Istri Untuk Fernando

Istri Untuk Fernando
seratus lima puluh satu


__ADS_3

Pagi menjelang siang keesokan harinya, Fernando dan Rara baru kembali ke rumah umi Fatimah.


Dua sejoli yang terlihat berbeda, Rara yang terlihat kelelahan berbanding terbalik dengan Fernando yang terlihat lebih bersinar dan segar.


Umi Fatimah sempat menegur putranya, karena telah membuat menantunya kelelahan.


Rara lebih banyak menghabiskan waktu di kamar untuk tidur, ia benar-benar butuh istirahat, ia bangun jika waktu ibadah, makan dan menyusui Arana.


Hingga besok paginya keluarga kecil itu berpamitan untuk kembali ke ibukota, namun sebelumnya mereka akan mampir terlebih dahulu ke tempat Anna, menjemput Ayudia dan si kembar.


Sore hari mereka baru berangkat menuju ibu kota, Aileen yang sudah tau jika Fernando telah memiliki putri, bukannya senang, malah cemberut, balita itu takut jika kasih sayang yang diberikan Fernando berkurang.


Hal itu membuat tiga orang dewasa itu gemas dengan balita perempuan itu.


Tepat azan magrib, mobil memasuki rumah besar milik Benedict dan Ayudia, rencananya malam ini keluarga Fernando akan menginap hingga Mr William dan Troy tiba disini.


Dua orang bawahannya Benedict baru sampai esok malam.


Saat pembacaan wasiat dari Benedict, ada Rama dan Alex yang hadir.


Seluruh Aset kekayaan Benedict di negara ini akan sepenuhnya diserahkan kepada Ayudia sedangkan yang ada di luar negeri akan menjadi hak Ainsley dan Aileen.


Usai pembacaan wasiat itu, Fernando berucap akan mengundurkan diri sebagai pengawas taman bermain, villa serta resort yang selama ini diurusnya.


Hal itu mendapatkan protes dari kesemua orang yang ada di sana kecuali Rara.


Melihat perdebatan yang tak kunjung mereda diantara Fernando, Alex, Rama dan Ayudia. Troy mengajak bicara Fernando empat mata.


Namun di tolaknya, hal itu membuat tangan kanan Benedict marah, lelaki itu bahkan mencengkram kerah kemeja Fernando.


Melihat suaminya terancam, Rara berusaha untuk memisahkan keduanya dan meminta waktu bicara bertiga saja.


Setelah memastikan hanya mereka bertiga diruangan itu, Rara mulai membuka mulut.


"Apa alasan kamu ingin berhenti dari pekerjaan ini mas?"tanya Rara.


Fernando yang duduk di sofa, menatap istrinya, "aku ingin menetap Rara sayang, aku tidak mau bekerja berpindah-pindah tempat, aku nggak mau jauh dari kamu,"jawabnya.


Troy yang mengerti dan paham juga fasih berbahasa Indonesia sampai menganga mendengar alasan dari rekannya disalah satu organisasi rahasia itu.


"Lalu kalau kamu mengundurkan diri siapa yang akan menggantikan kamu?"


"Itu urusan mereka, aku nggak peduli, prioritas utama aku, itu kamu dan anak-anak,"


"Lalu kalau kamu berhenti berkerja, apa yang akan kamu lakukan? Nggak mungkin dong kamu jadi pengangguran, anak-anak butuh biaya hidup yang tidak sedikit,"

__ADS_1


"Rara sayang, uang aku lebih dari cukup untuk kita hidup, ah... Nanti Mr. Wiliam yang akan menjelaskan,"


"Kamu nggak kasihan sama Dia?"


"Kan ada Rama sama Alex,"


Rara memegang kedua tangan suaminya, ia harus sabar menghadapi lelaki ini, "mas, aku tau uang kamu banyak, tapi bisakah aku minta kamu tetap berkerja membantu Dia, kamu tau bukan Dia harus mengurus si kembar, coba bayangin kalau aku yang harus mengurus Nicholas dan Arana sendiri tanpa ada kamu,"


"Itu nggak akan terjadi Rara sayang, kecuali kalau aku mati,"


"Jadi aku mohon, bantu Dia ya!"


Fernando terdiam, ia menunduk sambil berfikir, lalu beberapa saat kemudian, "oke aku nggak mundur, tapi ada syaratnya, kamu harus mengikuti aku kemanapun aku pergi, kalau kamu nggak mau, aku akan mundur,"


Rara berdecak kesal, kenapa jadi dirinya yang dipersulit, niat hati ingin membantu sahabatnya, malah jadi begini.


"Tapi mas, Arana masih kecil, nggak nyaman kalau harus hidup berpindah-pindah, kami disini aja, aku janji nggak akan kemana-mana tanpa ijin kamu, lagian sebentar lagi ada Nicholas tinggal sama kita bukan?"


Fernando  membelai lembut, kepala yang tertutup hijab hitam itu, "Rara sayang, tapi aku maunya selalu sama kamu,"


Rara menghembuskan nafasnya kasar, ia melirik lelaki yang sedari tadi menjadi penonton perdebatannya dengan suaminya.


"Amara jangan melirik dia, lebih tampan suami kamu dibanding dia yang sudah tua,"ujar Fernando kesal saat tau istrinya melirik tangan kanan sahabatnya.


"Aku nggak enak sama beliau, kamu nih, pokoknya kalau kamu berhenti bekerja, lebih baik kita sendiri-sendiri, aku nggak mau punya suami pengangguran,"ujar  Rara tak mau dibantah.


"Terserah, aku mau tidur aja,"setelah mengucapkannya, Rara bangkit hendak meninggalkan ruang kerja Benedict, namun tangannya ditahan oleh suaminya.


"Urusan kita belum selesai, kamu duduk dulu,"


Terpaksa Rara duduk kembali disebelah suaminya.


Fernando meminta Troy untuk memanggil Mr. William untuk membicarakan jumlah uang dan beberapa aset milik Fernando diluar negeri.


Mr. William masuk dan mulai membacakan sejumlah uang, aset, dan investasi milik Fernando yang ada diluar negeri.


Rara yang sedari tadi memegang ponselnya, langsung menghitung berapa banyak uang tabungan suaminya jika di alihkan menjadi rupiah.


Mata bulat itu makin melebar ketika menghitung jumlah uang milik suaminya, ia tak menyangka Fernando sekaya itu.


Belum selesai membacakannya, Mr. William melanjutkannya, ada beberapa aset berupa apartemen di negara Paman Sam, mobil sport, hingga yacht berukuran sedang.


Lalu di negara asal Vatre-nya ada rumah besar dan perkebunan yang dikelola oleh para sepupu Fernando.


Untuk investasi, lelaki itu berinvestasi di perusahaan pertambangan di timur Tengah dan Afrika, tak sebesar milik Benedict tapi cukup lumayan hasilnya, juga tentang kepemilikan saham di perusahaan Wright sebesar lima persen.

__ADS_1


Rara masih terdiam, seolah tak percaya dengan apa yang didengarnya, pantas saja suaminya selalu bilang, tanpa bekerja ia bisa hidup.


Setelah selesai membacakan jumlah kekayaan yang di miliki Fernando, Mr. William meminta Rara untuk menandatangani beberapa berkas pengalihan harta kekayaan untuknya.


Saat menandatanganinya, tangan Rara sampai gemetar saking terkejutnya.


Urusan serah terima selesai, Mr. William pamit undur diri, dan tersisa lah mereka bertiga.


Troy mengatakan akan ada misi baru untuk Fernando dan Benedict, namun dengan tegas lelaki bermata hijau itu menolak,  ia ingin istirahat dulu.


Mendengar penolakan itu, Troy tak bisa berbuat banyak, akhirnya lelaki itu keluar dari ruangan itu, begitu juga dengan pasangan suami istri itu.


Keduanya masih menginap di rumah Ayudia, hingga esok hari baru mereka kembali ke rumah sendiri.


Seperti biasa, pasangan suami istri itu melakukan pillow talk sebelum tidur,


"Mas, kamu dapat uang sebanyak itu dari mana? Padahal umur kamu terbilang masih muda loh,"


"Ya kerja lah, suami kamu kan pekerja keras,"


"Iya deh, tapi masa sebanyak itu,"


"Dan itu yang diketahui oleh Mr William, masih ada lagi,"


"Hah... Kok bisa? Itu udah banyak loh mas, lagian uang sebanyak itu mau buat apa? Kalo mati cuman bawa kain kafan sama beli dan sewa tanah kuburan,"


Fernando melihat plafon kamar yang ditempatinya, "aku hanya senang bekerja, kalau ada kesempatan aku selalu mengunjungi Benedict, walau kami jarang akur, tapi untuk urusan pekerjaan dia adalah partner terbaik, dia dan Troy yang memperkenalkan aku pada rekan bisnisnya, lebih banyak Troy yang mengajarkan aku untuk berinvestasi sih, dia juga yang memperkenalkan aku pada organisasi itu,"jelasnya.


"Tapi kayaknya hidup kamu biasa aja mas, udah gitu disini kamu nggak punya kantor buat mengelola itu semua, jadi selama ini kamu mengelola uang kamu sendiri?"


"Kalau yang di luar, Mr William dan Troy, kalau disini aku sendiri yang mengelolanya, masalah kantor, aku malas, disini birokrasinya ribet, satu hal yang harus kamu tau, aku dan semua sahabat aku, tidak akan mau berhubungan sama yang namanya instansi pemerintah, atau pejabat, kami sangat menghindarinya,"


"Kenapa?"


"Disini orang jujur malah dihukum, sedangkan penipu malah dipercaya, kamu tau bukan usaha punya Benedict di negara ini tidak terlalu besar? Hanya rumah sakit yang terlihat wah, sebenarnya bisa saja perusahaan Wright buka cabang disini, tapi melihat situasi disini, kami sepakat tidak pernah mau menonjolkan diri, bukankah selama kamu mengenal aku, sekalipun kamu nggak pernah aku ajak ke pesta? Kami menghadiri pesta pernikahan teman sekolah saja, tidak dengan pesta yang lain,"


"Lalu kenapa kamu bisa investasi perusahaan pertambangan?"


"Kamu ingat pernah aku ajak ketemu sama kolega yang di Surabaya empat tahun lalu, beliau yang membuka akses itu, aku juga nggak niat, tapi ada untungnya juga, aku bisa jaga-jaga kalau kamu mau ninggalin aku, kakak kamu bakal aku gangguin,"


"Kenapa sih kamu senang ngancam aku?"


"Kamu kalau nggak digituin, memang masih mau sama aku? Setelah tau apa pekerjaan sampingan aku,"


"Ya nggak gitu juga mas, aku hanya ingin hidup tenang,"

__ADS_1


Fernando memiringkan tubuhnya, lalu memeluk istrinya erat, "Rara sayang, aku sebagai kepala keluarga akan memberikan ketenangan buat kamu dan anak-anak, percaya sama aku ya!"


Rara mengangguk, keduanya tidur saling berpelukan, sementara putri mereka ada di boks disebelah ranjang.


__ADS_2