Istri Untuk Fernando

Istri Untuk Fernando
dua puluh tujuh


__ADS_3

Kereta baru tiba disalah satu stasiun yang ada di ibukota pukul setengah sepuluh siang,


Akhirnya setelah sekian lama Rara bisa menginjakan kakinya di ibukota,


Rara duduk terlebih dahulu di stasiun, ia baru mengaktifkan ponselnya, ada banyak pesan yang masuk, juga panggilan tak terjawab, dari ibunya, kedua kakaknya dan yang terbanyak dari Fernando,


Sebagian besar dari mereka yang mengirimi pesan menanyakan keberadaannya.


Rara menelpon mas Andi kakak pertamanya yang katanya akan berangkat ke Malang, untuk menghadiri pernikahan adik bungsunya, namun Rara mencegahnya, ia bilang pada kakaknya, jika dirinya sedang tidak ada di Malang, ia sudah melarikan diri dari rumah.


Saat sedang dengan mas Andi ada telpon masuk dari Fernando, ia mendiamkannya.


Usai menelpon mas Andi, Rara menghubungi Fernando.


"Halo,"


"Rara sayang, kamu dimana? Kenapa baru menghubungi aku? Apa kamu sudah sampai di rumah?"tanya Fernando di seberang sana.


"Aku lagi di stasiun, semalam aku sudah sampai di Surabaya jam tujuh,"jelasnya.


"Terus kamu sedang apa di stasiun?" Tanya lelaki itu lagi.


"Aku lagi nunggu teman,"jawabnya.


"Laki-laki atau perempuan?"


"Perempuan, dia teman kerja aku , ada yang mau dibicarakan sama dia,"


"Ra, kenapa nggak video call aja sih, aku kan ingin melihat wajah kamu?"


"Ini ditempat umum mas, malu,"


"Seenggaknya kamu kirim foto kamu buat obat kangen aku,"pinta lelaki itu manja.


"Iya nanti aku kirimi, tapi aku belum mandi soalnya, aku lagi jelek, jangan diledekin ya!"

__ADS_1


"Iya aku nggak akan meledek kamu, justru seneng kalau liat kamu belum mandi, muka bantal kamu, buat aku bergairah tau,"


Rara tertawa mendengarnya, "dasar kamu ini, apa-apa dihubungkan dengan ranjang, nggak bosen apa?"


"Tidak sama sekali, hanya dengan kamu diam saja, aku udah bergairah,"


"Makin ngaco kamu, udah dulu ya, teman aku udah datang, kamu jaga kesehatan, jangan lupa makan siang,"


"Iya Amara sayang, I love you,"


Tanpa menjawabnya, Rara mengakhiri panggilannya.


Ada seorang gadis menghampiri Rara, "mbak Amara teman mbak Lani bukan?"tanya gadis berhijab biru itu.


Rara mengangguk, "kamu Novia ya!"


"Iya aku Novia, semalam mbak Lani mengabari aku, kalau mbak Amara datang ke Jakarta, katanya mbak mau kerja disini dan mbak Lani minta tolong aku, buat cariin kos buat mbak Amara, kebetulan banget mbak, sebelah kamar kos aku, baru kosong kemarin, jadi mbak Amara bisa langsung masuk,"jelas gadis bernama Novia panjang lebar.


Gadis berjilbab itu mengajak Rara menuju motornya yang terparkir di stasiun.


Sesampainya di tempat kosnya, Novia langsung mengajak Rara untuk menemui ibu kos yang rumahnya berdekatan dengan kosan khusus putri itu.


Rara membayar uang kosnya untuk satu bulan ke depan, setelah urusan dengan ibu kos selesai dan Rara sudah menerima kunci kamar, Novia segera mengajaknya menuju kamar kosnya.


Kos-kosan yang berada di gang kecil yang hanya bisa dilalui oleh dua motor,


Ada lima pintu kamar dilantai satu dan lima kamar dilantai dua dengan kamar mandi dimasing-masing kamar, juga dapur dan ruang makan yang berada dilantai satu.


Di dalam kamar, sudah ada ranjang juga kasur singel, lemari plastik berbentuk laci, ada meja belajar kecil dan kursi.


Kosan yang dekat salah satu kampus swasta di ibu kota, kebanyakan penghuninya adalah mahasiswi, sehingga harganya terbilang murah.


"Mbak Amara, cuman bawa tas ransel ini doang?"tanya Novia heran.


Rara mengangguk, "nggak niat pergi Nov, makanya cuman bawa segini, tapi nanti temenin belanja ya! Aku juga belum punya baju buat kerja,"

__ADS_1


"Mending banyakan beli celana mbak, di Jakarta karyawannya dikasih seragam, jadi nggak perlu beli kemeja atau semacamnya,"


"Oh ya mbak Amara istirahat dulu, nanti abis Zuhur kira cari makan siang sama-sama ya!"


Rara mengangguk, sementara Novia ijin keluar dari kamar.


Rara menghela nafas, ia duduk di ranjang ia mengeluarkan barang-barang dari dalam tas ransel miliknya, ada beberapa potong baju juga dalaman, dan terselip didalamnya sebuah Map plastik transparan berisi ijazah Sarjananya dan beberapa berkas penting miliknya.


Wanita itu melirik sebuah paper bag dari sebuah brand ternama, itu dari Fernando,


Rara membukanya, ada dua kotak di sana, ia membukanya, ada sebuah tas yang terbungkus rapih dari kotak berwarna oranye berlogo salah satu brand, ia tidak tau berapa harganya, yang jelas ini mahal,


Satu lagi kotak berisi sepatu sneaker yang sepertinya mirip dengan milik lelaki itu, Fernando memberikan sepatu couple dari salah satu brand sepatu yang setau Rara berharga jutaan itu.


Setelah dipikir-pikir, sebenarnya lebih enak menjadi wanita milik lelaki itu, ia tinggal ongkang-ongkang kaki di rumah, menunggu Fernando pulang, dan setiap saat membuka pahanya untuk memenuhi hasrat lelaki itu, dan uang bulanan sebesar tiga puluh juta akan masuk ke rekeningnya tiap bulan.


Tetapi Rara tak mau menjalani hidup seperti itu, ia tak mau menyakiti hatinya sendiri, dengan kelakuan player lelaki itu.


Sementara waktu, ia berencana akan tetap berhubungan dengan lelaki itu, hingga Fernando mulai mengerjakan proyek pembangunan Taman bermain di Malang, bisa jadi lelaki itu akan menyadari telah dimanfaatkan oleh dirinya, untuk memuluskan jalannya untuk kabur dari rumah orang tuanya.


Mengenai uang yang diberikan oleh lelaki itu, anggap saja seperti uang jasa, karena telah melayani hasratnya, walau sebenarnya tidak sebanyak yang diberikan pada mantan pacar lelaki itu.


Rara memasukan baju-bajunya ke dalam lemari plastik berbentuk laci disalah satu sudut kamar kos berukuran empat kali tiga meter itu.


Ia juga menulis beberapa daftar yang akan dibelinya nanti, ia harus menghemat, untuk hidupnya kedepannya, meskipun uang di rekeningnya sekarang ini lumayan banyak untuk biaya hidupnya yang sederhana itu, ia harus tetap berhemat, setidaknya sampai nanti ia menerima gaji lagi.


Lani sahabat satu kantornya sewaktu di Malang, merekomendasikan kepada pemilik perusahaan jasa angkutan yang berpusat di ibukota, untuk bekerja di sana.


Tentu saja pemilik perusahaan mau menerima dengan senang hati Rara untuk kembali bekerja, mengingat wanita itu adalah salah satu karyawati teladan di cabang Malang.


Sekitar tiga bulan lalu, Rara mengundurkan diri dengan alasan akan menikah, sebenarnya kepala cabang yang ada di Malang berat melepaskannya, tapi mau bagaimana lagi,


Dan sekarang Rara malah bekerja kembali di kantor pusat Jakarta,


Lani memberitahukan pada Rara melalui pesannya, jika dirinya tak perlu melalui proses penerimaan karyawan baru, atas permintaan pemilik perusahaan, Rara langsung bekerja di bagian keuangan, sama seperti saat dirinya masih berasa di cabang Malang.

__ADS_1


Tengah hari, kamarnya diketuk, ada Novia yang mengajaknya keluar untuk makan siang dan berbelanja kebutuhannya di kota sebelah, ditempuh dengan menaiki kereta listrik sekitar lima menit dari stasiun terdekat tak jauh dari kosannya.


__ADS_2