
Sejak kejadian itu, Fernando menjadi lebih dingin, berbicara hanya seperlunya saja, tak ada candaan yang ia lontarkan.
Lelaki itu masih membatasi gerak-gerik istrinya, Rara hanya ke luar kamar saat bersama dengan dirinya.
Tak ada kegiatan panas yang biasa mereka lakukan, Fernando lebih sering menghabiskan waktunya untuk bekerja di ruangannya, bahkan lelaki itu tidur di sofa panjang.
Sudah seminggu pasangan suami istri seperti itu, Rara berkali-kali meminta maaf, tapi Fernando tak mempedulikannya.
Lelaki itu hanya tertawa dan tersenyum saat bersama putrinya.
Ponsel dan dompet milik Rara masih disembunyikan oleh Fernando, lelaki itu memperlakukan istrinya layaknya tahanan.
Rara semakin tertekan, dengan sikap suaminya, karena tak tahan, malam harinya saat putrinya sudah tidur, ia mendatangi suaminya yang tengah berada diruang kerjanya.
Ini sudah hari ke delapan, bagi Rara sikap suaminya sudah keterlaluan.
Rara memasuki ruangan kerja Fernando saat lelaki itu sedang fokus bekerja menghadap laptopnya.
"Mas, aku mau bicara,"pinta Rara.
Fernando melirik sekilas, "aku lagi sibuk,"
Rara menarik kursi yang berhadapan dengan suaminya, sebelum berbicara ia menghela nafas,
"Sampai kapan kamu akan mendiamkan aku? kalau kayak gini caranya, lebih baik kamu kasih dompet dan ponsel aku, untuk apa aku ada disini jika hanya dijadikan pajangan,"ungkapnya.
Fernando tak menanggapi ucapan istrinya, ia masih sibuk dengan pekerjaannya.
Rara yang biasa sabar, penakut dan bersikap tenang, mendadak menjadi tak sabar, ia bangkit dan menghampiri suaminya.
Dengan berani ia menutup laptop suaminya, tak peduli apa yang dikerjakan lelaki itu,
"aku ngomong baik-baik kamu nggak nanggepin, mau kamu apa sih? aku tau aku salah, aku juga udah minta maaf, tapi kamu malah mendiamkan aku, jadi untuk apa aku ada disini?"ungkap Rara berdiri di samping suaminya yang sedang duduk di kursi kebesarannya.
Fernando bangkit berdiri berhadapan dengan istrinya, ia menunduk untuk menyamakan tingginya,
"Mau aku, kamu diam disini,"jawabnya singkat, sambil menatap istrinya tajam.
Rara yang sudah mengumpulkan keberaniannya, melototi lelaki blasteran itu, "tapi kamu diamkan aku, kamu membatasi aku,"
Fernando mengelus kepala istrinya lalu mencium kening itu lembut, "memangnya kalau aku beri kamu kebebasan, ada jaminan jika kamu tidak akan melarikan diri dari aku? apalagi aku dengar kamu akan berkunjung ke mantan calon mama mertua, bukankah aku benar? sebagai suami yang mencintai dan takut kehilangan istrinya, tindakan aku salah begitu?"tanyanya.
Rara terdiam berfikir, padahal sudah beberapa hari ini, ia sudah merangkai kata yang akan ia utarakan pada suaminya, tapi semuanya buyar ketika berhadapan langsung dengan orang yang bersangkutan.
"Kenapa diam? kamu nggak bisa kasih aku jaminan kamu nggak akan ninggalin aku kan?"tanyanya lagi.
__ADS_1
"Siapa yang ninggalin sih?"
"Kamu lupa alasan aku mengurung kamu selama sebulan disini? kamu mau bercerai dari aku bukan? kamu nggak mau punya suami yang masih berhubungan dengan mantannya, sementara aku udah kasih jaminan, kalau aku nggak akan ninggalin kamu, semua uang dan aset aku yang ada diluar negeri aku alihkan atas nama kamu dan Arana, bagaimana mungkin aku ninggalin kamu, sementara kamu? apa jaminannya kamu nggak akan meminta bercerai kalau aku bebasin? coba setidaknya satu aja, supaya suami kamu tenang saat kita berjauhan,"
Rara terdiam sejenak untuk berfikir, "mas, kan udah ada Arana, anak perempuan kamu, masa itu nggak bisa jadi jaminan?"
"kalau udah tau begitu kenapa kamu mau mengajukan gugatan cerai tempo hari?"
"aku emosi, lihat kamu mesra sama mantan teman tidur kamu,"
"yang terakhir nggak usah disebut Ra, nggak enak didengar,"
"kenyataan mas, bahkan dia bercerita bagaimana dia memuaskan kamu di ranjang,"
"bisa tidak nggak usah bahas masa lalu,"
"kamu yang mulai,"
"Ra, stop bahas itu,"
"oke, tapi kasih ponsel sama dompet, aku butuh menghubungi Fitri,"
Tau maksud istrinya, Fernando terpaksa membuka brangkas-nya dan mengambil ponsel wanita itu,
Rara mengaktifkan ponsel,
Ada banyak pesan dari Fitri dan Cristy menanyakan kepastian rencana mereka.
Fernando yang ikut membaca menanyakan apa yang direncanakan istrinya dan kedua perempuan itu.
Rara tak menanggapi, ia memilih menelpon Fitri meskipun hari sudah malam,
"loud speaker aku mau dengar,"bisik Fernando.
"kemana aja sih mbak? aku telpon nggak aktif, aku kirim pesan nggak dibales, aku sama mbak Cristy nungguin keputusan mbak Rara, jadi nggak sih?"
"Jadi Fit, masalahnya aku masih di Bali, entar aku kabari lagi ya, bilang ke mbak Cristy sekalian,"
Setelahnya hanya obrolan seputar usaha mereka bersama.
Rara mengakhiri panggilannya lalu menatap suaminya, "sekarang mana dompet aku?"
"buat apa sih Ra? lagian kamu belum kasih jaminan apapun supaya aku yakin kamu nggak akan mengajukan gugatan cerai,"
"ya udah kamu pegang surat nikah aja, itu jaminannya,"
__ADS_1
"aku juga punya Ra,"
"mas kamu nggak capek apa, diamkan aku terus? udah seminggu, kamu dingin sama aku, buat apa sih?"
"kamu yang mulai duluan Ra,"
Rara mengajak suaminya duduk di sofa, pegal juga, dirinya berdiri terus,
"Gini deh, kita saling percaya aja, aku juga capek curiga Mulu sama kamu, kalau memang kamu mau berpaling, ya sudah, kamu cukup bilang dengan jujur agar aku bisa siapkan mental, supaya bisa melepaskan kamu,"
"aku nggak mungkin berpaling dari kamu Ra,"bantahnya.
"Oke, jadi aku minta supaya kita bisa jalani hidup seperti enam bulan ke belakang, aku di Jakarta urus Nicholas dan Arana, kamu kerja disini, sesekali saat weekend kamu pulang buat ketemu aku sama anak-anak, atau aku yang ngalah buat datang kesini,"
Tau suaminya belum yakin, Rara memegang tangan suaminya, "aku jagain anak-anak kamu, terutama Nicholas pasti dia bakal jagain aku, dia sama posesifnya kayak kamu,"
Fernando terdiam, ia mendongakkan kepalanya pada sandaran sofa, ia menghela nafas, ia benci harus berjauhan dengan istrinya, ia ingin setiap hari melihat wanita itu, ia ingin menciumi aroma khas itu.
Ia juga ingin bercinta dengan istrinya saat menginginkannya, kapanpun di manapun.
Saat hembusan kasar keluar dari mulutnya, Fernando menoleh, "aku mengundurkan diri aja ya Ra, supaya dekat kamu tiap saat,"pintanya dengan wajah memelas.
"aku nggak mau punya suami pengangguran,"
"aku kerja Ra, kamu tau bukan, pekerjaan aku bukan hanya ini?"
"Tapi kasihan Dia mas,"
"kenapa mikirin Ayu sih, lagian tanpa resort ini, sahabat kamu itu udah kaya,"
"kamu nggak mikirin karyawan disini? kalau dapat bos lagi kayak kamu, kalau dapat bos pelit kan kasihan,"
"aku pelit Ra, aku arogan dan suka marah-marah sama mereka,"
"mas kamu lupa aku tinggal disini udah sebulan, mereka cerita soal kamu, katanya kamu tuh royal, suka kasih bonus gede, ya kalau galak karena mereka salah,"
"Ra... please aku resign ya!"pintanya dengan wajah memelas.
Rara menghela nafas, "aku pikirin dulu, tapi kasih dompet aku dulu,"
"seminggu lagi ya! kan seminggu kebelakang kita perang dingin,"
"itu kan kamu,"
"ya udah nggak usah,"
__ADS_1
Tak ada pilihan lain, Rara memilih mengalah.