
"Mas boleh aku bertanya?"ucap Rara saat keduanya baru saja memasuki kamar.
Fernando mengambil air mineral dingin dari dalam kulkas miliknya, membukakan tutupnya lalu memberikan pada Rara yang duduk di Stoll menghadap ke dapur mini.
"Kamu mau tanya apa sayang?"
Mata bulat itu melihat ke arah plafon, lalu menatap kearah botol yang diberikan padanya.
"Perjanjian apa yang kamu buat dengan mbak Cristy?"akhirnya pertanyaan itu keluar dari mulut Rara, usai tadi ia mendengarnya, ia jadi kepikiran sepanjang perjalanan menuju kamar.
"Itu semacam kompensasi, dari aku buat mantan-mantan yang aku putuskan, aku buat perjanjian hitam di atas putih, dan nantinya aku akan memberikan uang, atau properti agar suatu saat dia nggak mengganggu aku kedepannya,"
Rara terkejut mendengarnya, "kok kayak harta Gono gini ya, dari pasangan suami istri yang bercerai, kamu nggak pernah nikah sama mereka kan? Baik resmi atau siri kan?"
"Sama sekali nggak, itu semacam bentuk tanggung jawab aku, karena selama aku menjalin hubungan sama dia, aku sering berhubungan badan sama dia,"jawab Fernando jujur.
Rara menggeleng seolah tak percaya, ada sedikit rasa sesak di dadanya, ia menarik nafasnya, "lalu, kalau boleh tau kamu memberikan apa sama mbak Cristy?"
Fernando berpikir sejenak, "kalau nggak salah, satu unit apartemen aku di Jakarta, mobil yang biasa dipakai Cristy, toko bunga yang tak jauh dari apartemen, kebetulan dia suka bunga, dan uang lima ratus juta,"
Rara menganga, "kamu ngasih semua itu?"tanyanya tak percaya.
"Iya dan itu diurus oleh pengacara sekaligus sahabat aku Alex,"
"Sebenarnya kamu seberapa kaya sih mas? Gampang banget kasih sebanyak itu, pantas saja mbak Cristy nggak mau lepasin kamu, royal banget sih, lalu tiap bulan kamu kasih uang juga saat masih berhubungan dengan dia?"
Fernando mengangguk, "sekitar tiga puluh jutaan lah,"jawabnya santai.
"Hah? Tiga puluh juta sebulan, enak banget, tinggal ongkang-ongkang kaki nggak usah kerja keras, pantes aja, aku pinjem sepuluh juta, dikasihnya dua puluh juta, itu kalau kamu punya istri, bakal sejahtera tuh istri kamu, biarpun punya suami penjahat kelamin,"
Fernando menghampiri Rara, ia memeluknya dari belakang, ia meletakan dagunya dipundak wanitanya, "kalau kamu jadi istri aku, bukan uang yang aku kasih tapi salah satu kartu aku, jadi kalau disini ada anak aku, bulan depan kita menikah,"ucapnya sambil mengelus perut rata wanita itu.
"Kalau aku hamil, kalau nggak? Apa kamu akan memberikan kompensasi buat aku, seperti yang kamu berikan pada mbak Cristy?"
"Aku nggak akan pernah memberikan kompensasi, karena aku akan menikahi kamu, meskipun kamu belum hamil,"Fernando menegaskan.
"Baiklah, terserah kamu, Lalu bisakah aku ijin keluar sebentar,"
"Kamu mau kemana," tanya Fernando menyentuh bahu wanitanya.
"Aku mau cerita, sekitar setahun lalu, aku masih kerja disalah satu jasa angkutan di Malang kan, terus ya aku kredit hape ke teman kantor aku, karena waktu itu gaji aku cuman dua juta, sementara biaya makan, ongkos sama ngasih ibu sebulan kira-kira satu setengah juta, kan hape itu harganya sekitar satu juta delapan ratus kan, karena nggak punya duit segitu, aku cicil tuh sebulan seratus delapan puluh ribu, susah payah aku buat punya hape itu, eh... Ada orang kaya yang lagi marah, masa hape aku yang berharga itu, dibanting, kenceng banget, abis itu di injak-injak sampai hancur, dan aku cuman bisa melongo, aku kesel banget pas itu,"ucap Rara mendramatisir sembari menyindir.
Merasa tersindir, Fernando malah tertawa, "abisnya perempuan itu, mau ninggalin aku sih, jadi aku ngamuk lah, untung cuman hape yang aku banting,"
__ADS_1
"Susah kalau urusan sama orang kaya, ribet banget dah, mas aku mau ijin ke toko hape ya,"
Bukannya menjawab, Fernando malah mengambil ponselnya, dan menghubungi seseorang "Bagus, antarkan ponsel pesanan saya ke kamar sekarang,"
Tanpa menunggu jawaban, lelaki itu mengakhiri panggilannya.
Rara memilih memasuki toilet, sementara Fernando menuju ruang kerjanya, ada beberapa pekerjaan yang menunggunya.
Usai dari toilet, Rara menghampiri Fernando di ruang kerjanya,
Ada asisten lelaki itu sedang memberikan laporannya, Rara lebih memilih duduk di sofa sambil memperhatikan apa yang dilakukan oleh kedua lelaki itu.
Hingga beberapa menit kemudian , asisten yang bernama Bagus itu pamit undur diri.
Fernando masih mengerjakan pekerjaannya selama beberapa saat, lalu lelaki itu, memanggil wanitanya, agar mendekat, awalnya Rara hanya berdiri diseberang meja, tetapi lelaki itu menyuruhnya untuk lebih mendekat lagi, tentu wanita itu menurut, dan Fernando segera menarik wanita itu untuk duduk di pangkuannya.
"Kamu bukannya lagi kerja ya? Ngapain begini sih, aku risih tau,"ujar Rara mencoba melepaskan diri.
"Sayang, gimana kalau kita mencobanya diruang kerja aku?"ucap Fernando tiba-tiba,
"Apa-apaan sih, jangan gila deh,"tolak wanita itu mentah-mentah.
"Ayolah sayang, nanti malam kamu harus kembali ke Malang, dan nantinya kita lama nggak ketemu ? Jadi kamu harus charger tenaga aku,"
Dengan bujuk rayuan Fernando, akhirnya Rara luluh juga, mereka melakukan kegiatan panas itu diruang kerja milik lelaki itu.
Keduanya berbagi peluh di siang hari yang cerah itu.
"Ini hape buat kamu,"ujar Fernando usai keduanya membersihkan diri,
Rara yang sedang tiduran terlentang, langsung bangkit menerima kardus berisi ponsel, "mas ini bukannya hape mahal ya!"
"Itu sebagai wujud permintaan maaf aku, karena sudah merusak hape kamu,"
"Harusnya kamu gantiin seharga hape aku yang lama, tapi terima kasih ya!"
Rara dibantu Fernando memasangkan SIM card dan mengaktifkannya.
"Oh ya sayang, sepertinya mulai bulan depan aku akan bolak-balik ke Malang, ada proyek pembangunan taman bermain yang sekarang sedang diurus ijin membangunnya Sama orangnya Alex, jadi kita bisa sering-sering ketemu deh,"tutur Fernando menceritakan rencananya.
"Oh gitu ya mas, wah.. mudah-mudahan proyek kamu lancar ya!"ucap Rara sedikit gugup,
"Sekalian aku bisa lebih dekat sama keluarga kamu,"
__ADS_1
"Iii...yaa mas,"
Seharian ini, Fernando mengurung Rara dikamar, beberapa kali mereka melakukan kegiatan bertukar peluh.
Hingga waktu senja tiba, Rara sudah bersiap rapih dengan Tas ransel di punggungnya.
"Sayang aku ikut antar kamu sampai Surabaya ya!"rayu Fernando.
"Nggak perlu mas, pekerjaan kamu Banyak loh, jadi kamu harus selesaikan tanggung jawab kamu disini,"
"Tapi kalau aku kangen gimana?"
"Mas, kita bisa video Call,"
"Tapi aku pengen peluk kamu,"
"Peluk Sekarang aja sini,"keduanya saling berpelukan erat, mereka sempat berciuman lama.
"Kamu jaga kesehatan ya mas, jangan lupa makan, kalau bisa kamu yang setia ya, biar aku di sana juga setia, kalau kita jodoh, pasti bakal bertemu,"
Fernando memeluk wanita itu lagi, berat rasanya harus terpisah dari wanita yang ia cintai itu, "kamu juga harus setia sama aku, kamu harus tolak permintaan bapak kamu, kalau kamu tetap menikah dengan dia, aku akan buat kekacauan di rumah kamu,"
"Iya mas, aku kan mau pulang tujuannya untuk itu, "
"Aku cinta kamu Amara, jangan pernah berpaling dari aku ya, bulan depan kita ketemu lagi ya! Pokoknya selama aku di sana kamu harus dampingi aku,"
Rara menanggapi dengan senyuman khasnya.
Fernando mengantarkan Rara ke Bandara, laki-laki itu bercerita banyak tentang konsep taman bermain yang akan dibangun di kota Malang, sedangkan Rara hanya sedikit mengomentari.
Hingga kedua sejoli itu Sampai bandara yang menjorok ke laut itu,
Fernando merangkul Rara hingga pintu masuk keberangkatan, lelaki itu memeluk wanita itu erat, dan mencium bibirnya lama,
Rara sampai malu sendiri dengan perbuatan kekasihnya itu , "udah ya mas, pesawatnya sebentar lagi berangkat,"ujarnya mengingatkan.
Meskipun berat Fernando akhirnya melepas pelukan itu, "sayang, kabari aku kalau sudah sampai Surabaya ya!"
Rara mengangguk menanggapinya, ia mencium tangan lelaki itu.
"Sayang aku udah transfer buat uang jajan kamu, jadi kamu nggak usah kerja ya!"
Malas berdebat Rara hanya mengangguk dan berterima kasih, kedua sejoli itu berpisah, entah sampai kapan, hanya waktu yang akan menjawab.
__ADS_1