
Keesokan paginya Rara kembali merutuki kebodohannya, bisa-bisanya dia terbuai dengan rayuan lelaki yang tengah memeluknya erat.
Kenapa ia selalu melakukan dosa yang sama, bukan hanya sekali tapi berkali-kali? Padahal ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak melakukan hal itu lagi.
Semalam, usai mengisi perutnya dengan makanan yang dibelikan lelaki itu tadi sore, mereka melakukannya lagi, di dapur saat dirinya mencuci piring juga saat keduanya mengobrol di sofa ruang tengah.
Seolah ilmu yang ia pelajari selama tiga tahun kebelakang, menguap entah kemana, tanpa sadar ia mengetuk sendiri kepalanya.
"Apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu memukul kepala kamu?"tanya Fernando sambil memegangi tangan wanitanya.
"Kenapa aku bodoh banget sih?"tanya Rara pada dirinya sendiri.
Fernando membalikan tubuh wanita yang membelakanginya menjadi tengkurap di atas tubuh kekarnya, keduanya masih dalam keadaan polos dibalik selimut tebal itu.
"Bodoh kenapa hem?"
"Kenapa kita berbuat itu berkali-kali sih, ini nggak boleh terjadi mas apalagi di rumah umi,"keluhnya.
Fernando mengecup bibir Rara, ia memeluk erat lalu mengelus rambut hitam sebahu wanitanya.
"Aku udah puasa selama tiga tahun, ini rekor aku tidak berhubungan intim terlama, aku bisa tahan karena nggak ada kamu disisi aku, lalu kamu datang pada aku, tentu saja hasrat yang aku pendam selama tiga tahun ini harus aku lampiaskan ke wanita yang membuat aku menunggu sangat lama, memangnya salah dimana?"
"Kita belum sah mas, kalau kamu lupa,"
"Aku tau Ra, kamu lupa umi aku guru agama, sedari kecil aku didik langsung sama umi loh, tapi yang namanya hasrat sedang tinggi-tingginya mana bisa logika berjalan dengan benar,"
"Tapi harusnya kamu tunggu sah dulu mas,"
"Aku udah nggak tahan sayang, liat kamu diam aja gairah yang sudah berhibernasi selama tiga tahun langsung otomatis bangkit, normal kan?"ujarnya sambil mulai mengulangi aksinya lagi,
Pagi hari dimana tanda vitalnya berfungsi dengan baik, Fernando tak mau menyia-nyiakan kesempatan ini,
Perbuatannya dibawah sana membuat Rara yang sedang diatasnya melotot kaget, "baru diingatkan udah mau mengulanginya lagi mas?"
"Sayang, kamu terlalu menggoda buat aku,"usai mengatakan itu, Fernando membungkam mulut wanitanya, agar tidak protes dengan apa yang ia lakukan.
__ADS_1
Dan disinilah keduanya sekarang berhadapan dengan umi Fatimah di ruang tengah, seolah keduanya sedang menghadapi persidangan.
"Fernando kan umi, sudah bilang jangan melakukan hal itu di rumah Umi,"ungkap umi marah,
"Dan kamu Rara, kenapa mau-maunya melayani nafsu bejat anak umi?"
"Aku yang merayunya umi, jangan salahkan Rara,"
"Kenapa sih do, kamu nggak bisa menahan sedikit lagi, urusan surat beres kalian bisa langsung menikah,"
"Umi, Nando udah puasa tiga tahun, sesuai saran umi,"
"Iya umi tau, tapi tahan sedikit lagi kenapa sih do?"
"Tiga tahun mi, Nando menahan diri, sesuai nasehat umi,"
"Malas umi ngomong sama kamu, lebih baik sekarang kamu urus sendiri semua keperluan pernikahan kamu, umi mau bicara sama Rara,"
"Umi, jangan marahi istri Nando nanti kalau kabur lagu gimana? Umi mau nggak punya cucu?"
Dengan terpaksa Fernando yang sudah rapih meninggalkan umi juga calon istrinya.
Sepeninggal Fernando, umi Fatimah langsung memeluk Rara, "umi kangen kamu Ra, maafkan umi ya! Kamu kemana aja sih Ra? Umi merasa bersalah sama kamu, Nando juga sempat marah sama umi, gara-gara kamu menghilang gitu aja,"ungkapnya dengan mata berkaca-kaca.
Rara berucap ketika umi Fatimah melepaskan pelukannya, "Rara tertimpa musibah mi, waktu pulang kerja Rara terlibat kecelakaan, karena kecelakaan itulah, Rara harus merelakan janin yang ada di kandungan Rara, maaf umi, Rara tidak bisa menjaga cucu umi dengan baik,"
Umi Fatimah terkejut mendengarnya, "ya ampun Ra, itu pasti sulit banget buat kamu, kenapa kamu nggak menghubungi umi?"
Rara menghapus air matanya, "karena pendarahan hebat juga benturan di kepala Rara cukup keras, Rara tak sadarkan diri beberapa hari, ponsel Rara hancur, polisi sempat kesulitan menghubungi keluarga Rara, hingga mas Andi yang datang menjemput Rara,"
"Satu bulan Rara di rumah sakit, untuk pemulihan, lalu mas Andi membawa Rara ke kampung halaman mbak Anisa istri dari mas Andi,"
"Tapi kenapa kamu nggak menghubungi putra umi? Nando kelimpungan mencari kamu, bahkan Nando sempat baku hantam sama Ben, menuduh Ben penyebab menghilangnya kamu, bahkan Nando tidak mau menemui umi hampir setengah tahun dan menyalahkan umi karena tidak menjaga kamu dengan baik,"
Rara terkejut mendengarnya, "maaf umi, gara-gara Rara, mas Nando seperti itu,"
__ADS_1
"Nggak apa-apa Ra, wajar Nando seperti itu, karena putra umi benar-benar mencintai kamu,"
"Lalu apa yang Rara lakukan selama tiga tahun kebelakang?"tanya umi.
"Rara jualan gamis sama saudaranya mbak Anisa juga belajar ilmu agama, tapi semua itu malah Rara lupakan ketika bertemu dengan mas Nando, maafkan Rara mi,"
"Umi harap kalian tidak mengulanginya lagi sebelum sah, lalu bisa umi ngobrol sama kakak kamu?"
Rara mengangguk, ia mengambil ponselnya dikamar milik Fernando, lalu menghubungi kedua kakaknya, dan menyampaikan bahwa umi Fatimah ingin berbicara.
Ketiganya terlibat dalam pembicaraan serius tentang rencana pernikahan Amara dan Fernando,
Mau tak mau kedua kakak lelaki Amara merestui hubungan itu, karena umi dengan jujur menceritakan apa yang dilihatnya tadi pagi, sebelum terlanjur Amara hamil lagi, akhirnya mereka sepakat akan secepatnya mengurus pernikahan antara Amara dan Fernando.
Tidak ada bahasan mengenai pesta pernikahan, bagi ketiga orang itu yang penting sah dulu,
Andi mengabarkan jika dirinya sudah mengajukan cuti dadakan, mungkin akan berangkat nanti sore menuju malang, sedangkan Dika juga sudah mulai mengurus berkas-berkas untuk melengkapi pernikahan adiknya.
"Apa umi sudah pensiun? Kapan hari Rara datang untuk mengambil ijazah, kata pak RT, umi sudah tidak tinggal disini lagi?"tanya Rara ketika Umi Fatimah baru saja menyelesaikan panggilan dengan keluarga calon besan.
"Udah Ra, sekarang umi lebih sering menghabiskan waktu di kampung halaman umi di Sukabumi, sesekali kesini untuk bertemu Nando atau menginap disini,"
"Sebentar umi ambil ijazah kamu dulu,"ujar perempuan paruh baya itu menuju kamarnya, tak lama beliau membawa amplop cokelat dan memberikannya kepada Rara.
Keduanya kembali terlibat dalam pembicaraan tentang kegiatan sehari-hari.
Tak beberapa lama, Fernando pulang membawakan beberapa makanan.
Karena urusan surat pengantar numpang nikah sudah beres, sore harinya ketiganya berangkat menuju Malang dengan menggunakan moda kereta api,
Umi seolah tak membiarkan putranya berduaan dengan calon istrinya, bisa gawat kalau putranya lepas kendali lagi.
Fernando hanya bisa pasrah dan cemberut, karena uminya menguasai calon istrinya, bahkan duduk pun, umi sengaja memisahkan keduanya.
Merasa kesal Fernando memilih tidur, sedangkan kedua wanita yang ia cintai itu terlibat pembicaraan hingga keduanya lelah dan berakhir tertidur.
__ADS_1