Istri Untuk Fernando

Istri Untuk Fernando
lima puluh sembilan


__ADS_3

Kereta sampai di kota Malang pukul lima pagi, sudah ada Dika yang menunggu adiknya untuk dijemput dan dibawa pulang ke rumah orang tuanya.


Awalnya Fernando protes, tapi umi mengancam akan menarik restunya jika putranya itu masih tetap ngotot ingin bersama Rara.


Dengan terpaksa Fernando bersama umi Fatimah menaiki taksi menuju hotel yang tak jauh dari rumah Rara, tak lupa tadi ia memberikan berkas syarat pernikahan kepada Dika.


Sesampainya di rumah sudah ada Andi, Anisa juga Laras istri dari Dika, mereka berempat menyidang adik bungsunya usai Rara melaksanakan shalat subuh terlebih dahulu.


"Kenapa bisa sih dek, ketemu dia lagi? Udah bagus tiga tahun kamu aman,"tanya Andi.


"Maksud mas nyuruh kamu ke Jakarta, buat nempatin rumah ibu bukan malah menemui lelaki itu dek?"Dika ikut bicara.


"Kamu kenapa mau di rayu lagi sama dia sih dek? Terus tiga tahun kamu belajar sama Fitri dan ustadzah di kampung jadi sia-sia dong," kali ini Anisa yang berucap.


Sementara Laras hanya bisa diam melihat Rara, bagaimanpun adik bungsu suaminya, sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri.


Rara menunduk dalam, tak berani menatap keempat orang yang sedang menyidangkannya.


"Mas pikir kemarin pas dia video call, dia hanya bergurau, tapi melihat wajah kamu, mas sudah bisa menebak apa yang terjadi, kamu nggak ingat tiga tahun yang lalu kamu mendapatkan musibah, itu akibat dosa kamu dek, harusnya kamu nggak mengulangi dosa yang sama, sekarang dia mengaku sendiri sudah meniduri kamu lagi bahkan mengancam kami, jika tidak menikahkan kalian, dia akan membawa kamu lari keluar negeri," ungkap Andi kesal.


Giliran Anisa angkat bicara, "dek, kondisi keluarga kita berbeda sekali dengan dia, kamu tau kan orang kaya biasanya seperti apa? Memang umi Fatimah cukup sederhana dan biasa saja, tapi anaknya beda jauh dek, mbak tuh takut kamu disakiti oleh dia, kamu sudah dua kali gagal menikah, jangan sampai kalau kalian menikah, kalian sampai bercerai,"


Dika memegangi tengkuknya yang mendadak tegang memikirkan kelakuan adiknya, "dek, karena ini mendadak, kami tidak bisa menyiapkan pesta buat merayakan pernikahan kamu, paling mbak Anisa dan mbak Laras yang nantinya akan masak buat dibagikan sama tetangga sekitar, jadi sebelum akad, kamu harus di rumah, ponsel kamu mas sita, besok saat suntik di puskesmas, mas yang antar sebisa mungkin jangan berinteraksi dengan lelaki itu secara langsung, kamu mengerti dek?"Dika menegaskan, dan Rara hanya mengangguk menuruti.


Lalu Laras mempersilahkan adik iparnya untuk segera beristirahat dikamar.


Siang harinya sebelum tengah hari, Dika mengajak adiknya untuk suntik di puskesmas yang tak jauh dari rumah.


Di sana keduanya bertemu dengan Fernando juga Umi Fatimah, namun sebisa mungkin Dika menghindari interaksi dengan calon iparnya.


Tentu saja Fernando cemberut, ia kesal sekali, calon kakak iparnya tidak mengizinkan dirinya dekat dengan Rara.


Karena mendadak, dan tak ingin diganggu sahabat-sahabatnya, Fernando sengaja mematikan ponselnya, ia berkomunikasi dengan Bagus asistennya menggunakan ponsel milik uminya.


Fernando menyuruh asistennya untuk datang ke Malang, menjadi saksi pernikahannya esok hari, tak lupa membawakan perhiasan yang sedari tiga tahun yang lalu sudah ia siapkan sebagai mahar untuk meminang pujaan hatinya.

__ADS_1


Fernando juga meminta tolong pada orang-orang yang mengelola taman bermain yang ia resmikan dua tahun lalu untuk turut hadir dalam acara pernikahannya.


Malamnya, Fernando, umi Fatimah, Bagus yang baru datang sejam yang lalu, juga manager taman bermain dan juga asistennya datang ke rumah orang tua Rara, untuk melamar wanita itu,


Andi sebagai kakak tertua, menyambut kedatangan keluarga besan bersama Dika, RT juga saudara mendiang bapak mereka.


Anisa dan Laras memasak sendiri hidangan yang akan di sajikan.


Dari pihak Fernando ada manager taman bermain yang berumur empat puluhan bernama pak Imam bertindak sebagai wakil keluarga, mau bagaimana lagi waktunya tidak memungkinkan, memberitahukan berita ini kepada keluarga Vatre yang ada di Jerman.


Acara lamaran berjalan lancar, Fernando memberikan uang sebesar seratus juta rupiah, bukan untuk mahar, hanya untuk keluarga saja, sedangkan mahar, akan diberikan esok saat acara akad.


Fernando sama sekali tidak bisa berinteraksi dengan Rara, lagi-lagi gara-gara calon kakak iparnya yang membatasinya.


Jam sembilan lewat, Fernando dan rombongan meninggalkan rumah orang tua Rara.


Keesokan paginya setelah subuh, Rara sudah bersiap untuk didandani oleh Laras, istri Dika itu berprofesi sebagai perias pengantin, sedangkan untuk gaun pengantin, gaun sewaan yang biasa disewakan Laras untuk pelanggannya.


"Seadanya ya dek, lagian calon suamimu maunya nikah dadakan si, jadi ya nggak sempat buat gaun, padahal uang yang dikasih banyak loh,"ujar Laras sambil mendadani Adik iparnya.


Pukul sepuluh pagi, rombongan keluarga Rara sudah sampai di KUA, di sana sudah ada pihak Fernando yang menunggunya.


Setelah memeriksa berkas kelengkapan syarat menikah, penghulu mempersilahkan calon mempelai laki-laki berhadapan dengan wali nikah Rara yang tak lain adalah Andi, sedangkan saksi dari pihaknya adalah pak RT bernama pak Rusli dari pihak Fernando pak Imam bertugas sebagai saksi.


Rara bersama Anisa dan Laras di ruangan sebelah, mendengarkan kalimat akad yang diucapkan lelaki blasteran itu.


Dengan mahar satu set perhiasan bertahtakan berlian dan uang tunai sebesar lima ratus juta, Fernando mengucapkan kalimat akad dengan satu tarikan nafas, penghulu menanyakan kepada saksi tentang sahnya akad nikah itu, dengan lantang, saksi dan hadiri menjawab Sah dengan semangat,


Terdengar ucapan syukur dadi orang-orang yang menghadiri acara akan nikah itu.


Rara dituntun oleh kedua kakak iparnya menuju lelaki yang sudah sah menjadi suaminya.


Fernando terpana melihat istrinya didandani ala pengantin wanita, ia mengedipkan matanya seolah tak percaya dengan penglihatannya, Amara terlihat sangat berbeda, wanita yang kesehariannya hanya mengenakan bedak tipis dan lip glos, kini memakai full make up.


Hingga umi Fatimah menepuk lengan putranya, agar Fernando tersadar dari lamunannya, "biasa aja do, liatin istrinya sampai segitunya,"bisiknya.

__ADS_1


Rara yang sedari menunduk lalu mengangkat kepalanya bertatapan dengan lelaki yang telah sah menjadi suaminya,


Lelaki itu terlihat berbeda, dengan jas hitam dan dasi kupu-kupu juga rambut tertata rapih, semakin menambah ketampanan lelaki bermata hijau itu.


Rara mencium tangan suaminya, lalu Fernando mencium kening istrinya penuh kasih sayang.


Penghulu membacakan doa untuk pengantin, setelahnya kedua mempelai menandatangi buku nikah dan akta nikah.


Semua momen diabadikan oleh Bagus melalui kamera milik bosnya.


Tak lupa keduanya memakai cincin yang sama seperti tiga tahun lalu, Rara yang memintanya,


Usai acara akad selesai, rombongan menuju rumah orang tua mempelai perempuan, mereka akan berkumpul dengan para saudara dan tetangga sekitar,


Untung saja ada katering yang mau menyanggupi menyediakan hidangan untuk acara dadakan itu.


"Bos kalau Ben tau, Lo ngadain nikahan kayak gini, bisa diledekin Lo,"bisik Bagus ketika rombongan pengantin baru saja tiba di rumah mempelai perempuan.


"Sama aja Gus, Ben juga nikahnya cuma di KUA, walau ada hajatan di rumahnya Ayu,"balas Fernando berbisik.


"Ben kayak gini juga bos, Lo berdua benar-benar sebelas dua belas ya! Terus duit Lo yang seabrek buat apaan? Punya resort kaga dimanfaatkan buat acara nikahan, giliran ngadain acara nikahan orang lain totalitas banget, giliran nikahan sendiri sederhana banget,"


"Yang penting sah, sekarang gue udah punya bini,"


"Lo nyindir gue bos?"


"Emang Lo ngerasa tersindir?"


"Kapan Lo nggak ngeselin sih bos?"


"Pas gue kasih Lo bonus gede, dan Lo nyengir sampai gigi Lo garing,"


"Untung bos,"


Fernando mengangkat bahunya Lalu berjalan menuju istrinya yang sedang bersama umi dan para kakak-kakaknya.

__ADS_1


__ADS_2