
Sore harinya kedua pasangan suami istri itu bertolak dari Lembang menuju Sukabumi tempat dimana kampung halaman umi Fatimah berada.
Umi meminta anak dan menantunya untuk datang, karena akan diadakan syukuran atas pernikahan mereka.
Perjalanan memakan waktu tiga jam, Rara memilih tidur selama perjalanan, sebenarnya wanita itu masih kesal dengan suaminya.
Menjelang waktu isya, keduanya baru sampai di rumah umi Fatimah, tidak jauh beda dengan rumah yang di ibukota, hanya terdiri dari dua kamar, namun kamar di rumah itu lebih luas.
Umi bersama dengan beberapa saudaranya menyambut kedatangan putra juga menantunya.
"Akhirnya mantu umi, bisa datang ke tanah kelahiran umi, tau nggak sih Ra, umi udah nunggu ini dari tiga tahun lalu loh,"ungkap wanita paruh baya itu, sedangkan Rara menanggapinya dengan senyuman.
Adik umi yang bernama bibi Imas ikut nimbrung, "bener loh neng, teteh mah cerita bakalan punya mantu urang Malang, kalau udah cerita, semangat banget cerita soal Eneng, ternyata bener, neng Rara geulis pisan meni Soleha, cocok sama si Aa,"pujinya.
"Bibi bisa aja, Rara mah biasa aja,"ujarnya merendah.
"Leres, ceuk bibi mah, pantesan Aa kepincut sama Eneng, ngomong-ngomong, neng Rara kerja atau naon?"tanya Imas.
"Saya jualan online, Alhamdulillah tiga tahun ini hasilnya lumayan,"jawab Rara polos, dirinya lupa untuk merahasiakannya.
Fernando yang sedang mengobrol dengan mamang Handi, menoleh lalu bergeser mendekati istrinya, "kok kamu nggak cerita kalau kamu punya usaha,"protesnya.
Merasa sudah kepalang basah, Rara mau nggak mau mengakui, apalagi semua orang yang disitu seolah menunggu jawabannya.
"Itu usaha punya temen aku, tugas aku cuman ngatur keuangan aja,"jawabnya tak sepenuhnya berbohong, selain sebagai pemberi modal, Rara juga mengelola keuangan usaha bersama Fitri, sedangkan Fitri lebih cenderung ke Marketing juga packing,
"Dimana emang? Perasaan di rumah Dika nggak ada deh,"tanya Fernando menyelidik.
Melihat hal yang terjadi antara putra dan menantunya, umi ikut angkat bicara, "Nando dibahasnya nanti aja, sekarang kita bahas syukuran buat dua hari lagi,"
Akhirnya pembicaraan soal usaha Rara terhenti, mereka membicarakan soal syukuran pernikahan yang akan diadakan dua hari lagi,
Sengaja menghindar, malamnya Rara meminta untuk tidur bersama umi, dengan alasan kangen dengan wanita paruh baya itu, tentu itu ditolak mentah-mentah oleh Fernando, tapi atas pembelaan Umi, akhirnya mau tidak mau, lelaki bermata hijau itu menurut.
Esok harinya, Fernando memantau villa yang ada di Bogor tanpa istrinya, kata Umi badan Rara akan dipijat sekaligus di lulur, mendengar alasan yang menurutnya masuk akal, lelaki itu mengizinkan.
Fernando baru kembali pada sore hari, ia menemui istrinya yang sedang dikerubungi oleh para sepupunya.
Meski hanya syukuran biasa, tapi umi Fatimah ingin supaya Rara didandani layaknya pengantin, setelah tadi dipijat plus lulur, tangannya juga digambar menggunakan hena.
Fernando yang ingin mendekati sekumpulan para wanita dihalangi oleh bibinya, "Teu bisa deukeut heula pamajikan, sabar atuh, isukan,"
"Tapi kan Rara istri Nando bibi,"protesnya tak terima.
Bibi Imas melototi keponakannya itu, mau tak mau, Fernando menuruti perintah adik kandung uminya.
Malam harinya, lagi-lagi Fernando tidur sendiri, Rara tidur bersama uminya,
Lelaki itu kesal sekali, selama dua malam ini uminya memonopoli istrinya, padahal mereka sudah sah menikah, baik agama maupun negara.
__ADS_1
Karena tak bisa tidur, Fernando memilih keluar dari kamarnya, diruang televisi ada mamang Hendi yang sedang menonton bola.
"Kenapa A? Mukanya kecut Kitu?"tanya Hendi yang sedang membaringkan tubuhnya di karpet tebal bersebelahan dengan putranya yang masih duduk di bangku SMP.
"Nggak bisa tidur mang, biasa ada yang dipeluk,"jawab Fernando miris, lelaki itu memilih merebahkan diri tak jauh dari Hendi berada.
"Sabar A, besok malam juga udah bisa peluk si Eneng,"
"Tapi Nando nggak bisa tidur mang,"keluhnya.
"Umi bilang katanya AA pisah sama Eneng selama tiga tahun, lah itu bisa tidur tanpa Eneng,"
"Kan Nando peluk baju punya Rara kalau pas lupa nggak bawa, mau nggak mau Nando minum obat tidur,"
"Segitu sayangnya ya sama Eneng,"
"Jelaslah mang, Nando kan cinta beneran sama yang ini,"
"Lah emang sebelumnya enggak?"
Fernando menggeleng, "biasa aja mang, cuman lewat aja, nggak bikin deg-degan, beda sama Rara, gimana ya jelasinnya? Pokoknya rasanya beda deh,"
"Iya mamang ngerti, kalau kayak gitu, si Eneng mesti dijaga baik-baik A, jangan disakiti, perempuan baik-baik nggak datang dua kali loh a,"Hendi menasehati keponakannya.
"Iya mang, maka dari itu, Nando nikahi, pengennya dari tiga tahun lalu, tapi mau gimana, masing-masing dari kita mesti memantapkan diri, jadi baru sekarang sahnya,"
"Yang penting sekarang udah sah ya A, setidaknya satu cukup kan?"
Banyak lagi nasehat yang diberikan oleh mang Handi pada keponakannya itu soal menjalani rumah tangga,
Kantuk mulai menyerang Fernando mulai memejamkan matanya di sofa.
Keesokan paginya setelah subuh, ada tukang make up datang , atas perintah umi, Rara akan didandani layaknya pengantin.
Rencananya syukuran akan dilaksanakan di balai warga tak jauh dari rumah umi Fatimah,
Balai warga sudah dari kemarin didekorasi layaknya pelaminan ala Sunda.
Rencananya acara syukuran akan dilaksanakan dari pukul sepuluh hingga pukul empat belas siang.
Umi Fatimah tidak menyebar undangan hanya melalui pesan singkat kepada orang-orang yang dikenalnya.
Selain saudara dan tetangga, mantan rekan guru umi Fatimah juga hadir jauh-jauh dari Ibu kota, untuk menghadiri syukuran pernikahan putra semata wayang wanita paruh baya itu.
Acara syukuran, tidak menerima sumbangan dalam bentuk uang, mempelai hanya menerima hadiah barang,
Tak ketinggalan sahabat Fernando, hanya Alex dan Rama yang hadir, bersama Tante Susi juga Rani.
Oscar dan Natasha ada jadwal operasi yang padat di akhir pekan, sedangkan Benedict sedang persiapan untuk berangkat ke pulau, dan Tante Anna tidak bisa meninggalkan cucunya.
__ADS_1
Fernando baru bisa bertemu istrinya saat acara dimulai, lelaki itu terpana melihat penampilan istrinya, riasan ala pengantin Sunda dengan jilbab juga hiasan di kepala, juga kebaya.
Rara terlihat cantik bak putri.
Fernando heran dengan uminya, katanya hanya syukuran biasa, tapi ia dan Rara harus didandani layaknya pengantin Sunda, ada dekor pelaminannya juga, dan banyak tamu, bahkan dua sahabatnya turut hadir.
"Kamu capek ya!"bisik Fernando pada istrinya ketika melihat wanita itu sedang menghela nafas.
Rara menggeleng, "aku cuman kaget, kirain syukurannya kayak yang di rumah aku, ini beneran hajatan mas,"
"Emang ini hajatan, memangnya apa lagi?"
"Tapi kan bilangnya syukuran, ngomong-ngomong kok Dia sama suaminya nggak datang ya!"
Fernando mendadak berfikir keras, tapi tiba-tiba, "oh ya, mungkin mereka udah di pulau kali ya!"pertanyaan yang wanita itu lontarkan, dijawabnya sendiri
Dalam hati Fernando lega, setidaknya, sampai saat ini dirinya masih aman,
Andai istrinya tau tentang kondisi sahabatnya yang sebenarnya, mungkin saja wanita itu akan marah besar padanya dan akan meninggalkannya lagi.
Fernando memperkenalkan Tante Susi dan Rani kepada Rara, untuk Alex gadis itu sudah kenal dari tiga tahun yang lalu, sedangkan Rama, pernah bertemu saat berada di rumah Benedict dan Ayudia.
"Rama ini sudah menikah, cuman istrinya lagi hamil muda, jadi belum bisa bepergian jauh,"jelas Fernando.
Rara mengangguk tanda mengerti.
"Sedangkan Alex lagi nungguin istri orang yang lagi mengajukan gugatan cerai,"lelaki itu menjelaskan pada istrinya sambil mengejek sahabatnya.
"****** nggak usah diperjelas Dodo, malu-maluin Lo,"ujar Alex kesal.
"Realita bro,"ucapnya santai.
Mereka mengobrol disalah satu sudut ruangan yang tidak terlalu ramai orang.
"Kasian gue sama Rara, bisa-bisanya dia dapet cowok model kek Lo do,"Alex sengaja membalas ucapan sahabatnya.
"Iri bilang bos,"sahut Fernando dengan tampang menyebalkan.
"Dih, ngapain gue ngiri sama Lo, dih nggak banget,"ejek Alex, "hati-hati ya Ra, Dodo masih dicari-cari sama mantan-mantannya, banyakin stok kesabaran segudang, kalau dia nakal tinggalin aja, entar gue bantuin biar dodo nggak bisa melacak Lo,"peringat-nya pada Rara.
Mendengar itu, mendadak Fernando kesal, ia melempar sedotan yang sedari tadi ia mainkan, "bangsat, entar gue bilang ke Sandra kalau bulan lalu Lo masih nongkrong di club',"
"Bilangin aja do, dia percaya sama gue,"Alex menanggapi peringatan sahabatnya santai, "denger kan Ra, suami Lo ini, masih nongkrong di club' bulan lalu,"lanjutnya.
"Ngajak ribut nih orang,"ujar Fernando menyingsingkan lengannya.
"Udah mas, bang Alex cuman bercanda,"ungkap Rara mencoba menenangkan suaminya.
"Ya gini nih Ra, kelakuan Nando kalau lagi ketemu sama sahabatnya, kalau nggak Ben ya Alex yang jadi sasaran kejahilannya, ujung-ujungnya pada berantem, entar yang repot gue, Asha sama Oscar," sela Rama angkat bicara melihat kondisi mulai panas.
__ADS_1
Mendengar itu Rara tertawa, ia tidak menyangka suaminya se-jahil itu kepada sahabatnya,