Istri Untuk Fernando

Istri Untuk Fernando
seratus lima puluh tujuh


__ADS_3

Rara mengantar putranya turun ke lobby apartemen, di sana sudah ada lucky dan Dani juga mang Hendi yang menunggu.


"Pokoknya hati-hati ya, selalu kabari Uma, jangan lupa makan,"pesan Rara pada putranya.


"iya Uma, Nicho akan ingat pesan Uma, Nanti kalau udah sampai di tempat Daddy kabari ya!"


Rara mengangguk, dan mengambil alih Arana yang sedari tadi digendong oleh remaja itu.


Nicholas mencium punggung tangan uma-nya lalu berpamitan, sementara kedua sahabatnya hanya tersenyum pada Rara.


Tak lupa berpesan pada mang Hendi agar hati-hati dijalan dan menitipkan putranya.


Tak pernah terlintas dalam pikiran Rara akan memiliki Putra yang sudah remaja sebelum dirinya berumur tiga puluh tahun.


Setelah ini ia akan berangkat menuju tempat dimana suaminya berkerja, rencananya akan memberikan semacam kejutan.


Ini ide dari putranya, katanya, "kalau nanti aku kemping, supaya Uma tidak sendiri di Apartemen, mendingan Uma nyusul Daddy aja, pasti Daddy seneng banget deh,"


Rara memesan tiket pesawat untuknya dan Arana menuju pulau Dewata.


Kebetulan tadi suaminya menghubunginya dan memintanya untuk datang, tentu dirinya berpura-pura menolak, dengan alasan malas, terdengar helaan nafas dari seberang sana, ia tau lelaki itu kecewa.


Rara tau kalau Jum'at sore seperti sekarang pasti jalanan akan macet, untuk itu ia memilih moda kereta yang akan membawanya menuju bandara.


rencananya seminggu ia di sana, itu juga atas permintaan putranya, karena sudah selesai ujian, remaja itu berniat membolos, awalnya Rara menentang, tapi setelah diberitahu alasan kenapa Nicholas berbuat seperti itu, akhirnya ia mengijinkan, tentu setelah menghubungi wali kelas.


Setelah menempuh perjalanan lebih dari satu jam, Rara dan putrinya tiba di bandara, ia sengaja tidak mengaktifkan ponselnya, ia tau suaminya pasti sedang uring-uringan.


Rara menaiki Taksi menuju resort dimana suaminya bekerja.


Sesampainya ditempat tujuan, ia bertemu dengan Bagus yang sedang berada di lobby.


"Mas Nando mana?"tanya Rara sambil mengendong putrinya.


Bagus yang ditanya mendadak gelisah, karena kedatangan nyonya-nya, mungkin lelaki itu tak menyangka.


Padahal tadi mood bos-nya memburuk begitu mendapat penolakan dari istrinya.


Bagus berusaha mengontrol diri, "mendingan Bu bos ke kamar dulu, kasian nona kecil,"sarannya.


Rara menuruti saran dari assisten suaminya, ia berjalan menuju kamar milik suaminya, dengan salah satu bel boy yang membawakan barangnya.

__ADS_1


Sementara Bagus bergegas mencari keberadaan bos-nya, lelaki itu juga menelpon berkali-kali namun tak kunjung diangkat.


Saat berjalan menuju kamar milik suaminya, Rara melihat dengan mata kepalanya sendiri, lelaki itu sedang bersama seorang wanita yang sepertinya pernah ia lihat.


Fernando merangkul Kelly, mantan pacarnya beberapa tahun yang lalu sedang memasuki salah satu kamar, tak jauh dari kamar milik Fernando.


Sepertinya Suaminya tengah mabuk, terlihat tubuh kekar itu sempoyongan ketika dipapah oleh wanita seksi itu.


Rara berusaha mengontrol emosinya, ia harus menahan amarahnya, tentu sebagai seorang istri yang baik, ia harus mencegah suaminya untuk berbuat yang akan merusak keutuhan rumah tangga mereka.


Ia meminta Bel boy itu untuk menunggunya sejenak sementara ia akan menghampiri suaminya.


Dengan Arana yang masih dalam gendongannya, wanita berhijab hitam itu, mengetuk pintu kamar, dimana suaminya sedang berduaan dengan seorang wanita seksi.


Tak lama pintu terbuka, terlihat seorang wanita cantik nan seksi membukakan pintu.


Mungkin, Kelly sudah melupakannya, tapi Rara masih ingat betul bagaimana wanita itu merangkul mesra Fernando belum lagi ciuman panas yang mereka lakukan.


"ada yang bisa saya bantu?"tanya Kelly berusaha ramah,


"saya ingin menjemput lelaki yang sedang ada didalam,"jawab Rara.


Kelly mengernyit, "mungkin anda salah orang,"sangkalnya.


Kelly tertawa cukup keras, lalu melihat dari ujung kepala hingga kaki wanita berhijab itu, "selera Nando nggak mungkin perempuan seperti anda,"ejeknya.


Rara menunjukan cincin pernikahannya, "Saya adalah istri sah Fernando Wolfer, lelaki yang ada didalam, mbak Kelly,"


Terlihat raut terkejut pada wajah Kelly, mungkin dia tak menyangka wanita berhijab itu mengenalkannya.


"Sekitar Lima tahun lalu, kamu pernah berciuman dengan calon suami saya, kamu beralasan untuk menghindari laki-laki yang sedang mengejar-ngejar kamu, ingat sekarang?"


Kelly terdiam, mungkin mengingat kejadian yang telah lama terlewat itu.


Rara menghubungi Bagus dan memberitahukan keberadaan Fernando, dan meminta lelaki itu untuk datang.


"Jadi anda istri Nando?"tanya Kelly, begitu Rara mengakhiri panggilannya dengan Bagus.


"ya, dan ini putri kami,"jawab Rara sambil menunjuk Arana yang tengah tertidur dalam gendongannya.


"memangnya apa yang kamu berikan sehingga Nando mau menikahi perempuan seperti kamu?"tanya wanita seksi itu penasaran.

__ADS_1


Rara mengangkat bahunya, "kamu bisa tanyakan pada yang bersangkutan kenapa lebih memilih saya yang seperti ini, dibanding kamu, saya tau lima tahun lalu, kamu menginginkan calon suami saya bukan?"


Kelly terkejut, tapi berusaha untuk menjaga ekspresinya, "apa kamu tau yang dikatakan Nando saat tadi kami dibawah? asal kamu tau, dia merindukan aku, katanya aku adalah wanita yang bisa memuaskannya di ranjang,"ujarnya.


Rara tersenyum sinis, "wah, terima kasih sudah pernah memuaskan suami saya, tapi cukup dulu, dan sekarang biarkan saya istri sahnya yang akan memuaskannya,"


"tidak bisa, Nando akan bersama aku malam ini, karena sudah kesepakatan kami dibawah tadi,"ucap Kelly.


Rara memutar bola matanya malas, untuk pertama kalinya ia ingin menjambak wanita yang pernah dekat dengan suaminya.


Tak lama Bagus datang dengan salah satu petugas keamanan, lelaki itu menunduk hormat pada istri dari bos-nya.


"tolong bawa suami saya yang tengah tak sadarkan diri kembali ke kamar kami,"perintah Rara.


Kelly menghalangi jalan Bagus dan salah satu petugas keamanan, "tidak bisa, Nando akan bersama aku malam ini,"


Namun, perintah istri dari bos keduanya tentu lebih dituruti, petugas keamanan menghalangi Kelly dan mempersilahkan Bagus untuk masuk.


"Eh wanita yang sok suci, Nando nggak mungkin suka sama perempuan macam kamu, pasti Nando dijodohkan sama ibunya bukan? aku yakin Nando nggak mencintai kamu,"ucap Kelly dengan suara meninggi, sehingga membuat Arana yang tengah tidur menjadi terkejut dan menangis.


Rara tak menanggapinya, ia lebih memilih menenangkan putrinya.


Tak lama Bagus memapah Fernando yang tak sadarkan diri, dan membawanya menuju kamar dibantu petugas keamanan.


Terdengar protes dari wanita seksi itu, tapi mereka tak mempedulikannya.


Rara memberikan uang merah masing-masing satu lembar kepada petugas keamanan dan bel boy, tak lupa berterima kasih karena telah membantunya.


Bagus tengah melepaskan sepatu milik bos-nya, sedangkan Rara menidurkan putrinya di boks yang berada tak jauh dari ranjang, balita itu tenang setelah diberi susu dari botol.


Rara mengajak Bagus berbicara, asisten suaminya itu sedang membantu membukakan jas dan dasi yang dikenakan Fernando.


"Bu bos, sepertinya wanita tadi memberikan sesuatu di minuman punya bos, karena setau saya, Bos itu kuat minum alkohol,"jelas Bagus.


"apa mas Nando sering seperti ini selama bekerja?"tanya Rara penasaran.


"kalau untuk minum, masih tapi itu dilakukan untuk menghormati rekan bisnis saja, tidak sampai seperti ini,"jelas Bagus.


"Bos sepertinya patah hati, tadi beliau bercerita kalau Bu Bos menolak untuk berkunjung kesini, mungkin ini alasan bos meminum lebih banyak,"


"maaf Bu bos, tadi saya tidak bisa mendampingi bos selama pesta berlangsung, karena saya ada urusan lain,"

__ADS_1


"tidak apa-apa, saya mengerti, kalau begitu terima kasih sudah mengurus suami saya, biar sisanya saya yang urus, silahkan kamu kembali ke mengawasi pesta,"


Bagus mengangguk lalu berlalu dari kamar bos-nya.


__ADS_2