
Pesawat mendarat setelah menempuh perjalanan tidak sampai satu jam.
Turun dari pesawat, Fernando menggandeng tangan Rara, seolah lelaki itu takut jika gadis itu akan lari darinya.
Hingga mengambil barang bawaannya, lelaki blasteran itu masih menggandeng tangan Rara.
Gadis itu sampai heran sendiri, ia menghentikan langkahnya, sehingga langkah fernando ikut terhenti, lelaki itu menoleh dan menatap gadis itu, seolah bertanya ada apa.
"Bisa kamu lepaskan gandengan tangan kamu?"ujar Rara mulai merasa risih.
Fernando menurutinya, tapi mempersilahkan gadis itu untuk berjalan didepannya, sedangkan ia menggendong ransel juga menggeret koper miliknya.
Keluar dari area bandara Fernando mengajak Rara menuju tempat parkir dimana mobilnya berada.
Rara sempat terkejut, ketika lelaki tampan itu, memasukkan ransel juga koper ke bagian cap depan mobil sport kemudian memasuki pintu bagian kemudi.
Mobil yang biasa gadis itu lihat di televisi, atau sekadar lewat ketika dirinya berada di jalanan, sekarang persis berada didepannya.
Hingga namanya dipanggil, Rara tersadar dari lamunannya, namun ia bingung cara membuka mobil mewah itu,
Kaca mobil disebelahnya diturunkan oleh lelaki yang ada di kursi pengemudi, "ayo masuk, sampai kapan kamu akan terus berdiri disitu?"ujarnya.
Terlihat wajah kebingungan gadis itu, Fernando membuka Scissor doors mobil miliknya dari dalam.
Rara sempat melongo dengan cara membuka pintu mobil itu, maklum saja, dirinya hanya orang biasa, dengan ekonomi pas-pasan, walaupun dirinya bisa kuliah, berkat bantuan kakak-kakaknya juga ayahnya.
Menutup pintu mobil itu, ia agak bingung, Fernando mengarahkannya, hingga membantu memasangkan seat belt.
Deru mobil sport itu terdengar, di sepanjang jalan entah menuju kemana, lagi-lagi Rara hanya diam melihat jalanan yang dilaluinya.
Tidak berapa lama, mobil memasuki kawasan resort mewah yang ada di selatan pulau Dewata.
Fernando mengandeng tangan Rara untuk memasuki lobby resort, menghampiri resepsionis, meminta kartu akses kamar yang biasa lelaki itu gunakan.
Satu kata yang terlintas dipikiran Rara, mewah, tak pernah terbayangkan olehnya, ia bisa menginjakkan kakinya di tempat seperti ini.
Setelah menyusuri lorong panjang dengan beberapa pintu disebelah kanan kirinya, sampailah keduanya didepan pintu berwarna cokelat, Fernando membukanya menggunakan kartu.
Dan pemandangan yang dilihatnya membuatnya melebarkan mata bulat itu,
"Kenapa diam? Ayo masuk,"ajak lelaki itu sambil menarik pelan tangan gadis itu.
Rara melihat ke sekeliling kamar yang menurutnya sangat mewah itu, gadis itu hanya diam.
"Kamu dari tadi melamun terus, kenapa sih? Apa ada masalah?"Tanya Fernando.
Rara menggeleng, "mas nanti aku tidur dimana?"tanyanya balik.
Fernando menaikan sebelah alisnya lalu menyunggingkan senyumannya, "tentu saja kamu tidur di ranjang ini,"
"Kegedean kasurnya,"ucapnya polos.
"Kan bukan cuman kamu yang tidur disini, kita akan tidur berdua di ranjang yang sama,"
Rara melotot, ia menggeleng, "mas emang nggak ada yang dua kasur?"
"Kamu lupa tujuan kamu ikut sama aku?"
"Tapi kan aku cuman pengin ikut aja, nggak sampai berfikir ke arah sana,"ungkapnya polos
"Sayangnya aku mikirnya kesana, dan terlambat untuk kamu menolak, jadi bagaimana?"
"Tapi mas, aku nggak mau ah,"
__ADS_1
Fernando sudah menduga akan begini jadinya, lelaki itu menghampiri Rara, ia mengelus kepala gadis yang tingginya hanya sampai dagunya, lalu ia menunduk dan berbisik, "sudah terlambat sayang, welcome to my world,"
Gadis itu membelalakkan matanya, "aku mau pulang aja deh, untuk tiket pesawat juga tiket kereta aku ganti uang aja, maaf merepotkan kamu,"setelah mengatakan itu, Rara mengambil ransel miliknya, menaruhnya di punggungnya, lalu berjalan menuju pintu keluar.
Fernando yang melihat itu menghampiri gadis itu lalu menahan tangannya, ia membalikan tubuhnya dan menarik pinggang rampingnya dengan sebelah tangan, sementara tangan yang satunya lagi, ia gunakan untuk menahan tengkuk gadis itu, dan bibir mereka pun bertemu.
Ini kali kedua Rara berciuman dengan lelaki yang sama, hanya saja kali ini, gadis itu memberontak, ia berusaha mendorong Fernando, tapi lelaki itu semakin, mengeratkan pelukannya dan memperdalam ciumannya.
Hingga, Duk.. Rara menginjak kaki lelaki itu menggunakan sepatu sneaker miliknya.
Dan ciuman itupun terlepas, "apa kamu gila? Kenapa kamu mencium aku lagi? Jangan samakan aku dengan psk atau pacar-pacar kamu,"teriak gadis itu marah.
Lelaki itu tersenyum miring, "apa kamu tidak dengar saat kita di kereta, aku kasih kamu kesempatan berfikir hingga kita tiba di Surabaya, dan kamu mengikuti aku sampai kesini kan? Itu aku anggap sebagai persetujuan kamu untuk tidur dengan aku,"
"Kamu bahkan tidak bertanya apa aku mau ikut kamu atau tidak, dan kamu sendiri yang memesankan tiket pesawat buat aku kan, saat kita berada di taksi,"
Fernando berkacak pinggang, ia memainkan lidahnya didalam mulutnya, "harusnya saat aku minta kartu identitas, kamu menolaknya, bukankah kamu bisa berbicara untuk menolaknya?"
Dan mendengar itu Rara terdiam, dalam hati ia merutuki kebodohannya, bisa-bisanya ia hanya pasrah saat lelaki itu bertindak seenaknya.
"Kalau begitu aku ganti uang untuk membeli, tiket pesawat, kereta juga makan di hotel tadi,"merasa sudah terpojok, akhirnya Rara lebih memilih mengganti uang yang dikeluarkan lelaki itu, meskipun ia tidak yakin tabungannya cukup untuk menggantinya.
"Ini bukan masalah uang Ra, bagi aku uang yang aku keluarkan tidak berarti apa-apa,"
"Kalau itu tidak berarti apa-apa jadi ijinkan aku untuk pergi dari sini,"
"Ra,"Fernando memandang gadis itu dengan tatapan permohonan, "aku cuman minta kamu disini, kalau memang kamu tidak mau melakukan hal yang aku inginkan, oke aku setuju, aku nggak akan sentuh kamu, jika kamu tidak meminta duluan, tapi tolong jangan pergi dari aku,"
"Tapi aku nggak mau sekamar sama kamu,"
"Ra ini hari Jum'at, resort sudah full, hanya ada kamar ini, yang tersisa, karena ini kamar pribadi aku,"
"Ya udah aku cari hotel murah sekitar sini,"
Rara menghembuskan nafasnya kasar, "baiklah,"
Fernando tersenyum lebar, ia memeluk gadis itu erat seraya berterima kasih.
Lelaki itu mengambil alih ransel dipunggung Rara dan mengembalikannya kembali ke tempatnya.
"Apa kamu lapar?"Tanyanya.
Rara mengangguk, "apa ada nasi di sini?"tanyanya balik.
"Aku akan telpon chef untuk memasak, kamu bisa mandi terlebih dahulu, handuk juga peralatan mandi semuanya ada di lemari dibawah wastafel, kamu bisa pakai itu semua, sementara aku keluar dulu, ada yang harus aku kerjakan,"ucap lelaki itu sambil mencium kening Rara dan berlalu meninggalkannya, untuk keluar dari kamar.
Rara membuka ranselnya, ia mengambil baju ganti juga dalaman, dan berjalan menuju kamar mandi yang hanya dibatasi dinding kaca bening.
Gadis itu mandi secepat kilat, ia tidak ingin tubuhnya dilihat oleh lelaki menyebalkan itu, mengingat antara kamar mandi dan kamar tidur hanya dibatasi dinding kaca.
Usai mandi, gadis itu mengenakan piyama satin bergambar strawberry, ada handuk berwarna putih melilit di kepalanya.
Rara mengambil ponselnya yang ada di Sling bag nya, ia mengecek, ada beberapa notifikasi dari ibunya juga kakaknya yang menanyakan tentang keberadaannya.
Ia membalas pesan itu, ia mengaku sedang mengikuti temannya untuk bekerja di pulau Dewata.
Selanjutnya ia hanya memainkan ponselnya, membuka media sosialnya, atau apapun itu, untuk mengusir rasa bosannya.
Hampir satu jam, ia duduk di sofa singel, hingga lelaki tampan itu masuk membawa nampan berisi makanan.
Fernando tersenyum melihat gadis itu mengenakan baju dengan gambar buah kesukaannya.
"Kamu bisa makan terlebih dahulu, aku akan mandi sebentar,"ujar lelaki itu.
__ADS_1
Gadis itu mengangguk, tapi ia baru sadar jika kamar mandi di kamar itu berdinding kaca transparan, sehingga ia memutuskan untuk beranjak menuju balkon membawa sepiring nasi goreng seafood juga sebotol air mineral.
Sambil menikmati nasi goreng, Rara melihat pemandangan laut lepas yang tertelan gelapnya malam, resort yang sedang ia tempati berbatasan langsung dengan samudra.
Mungkin jika hari sudah terang, ia bisa melihat pemandangan indah itu.
Hingga nasi gorengnya habis, Rara masih betah duduk di sana, banyak yang gadis itu pikirkan.
Saat sedang asik melamun, lelaki tampan itu duduk disebelahnya membawa piring berisi pasta seafood.
"Mas, apa alasan kamu, putus dari mantan pacar kamu yang terakhir?"tanya Rara tiba-tiba.
Fernando yang sedang mengunyah pasta, menghentikan kegiatannya, "kenapa kamu tiba-tiba nanya kayak gitu?" Tanyanya balik.
"Hanya ingin tau saja, apa tidak boleh?"
Fernando meletakan piringnya di meja, ia mengambil tisu untuk mengelap sisa saus pasta yang menempel disekitar mulutnya, lalu ia menatap gadis disampingnya, "alasan aku memutuskan hubungan, karena memang harus diakhiri, dan jika dilanjutkan, akan ada beberapa orang yang tersakiti,"
"Maksud kamu?"tanya Rara mulai penasaran.
"Kami berbeda keyakinan, dan ibu aku nggak setuju,"jawabnya jujur.
"Apa awalnya kamu berniat menikahinya?"
Fernando mengedikan bahunya, "aku hanya menjalani hidup bagai air mengalir, kebetulan ibuku menanyakan tentang calon istri aku, dan saat itu aku sedang berpacaran dengannya, jadi mau tak mau aku kenalkan dia pada ibuku, tapi ya begitu, ibuku langsung menentangnya,"
"Apa kamu sungguh mencintainya ya!"
Fernando mengangkat bahunya lagi, lalu mengambil piring dan melanjutkan makannya.
"Kamu gimana sih, ditanya gitu kok jawabannya malah kayak gitu,"
"Aku nggak tau Ra, yang dimaksud mencintai itu seperti apa, aku hanya suka bersamanya, selain karena dia bisa memanjakan aku dalam hal ranjang,"
"Hanya karena itu kamu berniat menikahinya?"
"Seperti yang tadi aku bilang, Karena saat ibu mendesak aku menikah, dan aku sedang menjalin hubungan dengannya,"ujarnya santai.
"Kok segampang itu kamu memutuskan untuk menikahi pacar kamu, kamu sendiri nggak yakin kalau kamu benar-benar mencintainya kan?"
"Aku hanya tidak mau pusing Ra, tapi sahabat aku membuka pikiran aku, tentang hal itu, maka dari itu aku memutuskan dia,"
"Apa dia mau terima kamu putuskan?"
Fernando menggeleng, "bahkan kemarin, dia masih menghubungi aku, sebelum nomornya aku blokir,"
"Lalu setelah ini apa rencana kamu?"
"Entahlah, mungkin aku akan mencari kesibukan, agar aku tidak selalu memikirkan wanita,"
"Baguslah kalau begitu,"
Fernando sudah menyelesaikan makannya, "lalu apa rencana kamu setelah tau, calon suami kamu sudah memiliki istri dan anak?"
"Aku tidak tau, sebenarnya aku mengikuti kamu hanya ingin melupakan sejenak masalah aku, walaupun nantinya aku harus menghadapinya setelah aku kembali,"
"Apa kamu mencintainya?" Tanya Fernando.
"Aku hanya mengikuti perintah bapak aku,"
"Ternyata kita memiliki masalah yang membuat kita pusing ya!"
Rara mengangguk, keduanya masih ingin berada di balkon menikmati semilir angin samudra.
__ADS_1