Istri Untuk Fernando

Istri Untuk Fernando
17


__ADS_3

Sebuah benda yang kenyal dan basah, mengusik tidur wanita penyuka Strawberry itu, perlahan ia membuka mata bulatnya, terlihat seorang pria dengan mata hijaunya sedang menatapnya.


Lelaki itu sedang mencium bibir mantan gadis itu, "bangun Amara, waktunya makan,"ujarnya sesaat setelah melepaskan tautan bibir itu.


Rara diam, seolah sedang mengumpulkan nyawa sekaligus kewarasannya, terlintas kejadian panas antara dirinya dan lelaki blasteran itu.


Ia mengedipkan matanya, dan merutuki dirinya sendiri, ia kemakan omongannya sendiri, alangkah bodohnya dirinya, memberikan mahkota berharganya kepada orang asing itu.


"Aku bantu bersihkan diri kamu, setelah itu kita makan,"ucap lelaki itu sambil menggendong tubuh polos itu menunju kamar mandi.


Fernando mendudukkan Rara di atas closet, sementara dirinya mulai mengisi bathtub dengan air hangat juga aroma terapi strawberry.


Usai mengosongkan kandung kemihnya, Rara berusaha menutupi bagian tubuhnya yang tak tertutup apapun.


"Nggak usah ditutup Ra, apalagi malu sama aku,"ujarnya menggoda wanita itu.


Fernando mengangkat dan meletakan wanita itu didalam bathtub.


Ia meminta Rara untuk bersandar sekaligus berendam, katanya supaya meredakan rasa perih akibat membuka segel.


Fernando mulai membasahi rambut hitam wanita itu, tak lupa memberikan shampoo beraroma strawberry, ia memijit juga menggosok kulit kepala wanita itu.


"Apa kamu selalu men-treat semua wanita setelah kamu tiduri?"tanya Rara tiba-tiba.


"Nggak, aku bahkan tak peduli, setelah hasratku tersalurkan,"


"Apa dengan mantan kamu yang tadi, kamu tidak seperti ini?"tanya wanita itu penasaran.


"Kenapa kamu bertanya soal aku dengan wanita lain?"


"Hanya bertanya saja, apa tidak boleh?"


"Aku dan dia melanjutkan kegiatan panas itu dikamar mandi, tapi aku tidak memandikannya, hanya sekedar berhubungan intim,"jawab Fernando jujur.


Ada rasa kesal menyusup dalam diri Rara, ia kembali merutuki kebodohannya, bisa-bisanya ia berhubungan intim dengan lelaki brengsek itu.


"Kenapa diam?"tanya Fernando sambil membasuh rambut wanita itu.


"Aku sedang merutuki betapa bodohnya diriku, kenapa aku kemakan omonganku sendiri,"


"Jadi kamu menyesal telah melakukannya sama aku?"


Rara mengangkat bahunya, "entahlah, bukankah menyesal tidak ada gunanya? Walau aku meraung-raung sekalipun, mahkota kebanggaanku tak akan pernah kembali bukan?"


"Bagaimana kalau kita menikah?"usul Fernando tiba-tiba.


"Kenapa tiba-tiba membahas itu? Lagian kalau aku menikah dengan kamu, nama di undangan tidak sesuai dengan mempelai laki-lakinya, apa kata orang?"


"Apa kamu selama ini hidup dengan kata orang? Untuk apa mempedulikan mereka, apa mereka yang memberi kamu makan?"


"Kita berbeda, aku tinggal dilingkungan dimana apa kata tetangga menjadi penting demi kenyamanan kami tinggal di sana, kamu biasa hidup semau kamu dengan kekayaan kamu, tidak dengan aku yang hidup serba pas-pasan,"


"Kalau begitu setelah menikah kamu dan keluarga kamu, tidak perlu tinggal di sana lagi bukan?"


"Kalau tidak tinggal di sana, kami tinggal dimana? Itu rumah peninggalan kakek aku,"

__ADS_1


"Aku akan berikan keluarga kamu rumah,"


"Kenapa kamu semudah itu mengajak wanita menikah? Bahkan akan membelikan rumah segala, bukankah kamu nggak cinta sama aku?"


Mendengar itu, Fernando tertawa,


"Kenapa kamu tertawa? Apa ada yang lucu? Kamu pikir masalah menikah itu sebuah candaan?"ujar Rara kesal.


"Rara sayang, apa aku belum cerita saat kita pertama kali bertemu?"tanya Fernando dan Rara hanya menggeleng.


"Lagian belum sampai seminggu yang lalu kan? Kamu duduk disebelah aku, di warung bakso, kita berkenalan, dan aku jadi guide kamu selama dua hari di Malang,"


Fernando belum menjawab, ia masih sibuk menggosok tangan wanita itu dengan sabun beraroma strawberry.


"Saat itu aku kayak penguntit karena mengikuti kamu, hanya karena aku tertarik dengan gantungan di tas kamu yang berbentuk dan bergambar strawberry, kamu tau aku selalu tertarik dengan segala macam yang berhubungan dengan buah itu,"


"Kamu itu wanita tidak peka, padahal aku mengikuti kamu lama loh, dari depan museum hingga warung bakso, bukankah itu jauh? Lalu saat kamu duduk di warung bakso, aku sempat melihat tawa juga senyum kamu, bentuknya seperti hati, jarang sekali ada dan aku suka sekali, sejak saat itulah diam-diam aku tertarik sama kamu, ini pertama kalinya aku tertarik duluan dengan seorang wanita, padahal kamu jauh dari tipe ideal aku secara fisik,"


"Jadi tipe ideal kamu, seperti mbak yang tadi?"


"Kebanyakan cewek yang dekat dengan aku memang seperti dia,"


"Wah jauh banget ya, aku hanya remah-remah dibandingkan dengan mereka,"


"Tidak menurut aku, bagi aku kamu unik juga istimewa,"


Fernando sedang menggosok betis wanita itu, "Ra, apa ini bekas terkena knalpot motor?"tanyanya sambil menyentuh bekas luka berbentuk bulat yang berwarna berbeda dengan kulit disekitarnya.


"Iya, saat masih kuliah,"jawabnya, sejujurnya Rara malu diperlakukan seperti sekarang.


"Saat dulu aku kecil, aku tak sengaja menduduki arit milik Mbah Kakung aku, mas biar aku lanjutkan mandi sendiri, kamu makan duluan saja,"


"Kenapa? Aku suka melakukan ini kok,"


"Tapi aku malu,"


"Baiklah, kalau kamu butuh bantuan, kamu panggil aku,"ucap lelaki itu berlalu dari sana.


Meskipun ia ingin berlama-lama berendam, karena ini kali pertama ia berendam di bathtub, tapi perutnya sudah minta diisi,


Dibawah guyuran shower, Rara membilas tubuhnya, namun betapa terkejutnya dirinya saat melihat dadanya penuh dengan bercak merah keunguan.


Benar-benar gila lelaki itu, bagian intinya tadi saat dirinya terbangun benar-benar sakit, tapi sekarang lebih baik karena sudah berendam air hangat.


Rara keluar dari kamar mandi dengan menggunakan bath rob berwarna putih, ia berjalan menuju meja makan, di ruangan sebelah kamar yang ia tempati, di sana telah menunggu lelaki itu.


Di meja makan terlihat beberapa makanan khas pulau Dewata,


"Tadi aku sengaja minta tolong chef untuk memasakkan hidangan ini untuk kamu,"ujarnya sambil menarik kursi agar wanitanya duduk berhadapan dengannya.


Keduanya menikmati hidangan sambil berbincang tentang makanan yang tersaji juga tentang chef yang memasak makanan itu.


Beberapa menit berlalu, makanan yang tersaji sudah ludes tak bersisa,


"Sepertinya kamu bukan tipe perempuan yang malu-malu saat makan ya!"ujar Fernando sambil mengelap mulutnya menggunakan tisu.

__ADS_1


"Ya beginilah aku, apa kamu jadi ilfil sama aku?"


"Tidak sama sekali, aku senang kalau kamu makan dengan lahap,"


"Setelah ini, apa yang akan kamu lakukan?"tanya Rara.


"Aku hanya memeriksa pekerjaan aku sedikit, kenapa? Apa kamu mau jalan-jalan? Kondisi kamu sepertinya tidak memungkinkan untuk berjalan jauh, bagaimana kalau sisa hari ini, kamu istirahat saja, besok baru aku ajak berkeliling, bagaimana?"


"Besok aku harus kembali ke Malang, apa kamu lupa beberapa hari lagi aku akan menikah?"


Fernando menghela nafas, "setelah apa yang kita lakukan tadi, kamu tetap melanjutkan rencana kamu untuk menikah dengan laki-laki itu?"tanyanya kesal.


"Aku tak mau membuat orang tua aku malu,"


Fernando menghampiri wanita yang sedang duduk diseberang meja, ia bersimpuh duduk didepannya, lalu memegang tangan itu dan menciuminya, "Ra, kamu bisa menikah sama aku, aku pastikan tak akan ada yang membicarakan keluarga kamu, aku akan membungkam mulut mereka,"


"Tolong jangan lakukan hal itu, jangan memperumit keadaan, aku mohon,"


Fernando bangkit, ia berkacak pinggang, "Ra, tapi aku nggak rela kamu menikah dengan lelaki itu, membayangkan saat tubuh kamu disentuh oleh dia, rasanya aku kesal sekali,"


"Mas, kamu itu aneh deh, kenapa kamu kesal? Bukankah kita tidak ada ikatan apapun? Kamu nggak berhak melakukan itu,"


"Setelah yang kita lakukan? Apa kamu gila? Aku tidak terima kamu menikah dengan pria lain selain aku, dan jika kamu nekad, kamu akan lihat siapa aku sebenarnya, aku akan mengacaukan acara pernikahan kamu, aku tak peduli apapun resikonya,"ucap lelaki itu dengan nada mulai meninggi.


"Kamu mengancam aku?"


"Iya aku mengancam kamu, asal kamu tau, dari semua sahabat aku, hanya aku yang paling nekad dan tidak pernah berfikir panjang jika ada sesuatu yang membuat aku marah, aku tidak suka berbasa-basi, dan tanpa pikir panjang aku akan menghancurkan sesuatu yang menghalangi jalanku,"


"Kenapa kamu seperti ini sama aku? Kita hanya orang asing, bukankah kamu terbiasa dengan wanita-wanita seperti aku?"


"Kamu lain Amara, kamu berbeda dengan mereka,"ujar Fernando penuh ketegangan.


"Apa karena aku masih perawan?"


Fernando menggeleng, "karena aku jatuh cinta sama kamu, ini pertama kalinya aku berdebar jika dekat wanita, apa kamu tidak bisa merasakannya?"


"Semudah itu kamu jatuh cinta sama aku, kamu bohong,"Rara menyangkal ucapan lelaki itu, ia tak percaya begitu saja, mengingat lelaki ini seorang player.


Lelaki itu kembali duduk bersimpuh dihadapan Rara, "bagaimana caranya supaya kamu percaya kalau aku benar-benar jatuh cinta sama kamu?"


Rara bingung menjawabnya, ia hanya terdiam tak menjawab.


Melihat hal itu Fernando memegang kedua sisi pipi milik wanita itu, ia menatap dalam bola mata bulat itu, "Ra, aku sungguh jatuh cinta sama kamu, aku mau menikah dengan kamu, aku serius,"lelaki itu memegang tangan wanita dihadapannya, dan meletakkannya di dadanya, "kamu bisa merasakan jantung aku berdetak lebih cepat kan? Ini yang aku rasakan setiap kali berdekatan dengan kamu, kamu bisa lihat Dimata aku, apa terlihat aku sedang berbohong?"


Keduanya saling bertatapan dalam, dan Rara terlebih dahulu memutuskannya, lalu ia memegang kedua rahang tegas milik lelaki itu, ia mencium kening itu lembut, seolah mengatakan kalau dirinya percaya dengan lelaki ini.


Lalu keduanya saling berpelukan, Fernando membisikan kata cinta juga rasa terima kasihnya.


"Kamu mau membatalkan rencana pernikahan kamu dengan dia dan menikah dengan aku kan?" Tanya Fernando dan Rara mengangguk.


"Aku akan suruh orang buat siapkan cincin pernikahan kita, setelah itu kita bisa pergi ke rumah orang tua kamu sama-sama"ucap Fernando antusias.


Rara tersenyum memperlihatkan bentuk hati bibirnya, manis sekali membuat lelaki itu terpesona, ia mengecup bibir itu.


"Kamu istirahat aja dikamar, aku mau memberitahukan sama Umi aku, untuk datang ke Malang, biar bisa lamar dan langsung nikahi kamu, aku juga mau kasih tau sahabat-sahabat aku," ujarnya sambil berlalu.

__ADS_1


__ADS_2