
Pasangan suami istri itu baru tiba di rumah kontrakan mereka keesokan malamnya,
Keduanya langsung istirahat usai membersihkan diri.
Baru tiga hari di sana, umi Fatimah dan Mamang Hendi datang, katanya mereka pergi ke Jakarta terlebih dahulu mengantarkan Nicholas yang ingin menjenguk mommy-nya,
Ketika bertemu dengan menantunya, Umi Fatimah memeluk juga berterima kasih pada istri dari putera semata wayangnya,
"Nando udah ceritakan soal ide kamu menambahkan fasilitas yang ada di villa milik umi, tidak disangka menantu umi pintar membaca peluang, sebenarnya teman-teman umi sempat menanyakan soal fasilitas untuk pesta pernikahan dengan tema kebun gitu, katanya mereka ingin mengadakan resepsi di villa milik umi dan villa itu tidak jauh dari ibukota, makasih ya sayangnya umi, rencananya umi akan mulai penambahan fasilitas dari ide yang kamu berikan bulan depan, mamang udah ngomong sama tukang langganan kami,"ungkapnya antusias, ketika baru sampai di rumah kontrakan anak dan menantunya.
"Rara hanya ngasih masukan sedikit sama mas Nando mi, nggak lebih kok,"ujarnya merendah.
Umi Fatimah mengelus lengan menantunya, "Ra, Nando beruntung mendapatkan istri seperti kamu loh, umi bersyukur dan umi mohon jangan tinggalkan anak umi ya!"bujuknya.
"Iya umi, Rara nggak akan meninggalkan mas Nando,"ucapnya meyakinkan mertuanya.
Rara lupa menyajikan minuman untuk mertuanya, ia bergegas ke dapur untuk membuatkan teh hijau kesukaan wanita paruh baya itu.
Tadi mamang Hendi langsung diajak Fernando menuju villa yang sedang direnovasi, katanya akan membahas soal fasilitas tambahan di villa milik umi,
Beralih ke menantu dan mertua, keduanya sedang membicarakan tentang Tamara, yang masih saja tidak menghormati umi Fatimah, ketika mertuanya menjenguk mantan pacar anaknya.
"Oh ya, Umi sampai lupa, ingat sebelum kamu ketemu Tamara, kamu membeli apa di apotek?"ucapnya mengingatkan menantunya.
Rara mengernyit bingung, ia mencoba mengingat kejadian hari itu, saat ia dan mertuanya membuat kue bersama, umi Fatimah mengingatkan soal kehamilannya,
"karena waktu itu aku terkejut dengan kedatangan mbak Tamara dan Nicholas, jadi belanjaan aku tertinggal di kursi saat aku menguping pembicaraan mereka,"ujarnya sambil menepuk keningnya pelan.
Umi Fatimah hanya menggelengkan kepalanya, salah satu kekurangan menantunya adalah tidak peka dengan keadaannya sendiri,
"Mumpung masih jam segini lebih baik kita ke rumah bidan diujung jalan sana, sekalian diperiksa, kamu ini, kebiasaan lama nggak pernah berubah,"
"Maaf umi, Rara lupa, kalau gitu aku ambil tas dulu,"
__ADS_1
Menantu dan mertua itu berjalan beriringan menuju rumah sekaligus tempat praktek bidan, sambil membicarakan soal rencana renovasi villa milik wanita paruh baya itu, hingga mereka tiba di tempat praktek bidan.
Rara banyak ditanya tentang kapan terakhir ia mendapatkan tamu bulanan, Rara mengaku terakhir kali ia menstruasi sekitar tiga bulan yang lalu,
Lalu Rara diminta untuk ke toilet memeriksa urin dengan testpack berbentuk stik yang diberikan bidan bernama Lilis.
Tak lama kemudian Rara memberikan stik itu kepada bidan Lilis setelah ia selesai buang air kecil di toilet,
Tadi saat di toilet garisnya belum terlalu jelas, namun sekarang bisa dilihat jika dua garis merah pada stik itu sangat jelas terlihat,
Melihat itu umi Fatimah langsung memeluk menantunya, mata wanita paruh baya itu berkaca-kaca, ini air mata kebahagiaan dari seorang mertua untuk menantunya.
Bidan menjelaskan jika Rara tengah hamil dua belas Minggu, tentu saja itu membuatnya terkejut,
"Bu bidan saya baru menikah sekitar dua setengah bulan yang lalu, kenapa saya malah hamil dua belas minggu, berarti kandungan saya sudah tiga bulan ya?"tanya Rara heran,
"Nyonya Amara, umur kandungan dihitung berdasarkan hari pertama menstruasi terakhir, jadi memang seperti itu, anda dan suami sama-sama subur,"jelas bidan Lilis,
"Emang gitu Ra, jadi kamu nggak usah khawatir kalau kamu hamil di luar nikah,"ujar Umi Fatimah menerangkan,
"Kalau Nyonya kurang yakin, anda bisa melakukan USG di rumah sakit, nanti saya kasih rujukan buat ke poli kebidanan,"ungkap bidan dengan perawakan sedang itu.
"Boleh itu Bu bidan, sekalian ajak anak saya,"bukan Rara yang jawab tapi umi Fatimah,
Bidan itu mulai menulis surat rujukan untuk Rara, "ini saya beri rujukan ke rumah sakit terdekat, lalu ada vitamin juga obat penambah darah, jangan lupa diminum ya, mulai sekarang makan makanan sehat yang baik untuk perkembangan janin, sebaiknya hindari makanan yang dibakar, lalu untuk hubungan suami istri sebaiknya dilakukan lebih hati-hati, karena usia kandungan anda masih rentan keguguran,"jelas Bidan Lilis panjang lebar.
"Terima kasih Bu bidan,"ungkap Rara juga umi Fatimah hampir bersamaan, setelah menerima dua jenis obat dan selembar surat rujukan dari bidan itu, juga testpack dua garis itu, tak lupa membayar biaya jasa dan obat,
Sepanjang perjalanan pulang senyum mengembang menghiasi wajah perempuan paruh baya itu, tak henti ia bersyukur karena akan diberikan anugrah cucu dari menantu kesayangannya itu.
"Ra, umi pernah berjanji sama diri umi sendiri, jika menantu umi hamil lagi, umi mau mengadakan santunan anak yatim disekitar rumah umi di Sukabumi,"ungkapnya dengan senyum mengembang,
Rara tersenyum mendengarnya, "iya umi, nanti kalau bisa Rara sama mas Nando akan datang,"
__ADS_1
"Anak umi pasti seneng banget dengernya, ini yang Nando harapkan dari dulu, lalu kamu harus lebih hati-hati ya Ra, terus jangan stres dengan masalah yang kalian hadapi saat ini, apapun yang terjadi, umi akan selalu berusaha membela dan melindungi kamu,"
Rara mengangguk dan berucap terima kasih,
Keduanya sempat berbelanja susu untuk ibu hamil di minimarket yang ada didepan komplek, tak lupa membeli buah-buahan diperjalanan pulang.
Tadi keduanya sempat memakan ice cream strawberry di bangku depan minimarket, sehingga mereka baru sampai rumah usai azan Dzuhur berkumandang,
Di teras ada wajah Fernando yang terlihat panik dan ditenangkan oleh mang Hendi,
Setelah mengucapkan salam, umi Fatimah bertanya kepada putra semata wayangnya, "kamu kenapa panik gitu Fernando?"
"Umi, Rara kok nggak ada di rumah? Apa Rara ninggalin Nando?"tanya lelaki blasteran itu.
Umi Fatimah tersenyum, lalu menunjuk menantunya yang baru saja memasuki pintu gerbang,
Tadi Rara mengantarkan buah untuk tetangga sebelah rumah terlebih dahulu,
Fernando yang melihat kedatangan istrinya langsung berjalan cepat dan merengkuh tubuh istrinya,
"Kamu kemana aja sih Ra, aku panik banget, pas tau kamu nggak ada di rumah, ponsel juga nggak kamu bawa, aku takut kamu pergi lagi ra,"bisik Fernando masih memeluk istrinya.
"Jangan kencang-kencang meluknya, malu sama umi dan mang Hendi, aku juga sesak mas, lepas dulu napa,"ujar Rara berusaha melepaskan rengkuhan dari suaminya.
Fernando melepaskan pelukan itu, tak lupa mencium kening istrinya terlebih dahulu,
Wajah Rara memerah malu, suaminya seperti tidak tau tempat,
Umi Fatimah mengajak Fernando, Rara dan Hendi untuk masuk ke dalam rumah, katanya ada yang mau dibicarakan.
Mereka duduk di ruang makan, umi Fatimah memberikan segelas air minum hangat untuk menantunya, lalu duduk diseberang menantu dan putranya.
Wanita paruh baya itu menyuruh menantunya untuk memberikan yang tadi diberikan bidan Lilis, dan Rara menurutinya, ia mengambilnya di saku gamis miliknya, lalu meletakkannya di meja tepat didepan suaminya.
__ADS_1
Awalnya Fernando mengernyit bingung, namun setelahnya senyum mengembang menghiasi wajah tampannya, rasa syukur tak henti ia ucapkan,
Harapannya sedari dulu, akhirnya akan terwujud, ia akan memiliki anak dari perempuan yang ia cintai.