Istri Untuk Fernando

Istri Untuk Fernando
sembilan puluh empat


__ADS_3

Arini dan Irwan menyambut dengan tangan terbuka kedatangan Rara ke rumah mereka.


Bahkan pasangan suami istri itu tak banyak bertanya tentang alasan Rara tidak bersama suaminya.


Hari-hari Rara dilalui dengan bahagia, semua berkat Arini yang membuat wanita hamil itu merasa nyaman dirumahnya,


Kegiatan memasak dan membuat kudapan menjadi hal yang menyenangkan untuk Rara, begitu juga dengan Arini yang sedari dulu menginginkan anak perempuan,


Tak terasa satu pekan berlalu, Pradikta hendak pergi ke kota Malang untuk urusan pekerjaan, awalnya Rara akan ikut, tapi Arini melarangnya dengan alasan jika wanita hamil tidak boleh terlalu lelah.


Rencananya setelah dari Malang, Pradikta akan menjemput Sinta di rumah Mbah Sarmi, agar Sinta bisa melahirkan di ibukota saja.


Irwan menggunakan mobil dari ibu kota menuju rumah Mbah Sarmi, sedangkan Pradikta menaiki moda kereta api dari kota Malang usai menyelesaikan pekerjaannya selama tiga hari di sana.


Ayah dan anak itu sengaja menjemput Sinta dengan mobil, karena tak ingin keberadaan wanita hamil itu terendus oleh Rama, juga demi kenyamanan.


Sinta sudah bisa menerima keadaannya, terlihat sepanjang perjalanan menuju ibu kota, wanita hamil itu bercerita dengan antusias tentang hari-hari yang menurutnya menyenangkan selama tinggal di rumah Mbah Sarmi.


Arini semakin bersemangat usai kedatangan Sinta, wanita paruh baya itu menanyakan makanan apa yang diidamkan oleh wanita hamil itu, tak hanya itu, Arini bahkan sudah menyiapkan segala keperluan bayi, setelah tau jika salah satu teman putranya yang sedang hamil tua akan tinggal dirumahnya.


Beberapa Minggu berlalu Sinta merasakan tanda-tanda akan melahirkan, siang itu hanya ada Arini dan Rara yang berada di rumah, sedangkan Pradikta bekerja dan Irwan sedang ada urusan dengan rekannya di kota sebelah.


Sesuai kesepakatan diawal, Sinta akan melahirkan di rumah sakit yang berada di kota sebelah,


Dengan menaiki taksi online, Arini dan Rara mengantarkan Sinta yang mulai merasakan mulas satu jam sekali.


Beruntung perjalanan cukup lancar menuju rumah sakit yang dituju,


Pradikta yang dikabari langsung meminta ijin pulang begitu mendengar Sinta yang akan melahirkan, begitu juga Irwan.

__ADS_1


"Mbak Sinta pasti bisa, yang kuat mbak, bentar lagi kan ketemu anaknya,"Rara menyemangatinya saat Sinta sudah berada di ruang bersalin.


Tak ketinggalan Arini yang selalu berada disamping Sinta, perempuan paruh baya itu mengelus pinggang Sinta yang katanya pegal dan panas, sedangkan Pradikta yang berdiri di samping ranjang, harus rela tangannya digenggam erat oleh perempuan yang sedang bertaruh nyawa.


"Sakit Ta, perut aku kayak diaduk-aduk,"keluh Sinta,


Pradikta berusaha menyemangati dan memberikan dukungan pada Sinta.


Hingga Sinta merasakan sakit yang luar biasa, tanda jika anaknya akan segera lahir, Arini menyuruh Pradikta dan Rara untuk keluar dari ruangan sedangkan perempuan paruh baya itu mendampingi proses kelahiran anak dari Sinta bersama dokter, bidan juga suster yang bertugas.


Hingga beberapa menit berlalu, suster memberitahukan jika Sinta telah melahirkan seorang bayi laki-laki yang sehat.


Ucapan rasa syukur keluar dari ketiga orang yang menunggu di luar ruang bersalin,


Tak lama bayi laki-laki itu digendong oleh suster dan dibawa menuju ruang bayi untuk ditempatkan di inkubator.


Bayi dengan berat 3500 gram dengan panjang lima puluh centimeter yang diberi nama Rayan Suseno sesuai dengan nama belakang dari ayahnya Rama Suseno.


Hanya dua hari Sinta dan bayinya berada di rumah sakit, karena kondisi keduanya sehat, keduanya diperbolehkan untuk pulang.


Rumah milik Irwan mendadak ramai dengan kehadiran anggota baru di rumah itu.


Arini yang paling antusias dan memang sangat menginginkan cucu, yang belum bisa perempuan paruh baya itu dapatkan dari putra semata wayangnya.


Irwan juga tak segan menggendong baby R, untuk diajaknya berjemur di pagi hari, didampingi oleh Pradikta sebelum berangkat bekerja.


Sementara ketiga wanita di rumah itu saling bekerja sama, seperti Rara yang bertugas memasak dibantu Sinta, sang nyonya rumah malah sibuk menyiapkan air mandi juga keperluan baby R, Arini sangat bersemangat mengurus bayi itu.


Ketika hari ketujuh dari kelahiran baby R, Arini dan Irwan mengadakan acara aqiqah di salah satu panti asuhan tak jauh dari kediaman mereka,

__ADS_1


Sinta semakin tak enak dengan pasangan suami istri yang begitu baik padanya, bukan hanya menampungnya, merawatnya dan membiayainya segala keperluannya.


Hingga sebuah pertanyaan dari Rara menyadarkan Sinta tentang realita yang harus ia hadapi setelah melahirkan.


Sinta mengumpulkan anggota keluarga lain malam harinya saat baby R sudah tertidur.


"Om dan Tante, Dikta juga Rara, Sinta sudah meyakinkan diri jika aku ingin mengajukan gugatan cerai sama mas Rama, aku berfikir sepertinya ini saatnya aku menyelesaikan masalah aku, jadi selama proses perceraian, bolehkah Sinta dan baby R masih tinggal disini? Setidaknya tiga bulan kedepannya, hingga Sinta bisa mulai bekerja, bagaimana menurut kalian?"tanya Sinta membuka pembicaraan.


Arini melirik Irwan, seolah minta pendapat, dan lelaki paruh baya itu hanya menganggukkan kepalanya.


"Sinta, Tante dan om sama sekali tidak keberatan jika kamu tinggal disini selama apapun, kamu tau kan Dikta sering keluar kota, Tante seneng kalau ada kamu sama Amara disini, rumah jadi Rame, lalu soal perceraian kamu sama suami, apa tidak sebaiknya kalian berdua bicara lagi? Tapi apapun keputusan kamu, Tante dan om selalu dukung kamu,"ucapnya.


Sinta mengangguk menanggapi pendapat Arini, lalu pandangannya beralih kepada Pradikta seolah meminta pendapat lelaki itu.


Yang dilihat malah menghela nafas, "aku dukung apapun keinginan mbak Sinta, dan aku seneng mbak disini, mama jadi ada temennya, besok aku harus ke Banjar baru agak lama, jadi kalau mbak mau mengajukan gugatan cerai, mbak bisa minta antar papa, iya kan pa?"


Irwan mengangguk menyanggupi.


Begitu juga dengan Rara, wanita hamil itu menyetujui dan mendukung apapun keputusan dari Sinta, Rara tau betul sakitnya di khianati.


Keesokan harinya, setelah memerah susu yang cukup untuk Baby R, Sinta dengan didampingi oleh Rara dan Irwan mendatangi salah satu kantor pengacara kenalan dari lelaki paruh baya itu.


Pengacara mendengarkan alasan Sinta mengajukan gugatan cerai, dan juga tuntutan apa saja yang diajukan.


Tak banyak yang dituntut oleh Sinta, hanya ingin proses perceraiannya bisa terlaksana dengan lancar, dan tak ada tuntutan apapun dalam masalah harta benda.


Bukti yang berada di ponsel milik Sinta menjadi satu hal yang akan membuktikan jika suaminya berselingkuh.


Semua biaya pengacara ditanggung oleh Irwan, lelaki paruh baya itu berharap sinta akan menemukan kebahagiaannya, karena selama tinggal dirumahnya, Sinta sudah dianggap seperti anaknya sendiri, apalagi baby R, yang dianggap cucu oleh Irwan dan Arini.

__ADS_1


__ADS_2