Istri Untuk Fernando

Istri Untuk Fernando
delapan puluh sembilan


__ADS_3

Fernando sampai di rumah milik Benedict dan Ayudia, menurut maid yang sedang membersihkan ruang tamu, Rara bersama si kembar di ruang bermain.


Senyum mengembang menghiasi wajah Aileen, balita itu sangat senang dengan kedatangan Fernando,


Balita yang sudah pandai bicara itu, sempat protes karena Fernando jarang mengunjunginya, lelaki itu beralasan sedang sibuk dengan pekerjaannya di luar kota.


Fernando melirik istrinya yang sedang mengajari Ainsley menyusun puzzle, ia tau wanita itu masih merajuk soal kebohongannya tentang Ayudia.


Hingga jam makan malam tiba, Anna mempersilahkan suami istri itu untuk makan malam bersama,


Seperti biasa Aileen akan selalu menempel pada Fernando, lelaki itu dengan telaten menyuapi balita perempuan itu,


Ainsley tak mau kalah, balita yang biasa pendiam, justru meminta pada Rara untuk menyuapinya,


Anna hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan kedua cucunya, mungkin karena keduanya merindukan sosok orangtuanya.


Mata wanita paruh baya itu berkaca-kaca, ia senang akhirnya ada sedikit kebahagiaan yang menghampiri kedua cucunya.


Anna meminta sahabat dari anak dan menantunya untuk menginap,


Tentu saja keduanya tidak keberatan, hal itu disambut antusias oleh kedua balita itu.


Menjelang tidur setelah si kembar membersihkan diri, Rara berada ditengah-tengah kedua balita itu, membacakan cerita teladan nabi, tak lupa mengajari mereka doa sebelum tidur,


Fernando yang duduk di sofa kamar si kembar sambil memeriksa pekerjaannya, tersenyum sendiri membayangkan jika nantinya anaknya telah lahir, mungkin akan seperti ini, Rara akan menjadi ibu yang baik untuk anak-anaknya kelak.


Setelah memastikan kedua balita itu tertidur lelap, Rara bangkit, ia butuh ke toilet untuk mengosongkan kandung kemihnya.


Hingga Rara menyelesaikan hajatnya, Fernando mengajaknya bicara di kamar sebelah, kamar yang memang disediakan untuk mereka.


"Ada apa mas? Aku mau tidur bareng si kembar, nanti malam takutnya mereka terbangun,"ucap Rara dengan suara pelan saat keduanya baru memasuki kamar sebelah.


"Ra, aku mau minta maaf soal aku yang menyembunyikan fakta soal keadaan Ayu, saat itu aku takut kamu marah dan meninggalkan aku, maka dari itu aku berbohong sama kamu, aku nggak mau kehilangan kamu lagi,"jelas Fernando.


Rara menghela nafas, ia memilih duduk di sisi ranjang, "udah lewat mas, sebenarnya aku marah banget sama kamu, tapi aku sadar, kamu sampai begitu karena salah aku juga, gara-gara aku menghilang  kamu jadi seperti itu, aku harap ini jadi yang terakhir kamu bohong sama aku, lebih baik pahit diawal dari pada nantinya jadi bom waktu yang akan menghancurkan segalanya,"


Fernando juga menceritakan semua pembicaraannya dengan Tamara tadi siang menjelang sore, tak ada yang terlewat,

__ADS_1


"Lalu apa kamu tidak ingin kembali sama dia?"tanya Rara usai mendengar cerita suaminya,


"Harusnya kamu udah tau jawabannya Rara sayang,"jawab Fernando.


Rara menghela nafas, "mas setelah urusan dengan mbak Tamara selesai, kira-kira ada lagi nggak ya, perempuan yang meminta pertanggungjawaban kamu? Aku mau menyiapkan metal dulu, apa lagi aku lagi hamil dan nggak boleh stres,"


"Rara sayang, apapun masalahnya nanti, aku pastikan hanya kamu disisa hidup aku dan aku tak akan berbagi ra,"ucap Fernando tegas.


"Oke aku pegang omongan kamu, lalu bisakah untuk sementara aku tinggal disini, untuk membantu Tante Anna merawat si kembar, kamu bisa menyelesaikan pekerjaan kamu, ya itung-itung menebus rasa bersalah aku sama Dia,"


"Tapi sayang, kamu lagi hamil dan nggak boleh kecapekan, sementara si kembar lagi aktif banget,"


"Tapi aku bosan jika hanya diam saja di rumah, kerjaan aku hanya makan, tidur sama jalan-jalan tiap abis subuh, aku jenuh,"keluh wanita hamil itu.


"Aku akan pikirkan, sekarang lebih baik kamu tidur, tadi udah minum susunya kan?"


Rara mengangguk, ia membaringkan tubuhnya, berhadapan dengan suaminya, ia menatap wajah blasteran itu,


"Mas, sebelum melahirkan aku ingin pulang ke Malang terlebih dahulu, aku kangen sama keluarga aku,"


Fernando diam berfikir, lalu menatap balik istrinya, "bulan depan ya,"


"Dosa mas, pakai begitu, aku nggak melakukan apapun, kamu aja yang berfikir berlebihan tentang aku,"


Fernando menuntun tangan Rara dan meletakkannya di dada bidang miliknya, "kamu tau, selalu seperti ini jika aku melihat kamu tersenyum seperti tadi, apa aku punya sakit jantung? Kenapa ini selalu berdebar-debar?"


Rara bisa merasakan detak jantung lelaki itu, debarannya cukup cepat, hal ini membuat wajah Rara memerah, ia merasa tersanjung dicintai segitu besarnya oleh suaminya, ia berharap akan selalu seperti ini.


"Rasanya aku tidak tenang jika kamu tidak dalam jangkauan aku,"


Rara menyentuh sebelah rahang tegas suaminya, "tapi kita nggak selalu bisa bersama-sama terus mas, kamu harus bekerja, sementara aku pasti harus menetap di suatu tempat jika anak kita sudah lahir, tidak mungkin kan aku bawa bayi ke lokasi proyek?"


Fernando mencium telapak tangan istrinya lembut, "itu yang lagi aku pikirkan, apa aku mengundurkan diri aja ya, biar bisa sama kamu terus selama dua puluh empat jam,"


Rara melotot lalu menggelengkan kepalanya, suaminya benar-benar aneh, "nggak boleh, aku nggak mau punya suami pengangguran,"tolaknya tegas.


"Meskipun aku pengangguran, tapi uang aku banyak ra, bisalah untuk kita hidup sampai tua, tentu dengan cara kamu hidup selama ini,"

__ADS_1


"Aku nggak setuju, pokoknya kamu harus tetap kerja, sedangkan aku mengurus anak kita di rumah, kalau kamu menganggur, aku yang akan keluar cari kerja,"


Fernando menggeleng, "nggak boleh, nanti kamu diambil laki-laki lain kalau kamu kerja, oke aku yang kerja, kamu cukup di rumah tunggu aku pulang kerja,"


"Gitu dong, harus sesuai kodratnya,"


Fernando mengelus perut istrinya yang mulai membuncit, "tadi Aileen nanya sama aku, katanya dia takut, kalau aku nggak sayang dia kalau anak aku udah lahir, aku denger itu jadi ketawa, lucu aja ya, bisa-bisanya Aileen mikir sampai kesana,"


"Seingat aku, Aileen lebih seneng kalau kamu Dateng dibanding ayahnya sendiri,"


"Ya gimana nggak lebih Deket sama aku, saat ayu hamil, hampir tiap pagi aku temenin dia jalan-jalan bawain sarapan hingga bujuk dia kalau lagi berantem sama Ben, Ayu lebih nyaman dan aman sama aku dibandingkan sama suaminya sendiri, kamu jangan cemburu ya! Ayu udah aku anggap kayak adik aku sendiri,"


"Siapa yang cemburu sih, pikiran aku nggak sesempit itu mas,"


"Kamu tau Ra, saat dulu aku dampingi Ayu, aku berfikir seolah aku sedang mendampingi kamu, aku teringat anak pertama kita, sejujurnya aku sedih banget,"


"Aku juga sama mas, saat itu aku merasa bersalah banget sama kamu, aku nggak bisa jaga anak kita dengan baik, maka dari itu aku nggak berani menghubungi kamu, aku takut kamu membenci aku,"


"Udah takdir Ra, mungkin saat itu kita belum bisa jadi orang tua yang baik untuk anak pertama kita,"


"Mas, kamu pengin punya anak laki-laki atau perempuan nantinya?"


"Perempuan,"jawab Fernando tanpa berfikir.


"Hah,, cepat banget jawabnya, memangnya apa alasannya?"


"Aku pengin punya anak perempuan sama seperti anak pertama kita yang perempuan juga, umi juga sama kok,"


"Memangnya kamu tau kalau anak pertama kita perempuan, setau aku, kan kandungan aku masih kecil,"


"Dia kan datengin aku melalui mimpi,"


"Oh.. tapi aku pengin punya anak laki-laki,"


"Aku yakin anak kita perempuan,"


"Iyain biar cepat, sekarang tidur yuk, aku ngantuk,"

__ADS_1


Fernando mengangguk lalu mencium kening istrinya dan merengkuh tubuh istrinya, keduanya tidur saling berpelukan.


__ADS_2