
Malam sebelumnya
Ponsel Fernando berdering saat lelaki itu hendak pulang usai membahas soal pekerjaan dengan Benedict di ruangan sebelah dimana Ayudia dirawat.
Tertera nama Rama dilayar, Fernando menerima panggilan dari lelaki yang baru saja menjadi seorang Ayah.
"Kenapa Ram?"tanya Fernando.
"Do, besok Lo berangkat jemput adik-adiknya Ayu ya?"tanya Rama diseberang sana.
"Nggak usah basa-basi, ada apaan?"ucap lelaki blasteran itu ketus.
Terdengar helaan nafas di sana,
"Do, bisa Lo Dateng ke cafe, ada yang mau gue omongin, sebentar aja,"
"Urusan kerjaan atau apa nih? Kan gue bilang gue cuti tiga hari, nggak mau diganggu, ini aja bos Lo malah nyuruh gue keluar kota,"ungkapnya kesal.
"Bukan urusan kerjaan, ini soal Sinta,"
"Urus masalah Lo sendiri, gue nggak peduli, itu udah resiko Lo,"
"Do, coba Lo pikir, kalau sampai Sinta nggak sama gue lagi, bisa-bisa Amara pergi lagi dari Lo, sekarang ini Sinta cuman akrab sama Amara dan Sandra, Lo ngerti kan maksud gue, Lo paham watak bini Lo yang tanpa pikir panjang ninggalin Lo demi nolong Sinta,"
"Sekarang nggak bakal kayak gitu lagi, gue pastikan bini gue selalu sama gue,"Fernando menyangkal ucapan Rama.
"Yakin Lo, bukannya sekarang Lo lagi nggak sama Amara ya!"
Fernando terdiam mendengar ucapan sahabatnya.
"Do, gue nyesel banget udah jahat sama Sinta, gue bego banget, tapi itu udah terjadi, dan gue berniat memperbaiki itu semua, gue mohon kasih tau caranya supaya Sinta bisa balik sama gue, Lo bisa pegang omongan gue,"
Fernando menghembuskan nafasnya kasar, "gue ngasih tau ini ke Lo, biar Sinta nggak ngajak Bini gue kabur dan karena gue menghargai tante Susi,"
Lelaki itu menghela nafas, " jadi gini, lo ancam dia, bawa kabur bayi kalian terus lo juga ancam soal keluarganya, Sinta masih ada orang tua kan? Misalnya bokap nya yang dipecat dari kerjaannya atau saudaranya gitu, Lo bisa bikin itu semua dengan duit dan kuasa yang Lo punya,"jelasnya panjang lebar.
Dari seberang sana Rama terdiam mencoba mencerna ucapan sahabatnya,
"Jadi ini yang Lo lakuin sama Amara,"
__ADS_1
"Hem.. entah takdir atau apa, beberapa tahun yang lalu, gue berinvestasi cukup besar untukĀ perusahaan tambang di Kalimantan dan perusahaan itu adalah tempat dimana Andi kakaknya Rara kerja, terus kalau tempat kerja Dika, kakak keduanya Rara, yang punya perusahaan itu kolega gue, Lo ngerti maksud gue kan?"
"Nggak nyangka Lo bisa segitunya, beneran sebelas dua belas sama Ben,"
"Gue belajar dari Troy, Lo tau kan dia ahlinya,"
"Thanks do, gue akan bujuk Sinta besok,"
Tanpa membalas ucapan terima kasih Rama, Fernando mengakhiri panggilannya.
Lelaki blasteran itu memasuki lift yang membawanya ke parkiran bawah tanah rumah sakit.
Tiba di parkiran, tepat didepan mobil milik lelaki blasteran itu, Tamara menunggunya.
Fernando menghela nafas lagi, mungkin hari ini tak terhitung dirinya menghela nafas, urusan dengan istrinya, lalu Benedict, juga Rama dan yang terakhir mantan pacarnya.
"Kamu ngapain berdiri didepan mobil aku?"tanya Fernando tanpa menatap wanita itu, dirinya lebih memilih menuju sisi pintu kemudi.
Wanita yang mengenakan sweater cokelat itu mendekati Fernando,
Melihat sang mantan mendekat, lelaki itu berucap, "stop, jaga jarak dua meter, kalau mau bicara silahkan, tapi tidak dengan mendekat, kita nggak seakrab itu,"tolaknya.
"Do, bisa kita bicara sebentar,"pintanya.
Fernando yang tadinya hendak membuka pintu, mengurungkan niatnya, "silahkan bicara, tapi tetap disitu,"
"Do, aku mau bilang terima kasih sama kamu karena udah bantu pengobatan aku hingga tadi dokter bilang tinggal sedikit lagi aku akan sembuh,"
Fernando yang tak sabar memotong pembicaraan wanita dihadapannya, "langsung intinya aja, nggak usah pake intro segala,"
Tamara terkejut, lelaki dengan blazer hitam itu menolaknya terang-terangan,
"Aku mau kita kembali, setelah aku sembuh, supaya Nicho bisa merasakan kasih sayang keluarga secara utuh, ada daddy dan mommy-nya disampingnya, selama ini Nicho tidak mendapatkan itu semua, termasuk dari mantan ayah sambungnya,"pintanya.
Fernando berkacak dengan tangan kanan memegang bagian belakang kepalanya, ia menghembuskan nafasnya kasar, baru saja istrinya kembali, ia harus menghadapi mantan pacarnya sekaligus ibu dari putranya, rasanya ia lelah sekali.
"Siapa yang menghasut kamu supaya kamu bujuk aku untuk kembali sama kamu? Apa citra? Atau kedua orang tua kamu?"
Fernando menghela nafas, "dengar ucapan ku Tamara, apapun yang terjadi, aku nggak akan kembali sama kamu, dengan alasan apapun termasuk Nicholas, aku membiayai semua pengobatan kamu, itu bentuk tanggung jawab aku, karena kamu mengandung anak aku, tidak lebih, dan untuk urusan Nicholas, mulai sekarang biar urusan hidupnya itu jadi urusan aku, kamu tidak perlu repot-repot menjadikan dia sebagai alasan kita bisa bersama, itu mustahil, dan aku akan memberikan kompensasi untuk kamu karena telah membesarkan dia dengan baik, itu aku berikan supaya kamu bisa melanjutkan hidup kamu, besok kamu bisa temui Alex untuk mengurus kompensasi yang aku berikan, dan jangan temui aku lagi, kamu mengerti,"
__ADS_1
Usai mengatakan itu, Fernando membuka pintu mobil dan langsung melajukan nya, dari kaca spion terlihat Tamara jatuh terduduk dan sepertinya menangis, tapi lelaki itu tak peduli, tidak ada sedikitpun perasaan tersisa untuk wanita itu.
Mobil melaju di jalanan ibu kota, Fernando yang sedang mengemudi teringat akan istrinya, walau sejujurnya ia masih marah dengan wanita hamil itu, karena kaburnya juga kenyataan selama ini istrinya tinggal di rumah lelaki lain.
Fernando cemburu mengetahui kenyataan itu, ia marah, ia kesal rasanya ingin melampiaskan amarahnya, namun ia sadar, ia tak boleh melakukan hal yang akan ia sesali.
Bisa saja Rara kembali lari darinya, tidak akan, ia tidak akan membiarkan istrinya pergi lagi dari sisinya.
Cukup dua kali ia kehilangan wanita itu, jangan sampai yang ketiga kali, bisa gila dirinya.
Andai bisa, ingin rasanya ia menanamkan GPS pada tubuh istrinya, agar ia tau kemana dan dimana wanita itu, setiap saat setiap waktu.
Namun hal itu tidak mungkin ia lakukan, itu akan menyakiti istrinya.
Fernando bingung dengan dirinya sendiri, mengapa ia begitu tergila-gila pada istrinya, apa ini balasan karena selama ini banyak mempermainkan wanita, tapi bukankah para wanita itu yang menyodorkan diri padanya, ia hanya tidak bisa menolak wanita cantik.
Namun Sejak ia mengenal Amara Cahyani, hasratnya dengan wanita lain seolah Mati.
Walau dirinya cinta mati dengan istrinya, ia tak akan begitu saja menerima perlakuan semaunya wanita itu, ia tidak akan membiarkan istrinya berhubungan dengan lelaki lain kecuali kedua kakak kandungnya.
Walau Rara mengaku hanya bersahabat dengan Pradikta, Fernando tak akan percaya begitu saja, bagaimanapun caranya, mereka tidak boleh berhubungan lagi.
Disela tadi ia membicarakan urusan pekerjaan dengan Benedict, ia juga membahas soal Pradikta,
Dirinya dan sahabatnya harus pusing karena wanita mereka harus berhubungan dengan lelaki yang sama.
Tadi Benedict sempat menasehatinya supaya Fernando tak menghajar Pradikta, karena jika itu terjadi bisa-bisa Amara dan Ayudia jadi membencinya.
Ayah dari si kembar, paham akan watak dan sifat dari Fernando, keduanya memang sama, akan menghalalkan segala cara untuk menjaga miliknya, termasuk cara licik sekalipun.
Meskipun tidak dengan eksekusi langsung, tetapi keduanya akan melakukannya secara perlahan tanpa mengotori tangan mereka,
Keduanya akan menggunakan tangan orang lain untuk memberi musuh mereka pelajaran.
Semua itu berkat didikan Troy assisten dari Benedict yang ada di Amerika.
"Ingat do, jangan sentuh Pradikta dan keluarganya sedikitpun, bukan hanya elo yang bakal ribet, kalau sampai Ayu bangun lihat keadaan Pradikta hancur, gue juga, tahan amarah Lo, selama Amara masih baik-baik aja, Lo nggak perlu sentuh dia, ngerti Lo?"
Pesan Benedict terngiang-ngiang dalam ingatannya.
__ADS_1