
Sesuai saran umi Fatimah kemarin, Fernando mengajak Tamara dan putranya untuk bertemu di restoran yang tak jauh dari lokasi kemarin mereka bertemu.
Fernando mengajak serta Rara juga umi Fatimah,
Di restoran itu, mereka bertemu, Fernando memperkenal Rara sebagai istrinya, sementara Tamara memperkenalkan Nicholas sebagai putranya.
Wajah remaja berusia lima belas tahun itu mirip sekali dengan Fernando saat masih seusianya, umi Fatimah ingat betul, sepertinya tanpa tes DNA pun wanita paruh baya itu meyakini jika memang Nicholas adalah cucunya.
Suasana mendadak canggung setelah sesi perkenalan selesai, hingga umi Fatimah angkat bicara, "maaf nak Nico, sepertinya kamu sudah cukup umur untuk mengetahui tentang apa yang terjadi diantara kedua orang tua kandung kamu,"ujarnya menatap mata hijau yang sama seperti putranya dan mendiang suaminya.
Nicholas mengangguk tanda setuju dan Tamara sepertinya tidak keberatan akan hal itu.
"Jadi Tamara, kenapa saat itu, kamu tidak memberitahu kami soal kondisi kamu?"tanya umi Fatimah pada mantan pacar putranya itu.
"Bukankah saat itu Nando masih berusia sangat muda, apa mungkin dia bisa bertanggung jawab dengan apa yang dilakukannya?"tanya balik Tamara.
"Ada saya ibunya yang akan bertanggung jawab, setidaknya untuk membantu kamu membiayai hidup anak itu,"jawab umi Fatimah tak mau kalah, meskipun beliau berprofesi sebagai guru, namun peninggalan harta benda mendiang suaminya lebih dari cukup untuk menghidupi seorang cucu.
"Bukankah anda hanya seorang guru SMA yang belum jadi PNS, apa mungkin anda bisa membiayai hidup anak saya?"ucap Tamara mengejek.
Fernando mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras, sorot matanya tajam, ia paling tidak suka jika uminya di hina,
Menyadari hal itu, Rara mengelus punggung tangan suaminya dibawah meja, berusaha untuk menenangkannya, dan terbukti, setelah Fernando menoleh kepada istrinya, ia mulai mengatur nafasnya untuk mengendalikan emosinya.
__ADS_1
"Tapi saya tidak semiskin itu, meski saat itu saya belum jadi PNS, mungkin tanpa bekerja pun saya masih bisa hidup dan menyekolahkan putra saya hingga kuliah dari harta peninggalan vatre Nando,"timpal umi Fatimah, entah mengapa sedari dulu saat tau putranya menjalin hubungan dengan Tamara, tak ada respek, cenderung menentang, selain berbeda keyakinan juga sifat buruk perempuan itu.
Tamara tertawa mengejek, sepertinya dia tidak percaya dengan ucapan umi Fatimah, "ya sudahlah itu hanya masa lalu, dan sekarang saya ingin minta Nando bertanggung jawab, bukankah Nando sudah hidup berkecukupan saat ini?"
"Putra saya hanya akan bertanggung jawab dengan Nicholas bukan dengan kamu,"umi Fatimah menegaskan.
"Tidak bisa, saya membesarkan Nicholas sendirian, tentu Nando juga harus bertanggung jawab terhadap saya juga,"ujar Tamara tak terima.
"Lalu apa mau kamu?"tanya umi Fatimah.
"Nando harus menikahi saya agar Nicholas memiliki keluarga utuh, dan menceraikan istrinya, karena saya tak mau berbagi,"
Ucapan Tamara membuat umi Fatimah, Fernando dan Rara tercengang, bagaimana mungkin bisa wanita itu menuntut sesuatu yang mustahil.
Umi Fatimah menghela nafas, perempuan paruh baya itu berusaha menahan amarahnya, ia yang biasa sabar dengan apapun, entah mengapa menjadi kesal menghadapi mantan pacar putranya itu,
"Kami bisa menikah di luar negeri, di sana legal menikah berbeda keyakinan,"ujar Tamara.
"Tapi saya tak akan mengizinkan putra saya menikah dengan kamu, saya tidak ridho dunia akhirat,"tegas umi Fatimah.
Tamara tertawa, "anda hanya ibunya, semua keputusan kembali kepada Nando, kalau dia ingin putranya tumbuh dengan baik, dia harus memberikan keluarga utuh bukan?"
"Tapi Nando sudah punya istri, dan putra saya tidak mungkin menceraikan istrinya,"
__ADS_1
"Berarti saya akan bawa kembali Nicholas ke luar negeri, dan selamanya Nando tidak akan bisa bertemu dengan putranya,"ancam Tamara.
Fernando yang sedari tadi bersabar akhirnya tak bisa lagi menahannya, "silahkan kalau kamu memang ingin membawa dia kembali, aku tidak masalah, toh dia anak laki-laki yang sebentar lagi dewasa, tentunya dia bisa menghidupi dirinya sendiri, bukankah begitu Nicholas?"
Mendapat pertanyaan dari lelaki yang kata mommy nya adalah ayah kandungnya, Nicholas hanya diam, mungkin ia membenarkan ucapan itu.
"Tamara, apapun yang terjadi aku tidak akan pernah melepaskan istri aku, silahkan kamu kembali keluar negeri, aku tidak peduli,"
Setelah mengatakan itu, Fernando bangkit dan mengandeng tangan istrinya tak lupa mengajak uminya untuk beranjak dari sana.
Baru beberapa langkah, ucapan Tamara menghentikan langkah ketiganya, "apa kamu tega membiarkan seorang anak tumbuh tanpa keluarga utuh? Bagaimana jika kamu ada diposisi aku?"itu ditujukan pada perempuan berjilbab navy itu.
Fernando yang kepalang emosi hampir saja berbalik namun tangan lembut istrinya lagi-lagi menenangkannya.
Rara berbalik menghampiri mantan pacar suaminya, "mbak Tamara, maaf sebelumnya, saya hanya ingin bertanya, apa mbak begini atas saran mbak Citra?"tanyanya.
Tamara terkejut mendapatkan pertanyaan yang sepenuhnya benar,
"Maaf mbak, bukannya saya mau menjelekkan sahabat mbak, tapi apa mbak tau, hingga sekarang mbak Citra masih berusaha merusak rumah tangga mas Rama dengan mbak Sinta karena tak terima ditinggal menikah oleh mas Rama, apa mbak berniat seperti itu kepada rumah tangga Mas Nando juga Rara? Ternyata kalian sama ya, sekumpulan perusak rumah tangga orang, termasuk mbak Lusi,"ucapan menohok dari Rara membuat Tamara terdiam kembali.
Melihat tak ada reaksi apapun membuat Rara kembali bicara, "mbak Tamara, kalau mbak belum tau soal nafkah anak diluar nikah, saya kasih tau ya mbak, maaf bukannya saya menggurui mbak yang lebih tua dari saya, hanya saja saya perlu menyampaikan, karena ini menyangkut keluarga saya, jadi anak hasil berzina tidak mendapatkan hak nasab ataupun waris, masalah nafkah itu hanya bersifat rasa kemanusiaan dan tanggung jawab, secara agama mbak sama sekali tidak berhak menuntut suami saya, apalagi meminta suami saya menceraikan saya dan menikah dengan anda yang berbeda keyakinan,"
"Jadi mbak, jangan berharap banyak kepada suami saya, maaf ya mbak, jika ucapan saya menyinggung mbak,"setelah mengucapkan itu Rara menghampiri Nicholas yang berdiri tak jauh dari mommy-nya.
__ADS_1
"Hai Nicho, kamu mirip banget ya sama mas Nando, tanpa tes DNA pun, saya yakin, kamu adalah putra dari suami saya, tenang saja, saya akan menerima kamu dengan tangan terbuka untuk masuk ke keluarga kecil kami, jadi datanglah ke rumah kami untuk sekadar makan bersama atau kamu ingin melihat bagaimana pekerjaan ayah kamu, supaya kamu bangga punya ayah hebat seperti mas Nando,"usai mengatakan hal itu, Rara menghampiri suami dan mertuanya.
Tapi ucapan Tamara membuat ketiganya menghentikan lagi langkahnya, "Nando aku sakit, aku butuh biaya banyak untuk menyembuhkan penyakit aku,"