
Pagi harinya Rara sudah siap dengan, kemeja salur berwarna navy dan celana formal berwarna hitam, yang kemarin ia beli, tak lupa flat shoes berwarna hitam, juga Sling bag yang diberikan Fernando berwarna cokelat, serta cotton bag berisi berkasnya, meskipun lani bilang ia tak perlu mengajukan lamaran, tapi ia tak enak, untuk masuk begitu saja.
Karena ini harus Senin, malas dengan kemacetan, Novia mengajaknya untuk menaiki KRL menuju kantor.
Suasana kereta pagi ini begitu penuh, padahal mereka berangkat dari rumah pukul enam, bahkan kedua wanita itu belum sempat sarapan.
Setelah menempuh perjalanan selama tiga puluh menit, kereta sampai di stasiun yang terdekat dengan kantor.
Dari stasiun mereka berjalan kaki sekitar lima belas menit, di perjalanan Novia mengajaknya sarapan nasi uduk terlebih dahulu.
"Mbak Amara sepantaran sama mbak Lani ya?"tanya Novia disela-sela sarapannya.
"Lebih tua Lani dua tahun, kalau kamu?"tanya balik Rara.
"Aku baru dua puluh dua tahun mbak, baru lulus kuliah tahun ini, oh ya kata mbak Lani, mbak Amara resign karena mau nikah ya!"
Rara hanya menanggapi dengan senyuman, sambil terus mengunyah nasi uduk beserta lauknya.
"Emang suaminya mbak tinggal dimana? Kok mbak malah pindah ke Jakarta, ngekos lagi?"tanya Novia,
Mereka baru mengobrol seperti ini karena sedari kemarin ada teman kos lain yang pergi bersama mereka.
"Dia lagi kerja di Bali,"jawab Rara teringat Fernando.
"Oh.. memang kerja apa di Bali, terus mbak nggak ikut suami mbak, kan pengantin baru?"
"Kerja di resort, kami memutuskan untuk LDR untuk sementara,"
"Wah pasti kangen banget mbak, mudah-mudahan suami mbak Amara setia ya! Soalnya dengar-dengar kalau di sana godaannya banyak,"
Rara tertawa mendengar ucapan Novia, "kamu pernah lihat sendiri emang?"
Novia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "ya belum sih, cuman dengar-dengar dari medsos, lagian kalau kesana kan mahal ?"
"Mau aku kasih tau nggak, biar bisa gratis ke Bali," ucap Rara.
Novia mengangguk antusias,
"Jadi simpanan bos yang mau liburan ke sana,"bisik Rara sambil menahan tawa.
Mendengar itu, Novia mengetuk meja dan kepalanya, "amit-amit mbak, jangan sampai deh aku begitu, mendingan nggak usah kesana deh,"
"Ya udah mumpung masih muda, kamu banyakin kerja, kumpulkan duit sebanyak-banyaknya, biar suatu saat kamu bisa liburan kesana dengan biaya sendiri,"
Novia mengangguk, mereka menghabiskan sarapan, setelahnya keduanya baru beranjak menuju kantor.
Novia mengajaknya menuju ruang HRD, ada mbak Maya yang menjabat sebagai manajer, dan dua stafnya.
Kemarin pak Rudi, direktur perusahaan itu, memberitahukan padanya akan ada karyawan baru pindahan dari Malang,
Mbak Maya memperkenalkan ke beberapa karyawan yang sudah datang, ketiganya menuju ruangan untuk staf keuangan juga bagian marketing yang berada di lantai tiga.
Kata mbak Maya, staf keuangan sebelumnya sedang cuti melahirkan selama tiga bulan, jadi untuk sementara Rara mengisi bagian yang kosong itu.
Ada tiga staf keuangan yang berbagi ruangan dengan staf marketing yang berisi lima orang.
Belum semua datang, karena memang ini masih pagi, jam kerja dimulai sekitar tiga puluh menit lagi.
Setelah perkenalan selesai mbak Maya berpamitan untuk kembali ke ruangannya yang ada di lantai dua.
Sementara Rara bersama dengan Dini, salah satu rekan satu divisinya.
Dari perkataan Dini, ada satu lagi staf keuangan bernama Liana,
Dini memberitahu Rara tentang job desk-nya, tak jauh berbeda saat ia masih bekerja di cabang Malang, hanya ini skala dan tanggung jawabnya lebih besar, karena uang yang diatur lebih banyak.
Saat sedang menjelaskan tentang pekerjaannya, Liana datang bersama dua orang staf marketing bernama Emil dan Leo,
__ADS_1
Dini memperkenalkan Rara sebagai staf pindahan dari Malang yang menggantikan mbak Nadia.
Setelahnya ada Ferry, Tomi dan Siska, staf marketing hanya ada satu wanita, karena sebagian besar pekerjaan mereka berada di lapangan.
Jam kerja dimulai, ruangan itu mendadak senyap, hanya terdengar suara ketukan jari dengan keyboard, juga pendingin ruangan, hari Senin merupakan hari yang sibuk untuk mereka mengurus laporan selama seminggu ke belakang, jadi masing-masing staf sibuk dengan pekerjaannya.
Hingga tak terasa jam makan siang tiba, masing-masing mereka memilih untuk keluar makan siang, Dini mengajak Rara untuk makan di warung nasi yang katanya murah tak jauh kantor, namun saat hendak keluar, ponsel milik Rara bergetar, tertera nama my hubby di sana, bukan Rara yang menulisnya, itu perbuatan Fernando saat ponsel itu baru diaktifkan, lelaki itu melakukan panggilan video, tentu saja Rara tak mau mengangkatnya, bisa ketauan kalau dia tidak di Malang.
Rara hanya mengirimi pesan jika dirinya sedang sibuk, usai memastikan pesannya terkirim, wanita itu menyusul dini juga Novia yang menunggunya dilantai satu.
Saat ketiganya makan, Rara lebih banyak mendengarkan cerita dari rekan barunya, terkadang ia hanya menanggapi sedikit saja.
Jam makan siang usai, staf kembali ke ruangan masing-masing, Rara mulai bekerja, sesekali ia bertanya kepada Dini atau Liana jika ada bagian yang menurutnya baru baginya.
Menjelang jam empat sore, staf mulai bersiap untuk pulang, namun saat Rara mengenakan Sling Bag-nya, tiba-tiba Liana mendekatinya, wanita itu sampai memegang tas berwarna cokelat itu.
"Amara, tas kamu bagus, kamu beli tas ini berapa harganya?"tanya Liana tanpa basa-basi mengomentarinya.
Rara menggeleng, "aku nggak tau, ini hadiah dari teman aku,"jawabnya polos,
"Aku pinjem bentar deh,"ujar Liana, dan Rara memberikannya begitu saja,
Liana membuka tas itu, dan dia menggeleng seolah tak percaya, "kamu beneran nggak tau ini harganya berapa?"tanya Liana lagi, dan Rara hanya menggeleng.
"Ini tas asli loh, harganya bisa buat beli motor xxx cas loh, kembali malah,"jelas Liana.
Dini dan Siska yang masih berada di ruangan itu sampai menghampirinya,
"Wah Ra, temen kamu royal banget sampai kasih kamu tas semahal ini,"celetuk Siska.
"Aku nggak tau, yang penting tas itu bisa buat menyimpan hape sama dompet,"jawab Rara santai,
"Wah kalau Bu Erika tau, bisa ditawar itu tas, beliau kan penggila tas branded,"ujar Siska.
"Ya mungkin beliau nggak bakal merhatiin, kan yang pake aku, karyawan biasa, misalnya beliau ngeliat juga disangka barang palsu,"ucap Rara.
"Ya udah deh, mulai besok, aku pakai Sling bag aku yang lama, yang harganya nggak sampai seratus ribu,"ucap Rara santai.
"Buat kondangan aja Ra, bisa lah, kapan-kapan kita pinjem,"tutur Siska.
"Boleh kalau kalian mau,"
Liana melototi Siska, dan beralih menatap Rara, "jangan ra, kalo ilang nyesek entar,"sarannya.
"Ya nggak nyesek lah, kan dikasih,"sela Dini,"
Rara mengangguk,
Obrolan mereka terhenti, ketika Novia mengajak Rara untuk pulang.
Malam harinya, saat Rara hendak tidur, ponselnya bergetar, ada panggilan video dari lelaki blasteran itu.
Rara yang sudah siap tidur, memilih mengangkat panggilannya,
Terlihat Fernando masih mengenakan kemeja hitam, yang sudah lepas kancingnya beberapa, "hai Rara sayang, kamu mau tidur ya!"sapanya dari seberang sana.
Sepertinya Fernando masih ada diruang kerjanya, "kamu masih kerja?"tanya Rara.
"Ia tadi abis nyambut rekan bisnis aku yang waktu itu kita ketemu di Surabaya,"
"Oh, terus kamu udah makan belum?"
"Tadi udah bareng beliau, kamu tadi makan apa?"
"Nasi goreng,"
"Ra, aku kangen,"ucapnya sambil mulai membuka sisa kancing kemejanya.
__ADS_1
Rara tersenyum memperlihatkan senyum bentuk hatinya, sejenak Fernando terpana karenanya,
"Aku ke Malang aja ya besok, buat ketemu kamu,"
Rara panik, ia menggelengkan kepalanya, "jangan, nanti aja pas kamu mulai proyek,"
"Tapi aku kangen Ra,"
"Mas kamu lupa, kita punya jeda waktu setahun buat saling introspeksi diri, buat aku belajar menerima masa lalu kamu, terus kamu juga berusaha buat menghilangkan kebiasaan kamu main cewek, memangnya kamu mau kalau kita putus ditengah jalan?"ujar Rara mengingatkan.
Raut wajah lelaki itu terlihat sedih, "tapi aku kangen Amara sayang, aku pengen peluk kamu,"
Rara menghela nafas, "gini deh aku kasih kamu kompensasi, pas besok kamu di Malang, kita bisa seharian sama-sama, gimana?"
"Janji ya Ra, pokoknya kamu seharian sama aku,"
Rara mengangguk,
"Ra kalau ternyata kamu hamil, berarti perjanjian soal yang setahun itu otomatis batal ya! Kamu harus nikah sama aku,"
Lagi-lagi Rara mengangguk,
"Berarti bulan depan ya Ra, pas kita ketemu, nanti kita cek sama-sama ya!"
"Hah,,,, ih nggak mau , kan jijik kan pake air pipis, aku sendiri aja,"
"Terserah kamu, yang penting kamu harus jujur ya!"
"Iya mas, oh ya, aku mau kerja lagi,"ucapnya.
"Kenapa kerja, kamu emang kekurangan uang?"
"Bukan gitu mas, bosen aja diam di rumah,"
"Sayang nanti kamu ketemu cowok-cowok, terus kamu diambil mereka, terus aku gimana?"
"Ya nggak lah, nih liat,"ujar Rara menunjukan cincin dijari manisnya, "I'm taken,"
Fernando juga menunjukan cincin dijari manisnya, "aku juga Ra,"
Lalu lelaki itu menceritakan harinya, detail sekali, siapa saja yang ditemui, apa yang ia lakukan, termasuk rencana proyeknya bersama sahabat-sahabatnya.
"Sejak sama kamu, aku jadi cerewet Ra,"
Rara tertawa, "masa sih?"
"Bagus kemarin sampai nanya sama aku, katanya kenapa aku lebih ramah, aku jawab aja, aku lagi jatuh cinta sama kamu, dia sampai melongo loh, aku mendadak jadi beda,"
"Memangnya sebelumnya kamu bagaimana?"
"Aku itu terkenal dingin, sinis, arogan,"
"Tapi kok banyak ceweknya?"
"Bukannya cewek suka cowok Cool kayak aku?"
"Masa? Ko aku nggak?"
"Ra... Kamu nggak suka sama aku?"
"Suka lah, kalau nggak suka ngapain aku mau diajak tidur sama kamu?"
"Iya juga sih, pokoknya di sana kamu harus setia ya! Nggak usah melirik cowok lain, calon suami kamu udah ganteng maksimal,"
"Iya mas, kamu juga tundukan pandangan, kalau ada mantan minta tolong, cuekin aja,"
"Iya sayang ku cintaku, strawberry ku,"
__ADS_1
Obrolan mereka terus berlanjut hingga Rara terlebih dahulu tertidur.