernando dan celana kulot berwarna pastel, tak ketinggalan Sling Bag cokelat yang bulan lalu lelaki itu hadiahkan padanya.
Fernando juga memakai out fit dengan warna senada hanya saja celananya model Chino dan sepatu sneaker putih.
Tadi Rara meminta lelaki itu mengantarnya ke pusat oleh-oleh khas Surabaya, untuk diberikan pada teman-teman kantor dan kosannya.
Dengan menaiki taksi, kedua sejoli itu menuju warung makan yang sudah menjadi salah satu ikon kuliner kota itu.
Rara terlebih dahulu turun dari taksi, sementara Fernando hanya mengikutinya,
Begitu memasuki warung makan itu, terlihat mata Rara yang berbinar-binar, "mas, ingatkan aku, kalau aku sampai kalap,"ucapnya pelan pada kekasihnya.
__ADS_1
Rara menggandeng tangan Fernando menuju meja pemesanan, wanita itu sampai menelan ludahnya, melihat makanan yang dijajakan di sana,
Ia menunjuk beberapa makanan yang diinginkannya, tak lupa menawari kekasihnya.
Nasi udang goreng dengan sambal bawang juga empal, iga bakar, nasi bakal, ayam penyet, Fernando yang ada dibelakang kekasihnya sampai melongo mendengar pesanan kekasihnya,
"Sayang kamu laper banget ya!"bisiknya.
Menyadari dirinya kalap, Rara tersenyum memperlihatkan bentuk hati bibirnya, Fernando terpana sejenak melihat hal itu.
Dan meja penuh dengan sebagian besar pesanan Rara, tentu saja Fernando hanya bisa menggelengkan kepalanya,
"Ra, kamu yakin bisa abisin ini semua?"
Rara mengangguk antusias, tak banyak bicara ia mulai menyantap makanan yang ada dihadapannya.
"Rara sayang pelan-pelan makannya, nggak ada yang minta makanan kamu,"Fernando mengingatkan.
Wanita itu hanya menganggukkan kepalanya, tak lupa beberapa kali ia menyuapi Fernando makanan yang ia makan dengan tangannya sendiri.
Dilayani seperti itu oleh wanita yang dicintai, membuat Fernando senang sekali, andai ia tak ingat tempat mungkin dirinya sudah salto saking senangnya.
Hingga bermenit-menit berlalu, hidangan yang ada didepan keduanya, sudah bersih hanya tersisa tulangnya saja, Rara sampai bersandar ke kursi sambil menepuk perutnya saking kenyangnya.
"Mas, aku mau beliin oleh-oleh buat teman aku di kantor, aku kesana sebentar ya!"ijin Rara pada kekasihnya sambil menunjuk tempat oleh-oleh yang masih pada area yang sama.
Rara meminta pesanannya dikirimkan langsung ke kantornya di Jakarta,
Saat hendak menyodorkan kartu debitnya, Fernando mencegahnya, ia memberikan kartu miliknya, "Rara sayang, kan kamu tanggung jawab aku, jadi aku yang tanggung semua pengeluaran kamu,"ucapnya.
Rara lagi-lagi tersenyum memperlihatkan bentuk hati bibirnya,
Fernando terpana sekejap melihat senyuman itu, dalam hati ia tak merasa rugi mengeluarkan uang, asal bisa melihat senyuman itu.
Usai dari warung makan itu, Fernando mengajaknya ke salah satu pusat perbelanjaan di kota itu, tapi Rara menolaknya, ia lebih memilih untuk beristirahat di hotel.
Tentu dengan senang hati Fernando tidak keberatan, karena artinya mereka akan melakukan kegiatan berbagi kenikmatan.
Dan benar saja, usai membersihkan diri, Rara sendiri yang menggodanya, alasannya sebagai wujud terima kasih karena lelaki itu baik padanya.
Sore harinya keduanya duduk di sofa bercerita sambil menikmati Pisang goreng madu yang tadi dipesannya.
"Mas, aku naik pesawat pagi banget loh, kayaknya aku harus tidur cepat malam ini, besok aku kan udah kerja, itu aja aku Dateng telat, udah ijin sih sama mbak Maya,"
"Ya udah,"
"Pokoknya aku nggak mau kamu nakal lagi ya! Aku nggak suka,"ungkap Rara jujur.
__ADS_1
"Iya sayang, aku akan berusaha keras agar aku bisa menahannya,"
"Kamu juga sama, kamu nggak boleh dekat dengan teman kantor kamu yang laki-laki, jaga jarak,"
"Iya mas, aku usaha in,"
Mereka meneruskan obrolan tentang hal remeh temeh,
Malamnya, Fernando memesan makanan kepada pihak hotel untuk diantarkan ke kamarnya.
Usai makan malam, keduanya kembali melakukan kegiatan berbagi peluh, sebelum tidur.
Jam tiga pagi, alarm dari ponsel Rara berbunyi, wanita yang tidur di pelukan fernando meraih ponsel yang ada di atas kabinet, namun belum sempat ia meraihnya, kekasihnya meraihnya terlebih dahulu dan mematikannya.
"Sayang lepas dulu, aku mau mandi, nanti aku ketinggalan pesawat,"ucap Rara dengan suara parau.
"Kita lakukan sekali lagi ya, aku akan melakukannya dengan cepat,"bisik Fernando tepat ditelinga wanitanya.
Dan kegiatan olah raga pagi itu dilakukan bukan hanya di atas ranjang, tapi juga di kamar mandi saat keduanya tengah mandi bersama.
"Kamu nih, aku kan lagi ngejar pesawat paling pagi,"keluhnya sambil memakai pakaiannya.
"Masih jam empat sayang, kamu nggak bakal ketinggalan,"
Rara masih saja memanyunkan bibirnya, hal itu membuat Fernando gemas, lelaki itu malah mencium dan menggigit sayang bibir itu.
"Main nyosor aja sih,"
"Abisnya bibir kamu buat aku gemas,"
"Ya terserah kamu, aku berangkat dulu ya!"
"Aku antar,"
"Tapi mas,"
"Ayo Rara sayang nanti kamu terlambat loh,"
Fernando mengendong ransel milik kekasihnya dan menggeret koper miliknya, tak lupa menggandeng tangan Rara.
Sesampainya di Bandara, Rara berpamitan, tak lupa mencium tangan kekasihnya itu, dan Fernando membalasnya dengan pelukan juga kecupan di dahi wanita itu.
Rara melambaikan tangannya sambil tersenyum.
Hingga wanita itu telah duduk di kursi pesawat didekat jendela, kursi pesawat ekonomi itu hampir penuh, kecuali kursi disebelahnya.
Ada pengumuman dari pramugari jika pesawat akan lepas landas, para penumpang diminta memakai seat belt, hingga seseorang duduk disebelah Rara, dan membuat wanita itu menoleh,
__ADS_1
Seorang lelaki yang mengenakan topi, tersenyum manis padanya, dan membuat Rara melotot tak percaya.