
Tadi pagi usai subuh Fernando berangkat menjemput Anindia juga si kembar Arya dan Aryo.
Sementara Rara menemani dan membantu Anna Menjaga Ainsley dan Aileen.
Saat berada diruang bermain mengawasi si kembar, ponsel milik Rara berdering, tertera nama Arini dilayar ponsel miliknya.
Wanita hamil itu meminta ijin pada Ainsley yang sedang menggambar, untuk menerima panggilan terlebih dahulu,
Rara mengucapkan salam, menanyakan kabar ibu dari sahabatnya,
"Ra, suaminya Sinta datang dan memaksanya untuk pergi dari rumah Tante, tapi Sinta menolak, mereka bertengkar Ra, kebetulan mas Irwan lagi ketemu temennya di luar kota, gimana nih Ra?"ucap Arini diseberang sana, nada suaranya terdengar panik.
Rara bingung, pikirannya mendadak buntu, apa yang harus ia lakukan, menelpon Pradikta tidak mungkin, selain nomor sahabatnya telah dihapus suaminya juga dia sedang berada diluar kota.
Rara mengakhiri panggilannya dengan Arini, setelah mengatakan akan mengunjunginya sekarang juga.
Wanita hamil itu teringat dengan Sandra, ia meminta bantuan pada sekertaris Alex itu, dan beruntung Sandra mau membantu.
Rara meminta ijin pada Anna akan keluar menemui Sinta, kemarin wanita hamil itu menceritakan masalah yang menimpa Rama dan Sinta.
Anna menyetujuinya bahkan menyuruh supir di rumah itu mengantarkan Rara.
Di depan rumah Pradikta, Rara dan Sandra bertemu, usai cipika-cipiki, wanita hamil itu mengajak Sandra untuk masuk ke rumah itu.
Terdengar perdebatan dari dalam ruang tamu,
"Kamu harus pulang sama aku Sinta, aku suami kamu,"ujar Rama ngotot.
"Aku nggak mau, aku nggak Sudi dekat sama penghianat macam kamu,"ucap Sinta tak mau kalah.
"Aku akui aku salah, aku minta maaf, aku janji nggak bakal mengulanginya lagi,"Rama masih berusaha meyakinkan istrinya.
__ADS_1
"Dulu kamu juga ngomong gitu, ini udah kesekian kalinya kamu janji nggak bakal berhubungan sama mantan kamu, aku tau diri, aku hanya orang baru diantara kalian, aku yang merusak kebahagiaan kalian, jadi lebih baik kita berpisah,"
Rama menggeleng, "aku nggak akan lepasin kamu, kita suami istri, bahkan sudah ada Rayan diantara kita, tidak semudah itu kamu minta berpisah dari aku,"
Sinta yang duduk di sofa menatap Rama yang sedari tadi berdiri dihadapannya,
"Kamu tenang aja mas, kalau masalah Rayan, aku akan ijinkan kamu buat ketemu kapan aja, tapi tidak dengan kita kembali bersama,"wanita itu masih kekeh dengan keputusannya.
Rama sebisa mungkin berusaha menahan amarahnya, ia harus mengambil hati istrinya, "nggak bisa gitu Sinta, aku ingin kita membesarkan Rayan bersama-sama, artinya kita harus satu rumah, kamu istri aku, ibu dari Rayan, kalau kamu nggak mau kembali sama aku, Rayan akan aku bawa pergi dari kamu dan aku tidak akan membiarkan kamu bertemu dengan Rayan selamanya,"ancamnya.
Sinta melotot mendengar ancaman dari Rama, "kamu mengancam aku? Apa kamu lupa Rayan masih bayi, dia butuh ASI, dan aku bisa menuntut hak asuhnya di pengadilan,"
Rama menyunggingkan senyumannya, "aku sudah cukup sabar dengan kaburnya kamu, padahal saat itu kamu membawa benih aku dalam perut kamu, aku tau aku yang salah, dan aku sudah minta maaf sama kamu, sekarang aku minta kamu kembali sama aku secara baik-baik, jika kamu masih keras kepala, maka aku akan bertidak diluar akal pikiran kamu,"
Sinta bangkit, lalu mendongak menatap tajam Rama, "aku tegaskan ya Rama Suseno, aku mau kita bercerai,"usai mengatakannya, wanita itu masuk ke dalam,
Baru beberapa langkah, tangan Sinta dicekal lalu ditarik, dan cup...
Rama mencium bibir istrinya kasar, lelaki itu memegang tengkuk Sinta untuk memperdalam ciumannya,
Disela-sela ciuman itu, Rama menyunggingkan senyumannya, dia berhasil memperdaya istrinya.
Rama melepaskan Sinta, ketika wanita itu hampir kehabisan nafas, namun tangannya masih memeluk istrinya erat,
"Kalau kamu nggak mau kembali sama aku, akan aku buat kamu hamil adiknya Rayan, dan saat itu terjadi, aku tidak akan bertanggung jawab dengan adiknya Rayan, sekarang juga kemasi barang-barang kamu dan Rayan, aku tunggu disini, kalau kamu tidak menuruti aku, akan aku buat kedua orang tua kamu dan kakak kamu dalam kesulitan, kamu mengerti bukan jika uang bisa membuat hal itu terjadi,"bisik Rama tepat ditelinga istrinya.
Sinta menegang mendengar ancaman lelaki itu,
Rama mengelus kepala istrinya lalu mencium kening itu lembut, "pekerjaan aku lagi banyak, aku beri waktu kamu selama tiga puluh menit untuk membereskan semua barang-barang kamu, sekarang,"
Sinta segera masuk ke dalam rumah, untuk membereskan barang-barang Rayan dan miliknya.
__ADS_1
Rara dan Sandra yang sedari tadi menguping pembicaraan suami istri tersebut saling pandang, seolah bingung harus berbuat apa.
Teringat ada pintu garasi, Rara mengajak Sandra untuk masuk ke dalam rumah Arini melalui pintu itu.
Di kamar yang selama ini ditempati Sinta dan Rayan, Arini sedang mengendong bayi itu sembari mendengarkan cerita Sinta.
Rara diikuti Sandra masuk kedalam kamar itu, keduanya bersalaman dengan Arini secara bergantian, juga menyapanya.
Ketiga wanita itu mendengarkan cerita Sinta, yang diancam oleh suaminya sendiri.
"Sebenarnya Tante sedih jika harus berpisah sama Rayan dan kamu , tapi apa mau dikata, suami kamu lebih berhak atas kalian, tante hanya bisa berdoa yang terbaik untuk rumah tangga kalian, dan Tante minta kalian sering-sering kemari ya,"pesan Arini, saat Sinta sedang membereskan barang-barangnya.
"Mbak Sinta yakin akan tetap kembali ke mas Rama? Kalau memang mbak nggak mau, aku bisa minta tolong mas Nando supaya mas Rama nggak memaksa mbak Sinta,"ujar Rara.
"Iya sin, aku bisa minta tolong Alex juga, supaya Rama nggak semena-mena sama kamu,"Sandra angkat bicara.
Sinta yang telah selesaiĀ merapihkan barang-barangnya, menatap ketiga wanita berbeda usia itu, lalu tersenyum, "aku makasih banget selama ini kalian udah aku repotin, terutama Tante Arini yang udah jagain aku sama Rayan, juga Amara yang udah bantu keuangan aku selama di rumah Mbah Sarmi, tapi sepertinya aku harus memberi kesempatan sama Suami aku, hanya doa terbaik yang aku minta sama kalian setelah ini, aku ngga akan lupakan kebaikan kalian,"
Usai mengatakannya, Sinta memeluk satu persatu ketiga wanita itu dengan mata berkaca-kaca,
Arini berpesan agar Sinta menjadi istri dan ibu yang lebih kuat mental, lebih sabar agar bisa menghadapi ujian kehidupan kedepannya.
Rara juga melakukan yang sama begitu juga Sandra.
Arini tak henti-hentinya menciumi Rayan yang telah ia anggap seperti cucu sendiri,
Sandra membantu membawa koper milik Sinta menuju ruang tamu, sementara Rayan digendong oleh Arini,
Rama telah menunggunya di teras, lelaki itu menutup panggilan setelah mendengar suara roda koper juga percakapan dari para wanita itu.
Lelaki itu berucap terima kasih juga memberikan sebuah amplop berisi cek dengan nominal lumayan besar,
__ADS_1
Arini jelas menolak, namun Rama memaksa wanita tua itu untuk menerimanya, sebagai rasa terima kasih lelaki itu karena telah merawat istri dan anaknya dengan baik, juga meminta maaf atas keributan kecil yang tadi terjadi.
Rara dan Sandra sekalian berpamitan dengan Arini, keduanya menumpang mobil milik Rama.