
Niat hati ingin mengajak makan siang bersama kekasihnya, Fernando yang berniat tidur hanya dua jam, menjadi kebablasan hingga lewat jam makan siang.
Lelaki itu merutuki dirinya sendiri, bisa-bisanya ia lupa memasang alarm pada ponselnya,
Setelah sekian lama Fernando tidak bisa tidur nyenyak dikarenakan kesibukannya bekerja juga dirinya yang penderita insomnia, akhirnya dirinya bisa tidur dengan sangat nyenyak, hanya karena tidur di ranjang yang ada aroma khas kekasihnya, memeluk guling yang biasa dipeluk Rara.
Kemarin ia sama sekali tidak memberitahukan tentang kepulangannya, dikarenakan ini mendadak, semua itu gara-gara sahabat sekaligus bosnya yang sedang bermasalah dengan mantan teman sekaligus saudara tirinya.
Juga keluhannya tentang istrinya yang diam-diam menangis histeris, entah karena apa, Benedict tidak menceritakan detailnya.
Walau Fernando begitu menyayangi dan menganggap Ayudia sebagai adiknya sendiri, tapi untuk urusan rumah tangga sepertinya ia tidak berani ikut campur terlalu dalam.
Lelaki itu, memasuki kamar mandi, ia memutuskan untuk mandi, ada niatan untuk menjemput kekasihnya yang tengah bekerja.
Rasanya tak sabar ingin berbincang langsung dengan pujaan hatinya,
Tiga puluh menit kemudian, Fernando sudah siap dengan penampilannya yang terlihat lebih segar,
Dengan kemeja slim fit lengan pendek berwarna hitam dan celana slim fit panjang dengan warna senada, tak lupa sepatu sneaker berwarna putih.
Ia mulai melajukan mobilnya menuju layanan Drive thru salah satu restoran cepat saji, ia memesan burger, French fries juga cola, tak lupa es krim sunday rasa strawberry.
Ia melajukan mobilnya lagi menuju kantor dimana kekasihnya bekerja, sambil menyetir ia menikmati makanan yang tadi ia beli.
Fernando parkir tak jauh dari ruko dimana Rara bekerja, sambil terus menghabiskan semua makanan itu sembari mengamati aktivitas yang sedang berlangsung di sana.
Dari kejauhan tak sengaja, ia melihat Rara berboncengan dengan salah satu rekan kerjanya, hanya melihat itu rasanya kesal sekali.
Ia langsung menghubungi kekasihnya itu, terlihat dari kejauhan, Rara mengangkat telpon darinya.
"Kamu lagi apa?"tanya Fernando tak sabar,
"Ini aku abis pulang dari bank, sama mas Emil,"jawab wanita itu jujur.
"Aku mau jemput kamu,"
"Ya udah, sejam lagi jam kerja aku abis,"
"Tapi aku ingin cium kamu dulu,"
Terdengar tawa renyah wanita itu, "ya nanti pas kita ketemu,"
"Aku maunya sekarang Rara sayang,"
"Tapi aku kan masih jam kerja,"
"Sebentar saja, sebelum aku hajar laki-laki yang tadi boncengan sama kamu,"
Terlihat wanita itu celingak-celinguk, mencari keberadaan kekasihnya, hingga ia menemukan mobil SUV yang dikenalnya.
Rara menitipkan barangnya untuk dibawa lelaki yang bernama Emil itu.
__ADS_1
Wanita itu berjalan cepat menuju mobil yang terparkir tak jauh dari kantornya, ia membuka sisi pintu di samping kemudi,
Rara tersenyum memperlihatkan bentuk hati pada bibirnya, ia meraih tangan kekasihnya lalu menciumnya.
"Kamu udah dari tadi disini?"tanyanya.
Fernando menggeleng, "aku baru sampai, sini aku peluk,"
Lelaki itu membuka tangannya, dan Rara menyambutnya, Fernando mencium kening wanita yang dicintainya.
"Aku kangen banget sama kamu, kenapa aku nggak dibangunin pas kamu mau berangkat?"tanyanya sambil melepaskan pelukan itu.
Rara, mengelus rahang tegas milik kekasihnya, "aku nggak tega bangunin, kayaknya kamu capek banget, terus semalam kamu pindahin aku ke kamar ya! Emang umi nggak marah?"
"Awalnya nggak boleh sama umi, tapi aku bilang, kalau aku hanya sebatas memeluk kamu aja, nyatanya hanya tidur aja kan?"
"Tumben,"
"Aku nggak mau umi marah-marah,"
"Baguslah jadi nggak bikin dosa Mulu,"
"Kan kamu yang nggak mau aku ajak nikah, katanya nunggu setahun, kalau aku mana tahan, nggak menjamah kamu, lihat tuh!"ujarnya sambil melirik ke bagian bawahnya yang menggembung.
Rara mengikuti arah pandangan kekasihnya, dan ia melotot tak percaya, "mas, kita sebatas pelukan itu cuman sebentar, dan aku juga pakai baju tertutup, bisa-bisanya hasrat kamu bangkit ditempat seperti ini,"
"Rara sayang, aku puasa hampir dua bulan, ini rekor terlama aku nggak melampiaskan hasrat aku loh, jadi kasih reward dong,"
Wanita itu menggeleng, "liat tempat mas,"
Rara mengangguk dan mencium pipi Fernando, belum sempat lelaki itu bertindak, dengan cepat, wanita itu keluar dari mobil.
Fernando tersenyum sendiri, rasanya bahagia sekali, hanya dicium pipinya.
Sisa waktu menunggu kekasihnya pulang bekerja, Fernando mendiskusikan pekerjaan dengan Bagus yang sekarang sedang ada di Malang, mengawasi proyek pembangunan melalui sambungan telpon.
Lama mendiskusikan pekerjaan, sambil membaca laporan tentang resort-resort yang dikelolanya, tak terasa waktu cepat berlalu.
Seorang wanita membuka pintu mobil dan duduk disebelahnya, siapa lagi kalau bukan kekasihnya.
"Kamu masih sibuk kerja aja mas,"tegur Rara yang melihat kekasihnya sedang sibuk dengan tab milik lelaki itu.
"Ini gara-gara si Ben, udah tau aku sibuk, sempat-sempatnya dia nyuruh aku ikut ke Amerika tiga hari lagi, buat nemuin kamu aja, aku minta cuti tiga hari sebelum berangkat, itu aja nggak sepenuhnya cuti, aku masih aja kerja, lihat kan?"
"Kan kalau nggak gini, nggak tau kapan kita ketemu lagi, seenggaknya ada waktu tiga hari kan buat kita sama-sama,"
"Ya udah kita jalan, apa kamu mau makan dulu?"
"Aku kenyang mas, tadi sama Bu Erika kami dibelikan pizza, jadi aku masih kenyang, emang kita mau kemana?"
"Ke apartemen aja ya, menginap di sana,"
__ADS_1
"Jangan mas, nanti umi marah,"
"Tapi aku butuh kamu, sudah hampir dua bulan aku puasa,"
"Nanti umi marah, aku nggak enak,"
"Rara sayang, nanti malam, kita tetap pulang ke rumah umi, tapi sekarang aku ingin melepas kangen sama kamu,"
Melihat wajah memelas lelaki itu, Akhirnya Rara mengangguk.
Fernando langsung tancap gas menuju apartemen miliknya.
Baru saja membuka pintu apartemennya, Fernando langsung menarik pinggang kekasihnya, tanpa basa-basi ia langsung mencium bibir yang hampir dua bulan ini hanya ada dalam bayangannya saja, "ah.... Rasanya masih manis,"ungkapnya dalam hati.
Tangan besar lelaki itu tak tinggal diam, ia melepas satu persatu kancing seragam berwarna biru muda itu,
Rara juga tak mau kalah, wanita itu membatunya melepas kemeja slim fit yang begitu pas ditubuh kekar kekasihnya itu.
Suasana di ruang tamu apartemen menjadi semakin panas, Rara memintanya melakukan di atas ranjang, agar lebih nyaman.
Fernando yang sudah di ujung hasratnya, tak keberatan menuruti mau kekasihnya, ia menggendong ala koala sambil terus mencium bibir yang menjadi candunya.
Dan disinilah keduanya berada, di atas ranjang berperang peluh, keduanya seolah tak mempedulikan apapun, bagi mereka yang tidak bertemu hampir dua bulan, saling melepaskan rindu yang begitu menyesakan dada.
Hingga keduanya mencapai puncak kenikmatan secara bersamaan, Fernando ambruk di samping kekasihnya,
Keduanya saling bertatapan menyampaikan rasa terima kasih juga cinta yang semakin dalam, setiap harinya.
Mereka tersenyum bahagia, ini terasa berbeda sekali bagi Fernando, ia baru menyadari, jika melakukan hubungan intim berdasarkan rasa cinta sangat berbeda rasanya dengan berdasarkan nafsu atau kebutuhan biologis saja.
Ada perasaan membuncah, yang tak bisa ia gambarkan dengan kata-kata, rasa bahagia tak terkira, jika bisa Fernando hanya ingin menghabiskan waktunya dengan wanita yang ia cintai, bercinta sepanjang hari, atau melakukan kegiatan hanya berdua, indah sekali rasanya membayangkannya.
Masih dengan nafas tersengal-sengal, ada sesuatu yang baru disadari oleh lelaki itu, sambil menatap wanitanya penuh kasih sayang, Fernando bertanya, "Rara sayang, apa kamu hamil?"tanyanya tiba-tiba.
Ada harapan besar untuk Fernando dengan jawaban yang akan terlontar dari mulut wanita itu,
Rara terkejut, tapi sebisa mungkin dirinya mengendalikan ekspresinya , "kok kamu nanya gitu?"
"Rasanya lebih hangat dari biasanya, lalu sepertinya kamu semakin montok dan seksi, tapi aku suka kok,"
"Teman-teman kantor ngajak aku makan-makan Mulu, terus umi juga selalu masakin makanan kesukaan aku, jadi aku agak gemuk,"
"Aku malah ngarep kamu hamil," ujarnya sambil memegang perut yang sedikit membuncit itu,
"Kenapa kamu mengharapkan aku hamil?"
"Itu bisa jadi alasan kamu harus menikah dengan aku,"
"Kenapa kamu ngebet pengen banget nikah sama aku?"
"Karena aku cinta sama kamu, aku mau memiliki kamu seutuhnya, aku mau kemanapun aku pergi, kamu selalu sama aku, dan banyak alasan lainnya sayang,"
__ADS_1
"Tapi kata umi, perempuan hamil, tidak boleh dinikahi,"
Fernando terdiam, ia tau akan itu, namun apa mau dikata, dengan cara inilah, wanita yang ia cintai mau tak mau harus menikah dengannya.