Istri Untuk Fernando

Istri Untuk Fernando
delapan puluh dua


__ADS_3

Fernando dan Rara berada di ibukota selama tiga hari mendampingi Tamara, wanita itu akan diobati sementara di rumah sakit yang dikelola Oscar.


Urusan Tamara diserahkan sepenuhnya kepada Oscar, sedangkan Fernando dan Rara harus segera kembali ke Lembang namun sebelumnya mereka akan menjenguk Nicholas dulu di rumah umi Fatimah.


Tamara juga sempat memberitahukan pada Fernando soal kelengkapan berkas milik Nicholas yang ada di rumah milik orang tua wanita itu.


Sempat terjadi drama, namun dengan mudahnya uang berbicara, akhirnya orang tua Tamara memberikan berkas milik Nicholas.


Urusan dengan Tamara selesai, Fernando dan Rara bertolak menuju Sukabumi, keduanya baru sampai tepat jam makan malam tiba.


Umi menyambut hangat kedatangan menantunya, dengan antusias wanita paruh baya itu menawarkan bahkan mengambilkan makan malam untuk Rara.


"Karena kamu mau ke sini, Umi buatin puding Strawberry, nanti setelah makan malam kita ngobrol sambil makan puding buatan umi ya!"


Rara mengangguk senang, ia merasa beruntung mempunyai mertua sebaik umi Fatimah.


Fernando hanya bisa melihat bagaimana uminya lebih menyayangi Rara dibandingkan dirinya yang putra kandung, ia juga melirik Nicholas yang sedari tadi melihat interaksi kedua wanita berbeda usia itu.


Makan malam telah usai, mereka berempat duduk di ruang tengah sambil menikmati puding strawberry buatan umi Fatimah.


Wanita paruh baya itu bertanya soal kondisi Tamara dan Rara menceritakan keadaan terakhir dari mantan pacar suaminya itu.


Sepanjang obrolan Nicholas hanya diam mendengarkan, menanggapi singkat jika ditanya.


Rara yang peka menyadari kecanggungan remaja itu ditengah-tengah keluarga Fernando yang notabenenya adalah ayah biologisnya.


Beberapa menit berlalu umi undur dulu, wanita paruh baya itu mengaku mulai mengantuk, diikuti oleh Fernando yang tentunya mengajak istrinya untuk memasuki kamar.


Keesokan paginya seperti biasanya Fernando melaksanakan shalat subuh di masjid tak jauh dari rumah uminya, sedangkan umi Fatimah bersama dengan menantunya shalat berjamaah di rumah dilanjutkan dengan tilawah bersama.


Usai beribadah menantu dan mertua itu memasak di dapur, keduanya berbagi tugas dalam menyiapkan sarapan, seperti kebiasaan mereka dulu saat tinggal bersama di ibukota.


"Mi, Nicholas rencananya mau disekolahkan dimana?"tanya Rara yang sedang membuat adonan pancake.


"Tadinya umi mau masukin Nicho ke pondok, ternyata dia ikut keyakinan ibunya, ini juga alasan kenapa umi suruh Nando ke sini, umi mau membicarakan soal ini,"jawabnya.

__ADS_1


"Ya wajar mi, kan yang gedein ibunya, oh ya mi, bisa nggak ya, Rara ngobrol sama Nicholas tanpa gangguan mas Nando, ada yang ingin Rara omongin sama dia,"


"Bisa , kalau Nando ke villa yang di Bogor tanpa mengajak kamu, nanti umi yang ngomong deh, supaya kamu nggak usah diajak,"


Rara mengangguk, sambil menyelesaikan memasak adonan pancake.


Keempatnya sarapan di halaman samping menghadap kolam ikan sembari mengobrol, seperti biasa Nicholas hanya diam,


Usai sarapan, Fernando berpamitan dirinya, akan mengunjungi villa yang di Bogor, awalnya ia akan mengajak istrinya, namun umi Fatimah mencegah dengan alasan, akan mengajak Rara untuk kondangan disalah satu kenalannya.


Tidak sepenuhnya berbohong tentunya, hanya saja Umi hanya sebentar menghadiri hajatan tersebut bersama menantunya, agar Rara bisa berbicara dengan anak biologis dari Fernando.


Dan disinilah keduanya sekarang, di gazebo yang berada tak jauh dari sawah milik umi Fatimah yang dikelola mamang Hendi.


"Nicho ada yang perlu saya bicarakan sama kamu," ucap Rara sembari menghela nafas,


"saya nggak memaksa kamu untuk menerima keberadaan saya sebagai istri dari Daddy kamu, dari kemarin saya perhatikan sepertinya kamu tidak nyaman sekali jika berada diantara kami,"


Rara menghela nafas, "Nicho, mommy kamu sedang berjuang melawan penyakitnya, Daddy kamu nggak mungkin selalu bisa menemani proses pengobatan yang dijalani mommy kamu, itu karena pekerjaan yang membuatnya seperti itu, apalagi Daddy kamu sedang ada proyek renovasi di Lembang, tempat tempo hari kalian bertemu untuk pertama kali,"


Nicholas menggeleng.


"Lalu bisakah kamu lebih terbuka kepada saya dan Daddy, mau tak mau mulai sekarang kamu harus menerima kami sebagai wali kamu, apapun yang kamu inginkan jika kami mampu kami akan berusaha memenuhinya, kamu mengerti?"


Nicholas mengangguk.


"Boleh saya bertanya?"tanya Rara dan dibalas anggukan oleh remaja itu.


"Apa kamu pernah membenci Daddy?"


Nicholas diam sejenak, remaja itu menunduk tak menjawab hingga beberapa menit berlalu.


"Nicho, terkadang kehidupan orang dewasa sulit dimengerti, mungkin seiring berjalannya waktu kamu akan paham mengapa mommy sama Daddy tidak membesarkan kamu bersama-sama, semua yang mereka lakukan tentu punya alasan, saya harap kamu tubuh dengan baik dan tak terpengaruh keadaan kedua orang tua kandung kamu,"


Usai mengatakan hal itu, Rara memilih bangkit, namun baru beberapa langkah, Nicholas bersuara, " jika suatu saat nanti, aku meminta supaya aunty meninggalkan Daddy, agar kedua orang tua aku bersama, karena aku ingin memiliki keluarga yang utuh, apa aunty keberatan?"

__ADS_1


Rara menghembuskan nafas berat, tanpa melihat anak dari suaminya ia berucap, "kamu bisa tanya hal itu ke Daddy?" Setelahnya Rara benar-benar meninggalkan tempat itu.


Sejujurnya Rara tak menyangka, Nicholas berharap dirinya berpisah dengan Fernando, mau bagaimanapun sekarang Rara adalah istri sah dari lelaki blasteran itu.


Dan menurut pengakuan Fernando, lelaki itu sangat mencintai dirinya, dan tak mau kehilangan dirinya.


Niatnya hendak masuk ke rumah, ia urungkan, Rara memilih berjalan menuju sawah milik umi Fatimah yang tak jauh dari sana.


Ia berjalan di sepanjang jalan setapak diantara padi yang mulai menguning, indah sekali,


Mendadak suasana hatinya menjadi buruk usai mendengar permintaan anak dari suaminya itu, entah mengapa ada rasa tak terima dengan permintaan remaja itu.


Mau bagaimanapun, sekarang ia benar-benar mencintai suaminya, tentu saja ia tak menginginkan adanya perpisahan, namun kalau dipikir-pikir, Nicholas dan Tamara lebih membutuhkan Fernando, dari segi perhatian maupun dukungan finansial yang cukup besar,


Sementara dirinya?


Dari jualan online bersama Fitri, semakin menambah pundi-pundi tabungannya, lumayan besar, lebih dari cukup untuk membiayai hidupnya sendiri,


Ia bersyukur usahanya cukup lancar sementara Tamara?


Wanita itu membutuhkan dana cukup besar untuk mengobati penyakitnya dan Nicholas harus sekolah ditempat dengan kualitas setara sekolah internasional, mengingat remaja itu lama tinggal di luar negeri bahkan sejak lahir, bisa jadi jika Nicholas ditempatkan di sekolah biasa, remaja itu tidak bisa menyesuaikan diri dengan baik.


Saat sedang berjalan sambil melamun, ada yang memanggilnya,


"Mbak Rara mau kemana?"tanya Suri anak dari bibi imas dan mamang Hendi.


"Hai ri! Aku lagi jalan-jalan aja nih, bosen di rumah terus, kamu ngapain disini?"ujar Rara.


"Ini Suri abis antar kopi buat Abah, sekarang mau ke minimarket beli pembalut, mbak mau ikut?"


"Boleh deh, tapi aku nggak bawa hape sama uang,"ungkap Rara jujur .


"Nanti pake uang suri dulu,"


Keduanya perempuan itu berjalan menuju motor yang terparkir dipinggir jalan.

__ADS_1


__ADS_2