Istri Untuk Fernando

Istri Untuk Fernando
seratus enam puluh empat


__ADS_3

Menjelang senja, Rara diantarkan oleh Bimo, Murni juga Cahaya.


Dalam perjalanan menuju resort tak henti-hentinya Cahaya meminta Rara untuk berkunjung ke Malang, katanya mau dipamerkan kepada teman-teman sekolahnya.


"Memangnya kamu mau pulang Ra?"tanya Bimo sambil mengemudikan mobil.


"Belum tau sih, udah dua tahun aku nggak pulang, kangen juga sama suasana rumah,"jawab Rara yang duduk di jok belakang bersama Cahaya dan Murni.


"Pokoknya kalau pulang, mampir ke rumah ya Ra, Bimo kan disini, jadi nggak usah sungkan,"ujar Murni.


"Memang kalau ada Bimo kenapa ma?"Tanyanya heran.


"Bagaimanapun Amara udah nikah, kita nggak tau, suaminya cemburuan atau tidak, apalagi kamu itu mantan calon suaminya,"


Bimo terdiam, tak menanggapi ucapan mamanya.


Selanjutnya hanya ada obrolan seputar sekolah Cahaya dan aktivitas Murni dengan usaha kateringnya,


Mobil memasuki kawasan resort, Rara mengajak ketiganya turun, katanya akan mengajak makan malam di restoran yang ada di sana.


"Suami kamu yang punya resort ini Ra?"tanya Murni ketika memasuki lobby.


"Bukan ma, beliau hanya mengelola saja, ini punya sahabatnya orang Amerika,"jawab Rara menjelaskan.


Di lobby ia bertemu dengan Nicholas dan kedua temannya, sepertinya mereka akan kembali ke ibu kota.


Mengetahui kedatangan Uma-nya, Nicholas menghampiri lalu memeluk wanita yang mengenakan Hoodie miliknya,


"Uma kemana aja sih? kami disini panik nyariin,"tanyanya terlihat khawatir.


Rara melepaskan pelukan putranya terlebih dahulu, "Uma tersesat, kebetulan yang tolongin teman kuliah, itu orangnya,"tunjuknya pada ketika orang dibelakangnya.


Nicholas menyalami dengan ramah tak lupa mengucapkan terima kasih pada mereka.


"Kamu mau berangkat sekarang?"tanya Rara pada putranya.


Nicholas melihat pergelangan tangannya, ada jam tangan yang pernah dibelikan oleh Uma-nya.


"Sejam lagi, tapi Uma, tolong bujuk Daddy supaya Uma bisa kembali ke Jakarta, aku nggak mau ikut mommy, lebih baik aku tinggal sendirian di Apartemen,"keluh remaja itu.


"Nanti coba bujuk Daddy, tapi nggak janji ya!"


Tak lupa menitipkan Nicholas kepada kedua temannya,


Rara melambaikan tangannya ketika mobil yang membawa putranya meninggalkan resort.


Rara kembali meminta maaf pada Murni, karena membuat wanita paruh baya itu menunggunya lama.


"iya nggak apa-apa Ra, tapi yang tadi barusan itu anak kamu? kok udah gede banget, memangnya kamu nikah sama duda?"tanya Murni heran.


"Nggak ma, cuman ya gitulah,"jawab Rara ambigu.


Murni yang paham sifat mantan calon menantunya yang tak akan menceritakan kehidupan pribadinya memilih diam tak melanjutkan pertanyaannya.


Disepanjang jalan menuju kamar, beberapa karyawan terkejut melihatnya, namun tetap menyapanya ramah.

__ADS_1


Tepat di depan pintu kamarnya, Fernando berdiri sambil menggendong putrinya.


Rara mengucapkan salam dan mengambil tangan kanan suaminya, menyalami juga mencium punggung tangan itu.


Dengan berbisik, Rara meminta dengan sangat agar suaminya tak banyak bertanya dulu.


Rara mempersilahkan tamunya masuk, karena waktu sudah magrib, ia mengajak Ketiga tamunya untuk beribadah terlebih dahulu.


Meskipun bukan orang alim, Setidaknya Fernando menjadi imam untuk istri dan ketiga tamunya.


Anak dari umi Fatimah yang notabene seorang guru agama, tentu bisa menjadi imam yang baik, bacaan yang bagus, meskipun tidak bisa disandingkan dengan para qori.


Meskipun masih hidup bergelimang dosa, tapi masalah ilmu agama, lelaki itu cukup pandai.


Usai beribadah bersama, Rara mengajak serta ketiga tamunya untuk makan malam di restoran.


Fernando yang tau jika Bimo adalah mantan calon suami Rara, tentu tak akan membiarkan istrinya makan malam tanpa dirinya.


Cemburu, tentu saja dirinya cemburu, lelaki mana yang rela melihat istrinya akrab dengan keluarga dari masa lalunya, apalagi terlihat Bimo masih menyukai Rara.


Tadi saat masih di kamar, Rara meminta Fernando untuk reservasi salah satu meja di restoran.


Saat makan malam berlangsung, Cahaya terus mengoceh, menanyakan ini itu, diantaranya tentang balita dengan mata hijau itu.


"Ayah, Dedek Rana bawa pulang aja, sama bunda sekalian, biar di rumah nenek rame, Aya bosan sendirian,"pintanya polos.


"coba ngomong sama bunda Rara dulu,"ujar Bimo menanggapi.


Cahaya menatap Rara dengan pandangan penuh harap,


Cahaya mengangguk antusias, bocah itu memakan Spaghetti yang tersaji dihadapannya.


Fernando mengepalkan tangannya dibawah meja, ia kesal, istrinya mendiamkannya, malah sibuk dengan keluarga mantan calon suaminya, belum lagi panggilan dari bocah yang bernama Cahaya, juga panggilan dari Rara untuk wanita dari Bimo.


Usai makan malam, Bimo dan keluarganya berpamitan, karena hari sudah semakin malam.


Rara berterima kasih kepada para tamunya, dan meminta maaf jika jamannya kurang berkenan.


Sebelum berpisah, Murni memeluk erat mantan calon menantunya, begitu juga dengan Cahaya.


Bocah itu mengingatkan agar Rara tak lupa mengunjunginya.


Selesai mengantar tamunya hingga lobby, Rara kembali ke kamar, diikuti oleh suaminya yang menggendong Arana, tak ada pembicaraan dari keduanya.


Rara kembali mandi dan berganti baju, sebelum menyusui putrinya, dari kemarin buah dadanya sedikit membengkak.


"Setelah Arana tidur, temui aku di ruang kerja,"pesan Fernando saat Rara menyusui putrinya.


Rara berusaha untuk tetap tenang, ia mengatur pernafasannya, bagaimanapun ini harus dihadapi.


Ia tau betul sedari kepulangannya, suaminya marah, ditambah lagi dengan kedatangannya bersama Bimo.


Dengan hati-hati ia meletakkan putrinya di boks berwarna putih, balita itu tertidur setelah menyusu padanya.


Rara terlebih dahulu menuju kamar mandi, ia butuh membasuh wajahnya, tak lupa setelah itu, ia meminum segelas air mineral, untuk menyiapkan kemungkinan terburuk yang akan menimpanya.

__ADS_1


Rara memasuki ruang kerja suaminya, terlihat lelaki itu sedang serius didepan laptopnya.


Bagai karyawan yang bersalah, Rara duduk di kursi yang bersebrangan dengan suaminya.


Hening, hanya terdengar hembusan pendingin ruangan, dan suara jari yang beradu dengan keyboard.


Bagai mahasiswi yang tengah menunggu keputusan dosen tentang skripsinya, Rara begitu tegang, tangannya dingin berkeringat.


Hingga helaan nafas dari Suaminya, membuat Rara bertemu pandang dengan lelaki itu.


"Kenapa kamu bisa sama Bimo? dua malam kamu sama mantan calon suami kamu? apa yang kalian lakukan?"tanya Fernando sambil menutup kasar laptopnya.


Melihat tatapan Amarah dari lelaki itu, Rara menunduk, ia tak berani menatap balik.


"aku nggak sengaja ketemu Bimo, dia yang nolongin aku,"jawabnya pelan.


"Lihat aku Amara, apa kamu bahkan nggak sudi lihat wajah suami kamu setelah terpesona sama mantan calon suami kamu,"


Rara menggeleng sambil mengangkat wajahnya. "Aku nggak ngapa-ngapain sama Bimo, ada mama eh Tante Murni dan Cahaya kok,"jelasnya.


Fernando tersenyum miris, "bahkan kamu masih memanggilnya mama, dan bocah itu memanggil kamu bunda, terlihat bahagia sekali ya! wah hebat sekali kamu, apa kamu lupa ada anak yang masih butuh ASI kamu disini? Arana menangis nyariin uma-nya, sementara kamu asik bermain rumah-rumahan dengan mantan calon suami kamu,"ucap Fernando dengan suara meninggi.


"aku minta maaf, aku salah,"gumam Rara sambil menunduk.


"Kenapa kamu lari malam itu? kenapa kamu nggak mau dengar penjelasan aku? kamu nggak mikirin betapa paniknya aku? kamu nggak mikirin anak-anak? bahkan untuk pertama kalinya aku dipukul oleh putraku sendiri, kamu nggak tau akibat dari perbuatan kamu Amara?"ungkap Fernando masih dengan suara yang meninggi.


Rara terkejut dengan ucapan suaminya, ia melihat wajah lelaki itu, memang ada sedikit luka disudut bibir itu.


"kamu bahagia Amara setelah apa yang kamu perbuat? puas kamu sekarang?"


Fernando bangkit dan berjalan menuju jendela kaca di samping meja kerjanya.


Terdengar Lelaki itu sedang berusaha mengatur nafasnya, mungkin sedang berusaha mengendalikan emosinya.


"Apa yang kamu lihat, belum tentu itu kenyataan yang sebenarnya? aku tau kamu marah, karena aku berbicara dengan Kelly, harusnya kamu mengerti pekerjaan aku disini, aku harus bersikap ramah pada pengunjung meskipun dia orang yang aku benci,"


Lelaki itu berbalik, sambil menatapnya, "Amara, apa kamu lupa, siapa yang membujuk aku supaya aku terus membantu sahabat kamu untuk mengelola semua ini? kamu tau bukan setahun yang lalu, aku kekeh ingin mengundurkan diri? aku udah tau akan begini jadinya, kamu marah karena melihat aku berinteraksi dengan salah satu wanita itu?"


"Bukankah aku berkali-kali bilang, aku hanya mencintai kamu? aku muak dengan wanita-wanita itu Amara, aku benci wanita yang menggoda aku, rasanya ingin muntah,"


"Aku menuruti permintaan kamu Amara, aku hanya minta kamu mengerti dan percaya bahwa aku tak mungkin mengkhianati kamu,"


Fernando duduk di kursi bersebelahan dengannya, "jadi apa yang harus aku lakukan Amara? aku harus apa? supaya kamu tetap bersama aku,"ujarnya sambil menciumi punggung tangan istrinya.


Mata bulat itu berkaca-kaca, terdengar gumaman permintaan maaf dari mulut Rara.


"Aku harus bagaimana Amara? aku mengikuti kemauan kamu, tapi disisi lain kamu marah sama aku karena itu?"


"aku harus bagaimana? aku nggak mau kamu pergi dari aku lagi,"


"Apapun permintaan kamu, aku turuti, tapi satu hal yang tidak bisa aku penuhi, aku tidak akan melepaskan kamu selamanya,"


Setelah mengatakan hal itu, Fernando mulai mencium bibir yang sudah dua hari tak ia rasakan.


Bukan rasa manis, tapi asin dari air mata milik Rara.

__ADS_1


Ciuman yang mengungkapkan rasa kecewa, putus asa dan cinta yang besar untuk istrinya.


__ADS_2