
Usai menyelesaikan panggilan video kepada calon kakak iparnya, Fernando tersenyum,
"Jadi Rara sayang, kapan sebaiknya kita menikah? Apa kamu punya permintaan khusus dalam menentukan tanggal pernikahan kita?"tanya lelaki itu.
"Aku pikir tiga tahun cukup kamu bisa melupakan aku, kenapa sih kamu belum menikah dengan wanita yang setara sama kamu? "
"Memangnya kamu rela aku nikah sama perempuan selain kamu?"
Rara mengalihkan pandangannya, ia tak mau menatap lelaki itu.
"Kenapa kamu nggak jawab? Sekali lagi aku tanya, memangnya kamu rela aku menikah sama perempuan lain?"
"Kenapa kamu nanya begitu sih?"
"Aku hanya ingin tau saja, memangnya tidak boleh,"
"Aku nggak mau jawab,"
"Ra, selama tiga tahun ini, aku bahkan menahan diri tidak tidur dengan wanita manapun, aku menahan hasrat aku, kamu tau, kata umi, selama kita berpisah, aku harus berusaha memantaskan diri untuk jadi pendamping wanita baik-baik seperti kamu, aku ingin menikah hanya seumur hidup sekali,"
"Meskipun banyak godaan tentunya, kamu tau kan setiap aku berkunjung kemanapun, ada saja perempuan yang mendekati aku, kamu ingat Cristy bukan, setahun yang lalu, dia masih membujuk aku untuk kembali sama dia, tapi setiap aku dekat dengan mereka, aku selalu ingat kamu juga kata-kata umi,"
"Ra, apa tidak cukup bagi kamu untuk yakin bahwa aku layak buat kamu, perjanjian kita hanya setahun, sedangkan kita berpisah tiga tahun lamanya kalau kamu lupa, apa kamu tidak bisa menghargai usaha aku?"
"Baiklah mas, kasih aku waktu seminggu lagi, aku harus menanyakan hal ini kepada kakak-kakak, nanti aku hubungi kamu dulu,"
"Ra nggak bisa sehari aja gitu, lagian kamu dengarkan tadi kakak kamu bicara apa?"
"Oke tiga hari aku kabari kamu, jadi lebih baik kamu pulang, aku mau membereskan rumah aku,"
"Tapi Ra,"
"Lagian kamu mau ngapain di rumah aku? Kamu kan nggak bisa bantu aku bersih-bersih rumah,"
"Bayar orang aja Ra,"
"Rumah ini kecil mas, aku masih bisa ngerjain sendiri,"
"Tapi Ra aku masih kangen sama kamu,"
"Mas, nanti kalau mobil kamu dicuri gimana?"
"Ya tinggal beli lagi,"
"Mas katanya kamu bakal jadi gembel karena di pecat sama suaminya Dia, aku juga baru saja di pecat sama dokter Oscar, terus kalau kita sama-sama jadi pengangguran, kita makan apa?"
Fernando tertawa, "aku nggak semiskin itu Ra, jadi tolong ijinkan aku tetap disini,"
Sebenarnya Rara lelah sekali harus berdebat dengan lelaki ini, tapi sepertinya ia akan kalah, dan ia hanya bisa pasrah,
"Ya udah kamu tidur sana di kamar aku, didekat tangga pintu warna merah jambu,"
Senyum mengembang menghiasi lelaki itu, ia bangkit dan masuk kedalam serta menaiki tangga menuju kamar milik wanita itu.
Rara menghela nafas, setelah memastikan tak ada pergerakan juga suara dilantai atas, Rara membuka pashmina nya, ia berganti baju rumahan untuk memulai pekerjaan rumah.
Ia mulai menyapu, mengepel lantai, ia juga mencuci piring di wastafel yang ia tinggalkan kemarin pagi sebelum berangkat bekerja, cucian baju juga sudah menumpuk, karena sudah tiga hari tidak dicucinya.
Rumahnya tak banyak perabotan, hanya ada kompor beserta perlengkapan masak yang ia beli dadakan, peralatan makan yang sedikit juga kulkas mini yang ia beli dari tetangganya yang membutuhkan uang beberapa hari lalu,
Mencuci juga ia harus menggunakan tangan, karena tak ada mesin cuci di rumah itu.
Terlalu asyik mengerjakan rumah, ia lupa jika sedari siang ia belum makan, terakhir pagi tadi makan mie ayam bersama Dia juga kue-kue dari Tante Arini.
Perutnya berbunyi, lapar sekali, ia segera menyelesaikan pekerjaannya.
Ia mengangkat Ember cucian menuju lantai atas untuk segera di jemur,
__ADS_1
Sekitar lima menit lebih, ia baru menyelesaikan acara menjemurnya, ia memasuki kamarnya, ada lelaki yang tidur tengkurap hanya mengenakan bokser, kebiasaan yang tidak berubah.
Rara duduk disisi kasur, ia menepuk lengan Fernando, "mas bangun, kamu mau makan apa? Aku mau pesankan,"
Fernando membuka matanya, tercium aroma strawberry, juga sarung bantal bermotif strawberry, ia ingat sedang berada dikamar wanita yang ia cintai.
Lelaki itu bangkit sambil mengucek matanya, lalu melihat jam yang melingkar di tangan kirinya, waktu menunjukkan pukul setengah empat sore,
"Apa sih sayang? Aku masih ngantuk,"
"Kamu mau makan apa? Kita belum makan dari siang loh,"ucap Rara sambil mengutak-atik ponselnya.
Fernando menyandarkan kepalanya di bahu calon istrinya, "Apa aja sayang,"
"Aku pesan ayam bakar aja ya!"
Lelaki itu mengangguk, ia mulai memeluk pinggang ramping Rara, sepertinya wanita itu tidak menyadari kelakuan Fernando,
Rara terlalu serius dengan ponselnya, bahkan saat lelaki itu dengan perlahan memangkunya.
Hingga sesuatu yang keras menusuk bagian belakang bawahnya, Rara menunduk, tangan besar milik Fernando melilit di pinggangnya.
"Apa yang kamu lakukan? Lepaskan aku?"Rara memberontak.
"Sayang bisa diam nggak, kamu menyiksa aku,"
"Makanya lepaskan aku, "
"Ra dikit aja, kepala aku pening, tolong bantu aku,"
"Jangan gila mas, dosa aku nggak mau,"
"Kalau gitu cium aja deh,"
"Aku nggak mau mas,"
"Aku nggak mau mas, dosa,"tolak Rara kekeh.
Fernando yang tak sabar menidurkan Rara di atas kasur ia menindihnya, tanpa banyak bicara ia mulai mencium bibir, yang tiga tahun ia hanya impikan.
Melalui ciuman itu ia mengungkapkan rasa rindu sekaligus hasrat yang besar.
Rara yang awalnya memberontak, lama-lama terbuai juga,
Keduanya berciuman dengan panasnya,
Fernando dengan hasratnya yang begitu besar tak bisa menahannya lagi, tanpa banyak bicara, tanpa melepaskan ciuman itu, ia menyingkap dasterĀ panjang milik Rara,
Wanita yang sudah terbuai itu, seolah tak menyadari apa yang sudah lelaki itu lakukan.
Saat sesuatu yang keras menerobos bagian bawahnya, Rara membulatkan matanya, ia memberontak namun tenaga Fernando tentu tak bisa ia tandingi, ingin berteriak tapi mulutnya dibungkam oleh bibir lelaki itu.
Tidak sampai sepuluh menit, Fernando menumpahkan benihnya.
Keduanya terengah-engah, sambil bermandikan peluh,
Lelaki itu mencium kening Rara, dan membisikan ucapan terima kasih.
Ia melepaskan tautan itu,
"Apa kamu gila? Kan kita nggak boleh melakukan ini lagi,"ucap Rara masih terengah-engah,
Tidak menjawab, Fernando justru mengecup bibir wanita itu,
"Aku mau pakai kamar mandi sama pinjam handuk ya!"ujarnya sambil kembali memakai celana bokser nya.
Rara bangkit membenarkan dasternya yang tersingkap, saat ia berdiri ada sesuatu yang mengalir di bawah sana, ia melototi Fernando,
__ADS_1
"Apa sayang? Mau lagi?"tanya lelaki dengan senyuman yang menurut Rara sangat menyebalkan.
Dengan menahan bagian bawahnya, ia membuka lemari mengambil handuk baru untuk lelaki itu.
Wanita itu berlari menuju lantai bawah, menuju kamar mandi.
Melihat itu, Fernando tertawa, lucu sekali wanitanya, namun ia lega, setelah tiga tahun menahan hasratnya, akhirnya ia bisa menyalurkannya, meski harus melakukannya dengan cepat.
Rasanya nikmat tiada tara, ingin melakukannya lagi, tapi ia harus menahannya untuk sementara.
Hampir sepuluh menit, Fernando menunggu wanitanya mandi, hingga pintu diketuk, terdengar ojol mengantarkan makanan.
Ia hanya mengenakan bokser bergegas memakai kemejanya asal juga celana nya, ia mengambil dompet, lalu membuka pintu cokelat itu, ia memberikan uang yang disebutkan oleh ojol.
"Apa itu ojek yang mengantarkan makanan?"tanya Rara dengan rambut yang dibungkus handuk dengan baju serba panjang berwarna hijau lumut.
Fernando menunjukan paper bag,
"Ya udah kamu mandi dulu sana," ucap wanita itu cemberut.
Sepuluh menit berlalu, Fernando keluar kamar mandi sambil menggosok rambut cokelatnya, tentu saja setelah berhubungan intim ia harus mandi junub bukan.
Rara telah menyiapkan makanan yang dipesannya, keduanya makan diruang tamu.
"Kamu sengaja ya!"ujar Rada disela-sela keduanya makan.
"Salah kamu lah, membangunkan singa yang lagi tidur, tiga tahun aku nggak gituan Ra, wajar dong aku bergairah ketika lihat kamu pakai daster tipis,"
"Kok aku, kan aku bangunin karena mau nawarin kamu makan,"
Fernando hanya tersenyum.
Namun saat ditengah-tengah keduanya menikmati hidangan, pintu rumah diketuk,
Fernando berinisiatif membukanya, terlihat ada beberapa orang tepat didepan pintu.
"Bisa saya bantu?"tanya Fernando ramah.
"Anda siapanya Rara?"tanya salah satu lelaki berkaos kuning.
"Saya calon suaminya, ada yang bisa saya bantu?"
"Bukankah Rara hanya sendiri di rumah? Kenapa kalian hanya berdua?" Protes lelaki dengan baju batik.
"Apa tidak boleh saya berdua dengan calon istri saya?"tanya balik lelaki blasteran itu.
"Kalian belum menikah, tentu saja itu tidak diperbolehkan,"
Fernando menaikan sebelah alisnya, "oke, lalu apa mau kalian?"
"Jangan tutup pintu rumah, supaya kami para tetangga bisa mengetahui apa yang kalian berdua lakukan,"
"Baiklah, tak masalah,"
Setelah semua orang pergi, Fernando kembali duduk melanjutkan makannya,
"Tuh kan kena grebek, aku malu tau,"ujar Rara yang sudah menyelesaikan makannya.
"Aku malah seneng di grebek, kan aku jadi bisa nikahi kamu secepatnya, harusnya kita tadi melakukannya disini ya! Biar mereka tau kita sedang berbuat mesum,"
Rara menggelengkan kepalanya, "kenapa senang cari masalah sih mas?"
"Kan masalahnya buat aku cepat nikah sama kamu, itu yang aku harapkan,"
"Jangan gila kamu mas,"
Fernando tak menanggapi ucapan wanitanya, ia lebih memilih menghabiskan makanannya.
__ADS_1