Istri Untuk Fernando

Istri Untuk Fernando
seratus empat puluh tujuh


__ADS_3

Keesokan harinya.


"Mas, Arana lagi tidur, udah aku susui, kalau misal bangun, kasih ASI yang ada di freezer, tapi jangan lupa dihangatkan dulu, aku pergi sebentar,"ujar Rara sambil mencium tangan suaminya yang sedang sibuk didepan laptopnya.


"Kamu mau kemana?"tanya Fernando yang melihat istrinya sudah rapih.


"Aku mau pemotretan sebentar, nggak jauh kok,"jawabnya.


"Kok nggak bilang sama aku,"


"Lah ini bilang,"


"Maksud aku kenapa nggak bilang dari pagi,"ucap Fernando melihat jam tangan hitam dipergelangan tangan kanannya, "ini udah siang Amara,"


"Udah aku masakin kok, kamu tinggal hangatkan, udah ya, aku udah telat nih,"ujarnya sambil mencium pipi suaminya,


Fernando terdiam dicium pipinya oleh istrinya, jarang sekali wanita itu berinisiatif, namun ia tersadar ada yang salah.


Menyadari jika istrinya sudah tak  ada di sana, Fernando mengumpat, dirinya belum memberi ijin, tetapi wanita itu pergi begitu saja.


Lelaki itu bergegas menuju carport didepan rumah, dimana motor dan mobilnya terparkir, sekali lagi ia mengumpat, motor matic hitam miliknya tak ada di sana, itu berarti istrinya telah pergi.


Ingin mengejar, tetapi ia ingat, putrinya yang tengah tertidur, lagi-lagi ia mengumpat, kenapa hanya karena dicium pipinya, ia terbuai seakan lupa daratan, bukan dirinya sekali.


Disisi lain, Rara tertawa dibalik helm yang ia kenakan, ia tau betul suaminya gampang sekali dirayu hanya dengan kecupan di pipi.


Tak mungkin suaminya akan memberikan ijin jika tau ia akan pergi dengan Cristy.


Kemarin dirinya dan Cristy bersepakat akan melakukan beberapa sesi foto disalah satu sudut jalan protokol ibu kota.


Untuk kamera, semalam ia meminjam pada suaminya, tentu dengan segala bujuk rayunya.


Sesampainya ditempat lokasi janjian, Cristy sudah menunggu, Rara meminta maaf atas keterlambatannya.


Rara membantu Cristy mengganti baju, disalah satu toilet cafe  tak jauh dari lokasi tempat mereka akan mengambil gambar,


Rencananya hanya ada tiga dress berbeda model dan warna.


Sebagai mantan model, tentu saja tak sulit bagi Cristy untuk bergaya didepan kamera, pun dengan Rara, dulu saat kuliah ia pernah mengikuti kegiatan fotografi di kampusnya.


Kegiatan itu berlangsung selama satu setengah jam, Rara tau, sedari tadi ponselnya bergetar didalam ransel miliknya.


"Mbak, sebenernya aku mau ajak  makan dulu, tapi dari tadi ada yang telpon mulu,"ujar Rara tak enak.


Cristy yang sedang merapihkan penampilannya usai berganti baju hanya tersenyum, "nggak apa-apa lagi Ra, wajar dong, kamu kan masih punya bayi, mungkin Arana haus,"


"Aku udah perah ASI kok, tinggal dihangatkan,"

__ADS_1


Keduanya berjalan menuju tempat dimana motor terparkir,


"Ra, Sampai sekarang aku itu nggak habis pikir sama jalan pikiran kamu, kenapa kamu ajak aku join buat usaha, padahal kamu jelas tau aku ini siapa,"


"Nggak usah dipikirin mbak, yang penting masing-masing dari kita diuntungkan dengan kerja sama ini,"


Cristy menghentikan langkahnya, "Ra, kamu nggak takut, suami kamu, aku rebut,"


"Berarti jodohku sama mas Nando habis masanya,"ucap Rara santai.


Wanita berwajah oriental itu masih diam, hingga Rara meraih tangannya lalu menggandengnya menuju parkiran,


"Mbak, kita hidup di dunia itu cuman sementara, semua yang aku punya itu cuma titipan, kalau habis masanya semua itu akan diambil oleh pemilik sebenarnya, aku hanya tidak ingin memiliki musuh, aku ingin lebih bermanfaat buat orang lain,"tutur Rara menjelaskan.


"Aku makin tau kenapa Nando segitu cintanya sama kamu, selain mandiri, kamu punya hati yang tulus,"


"Ah... Mbak bisa aja, aku nggak sebaik itu kok, udah yuk balik, entar aku pesenin makanan ya,"


Cristy mengangguk, keduanya telah sampai di parkiran, dari sana keduanya berpisah.


Wanita dengan jilbab dan gamis warna Sage itu memarkirkan motor matic itu didepan mobil hitam milik suaminya.


Di teras lelaki itu telah menunggunya sambil menggendong Arana.


Rara mengucapkan salam sambil mengambil hand sanitizer dari dalam ransel miliknya, lalu mencium tangan suaminya.


Rara memasuki rumah terlebih dahulu, ia berniat mengganti baju rumahan agar lebih nyaman.


Tak disangka, suaminya mengikutinya hingga ke kamar, Rara sadar setiap apa yang dilakukannya tak lepas dari tatapan tajam lelaki itu.


Selesai dengan urusan ganti baju dan bersih-bersih, Rara meminta Arana pada suaminya, namun lelaki itu malah meletakan putrinya didalam boks bayi berwarna putih itu.


"Kenapa ditaruh mas? Aku mau susui,"tanyanya.


Masih dengan tatapan tajam, lelaki itu berucap, "tadi udah aku kasih ASI yang dihangatkan, sekarang kita perlu bicara,"


"Mau ngomong apa sih? Eh kamu udah makan belum?"tanya Rara.


"Amara nggak usah mengalihkan pembicaraan, kenapa kamu tadi pergi gitu aja, padahal aku belum kasih ijin,"


"Udah perasaan,"


"Amara, kamu istri aku, semua yang kamu lakukan harus atas ijin aku, suami kamu, kenapa kamu jadi seenaknya sendiri?"


"Maaf  aku salah,"malas berdebat Rara memilih mengalah.


"Aku tau kamu nggak tulus minta maaf sama aku, besok juga bakal diulangi,"

__ADS_1


"Kok tau,"ujar Rara menahan tawa.


Fernando menghela nafas, "Amara, apa uang yang aku kasih ke kamu kurang? Setau aku, kamu jarang sekali pakai uang yang ada di ATM pemberian aku, sebenarnya apa yang buat kamu kekeh punya usaha itu?"


"Ya kan aku jaga-jaga,"


"Jaga-jaga dari apa sih?"


"Kamu kan player mas, terus kalau tiba-tiba kamu ninggalin aku, terus aku sama Arana tiba-tiba jatuh miskin bagaimana? Kasihan Arana kalau harus hidup susah, realistis dong, jaman sekarang kalau suami istri cerai, kebanyakan mantan suaminya lepas tanggung jawab menafkahi anaknya, aku nggak mau kayak gitu,"jelas Rara.


Fernando terkejut dengan ucapan istrinya, "astaga Amara, aku udah berkali-kali bilang, aku hanya akan menikah sekali seumur hidup itu artinya hanya kamu satu-satunya istri aku, dan berkali-kali aku juga bilang sampai matipun kamu nggak akan aku lepaskan, aku mesti gimana sih supaya kamu percaya sama aku? Coba kasih tau aku, gimana caranya supaya kamu yakin sama aku? Kamu tau bukan, aku sangat mencintai kamu,"ujarnya sambil menunduk menyamakan tingginya dengan istrinya.


"Kamu lihat, apa mata aku sedang berbohong,"Fernando menatap mata istrinya.


Rara menepis pelan dan sedikit mendorong suaminya, "mas yang namanya rasa cinta bisa pudar kapan aja dengan berbagai alasan,"


Fernando memegangi tengkuknya, ia lebih memilih duduk ditepi ranjang, sepertinya ia melupakan sesuatu, hingga ia sadar ada yang terlewat, ia mengambil ponsel di saku celana pendeknya.


Dengan menggunakan bahasa asing ia menghubungi seseorang,


Terdengar permintaan maaf dari mulut lelaki itu karena mengganggu lawan bicara dari seberang telepon.


Rara bisa mendengar jika Fernando meminta agar orang yang dihubunginya untuk datang ke Jakarta, beberapa hari lagi.


Usai urusan dengan lawan bicaranya selesai, Fernando mengakhiri panggilannya.


"Ini bukti aku, bahwa aku nggak akan meninggalkan kamu, beberapa hari lagi Mr. William akan datang bersama Troy, beliau akan menjelaskan aset aku yang ada di luar sana, juga tentang kepemilikan rekening disalah satu bank di Eropa, nantinya itu akan aku alihkan ke Arana dan kamu, jadi kamu nggak usah takut miskin jika nanti aku mati,"jelasnya.


"Kenapa jadi ngomongin mati sih mas?"


"Ya kalau kamu mau lepas dari aku, tentu saja dengan aku mati, kalau aku masih bernafas bagaimanapun caranya, kamu tetap jadi istriku, jadi mulai sekarang aku tidak terima alasan apapun kamu bekerja keras apalagi harus berinteraksi sama Cristy,"


"Kenapa kamu selalu ngelarang aku buat berhubungan sama mbak Cristy? Kamu benci sama mantan teman tidur kamu? Nggak usah segitunya mas, bagaimanapun dia pernah mengisi hari indah kamu, jadi biasa aja, nggak usah berlebihan,"


Fernando sampai melongo mendengar ucapan istrinya,


"Kenapa jadi bahas masa lalu sih? Dia nggak berarti apapun buat aku Ra, dia sama seperti yang lain, soal dulu aku mau menikahinya, itu karena aku marah sama umi, semua wanita yang aku kenalkan sama umi, ditolak mentah-mentah, maka dari itu aku sengaja menentang umi,"


Fernando menghampiri istrinya yang sedari tadi berdiri tak jauh darinya, ia memeluk wanita itu erat, "Rara sayang, hanya kamu yang aku cintai nilai plusnya, kamu disayang umi, jadi tolong jangan ragukan cinta aku sama kamu,"


Lelaki itu mencium kening istrinya lembut lalu menatap mata bulat yang sedari tadi menatapnya, ia tau tatapan wanita ini masih meragukannya.


"Rara sayang, aku tau jika rasa cinta bisa saja pudar, tapi aku sudah berkomitmen sejak pertama kali melakukan hal itu, aku akan memiliki, mencintai kamu sampai mati, aku mohon jangan ragukan aku,"


"Oke aku percaya, tapi alasan aku tetap melakoni usaha ini, selain untuk masa depan Arana, aku harus menghidupi beberapa karyawan yang bergantung dari usaha ini, kalau kamu nggak percaya, kamu bisa tanya mbak Sinta, dengan adanya usaha aku ini, tetangga disekitar rumah Mbah Sarmi sangat terbantu, pekerja di sana kebanyakan ibu rumah tangga yang suaminya berkerja serabutan, dengan adanya usaha aku, mereka tetap bisa memberi makan dan menyekolahkan anak-anak mereka jikalau suaminya sedang tidak bekerja, jadi tolong pengertian kamu kali ini, setidaknya sampai mbak Cristy bisa handle sendiri pekerjaan ini, karena sejak kami join omset kami meningkat,"


Fernando menghela nafas, "oke tapi nggak boleh lama-lama, jangan sering-sering kamu ketemu dia, urusan selesai, komunikasi hanya boleh via chat atau email, tidak dengan bertemu apalagi membawanya ke rumah ini,"

__ADS_1


Rara mengangguk lalu berterima kasih atas pengertian suaminya.


__ADS_2