Istri Untuk Fernando

Istri Untuk Fernando
sembilan puluh


__ADS_3

Keesokan paginya, usai sarapan Fernando bertolak menuju Lembang, tentu tanpa istrinya, sesuai kesepakatan semalam, akhirnya lelaki itu menyetujui permintaan Rara, alasannya untuk menebus rasa bersalahnya kepada sahabatnya, karena secara tidak langsung, penyebab Ayudia koma karena Fernando yang ingin membalas perlakuan semena-mena Benedict.


Rara dengan telaten membantu Anna mengurus kedua anak kembar yang sedang aktif-aktifnya, walau ada maid di rumah itu.


"Tante seneng kamu disini, si kembar juga keliatan lebih bersemangat sejak ada kamu,"ujar Anna ketika mereka sedang mengawasi kedua balita itu menaiki sepeda roda tiga di samping rumah.


"Rara juga seneng disini, rame, kalau di Lembang, paling istrinya mang Ujang, itu juga cuman pagi aja, kalau udah siang, Rara sendirian di rumah, mas Nando nggak bolehin Rara kemana-mana," jelasnya.


"Berarti Nando itu sebelas dua belas sama Ben ya! Sama-sama over protektif sama istrinya, tapi menurut Tante mendingan Nando sih, kalau Ben itu cemburuan banget, bahkan sama anaknya sendiri,"ucapnya diakhiri dengan tawa, teringat kelakuan putra semata wayangnya terhadap menantunya.


"Lagian nggak ada yang perlu dicemburui juga dari Rara, lah wong Mas Nando selalu bareng Rara, nggak ada kesempatan buat Rara berinteraksi dengan siapapun,"


Obrolan mereka terhenti karena ponsel milik Rara berdering, wanita hamil itu meminta ijin kepada Anna untuk mengangkat panggilan itu.


Rara masuk ke dalam rumah, ia mengangkat panggilan dari Sinta,


Setelah mengucapkan salam, Rara menanyakan kabar dari wanita itu,


"Keadaan mbak buruk Ra, mereka keterlaluan Ra, mbak udah nggak tahan lagi, mbak dengar kamu lagi di Jakarta ya!"ungkap Sinta diseberang sana, suara wanita itu terdengar parau dan diselingi dengan sesenggukan.


"Sekarang mbak dimana?"tanya Rara mulai panik mendengar isakan tangis dari Sinta.


"Mbak nggak tau Ra, tadi mbak lari keluar cuman bawa hape, mbak nggak sanggup lagi Ra,"


"Oke, mbak tunggu disitu, Rara sekarang kesana ya, mbak share lokasinya ke aku,"


Usai menutup panggilannya, Rara bergegas mengambil tas ransel miliknya dan meminta ijin pada Anna untuk keluar sebentar,


Rara menaiki ojek online menuju tempat dimana Sinta berada, beruntung itu tak terlalu jauh dari rumah milik Ayudia, sehingga dengan cepat ia sampai di lokasi.


Sinta duduk dengan pandangan kosong didepan mini market, wanita itu bahkan tidak memakai alas kaki.


Saat keduanya bertemu pandang,  air mata Sinta mengalir dengan deras, Rara menghampiri dan memeluknya, ia berusaha menenangkan istri dari Rama.


Setelah dirasa tenang, Rara meminta ijin pada Sinta untuk masuk ke minimarket sejenak.


Tak lama, Rara membawa kantong belanja berwarna kuning, berisi air mineral, sandwich, tisu dan juga sandal jepit.


Sinta masih menangis ketika mulai memakan roti yang diberikan Rara,


Selesai menghabiskan satu potong sandwich, Sinta mulai menceritakan kejadian yang dialaminya.

__ADS_1


Tadi pagi Sinta dan Rama terlibat  pertengkaran dikarenakan Sebuah rekaman cctv yang memperlihatkan jika Rama masih mendatangi apartemen milik mantan pacarnya itu beberapa hari yang lalu, hingga satu jam lebih, Rama baru keluar dari sana.


Rama menyangkal rekaman cctv itu, tentu saja Sinta tak percaya, karena ia tau betul kemeja yang dikenakan Rama saat hari itu.


Saat sedang bertengkar, tiba-tiba citra datang sambil menangis memberikan sebuah testpack garis dua pada pasangan suami istri itu,


Sinta semakin murka dengan diamnya Rama, seolah lelaki itu mengakuinya,


Tanpa pikir panjang, Sinta pergi dari rumah hanya membawa ponsel yang sedari tadi dalam genggamannya, bahkan sampai lupa memakai alas kaki.


"Mbak yakin kalau itu anaknya mas Rama?"tanya Rara.


Sinta mengangguk, "mbak tau, Rama masih sering ke apartemen Citra, tanpa rekaman cctv pun, mbak pernah diam-diam mengikuti Rama, dan benar mereka masih sering bertemu,"


"Lalu sekarang apa rencana mbak Sinta?"tanya Rara.


"Mbak mau mengajukan gugatan cerai, mbak udah nggak tahan,"jawabnya yakin.


"Apa mbak mau pulang ke rumah orang tua mbak?"


Sinta menggeleng, "mbak nggak mau orang tua tau,mbak nggak mau buat orang tua kepikiran, mereka sudah tua Ra, sering sakit-sakitan, bukankah kamu pernah nawarin mbak tempat persembunyian? Bisa nggak kalau kita kesana?"


"Bisa sih mbak, masalahnya mbak lagi hamil besar, perjalanan kita jauh loh,"


"Kita ke tempat Dia dulu ya mbak, pamit sama Tante Anna, nggak enak kalau aku pergi gitu aja,"


"Jangan Ra, nanti Rama bisa tau mbak di sana, Apa kita nggak bisa pergi sekarang? Apa kamu lagi nggak bawa uang?"tanya Sinta.


"Aku ambil uang di ATM dulu ya mbak, seenggaknya buat ongkos sama jajan dijalan, oh ya, mbak bawa KTP nggak? Biar kita bisa naik kereta,"


"Mbak lupa nggak bawa dompet Ra,"


Rara terdiam berfikir, "kalau gitu, kita naik travel aja ya mbak,"


Sinta mengangguk setuju.


Rara menarik uang dari kartu pemberian Fernando dalam jumlah besar di mesin ATM yang masih ada diarea minimarket, semuanya ia masukan ke dalam tas ransel miliknya.


Tak jauh dari sana, ada agen travel, Rara menanyakan keberangkatan kepada petugas yang berjaga, sayangnya baru ada pemberangkatan nanti sore,


Sinta menolak, ia meminta dibawa pergi sekarang juga dari kota ini, hal itu membuat Rara semakin bingung.

__ADS_1


Entah mengapa, Rara tiba-tiba terpikirkan tentang Pradikta, tanpa menundanya, ia menghubungi sahabatnya itu.


Rara meminta Pradikta menjemputnya di agen Travel, dan berjanji akan menceritakan apa yang terjadi.


Sekitar tiga puluh menit berlalu, sebuah mobil sedan hitam berhenti tepat diparkiran agen Travel itu,


Lelaki yang masih mengenakan setelan kerjanya, celingak-celinguk, mencari keberadaan sahabatnya,


Sinta yang memang mengenal Pradikta menghampiri lelaki itu, dan memberitahukan jika Rara sedang berada di toilet.


Dan disinilah ketiganya sekarang, didalam mobil milik Pradikta,


Sesuai janjinya Rara menceritakan semua kejadian yang menimpa Sinta juga rencana kedepannya.


"Mbak Sinta, maaf sebelumnya, bukannya aku mau menggurui, coba bicarakan baik-baik dengan suami mbak, mungkin ini salah paham,"saran Lelaki yang mengenakan kemeja biru telor asin itu.


"Aku liat dengan mata kepalaku sendiri Ta, dia mengkhianati aku,"sanggah Sinta,


"Oke, gimana kalau kita ke rumah aku dulu,"usul Pradikta.


"Bawa aku keluar dari kota ini Ta, aku mohon,"pinta Sinta di jok belakang.


Pradikta melirik Rara yang sedari tadi hanya diam, seolah minta pendapat sahabatnya, namun sepertinya Rara sedang melamun, dan lelaki itu hanya bisa menghela nafas.


Pradikta menepikan mobilnya, ia menghubungi rekan kerjanya, ia akan meminta ijin tidak bekerja, sehingga akan cuti dadakan selama tiga hari ke depan.


"Jadi mau aku antar kemana Amara?"tanyanya.


Rara yang melamun, sedikit terkejut, namun bisa segera mengendalikan dirinya, ia menyebutkan alamat kampung Mbah Sarmi.


"Ini perjalanan jauh, kita nggak ada persiapan apapun, jadi nanti jika kita sudah keluar dari ibu kota, lebih baik kita berbelanja kebutuhan pribadi dulu, mbak Sinta setuju kan?"tanya pradikta.


Yang ditanya hanya mengangguk, 


"Ra, matikan ponsel kamu, jangan sampai keberadaan kita bisa dilacak sama orangnya Alex, itu yang dibilang Sandra beberapa bulan yang lalu kan!"


"Iya mbak, udah aku non aktifkan ponsel aku kok,"ujar Rara.


Namun diam-diam Rara sudah berpamitan dengan suaminya, agar lelaki itu tidak khawatir.


...My husband...

__ADS_1


Mas, aku pergi menemani mbak Sinta, katanya mas Rama menghamili mbak Citra, aku baik-baik aja, jadi jangan cari aku dulu ya.


__ADS_2