Istri Untuk Fernando

Istri Untuk Fernando
tiga puluh dua


__ADS_3

Malam harinya, Rara meminta Fernando mengajaknya untuk makan malam disalah satu pedagang kaki lima yang terkenal dengan sambal dan ikan gorengnya.


Lelaki itu tidak keberatan sama sekali, dengan menaiki taksi, mereka menuju penjual itu, namun sesampainya di sana, antriannya cukup panjang.


Melihat itu, Fernando menjadi malas, lelaki paling tak sabaran seperti dirinya paling malas antri hanya untuk sebuah makanan.


"Ra, kita pindah tempat yuk, aku malas mengantri,"keluhnya.


"Mumpung disini mas, aku pengin banget makan ini, kemarin teman aku ngasih liat  video salah satu YouTuber makan disini, kayaknya enak banget,"jelasnya antusias.


"Tapi ngantri banget sayang,"


Dengan tatapan memohon Rara berucap, "aku yang ngantri, kamu bisa beli es krim dulu di minimarket sana, biar aku yang antri,"


Dengan terpaksa, lelaki itu menuruti permintaan wanitanya.


Namun setelah ia membelikan Es krim itu, ia melihat kekasihnya sedang mengobrol akrab dengan seorang laki-laki yang belum pernah Fernando lihat.


Ia mendekati kekasihnya, ia ingin mencuri dengar apa yang mereka bicarakan.


Namun belum sempat mendengar, Rara sudah menyadari kehadirannya,


"Eh mas, udah beli es krimnya?"tanya Rara dengan senyuman khasnya, dan Fernando hanya mengangguk,


Lalu Rara mengalihkan pandangannya kepada lelaki itu,


"Pokoknya, kalau Lo ke Jakarta kabarin gue ya!"ujar Rara terlihat akrab dengan lelaki itu.


"Iya Amara, entar gue telpon Lo deh,"


"Sekalian ngajak Dia, kita reunian deh, gue kangen banget sama Dia,"


"Gue malah lost kontak sama dia,"


"Wah parah Lo, digondol orang baru tau rasa Lo!"


"Kalau dia digondol orang berarti entar Lo yang jadi bini gue,"celetuk asal lelaki itu.


"Dih ngapain gue sama cowok nggak bisa move on, ogah,"


"Amara Lo tau kan, kalo gue nggak jadi sama dia berarti Lo yang jadi bini gue, kan gue cuman bisa Deket sama Lo berdua,"


"Iyah deh Pradikta sayang, kalo dia udah kepincut bule, entar gue yang gantiin posisi Dia, bilang tante Arini bikinin gue puding strawberry, cupcake strawberry, bola-bola strawberry, sekalian es krim strawberry deh," ujarnya sambil memakan es krim cup rasa strawberry.


"Masih aja Lo suka sama strawberry, nggak bosen apa?"


"Nggak lah, Lo pikir Dia nggak, Dia kan yang ngabisin puding cokelat buatan Tante Arini,"


Lelaki itu tertawa,


"Jadi berapa lama lagi Lo kerja di Surabaya?"

__ADS_1


"Belum tau gue, baru kemarin Senin gue ngajuin mutasi ke Jakarta, biar bisa sama Dia sama Lo juga pastinya,"


"Dasar Lo, maunya nempel sama kita-kita,"


"Ya Lo tau lah alasannya, ingat ya, kalau Dia nggak bisa berarti elo, kasian nyokap gue pengen cucu,"


Obrolan mereka terhenti ketika penjual menanyakan pesanannya, Rara sempat menanyakan pada Fernando, dan lelaki itu mengatakan, ingin disamakan dengan dirinya.


Setelah itu ketiganya duduk di sebuah bangku panjang dengan Rara berada ditengah-tengah kedua lelaki itu.


Rara masih berbicara akrab dengan lelaki yang katanya teman SMA nya, dari ceritanya, ia baru tau, jika Wanita itu pernah bersekolah di ibukota.


Usai menyelesaikan makannya Pradikta memilih untuk undur diri terlebih dahulu, sedangkan Rara dan Fernando kembali ke hotel.


Sesampainya di kamar hotel, dengan cara bergantian mereka membersihkan diri, Rara memakai piyama, sedangkan Fernando hanya memakai bokser.


Keduanya merebahkan diri sambil berhadapan,


"Ra, boleh aku tanya?"


Wanita itu mengangguk.


"Apa kamu punya hubungan khusus sama teman kamu yang tadi?"pertanyaan itu yang sedari tadi mengganggu pikiran Fernando.


"Bisa dibilang begitu, aku deket banget sama Dikta, bahkan kami tau aib kami masing-masing, aku juga Deket banget sama Tante Arini,"


"Apa dia pacar kamu?"tanyanya lagi.


Rahang Fernando mendadak mengeras, hatinya panas mendengar pengakuan wanitanya.


"Pradikta adalah lelaki satu-satunya yang aku kenal paling suci, diantara laki-laki yang aku kenal, kalau bisa aku dapat suami seperti dia, kalau sama Dia, nggak bakal aku cemburu atau sakit hati , karena dikta tipe laki-laki setia banget, dia bukan player atau sejenisnya, ih pengen banget sama Dikta aja,"jelas Rara dengan antusias.


Nafas Fernando memburu, lelaki itu berusaha menahan amarahnya, "apa kamu menyesal karena bersama aku?"tanyanya dengan tatapan tajam.


Rara tersenyum miris, "ya gimana ya mas, aku bingung berkomentar soal kamu, kalau menyesal, pasti ada, cuman kan udah terlanjur, nggak bakal bisa kembali lagi kan?"


"Lalu apa kamu mau menikah dengan dia?"


"Kalau Dikta mau lamar aku, dengan senang hati aku terima, apalagi Tante Arini, mamanya Dikta, baiknya minta ampun, pinter banget bikin kue yang ada strawberry-nya,"


"Ra, hati aku sakit loh dengar kamu muji lelaki lain didepan aku, kamu nggak ngerti perasaan aku?"


Rara memutar bola matanya malas, "mas, lebih sakit mana dibanding aku, yang salah satu mantan pacar kamu mohon-mohon sama aku supaya aku lepasin kamu, padahal aku baru banget jalin hubungan, lebih sakit mana lagi belanja, tau-tau ada yang tiba-tiba peluk-peluk dan cium-cium depan mata, sampai kamu lupa ada aku disitu, lebih sakit mana lagi makan enak-enak, tau-tau ada yang bergelayut manja sama kamu, lebih sakit mana, di depan mata kepala aku sendiri kamu ciuman mesra sama cewek seksi, dan yang paling buat aku sakit hati, kamu nggak mau angkat telpon aku, karena mau jalan ke club' malam sama mantannya, di depan mata aku lagi, lah kamu? Aku baru ngobrol sama Dikta, itu pun nggak ada kontak fisik, menurut kamu kalau kamu diposisi aku bagaimana?"ujarnya seolah mengabsen dosa yang lelaki itu lakukan.


"Tapi aku nggak sampai bahas nikah, kamu mau nikah sama dia kan?"ucap Fernando tidak mau kalah.


"Kalau Dikta ngelamar aku, kalau nggak ya nggak nikah lah, lagian aku hanya tidur sama kamu, sementara kamu? Coba tanya ke diri kamu sendiri, lebih sakit hati mana aku sama kamu?" Skakmat.


"Ra, jangan diungkit lagi dong, aku kan udah berhenti,"


"Yakin udah berhenti, kemarin aja hampir aja tuh sama Felicia, coba kemarin aku nggak ada disini, mungkin tadi pagi kamu bangun didalam pelukan cewek itu,"

__ADS_1


"Iya Ra, aku salah, aku minta maaf untuk sikap aku kemarin dan untuk masa lalu aku yang suram, aku menyesal, jadi tolong jangan diungkit lagi,"


"Ya kamu juga nggak usah protes kalau aku dekat sama cowok, hanya Dikta kok, cowok yang paling dekat sama aku, jadi kamu nggak usah khawatir, dan aku cukup tau sekali batasan hubungan pertemanan, nggak ada tuh cipika-cipiki biarpun akrab,"


"Iya Ra, aku akan berusaha, tolong sabar ya, kan agak susah mengubah kebiasaan,"


"Aku udah sabar loh, menerima masa lalu kamu, walau terkadang aku kesel sendiri kalau kamu udah sering menjamah cewek lain,"


Fernando menunduk, rasanya ia malu sekali, ia baru menyesali kenakalannya dulu,


Menyadari hal itu, Rara memegang dagu fernando dan mendongakkan nya sehingga keduanya bertatapan, "aku juga lagi berusaha menerima masa lalu kamu, makanya aku kasih kamu waktu setahun untuk memperbaiki diri, biar aku ikhlas menerima kamu dan kamu menghilangkan kebiasaan buruk kamu,"


Fernando mengangguk, lalu ia teringat sesuatu, "Ra, ngomong-ngomong kamu serius udah menstruasi selama kita nggak ketemu? Kok kamu nggak cerita,"


Mendengar hal itu Rara terdiam, ia teringat, hingga detik ini ia belum kedatangan tamu bulannya, tapi dengan segera, wanita itu merubah ekspresinya.


"Kenapa kamu diam? Jangan bilang kamu lupa, apa kamu hamil? Kamu tau kan, aku nggak pernah pakai pengaman kalau sama kamu,"


Rara menggeleng, "udah kok, seminggu yang lalu udah selesai, lagian ngapain hal kayak gitu cerita sama kamu, aku malu tau,"


"Ra, kita lagi dalam tahap mengenal, jadi hal kecil kayak jadwal menstruasi kamu, aku wajib tau, apalagi kita sering berhubungan kan, aku pengin buat kamu hamil, biar aku cepat nikahi kamu,"


"Kayaknya kamu pengen banget hamilin aku, kan malu mas kalau hamil sebelum nikah,"


"Kamu kan mau aku lamar baik-baik nggak mau kan? Umi kecewa loh, saat tau kamu belum mau menikah sama putra semata wayangnya, malah nunggu setahun, karena tahun depan umi, udah pensiun,"


"Ya bilang aja ke umi kamu, kalau aku nunggu anaknya tobat jadi player,"


"Ih kok diungkit lagi sih,"


"Realita mas, emang aku salah?"


"Iya kamu benar, aku salah,"ada jeda sejenak, "jadi kamu sekarang tinggal di Jakarta?"


Rara menunjukan senyum bentuk hatinya,


"Ra umi dan sahabat aku ada di Jakarta loh, kalau kamu nggak mau ngasih tau kamu tinggal dan kerja dimana, aku gampang cari tau loh, sahabat aku punya kantor detektif handal loh,"


"Mau ngapain sih mas, lagian kamu kan lebih banyak di Bali? Terus bukannya kamu ada proyek di Malang,"


"Nggak masalah sayang, aku hanya ingin memastikan tempat tinggal kamu dan lingkungan kerja kamu,"


"Lagaknya kayak yang di novel-novel bisa lacak-lacak orang,"


"Emang kamu mau aku kasih liat transaksi bank kamu beberapa hari kebelakang? Aku tau loh kamu beli tiket pesawat pulang pergi Jakarta - Surabaya,"


Rara melotot kaget,


Fernando tersenyum miring, "Rara sayang, hal kayak gini itu mudah bagi kami, kalau aku mau, aku bisa loh dengan mudah cari tau semua tentang kamu, yah yang namanya uang kan bisa mempermudah jalan kita kan?"


"Makanya Rara sayang, kamu jangan mencoba menipu aku, untuk sebulan kebelakang, aku memang masih nggak terlalu peduli apa yang kamu lakukan, tapi karena kamu bohong sama aku, kamu harus tanggung sendiri akibatnya," setelah mengatakan itu, Fernando mencium kening kekasihnya dan menyuruhnya untuk menutup mata.

__ADS_1


__ADS_2