
Pasangan suami istri itu berada di Bali selama seminggu, wanita itu mengikuti kemanapun suaminya pergi, bahkan setelah urusan di Bali selesai, mereka sempat mampir ke resort yang berada di Lombok, selama tiga hari.
Setelahnya mereka mampir ke Malang, selain untuk bertemu Dika dan keluarga, Fernando juga memantau kondisi taman bermain yang di kelola oleh pak Imam, sekaligus memberitahukan kepada beliau, jika beberapa bulan ini, Bagus yang akan menjadi wakilnya dikarenakan Fernando akan mulai mengerjakan proyek yang ada di Lembang.
Urusan di Malang selesai, dengan menggunakan moda kereta api, mereka berangkat menuju Bandung, dari ibu kota Jawa barat itu, barulah keduanya akan menuju Lembang.
Di stasiun sudah ada mang Ujang yang telah menjemput pasutri itu menggunakan mobil operasional villa.
Mereka sempat mampir untuk makan disalah satu tempat kuliner di kota kembang itu.
Di perjalanan mang Ujang bercerita tentang rumah yang akan ditinggali oleh pasutri itu selama pengerjaan proyek berlangsung,
Sesuai permintaan Fernando, ia meminta rumah dengan dua kamar tidur, kamar mandi dengan bak mandi juga water heater, ruang tamu yang akan dijadikan ruang kerja tak lupa dapur dan ia juga meminta supaya ada tempat untuk parkir mobil.
Tak lama kemudian mobil memasuki rumah minimalis bercat hijau tosca,
Mang Ujang mengajak pasutri itu masuk, kesan pertama begitu memasuki rumah itu Rapih, sudah ada sofa berwarna cokelat dan di seberangnya ada meja kerja, juga tv LED yang menempel tepat di belakang meja kerja.
Disisi kiri ruang tamu ada dua kamar bersebelahan
Tepat dibelakang ruang tamu ada dapur, disebelah sisi dapur ada dua pintu, satu ke kamar mandi sesuai pesanan lelaki blasteran itu dan satu lagi menuju halaman belakang untuk mencuci dan menjemur pakaian.
Untuk kamar, berisi ranjang queen size juga lemari kayu tak terlalu besar, ada jendela tepat disebelah ranjang dengan gorden berwarna tosca sesuai dengan cat temboknya.
Awalnya Fernando protes karena rumahnya terlalu kecil, namun berkat bujukan istrinya, lelaki itu mau menerimanya.
Rencananya keduanya akan menetap di sana selama proyek berlangsung.
Malam harinya, Rara masih membereskan koper miliknya juga suaminya, seperti biasa lelaki itu hanya menontonnya, tak berniat membantu,
"Ra, aku mau beli mobil besok,"ujar Fernando tiba-tiba.
Rara yang sedang menggantungkan gamisnya menoleh, "memang mobil kamu yang di Jakarta nggak dibawa kesini aja,"
"Ya biarin aja di sana, aku butuh mobil yang bisa buat bawa barang,"jelas lelaki yang sedang duduk disisi ranjang tepat berhadapan dengan lemari.
"Maksud kamu mobil truk bak terbuka gitu?"tanya wanita dengan piyama motif strawberry.
__ADS_1
"Ya bukan truk, besok kamu ikut aku ya, ke showroom, kamu bantu aku pilih,"
Rara mengangguk, "lalu apa villa itu, kamu sendiri yang akan mendesign nya?"tanyanya.
"Iyalah, kan Ben lagi di pulau, dia nyuruh aku selesaikan sebelum dia kembali kesini,"jawabnya.
"Oh ya Ra, bisa nggak kamu kasih masukan soal rancangan villa yang akan direnovasi, kan kemarin kamu yang ngasih tau idenya, jadi kamu harusnya ikut merencanakannya kan,"lanjutnya,
"Kan kamu yang arsitek, itu nggak sesuai bidang aku, kalau kamu tanya soal laporan keuangan baru aku nyambung,"
"Tapi ide kamu terbukti, taman bermain yang di Malang buktinya, kamu tau pak Imam bilang, pengunjung membludak saat weekend, bahkan hari-hari biasa ada murid-murid sekolah dari luar kota berwisata di sana, bisa dibayangkan omset perhari yang kami dapatkan,"
"Alhamdulillah itu rejeki mas, untuk renovasi villa aku bantu deh, tapi ada syaratnya,"
"Apa?"
"Sebelum mulai pembangunan aku, ijin sama kamu tiga hari untuk pulang ke ibu kota,"
"Ya udah bareng aku aja,"
"Mas, kan kamu disini ada kerjaan, aku berangkat sendiri aja,"
Rara memutar bola matanya malas, rencananya ingin mengunjungi Mbah Sarmi akan tertunda karena suaminya melarangnya.
Keesokan harinya, Fernando mengajak istrinya membeli mobil disalah satu showroom di Bandung.
Begitu memasuki showroom, lelaki itu langsung tertarik dengan mobil pickup berwarna hitam, namun Rara justru berpendapat memilih warna putih, sempat terjadi perdebatan sedikit, dan akhirnya keduanya setuju memilih warna merah terang,
Fernando memberikan kartunya, dan meminta kepada pihak showroom untuk mengurusnya segera, ia membeli mobil atas nama istrinya.
Usai dari showroom, keduanya berjalan-jalan sejenak di kota kembang itu, tak lupa mencoba kuliner yang ada di sana.
Sebelum pulang, Fernando membeli keperluan untuk menggambar design villa, meskipun bisa menggunakan laptopnya, tetap saja untuk menjelaskan kepada mandor atau kuli tentang konsepnya di lokasi proyek, ia harus menerangkannya dalam bentuk cetak biru.
Hari berikutnya, Alex dan Rama datang, hanya berdua tidak bersama wanita mereka.
Ketiga sahabat itu membicarakan soal renovasi villa, Fernando menunjukan contoh design yang dibuatnya sejak ia berada di Bali beberapa hari yang lalu, meskipun belum sempurna,
__ADS_1
Rama menyetujuinya begitu juga Alex yang sudah menyuruh orangnya untuk mengurus masalah perizinan.
Tak ada Rara bersama mereka, wanita itu sedang bersama istri mang Ujang, di kebun strawberry mini, yang masih di dalam area villa.
Wanita berhijab itu antusias saat melihat buah kesukaannya yang siap panen.
Dari lantai dua ketiga lelaki yang sudah menyelesaikan diskusinya berbicara sambil melihat gerak-gerik wanita berhijab itu.
"Do, Lo tau nggak, bini Lo bakal menyediakan tempat buat Sinta kabur, kalau misal citra masih gangguin rumah tangga gue, dia bahkan mendukung, bini gue buat pisah dari gue, benar-benar bahaya bini Lo, maka dari itu, Sinta nggak gue ajak kemari, ngeri doktrin dari bini Lo,"ungkap Rama, teringat tempo hari istrinya mengungkapkan dengan jujur apa yang dibicarakan ketiga wanita itu.
"Sama do, Sandra juga gitu, tapi dia bilang nggak mau ikut, karena Xander harus sekolah,"Alex ikut angkat bicara.
"Maka dari itu, dia bakal gue bawa kemanapun gue pergi,"ujar Fernando.
"Pokoknya jangan sampai itu cewek bertiga di pegangin duit banyak-banyak,"usul Rama.
"Bener tuh, bisa-bisa mereka lari dari kita,"sela Alex.
"Kita??? Gue sama Rama aja kali, nggak pake Lo, emang abis resmi menjanda, Sandra mau balikan sama mantannya?"ejek Fernando.
"Harus mau lah, kalo nggak Xander gue bawa ke luar negeri,"ujar Alex.
"Emangnya Xander mau sama Lo? Kan dia taunya bapaknya ya si Ferdi,"tanya Rama.
"Gue kasih ujuk hasil tes DNA aja, ada tuh masih gue simpen di brankas,"jawab pengacara berusia tiga puluh tiga tahun itu.
"Yang namanya perempuan bener, bisa aja dia jauh dari kita, tapi paling nggak bisa jauh dari anak, beda Sama laki-laki yang justru nggak bisa jauh dari bininya, kelemahan terbesar seorang ibu adalah anaknya,"lanjutnya.
"Berarti gue mesti cepat-cepat hamilin Rara kali ya, biar dia nggak ada alasan ninggalin gue,"ungkap Fernando.
"Lo baru ketemu Amara lagi do, terus nikah belum sampai sebulan, ya belum jadi kali,"ujar Rama.
"Tapi gue nggak pernah pakai pengaman setiap kali main,"
"Ya mudah-mudahan langsung jadi,"Alex mendukungnya, "btw apa abis Sandra ketok palu, gue hamilin aja ya, tapi kayaknya dia pasang kontrasepsi deh, masa nikah belasan tahun sama Ferdi nggak nambah anak, udah gitu pas gue main lagi sama dia, masa rasanya sempit banget, padahal kan ada lakinya ya, Sandra kayak nggak pernah di pake,"ungkapnya frontal.
"Lo selidiki lah, pake tuh detektif handal Lo, Korek-korek kenapa bisa gitu,"saran Rama.
__ADS_1
Obrolan mereka terus berlanjut, membahas hal random tentang kehidupan masing-masing.