Istri Untuk Fernando

Istri Untuk Fernando
delapan puluh delapan


__ADS_3

Hari berikutnya, umi Fatimah kembali ke Sukabumi, namun sebelumnya ia menjemput Nicholas di ibukota terlebih dahulu, tentunya masih diantar oleh adik iparnya.


Atas saran Uminya, Fernando tidak mengajak istrinya untuk hadir di proyek renovasi villa secara langsung, dikarenakan kondisi kandungan yang masih rentan,


Meskipun begitu, Fernando tetap berdiskusi mengenai renovasi villa itu.


Rara lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah, tak banyak yang ia lakukan, hanya mengecek kondisi usaha onlinenya bersama Fitri,


Gadis muda itu, memberikan laporan setiap harinya, baik via email atau pesan WhatsApp,


Dari pengakuan Fitri, ia baru saja mempekerjakan beberapa ibu rumah tangga untuk membantu packing barang pesanan yang semakin hari semakin meningkat.


Rara berucap syukur akan itu, ia juga menceritakan kepada Fitri jika dirinya sudah berbadan dua, mendengar berita baik itu Fitri mengucapkan selamat,


Wanita hamil itu meminta Fitri untuk membagikan lebih banyak makanan pada hari Jum'at depan untuk jamaah masjid juga anak-anak pondok pesantren tak jauh dari rumah Mbah Sarmi, sebagai ungkapan syukur atas kehamilannya.


Tak lupa Rara juga memberikan kabar gembira ini kepada kedua kakak kandungnya, mereka turut senang mendengarnya, ucapan selamat juga doa untuk wanita hamil itu.


Waktu berlalu terasa begitu cepat, usia kandungannya sudah menginjak enam bulan, perutnya sudah terlihat mulai membuncit, kata Fernando, dirinya makin terlihat seksi dan membuat lelaki itu semakin mencintainya.


Kehamilannya sama sekali tidak merepotkan untuknya, ia tak mengidam, juga tak mengalami morning sick di kehamilan awal, namun tetap saja suaminya kelewat protektif, bahkan untuk urusan memasak diserahkan kepada istri mang Ujang,


Aktivitas wanita hamil itu hanya, makan, tidur, berjalan-jalan disekitar rumah usai shalat subuh atau sore hari, tentu saja lama-lama Rara bosan melakukan aktivitas yang sama setiap harinya, ia sempat merajuk pada suaminya yang mendadak cerewet mengatur ini itu.


Umi Fatimah juga sama, lebih cerewet melarang ini itu, bahkan wanita paruh baya itu rutin dua pekan sekali mengunjunginya, membuatkan makanan sehat serta kue dam puding kesukaan menantunya,


Mengenai kondisi Tamara, banyak perkembangan berarti, berkat pengobatan yang dijalaninya, menurut cerita umi Fatimah, tinggal sedikit lagi, kemungkinan Tamara akan sembuh, sedangkan Nicholas akhirnya bersekolah di salah satu SMA swasta terkemuka yang jaraknya lumayan jauh dari rumah umi, tentu mang Hendi yang akan mengantar jemput cucu keponakannya itu.


Renovasi villa di Lembang berjalan lebih cepat, saat ini sudah mendekati delapan puluh persen, yang artinya kebun buah dan sayur akan mulai dikerjakan, dan untuk bibit, Fernando meminta salah satu kenalannya di jepang dan Korea Selatan untuk mendatangkan bibit unggul tanaman Strawberry.


Katanya agar istrinya bisa menikmati buah favoritnya dengan kualitas terbaik,


Renovasi villa milik umi juga sudah sepenuhnya rampung, dan mulai melakukan promosi awal, atas saran Rara, promosi dilakukan dengan mendatangkan salah satu keluarga selebritis tanah air yang terkenal, terbukti efektif sudah banyak yang booking untuk berbagai acara, yang kebanyakan pesta pernikahan,

__ADS_1


Rara benar-benar bersyukur akan kehidupan yang Ia jalani saat ini, suami mencintainya, mertua yang menganggapnya seperti anaknya sendiri, dan semua orang-orang disekelilingnya yang menyayanginya.


Namun kehidupan tidak selalu berjalan mulus, air yang berasal dari hulu saja harus melalui bebatuan agar bisa mencapai lautan luas, begitu juga dengan hidup Rara.


Saat ia dan Fernando berkunjung ke ibukota barulah ia tau jika sahabat baiknya tengah terbaring koma selama setengah tahun, dan ia ingat betul saat terakhir bertemu dengan Ayudia di rumah Pradikta, ibu dua anak itu masih baik-baik saja, masih bisa tersenyum memperlihatkan lesung pipi khasnya,


Fernando mengakui jika karena ulahnya, Benedict cemburu buta dan marah besar, hingga pasangan suami istri itu bertengkar hebat, yang membuat Ayudia menyakiti dirinya sendiri akibat depresi karena sikap kasar suaminya dan disinilah sekarang, Ayudia masih setia menutup matanya, diatas ranjang rumah sakit.


Rara tentu tak kuasa menahan air matanya, rasa bersalah melingkupi dirinya, Fernando yang berbuat nekad demi untuk mendapatkan dirinya, dan membuat sahabat baiknya terbaring koma.


Sambil berlinang air mata, Rara meminta maaf pada Ayudia, punggungnya bergetar, sesak sekali rasanya, rasa bersalah, sekaligus kesal kepada suaminya yang menyembunyikan keadaan Ayudia.


Tadi saat Rara menangis dan meminta maaf, Ayudia sempat menunjukan reaksi dengan menggerakkan jari-jari tangannya juga ada air mata yang keluar dari sudut mata wanita dua anak itu.


Usai puas menangisi keadaan sahabatnya, Rara beralih menemui Anna dan kedua cucu kembarnya yang berada di ruangan sebelah.


Kamar rawat yang diubah menjadi kamar anak sekaligus tempat bermain,


Menurut cerita Anna, bibi Atun rutin membantunya mengurus kedua cucunya, walau tidak setiap hari.


Perempuan paruh baya itu, terlihat lebih kurus dari terakhir kali Rara bertemu sekitar enam bulan yang lalu, mungkin lelah mengurus kedua cucu kembar yang sedang aktif-aktifnya,


Anna menawarkan Rara untuk ikut dengannya mengunjungi rumah besar sahabatnya, setidaknya untuk menginap, tentu saja wanita hamil itu tidak keberatan,


Tadi sore Rara ikut bersama Anna dan si kembar kembali ke rumah besar tanpa Fernando, entah sedang apa lelaki itu, Rara tak peduli, bahkan ia tidak meminta ijin untuk berkunjung ke rumah Ayudia.


Fernando yang baru menyelesaikan meeting bersama para sahabatnya di ruangan Oscar dibuat kalang kabut istrinya tak berada di ruang rawat Ayudia dan di ruang sebelah, telpon pun tidak diangkat.


Akhirnya ia menghubungi Anna, menanyakan keberadaan Rara, dan benar saja, istrinya berada di rumah besar itu.


Fernando bergegas menuju rumah sahabatnya, namun Oscar malah mengajaknya, untuk menemui Tamara.


Dan disinilah Fernando sekarang, ia bersama Oscar berada di ruang rawat Tamara,

__ADS_1


Wanita itu terlihat lebih segar dari beberapa bulan lalu, menurut dokter yang menanganinya, Tamara tinggal menjalani proses pemulihan,


Tamara meminta Oscar untuk meninggalkan ruang rawatnya, wanita itu ingin berbicara berdua dengan Fernando,


Oscar melirik sahabatnya, tentu saja Fernando menggeleng, teringat pesan umi, ia tidak boleh hanya berdua dengan mantan pacarnya, namun bukannya mengerti, Oscar malah meninggalkan Fernando di ruang rawat itu.


Fernando berfikir mungkin hanya sebentar akan memberikan waktu untuk mantan pacarnya berbicara,


Hening sejenak, tak ada yang bersuara, hanya terdengar hembusan penyejuk ruangan dan detak jarum jam dinding.


Fernando yang tak sabar, akhirnya angkat bicara terlebih dahulu, "kalau kamu hanya diam, aku akan pergi untuk menemui istri aku,"


Tamara menatap mantannya penuh damba, "do, apa kita tidak bisa kembali bersama? Bukan untuk aku, tapi untuk Nicholas, setidaknya biar anak kita merasakan kasih sayang dari kamu ayah kandungnya, aku janji akan jadi istri yang baik untuk kamu, sebentar lagi aku akan sembuh, aku mohon,"pintanya dengan mata berkaca-kaca.


Fernando bangkit, ia berdiri membelakangi Tamara, menatap pemandangan dibalik jendela kaca ruang rawat itu, ia menghembuskan nafasnya kasar, ia terdiam sejenak, lalu berbalik menatap tajam mantan pacarnya,


"Tamara, aku sudah memenuhi permintaan kamu untuk membantu pengobatan penyakit kamu hingga saat ini, umi juga sudah memasukan Nicholas ke sekolah terbaik, dan sekarang kamu meminta aku untuk kembali sama kamu, lalu setelah ini kamu minta apalagi? Jangan melewati batas Tamara,"


Lelaki itu menghela nafas, "kamu tau kan aku sudah punya istri, aku sangat mencintai dia, dan mustahil aku meninggalkannya demi bersama kamu juga Nicholas,"


"Aku hanya bisa bertanggung jawab dengan kamu sebatas ini, salah kamu sendiri tidak pernah memberitahu aku kalau kamu hamil, bahkan kamu merendahkan umi aku,"


Tamara terisak, ia menatap sedih mantan pacarnya, "lalu untuk apa aku berobat, menahan rasa sakit saat menjalani prosesnya, ini aku lakukan demi kamu, agar aku bisa bersama kamu, aku cinta pertama kamu, dan kamu juga cinta pertama aku, kita harus bersama do,"


Fernando menyunggingkan senyumannya, "aku baru menyadari saat aku pertama kali bertemu dengan istri aku, bisa jadi cinta pertama aku bukan kamu tapi istri aku, kamu tau apa bedanya? Dulu saat aku bersama kamu, hatiku hanya berdebar sedikit, saat itu aku penasaran dengan yang namanya pacaran, kebetulan kamu menyatakan perasaan kamu ke aku, tentu saja aku langsung terima tanpa pikir panjang, kamu cantik , aku jalani seperti air mengalir saja, bahkan kamu kan yang menawarkan agar aku meniduri kamu saat kamu mabuk, menurut kamu sebagai remaja labil apa aku bisa menolak?"


"Tamara, sebelumnya aku meminta maaf jika kata-kata aku menyinggung kamu, tapi itu kenyataannya, aku menganggap kamu sama seperti wanita-wanita yang pernah singgah di hidup aku sebelum aku bertemu dengan istri aku, kamu mengerti apa bedanya?"


"Untuk pertama kalinya aku berdebar saat melihat Rara, senyumannya, cara bicaranya, dan untuk pertama kalinya aku menjadi penguntit hanya untuk mendekati dia, aku mengejarnya, bukan hanya penasaran akan dirinya, tapi rasa ingin memiliki dia sangatlah besar hingga dada aku merasa sesak jika saat itu aku tak melihat keberadaannya,"


"Tolong lanjutkan hidup kamu Ta, demi diri kamu sendiri dan Nicholas, aku akan memberikan biaya hidup dan sekolah untuk Nicholas hingga dia mampu untuk mencari penghasilan sendiri, maaf hanya sebatas itu yang bisa aku lakukan, aku tidak ingin menyakiti istriku, aku pamit,"


Setelah mengatakan itu, Fernando meninggalkan ruang rawat Tamara, lelaki itu masih bisa mendengar tangisan mantan pacarnya, namun ia tak peduli, tentu saja ia lebih memilih istrinya yang ia cintai.

__ADS_1


__ADS_2