
Fernando sedang dalam perjalanan menuju bandara diantar oleh Rara dan kedua anaknya.
Setelah pekerjaan di resort bisa ditinggalkan dalam waktu lama, lelaki itu menemui keluarganya dulu sebelum berangkat melakukan misinya.
"Pokoknya Nicho, selama Daddy nggak ada, harus jaga Uma sama adik kamu,"pesan Fernando sambil mengemudikan mobilnya.
"Iya Daddy,"
Sesampainya di bandara, Fernando menggendong Arana dan menggandeng tangan istrinya.
Hingga di batas pengantaran penumpang, Fernando enggan melepaskan genggaman tangannya, sampai putranya yang mengambil alih tangan uma-nya.
"Jaga diri baik-baik Uma sayang, pokoknya kalau lebih dari satu setengah bulan aku belum kembali, kamu susul aku ke sana, paspor dan visa udah jadi kan? kamu bisa hubungi Richard atau Mr. William, kamu mengerti?"pesan Fernando.
"iya mas, kamu hati-hati di sana, jaga kesehatan ya,"
Fernando memeluk erat istrinya, tak lupa mencium kening itu.
Rara baru beranjak, ketika suaminya sudah tak terlihat lagi.
Terdengar helaan nafas lega dari remaja yang berdiri disampingnya,
"akhirnya kita bebas Uma,"ujarnya.
Rara tertawa melihat kelakuan putranya, "nggak boleh gitu, itu Daddy kamu,"
Mereka berbalik menuju parkiran mobil, Nicholas menggendong adiknya, sementara Rara berjalan disampingnya.
"Daddy memonopoli Uma, aku dan Arana tersingkir, aku malas kalau Daddy datang,"
"Sudahlah, Daddy memang seperti itu, jadi apa Lucky dan Dani jadi ikut kita liburan?"ujar Rara.
"waktu aku tawari, seperti biasa dengan wajah memelas mereka bilang, Nick tabungan kami tidak cukup untuk liburan, aku tau Uma, mereka meminta traktir,"
"kalau gitu biar Uma yang Traktir kali ini, jadi kabari mereka untuk mempersiapkan diri,"
"Uma terlalu baik dengan teman-temanku,"
"tentu saja itu harus, karena mereka teman baik anak Uma, jadi itu wujud terima kasih Uma pada mereka,"
Senyum mengembang, menghiasi wajah remaja itu.
Hari liburan tiba, sore itu rombongan yang terdiri dari Rara, Arana, Nicholas, Lucky, Dani, Sinta, Rayan, Sandra, Xander dan Cristy berkumpul di stasiun, mereka akan menaiki moda kereta api.
__ADS_1
Salah satu kereta dengan fasilitas tertinggi dikelasnya, menjadi pilihan ketiga wanita-wanita yang merencanakan liburan.
Sedang berada di ruang tunggu kereta, Rara berbicara dengan Sinta,
"Aku nggak nyangka mas Rama ijinkan mbak Sinta ikut,"ujarnya.
"Mbak cerita ke mertua, kalau pengen liburan tapi nggak diijinkan oleh mas Rama, eh langsung ditelpon mas Rama, terus diomelin sama beliau, akhirnya dibolehin deh,"
"Syukur deh kita punya mertua baik banget ya mbak, sayang sama kita,"
"iya, mbak juga nggak nyangka, kalau ada masalah apapun mama mertuaku menjadi penengah yang bijak,"
"Oh ya Ra, kata Cristy, Fitri ikut ya?"tanya Sinta.
Rara mengangguk, "iya entar nunggu di stasiun,"
"terus kamu bilang kan sama Nando?"
"Aku cuman bilang mau jalan-jalan sama anak-anak, tapi nggak ngomong tempatnya,"
"Mbak udah ngomong kalau Rama nggak boleh kasih tau Nando dan Alex, kalau kita mau liburan di Malang,"
"Heran aku mbak, kenapa ya pasangan kita pada posesif, kalau dipikir-pikir, kita nggak mungkin selingkuh atau ninggalin mereka, karena udah punya anak, adanya mereka yang patut dipertanyakan,"
Tak lama, suara panggilan dari petugas stasiun untuk para penumpang agar segera memasuki gerbong kereta.
Rombongan itu bersiap memasuki gerbong luxury yang masih satu rangkaian dengan gerbong eksekutif.
Ini kali pertama Rara pulang ke Malang setelah menikah dan memiliki anak, meskipun begitu komunikasi dengan keluarga selalu ia jaga, kecuali sebulan kemarin saat ponselnya disembunyikan oleh suaminya.
Kereta mulai berangkat dari stasiun, Rara berdoa supaya perjalanan lancar dan Arana tidak rewel, mengingat waktu tempuh yang cukup lama, lebih dari dua belas jam.
Perjalanan terlama untuk putrinya pertama kali, berbeda dengan ke rumah Mbah Sarmi yang hanya menempuh lima jam perjalanan dengan kereta.
Arana tertidur setelah makan malam, balita itu sepertinya kelelahan setelah tadi bermain bersama Rayan,
Berbeda usia hampir tiga bulan, kedua balita itu cukup akrab.
Beberapa jam perjalanan, Kereta berhenti di salah satu Stasiun besar, tak lama satu penumpang yang sangat dikenalinya datang.
Itu Fitri, gadis dengan jilbab berwarna hitam senada sweater yang dikenakannya, menyapa Rara, lalu duduk bersebelahan dengan Cristy tepat dibelakang kursi yang ditempati Rara dan Arana.
Seminggu sebelum keberangkatan, Rara memberitahukan kepada keduanya, untuk closed order lagi selama sepekan, karena akan mengajak mereka liburan ke kampung halamannya, sebagai penebus rasa bersalahnya, karena tidak bisa liburan bersama beberapa waktu lalu di Jogja.
__ADS_1
Keduanya cukup antusias mengetahui hal tersebut.
Keesokan paginya, saat hari sudah terang, rombongan tiba di stasiun tujuan,
Dari stasiun menuju hotel mereka menumpang taksi online yang mereka pesan dari salah satu aplikasi.
Ketiga wanita yang merencanakan liburan telah membooking hotel di pusat kota.
Bukan Fasilitas mewah yang dipilih, hanya tipe standar dengan dua bed dimasing-masing kamar.
Rara sekamar dengan Sinta, Fitri bersama Cristy, keempat remaja yang ikut bergabung dalam satu kamar, karena bed cukup untuk mereka, hanya Sandra yang sendirian.
Rara yang menjadi guide kali ini, di kota kelahirannya.
Ibu dari Arana itu jadi teringat kenangan dulu, saat pertama kali bertemu dengan suaminya.
Ia menjadi guide dari lelaki blasteran itu, dulu ia sengaja mau menerima tawaran itu, sebagai wujud penghiburan diri karena tengah dilanda kebimbangan menjelang pernikahannya.
Tak menyangka, lelaki tampan dan kaya itu adalah jodohnya.
Rara memberi tahu pada rombongannya untuk beristirahat hingga jam makan siang tiba, rencananya nanti, ia akan mengajak ke tempat salah satu kuliner terkenal di kota itu.
Rara sengaja memilihkan hotel yang berada dipusat kota, supaya mereka bisa mudah berburu kuliner yang terkenal di kota itu.
Usai makan siang, Rara mengajak berkeliling di pusat kota hingga sore menjelang.
Malamnya Mereka mengunjungi Alun-alun dan makan malam di pedagang kaki lima disekitarnya.
Lelah tapi seru, karena diantara mereka hanya Fitri yang pernah berkunjung ke kota ini.
Empat remaja lelaki yang ada di rombongan itu terlihat menjadi pusat perhatian para gadis-gadis di sana.
Tidak heran mengingat wajah tampan blasteran milik Nicholas, belum lagi Xander yang mempunyai pesona tersendiri, begitu juga dengan Lucky dan Dani.
"Kayaknya kalau Xander tahun ini jadi sekolah di tempat Nick, bakal jadi generasinya Ben and the gank,"celetuk Sandra saat mereka baru saja kembali dari wisata kuliner.
"Memangnya dulu mereka sekeren apa San?"tanya Sinta.
"Aku sekolah di SMEA yang nggak jauh dari sekolah SMA mereka, setiap ada pensi atau pertandingan antar sekolah, kalau gank mereka lewat, auto histeris cewek-cewek, terutama kalau ada Nando, tau sendiri kan wajah blasterannya,"
"Tapi kalau bisa mereka berempat jangan sampai kelakuannya kayak gank bapaknya, kasihan istrinya,"ujar Sinta.
"Nicho sih bilang ke aku, nggak mau kayak gitu, dia mau sekali suka sama cewek, yang bakal di nikahi, intinya nggak mau punya mantan,"ucap Rara.
__ADS_1
Selanjutnya hanya obrolan random tentang rencana mereka dalam mengisi liburan kali ini, tentang tempat wisata yang hendak mereka datangi.