
Sesampainya di rumah, pasutri itu memilih menghabiskan waktu dengan beristirahat disisa hari, untuk urusan makan, mereka lebih memilih memesan melalui ojek online.
Karena setelah hari ini, Fernando akan kembali disibukan dengan segudang aktivitas pekerjaannya.
Malam sebelum tidur, seperti biasa, keduanya akan mengobrol, "pokoknya kemanapun aku pergi, kamu harus ikut suami kamu,"ujar lelaki yang baru saja membuka bajunya, menyisakan bokser yang dikenakannya.
Rara yang sedang mengoleskan pelembab di bibirnya, menghentikan kegiatannya, ia menoleh menatap suaminya, "memangnya kamu perginya lama?"tanyanya.
"Nggak tau juga, bisa lama bisa sebentar, yang penting kamu ikut,"jawabnya tak mau dibantah.
Rara yang sudah menyelesaikan aktivitasnya, memilih merebahkan diri ranjang, ia menghadap ke suaminya yang tengah duduk bersandar dengan tab berada ditangannya.
"Memangnya kamu mau ke Bali besok?"tanya wanita yang mengenakan piyama satin polos berwarna merah muda.
"Malam mungkin, setelah aku ke tempat Rama atau Alex terlebih dahulu untuk membicarakan soal villa yang di Lembang,"jawabnya tanpa melihat ke arah istrinya, lelaki itu masih sibuk dengan tab-nya.
Rara menghela nafas, "oke, aku akan ikuti kamu, besok pagi aku akan packing baju-baju aku, apa ada baju yang akan kamu bawa?"tanyanya.
"Sepertinya tidak, kamu aja bawa baju secukupnya, Kalau kurang beli aja, oh ya besok rencananya, setelah urusan pekerjaan selesai, aku sama sahabat aku, mau makan bersama, sekalian mengenalkan kamu sama yang lainnya,"
Rara mengangguk, wanita itu ijin untuk tidur terlebih dahulu, tentu saja sebagai suami yang baik, Fernando mengijinkan, ia tau istrinya lelah, sedangkan pekerjaan yang harus dilakukan lelaki itu masih banyak, ada beberapa email yang masuk dari Bagus juga pak Imam, ia harus memeriksanya satu persatu.
Keesokan harinya, Fernando mengajak Istrinya menuju tempat Alex terlebih dahulu,
Namun Alex sedang tidak berada ditempat, dikarenakan sedang ada sidang yang harus ia ikuti,
Menurut pengakuan Sandra, mungkin tidak sampai satu jam lagi, bos nya akan segera tiba di kantor.
Sekertaris Alex itu berkenalan dengan Rara, keduanya bisa langsung akrab, dengan obrolan yang nyambung, padahal biasanya, Sandra agak sedikit kaku jika dengan orang yang baru dikenalnya.
Sandra juga dengan mudahnya mengakui, jika dirinya sedang mengajukan gugatan cerai pada suaminya, ia juga bercerita tentang alasan mengapa wanita satu anak itu bercerai, suaminya gemar berjudi dan main perempuan.
Rara turut prihatin mendengar curhatan perempuan berusia tiga puluh tiga tahun itu.
"Terus anak mbak Sandra siapa yang jagain di rumah kalau mbak kerja begini?"tanya Rara.
Sandra tertawa, "udah nggak perlu dijagain Ra, udah gede kan,"
"Emang umurnya berapa mbak?"
"Tahun ini empat belas tahun,"
Rara tercengang mendengarnya, "mbak nikah muda ya!"
Bukannya menjawab, Sandra tersenyum ambigu,
Ada telpon masuk melalui pesawat telpon yang ada dimeja kerja Sandra,
Wanita cantik itu mengangkatnya, Sandra terlihat serius berbicara di telpon sambil sesekali melirik Fernando yang duduk di sofa ruang tunggu tak jauh darinya.
Fernando yang merasa diperhatikan, menaikan sebelah alisnya, seolah bertanya kepada sekertaris sahabatnya itu,
"Do, bisa ngomong dulu nggak?"tanya Sandra ketika baru saja menutup telponnya.
"Kenapa san? Ngomong aja sih disini,"jawab Fernando.
Wanita itu sedikit ragu, ia melirik Rara yang sedang memainkan ponselnya, "ada Cristy dibawah,"ucapnya nyaris berbisik.
Rara jelas mendengarnya, meskipun suara dari Sandra pelan, wanita berhijab itu hanya melirik sekilas, tak berniat menanggapi.
"Memangnya ada apa sih san?"tanya Fernando, "bukannya urusannya udah selesai ya!"
"Nggak tau do, jadi mau ditemuin nggak?"
Fernando menatap ke istrinya seolah meminta persetujuan
Rara yang ditatap paham, "temui aja mas, kali aja penting,"ujarnya tanpa menatap balik.
"Ya udah san, suruh kesini aja,"perintah Fernando pada sekertaris Sahabatnya.
"Yakin do?"tanya wanita beranak satu itu.
"Tenang Aja san, nggak bakal ada drama jambak-menjambak,"ujar lelaki itu meyakinkan.
__ADS_1
Sandra mengangguk, ia menelpon resepsionis dibawah tak lupa menyuruh sekuriti yang mengantarkan tamu itu ke atas.
"Ra, kamu udah tau kan Cristy itu siapa?"tanya Sandra yang duduk tak jauh dari wanita berhijab itu.
Yang ditanya hanya mengangguk,
"tenang Ra, kalau dia macam-macam aku akan belain kamu,"
Rara hanya tersenyum tipis,
Tak lama kemudian wanita dengan dress merah, datang bersama sekuriti.
Fernando yang duduk di samping istrinya hanya melirik sekilas kedatangan mantan pacarnya, lelaki itu sibuk dengan tab ditangannya.
Cristy mendekat dan duduk setelah Sandra mempersilahkan.
Usai mengucapkan terima kasih pada Sandra, Cristy menatap mantan pacarnya, "Nando apa kabar?"tanyanya membuka pembicaraan.
"Hem"jawab Fernando dengan gumaman tanpa menatap wanita itu.
"Do, ada yang mau aku omongin, bisa kita bicara berdua saja,"ungkap Cristy.
Fernando menghela nafas, "ngomong disini aja, nggak masalah,"
"Tapi do,"
"Kalau nggak mau, silahkan pergi dari sini,"
Mata Cristy mulai berkaca-kaca, "do, kenapa kamu dingin banget sama aku? Apa tidak ada sedikit rasa yang tersisa buat aku?"
Tanpa menatap Fernando berucap, "udah lewat tiga tahun Cristy, dan harusnya kamu tau seperti apa aku, bukankah kamu tau saat bersama dengan kamu, berkali-kali aku mengkhianati kamu, bagi aku perempuan itu ibarat mengganti baju, kalau sudah bosan ya diganti,"
Rara yang sedari tadi sibuk dengan ponselnya, melirik suaminya sinis, namun tidak berniat untuk menimpali ucapan lelaki itu.
Sandra yang sedari tadi diam memperhatikan, menjadi kesal mendengar ucapan sahabat bosnya.
Air mata Cristy jatuh, wanita itu menggeleng tak percaya, "do, tapi kan kita lama berhubungan, diantara mantan-mantan kamu aku yang paling lama,"
Cristy terisak-isak, "do, penagih utang itu mengambil semua yang kamu kasih ke aku, hidup aku berantakan, kemana pun aku pergi, mereka mengejar aku,"ujarnya.
"Aku takut do, mereka mengancam akan menjual aku, jika aku tidak melunasi utang mami aku,"
Fernando menarik nafas, "itu bukan urusan aku lagi, aku nggak peduli,"
Cristy duduk bersimpuh dihadapan mantan kekasihnya, "Do, tolong aku, hanya kamu yang bisa tolongin aku,"
Fernando melepaskan tangan Cristy yang memegang lututnya, "bisa kamu duduk kembali, aku risih,"
Wanita yang mengenakan dress merah itu menurut, ia kembali duduk, Sandra memberikan tisu untuk menghapus air matanya.
"Kenapa mesti minta tolong ke aku, harusnya kamu minta tolong sama yang lain, kita nggak ada hubungan apapun,"
"Do, mereka tidak setulus kamu, hanya kamu lelaki yang memperlakukan aku dengan baik, bantu aku do,"
"Apa kamu tidak bisa bilang ke mami kamu untuk berhenti bermain judi?"
"Mami keras kepala do, bahkan jika kami bertemu, dia memukuli aku, dan meminta uang ke aku,"
"Cristy, itu bukan urusan aku, dan aku tidak akan membantu kamu, surat perjanjian sudah ditandatangani, itu artinya kamu tidak akan menggangu aku, jika kamu begini, aku bisa mengajukan tuntutan ke kamu,"
"Aku tau do, tapi hanya kamu yang bisa tolong aku,"
Rara yang sedari diam, lama-lama kesal juga mendengarnya, ia meletakan ponselnya kasar di meja kaca yang berada didepannya.
Fernando menatap istrinya, yang ditatap menatap balik tajam, terlihat ada amarah di sana,
"Mbak Cristy, suami Rara bukan lembaga amal yang bisa dengan mudah menyelesaikan masalah mantan pacarnya, kan Rara udah bilang move on bisa nggak sih, ini udah tiga tahun berlalu loh, kenapa nggak meminta tolong pacar baru mbak Cristy?"ucap wanita berhijab itu sambil menatap tajam mantan pacar suaminya.
Cristy terkejut melihat wanita berhijab itu yang tak lain adalah Rara,
"Berapa nominal yang mbak minta buat suami Rara? Ayo sebutkan, Rara yang akan bantu, asal setelah ini selamanya, mbak nggak akan ganggu rumah tangga kami,"
Cristy melirik mantan pacarnya yang sedari tadi menatapnya tajam, sejujurnya ia takut, namun ia terpaksa, tak ada pilihan lain.
__ADS_1
"Seratus juta,"jawabnya.
"Oke, kalau begitu,"ujar Rara menyanggupi, "mbak Sandra, boleh Rara minta tolong, dibuatkan perjanjian, agar suatu saat mbak Cristy tidak lagi mengganggu rumah tangga Rara,"lanjutnya kepada wanita dengan setelan formal itu.
Sandra mengangguk dan bergegas menuju mejanya,
"Mbak Cristy, aku kasih dua ratus juta, yang seratus, mbak bisa buat modal mbak pergi dari ibu kota, membuka hidup baru, ditempat yang baru, Rara harap jika suatu saat kita bertemu, mbak udah berubah, mbak bisa lebih bahagia dan tidak mengganggu rumah tangga aku lagi,"
Tak lama Sandra menyodorkan sebuah kertas berisi perjanjian secara bergantian Rara juga Cristy menandatangani surat yang sudah dilengkapi materai.
Usai menandatangani, Rara mengambil ponselnya kembali, "bisa mbak Cristy sebutkan nomor rekeningnya, Rara langsung transfer sekarang,"ujarnya menyodorkan ponselnya.
Fernando mencegahnya, "kamu apa-apaan sih Ra, aku nggak ijinkan kamu, kayak gitu,"
"Ini mau aku mas, dan ini uang aku, tidak ada hubungannya dengan kamu, aku hanya ingin menjalani rumah tangga ini dengan tenang,"
"Oke, tapi pakai uang aku,"
"Nggak, kalau kamu yang kasih, berarti kamu masih ada rasa sama mantan pacar kamu,"
"Ra, aku nggak peduli sama dia, yang aku pedulikan itu kamu, aku nggak mau uang kamu terpakai untuk dia,"
"Mas, ini uang tabungan aku sendiri, kamu ngerti nggak sih, aku nggak peduli uang tabungan aku habis atau tidak, bagi aku rumah tangga aku nggak ada yang ganggu,"
"Ra, aku nggak ijinkan kamu,"
"Maaf, tapi aku nggak peduli,"
Rara tetap meminta nomor rekening milik Cristy,
Sandra yang menyaksikan perdebatan suami istri itu hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Fernando yang kesal mengambil alih ponsel istrinya yang berada di meja kaca.
"Aku nggak mengijinkan itu Amara,"ucapnya marah.
"Kembalikan ponsel aku,"
Alex yang baru saja datang bingung dengan drama yang sedang terjadi di kantornya.
Ia bertanya pada sekretarisnya, dan Sandra menjelaskan apa yang terjadi.
Rara yang melihat kedatangan Alex, berdiri menghampiri lelaki itu, "bang Alex boleh Rara pinjam uang dua ratus juta untuk diberikan kepada mbak Cristy, ponsel Rara dipegang mas Nando,"
Alex melirik sekilas sahabatnya, Fernando menggelengkan kepalanya,
Tanpa banyak berucap Alex masuk kedalam ruangannya, tak lama kemudian ia menyodorkan kantong plastik hitam berisi uang cas sebanyak dua ratus juta.
Melihat hal itu, Fernando bangkit, ia menghampiri sahabatnya,
"Lo nggak ngerti maksud gue Lex? Mau ngajak gue ribut Lo?"
Tantangnya pada sahabatnya.
"Nggak gitu do, gue hanya bantu Rara,"
"Gue nggak bolehin Lex,"
Alex memberikan kantong plastik itu pada Rara,
Rara menerimanya, ia meminta tolong pada Sandra kwitansi bermaterai.
"Ra, aku marah sama kamu, kalau sampai kamu kasih uang itu ke dia,"
Seolah tak peduli, Rara justru menghampiri Cristy, wanita berhijab itu menyodorkan kwitansi untuk ditanda tangani dan memberikan kantong plastik berisi uang cas itu,
Fernando tak tinggal diam, ia berjalan menghampiri istrinya, namun lengannya dipegang oleh Alex, "biarin aja do,"
"Nggak bisa Lex, gue nggak suka bini gue kayak gitu,"
"Rara hanya berusaha yang terbaik untuk rumah tangga kalian,"
Fernando menghempaskan tangan sahabatnya, ia tetap menghampiri istrinya, ia menyeret istrinya untuk pergi dari sana.
__ADS_1