Istri Untuk Fernando

Istri Untuk Fernando
seratus sebelas


__ADS_3

Keesokan paginya, suami istri itu masih saling mendiamkan,


Sejujurnya Rara merasa takut berdekatan dengan suaminya, masih jelas dalam ingatannya, bagaimana lelaki itu memukuli dan menendang Pradikta, belum lagi makian yang ditujukan pada sahabatnya.


Sementara Fernando masih kesal dengan sikap cuek istrinya, apa wanita itu tidak menyadari kesalahannya?


Lelaki itu berfikir, bukankah wajar jika dirinya cemburu melihat bagaimana lelaki lain memeluk dan mencium kening istrinya, bahkan yang membuatnya tak habis pikir, wanita itu seolah tidak merasa keberatan, padahal sebelumnya ia pernah memberi peringatan.


Tadi usai pulang shalat subuh di masjid dekat rumah, Fernando membelikan bubur ayam untuk sarapan mereka.


Lelaki itu mengajak istrinya untuk sarapan.


Sebagai seorang istri Rara masih melayani suaminya, seperti tadi sebelum subuh, ia menyiapkan baju Koko serta sarung, dan sekarang ia menyiapkan air minum hangat di meja makan.


Hingga keduanya menyelesaikan sarapannya, Fernando baru mengajak istrinya untuk bicara berdua di sofa ruang tv.


"Ra, apa tidak masalah jika setelah melahirkan kamu tinggal disini?"tanya Fernando membuka pembicaraan.


Rara duduk menjaga jarak dengan suaminya, wanita ada di sofa singel sementara Fernando ada di sofa panjang.


Wanita hamil itu menanggapi pertanyaan suaminya dengan gelengan kepala.


"Kalau menetap disini, kita nggak bisa punya kamar bayi sendiri,"tanyanya lagi.


Rara menanggapinya dengan gelengan.


Fernando menghela nafas, "lalu apa perlu cat dindingnya diganti, misalnya warna cerah, sesuai gender bayi kita?"


Lagi-lagi Rara hanya menggeleng.


Tiga kali Fernando tanya, istrinya menanggapinya dengan hal yang sama, lelaki tak sabaran itu lama-lama kesal juga.


"Ra, ini masih pagi, bisa tidak kamu jangan buat aku marah, tanggapi pertanyaan suami kamu dengan ucapan bukan hanya dengan gelengan, kamu mengerti?"


Rara bisa melihat raut wajah kesal suaminya, tapi ia masih takut dengan lelaki itu.


"Kamu masih nggak mau buka mulut Amara?"

__ADS_1


Rara memilih meminum air dari gelas yang ada dihadapannya hingga tandas, itu ia lakukan untuk menghilangkan rasa gugupnya.


Mendadak tangannya mulai bergetar, alam bawah sadarnya mulai bereaksi karena rasa takutnya.


Fernando mendekati istrinya, namun reaksi wanita itu membuatnya terkejut.


Wanita itu gemetaran dan terlihat sangat gelisah, Fernando jadi panik sendiri, "kamu kenapa Ra? Apa kamu akan melahirkan?"tanyanya.


Rara bahkan menyentak tangan suaminya, ia tak mengucapkan sepatah katapun,


"Kamu kenapa sih Ra?"tanyanya lagi.


"Jangan mendekat, jangan pukul, aku takut,"ujar wanita hamil itu gelisah.


Fernando membulatkan matanya, ia terkejut istrinya menolaknya.


"Aku nggak mungkin menyakiti kamu, tenanglah," ujar Fernando mencoba menenangkan istrinya.


Rara menggeleng, "kamu jahat, aku takut,"


Fernando tak habis pikir, bisa-bisanya istrinya seperti ini, semalam saat keduanya tidur, wanita itu tidur seperti biasanya, walau tak ada pembicaraan diantara mereka.


Tak mempedulikan penolakan istrinya, Fernando mengangkat istrinya, dan mendudukkan wanita itu dipangkuan nya, lalu memeluknya erat, mengelus dan menepuk punggung itu, serta tak lupa ia membisikan kata-kata cinta, hingga istrinya tak lagi gemetaran.


Lelaki itu lalu menatap istrinya lembut, "Rara sayang, aku nggak akan pernah nyakitin kamu, karena aku sayang dan cinta sama kamu, jadi tidak mungkin aku melakukan hal itu,"


Rara membalas tatapan itu sejenak lalu menunduk,


Fernando mengangkat dagu istrinya dengan jari-jarinya yang panjang, ia mengecup bibir merah muda itu, "hai lihat aku, kamu tau kan aku sangat mencintai kamu?"


Rara mengedipkan matanya beberapa kali, seolah menunjukkan jawaban atas pertanyaan suaminya.


"Maafkan aku, karena membuat kamu terkejut semalam, aku cemburu Ra, bukankah sebelumnya aku pernah memberi peringatan pada kamu soal itu, jadi tolong jangan biarkan lelaki lain memeluk kamu, hanya aku yang boleh menyentuh kamu, aku tidak rela, kamu mengerti ucapan aku?"


Bukannya menjawab, wanita hamil itu malah menunduk kembali,


Fernando menghembuskan nafasnya kasar, ia mencoba bersabar, ia memeluk tubuh istrinya lalu menjadikan pundak wanita itu sebagai sandaran, tercium aroma favorit keduanya.

__ADS_1


Aroma yang selalu membuatnya tenang, aroma yang membuat dirinya semakin tergila-gila pada istrinya, entah mengapa tiba-tiba pikirannya membayangkan sesuatu yang menyenangkan.


Fernando berusaha mati-matian menekan hasratnya, meskipun adik kecilnya mulai bangkit dan mungkin sudah menusuk dibawah sana, karena ia bisa melihat istrinya terkejut dengan perubahan itu.


Rasanya Fernando ingin menenggelamkan diri ke dasar laut, bisa-bisanya saat ia dan istrinya bermasalah, hasratnya malah bangkit, ia malu sekali, ada rasa takut dalam hatinya, takut jika wanita itu berfikir kalau dirinya hanya bernafsu bukan cinta sebenernya yang tadi ia ucapkan.


"Maaf sayang, aku tidak bermaksud seperti itu, aku tulus mencintai kamu, bukan karena nafsu semata,"ungkapnya sambil terus menyandarkan kepalanya di pundak milik wanita itu, tak lupa sambil mengelus perut buncit istrinya.


Dalam hati ia mengumpat untuk dirinya sendiri, disaat seperti ini bukannya hasratnya turun karena rasa bersalah, ini malah sebaliknya.


Hasratnya semakin naik, bagian itu semakin keras, kepalanya mulai pening, ia butuh pelepasan sekarang juga.


Karena sudah tak tahan, ia mulai mencium bibir istrinya rakus, seolah ingin menghabisi bibir yang menjadi candunya.


Rara yang awalnya hanya diam saja, lama-lama mulai terbuai, wanita itu membalas ciuman panas suaminya.


Dan sofa itu menjadi saksi bisu bagaimana pergumulan panas diantara kedua sejoli yang sedang bermasalah itu.


Fernando terdiam sejenak, ia masih mengatur nafasnya sembari menikmati sisa rasa yang membuatnya bagai terbang ke langit,


Bukan hanya lelaki itu, Rara juga sama, wanita hamil yang masih ada dalam rengkuhan suaminya masih menikmati rasa itu.


Keduanya masih terengah-engah menormalkan nafas dan detak jantung mereka.


Fernando menyandarkan kepalanya di sandaran sofa, ia mendongak menatap langit-langit ruangan itu sambil tangannya mengelus punggung polos milik istrinya, sedangkan wanita itu masih bersandar pada pundaknya yang kekar.


Merasa efek itu sudah berkurang, Fernando bangkit menggendong tubuh polos itu menuju kamar milik keduanya.


Mereka butuh kamar mandi untuk membersihkan sisa-sisa kegiatan panas tadi.


Lagi-lagi Fernando memaki dirinya sendiri dalam hati, bisa-bisanya hanya melihat tubuh polos istrinya dibawah guyuran shower hasratnya bangkit lagi, kenapa terkesan ia hanya bernafsu pada wanita itu.


Rasanya malu, tapi hasratnya butuh dilampiaskan, ia meminta hal itu pada istrinya, dan wanita itu tak keberatan dengan kegiatan yang membuat mandi keduanya semakin lama.


Usai menyelesaikan sesi yang kedua, Fernando membiarkan istrinya mandi terlebih dahulu, ia tidak mau, mengulanginya lagi, hasrat sialannya tak boleh membuat wanita itu menuduhnya hanya bernafsu saja.


Memastikan istrinya sudah keluar dari kamar mandi, dibawah guyuran shower, Fernando memaki dirinya sendiri, berbagai nama binatang dan sumpah serapah ia tujukan pada dirinya sendiri.

__ADS_1


Bisa-bisanya dalam keadaan keduanya tidak baik-baik saja, ia sampai menggauli istrinya yang tengah hamil tua dua kali.


Saat ini ia berharap ucapan "urusan ranjang bisa mendamaikan suami istri yang tengah bermasalah," bisa terjadi pada dirinya dan Rara.


__ADS_2