
Tadi Fernando memindahkan kekasihnya terlebih dahulu, menuju kamar miliknya, setelahnya ia melanjutkan lagi pekerjaannya.
Sekitar satu setengah jam ia memeriksa laporan keuangan resort, hingga ketukan pintu ruang kerjanya membuatnya menghentikan pekerjaannya.
Salah satu pekerja resort memberitahukan jika ada seorang wanita mencarinya, ia beranjak dari ruang kerjanya dan berjalan diikuti oleh pekerjanya.
Terlihat wanita dengan dress kuning tadi siang, datang mencarinya, perempuan yang ia ingat bernama Kelly, mantan pacarnya sekitar tiga tahun yang lalu.
"Nando aku minta tolong bisa nggak?"ujar Kelly.
"Mau minta tolong apa?"tanyanya.
"Pura-pura jadi pacar aku,"
"Kenapa memangnya?"
"Ada cowok yang sedang ngejar-ngejar aku, tapi aku nggak suka, dia lagi disini sekarang,"
Fernando diam berfikir, "apa yang harus aku lakukan?"
Kelly terlihat panik, lelaki yang ia maksud sedang berjalan ke arahnya, "do, dia datang, cepat,"
Fernando bingung, tapi tiba-tiba Kelly berjinjit dan mencium bibirnya terlebih dahulu, meski terkejut, Fernando sempat membalas ciuman dari mantan pacarnya itu, hingga sapaan khas yang akhir-akhir ini sering ia dengar, tiba-tiba menyadarkan dirinya, akan perbuatan salah yang ia perbuat.
Bahkan ia mendorong Kelly cukup kasar, hingga wanita dengan dress kuning itu terkejut dan protes, ia menyuruh mantannya itu untuk segera pergi dari sana, dan dengan nada manja Kelly memintanya untuk mengangkat teleponnya.
Ia melihat ekspresi dari calon istrinya, terlihat wanita itu menyunggingkan senyumannya.
Rara meminta untuk pulang, namun ia menolak dengan alasan masih ada pekerjaan yang harus ia selesaikan,
Wanita itu berjalan menuju kamar yang tadi ia tempati, ia mencari sesuatu, ia membuka laci kabinet di samping ranjang juga semua bantal tak luput darinya.
"Kamu mencari apa?"tanya Fernando yang sedari tadi mengikutinya.
"Tas aku kemana?"tanya wanita itu balik.
"Ada di ruang kerja aku, kenapa emang?"jawabnya sambil menunjuk pintu penghubung ruang kerjanya.
__ADS_1
Rara bergegas menuju pintu itu, ia mendapati Sling bag-nya masih berada di sofa ruang kerja lelaki itu, ia memeriksanya, dan menyalakan ponselnya.
Ia mengetikan sesuatu entah apa, setelah itu, ia membuka dompetnya, terlihat wanita itu menghitung uang yang ada di dompet berwarna merah muda dengan gambar strawberry yang terlihat timbul.
Lalu ia berdiri menghadap Fernando, "mas, aku udah pesan taksi online, aku pulang duluan ya!"ujarnya sambil beranjak hendak keluar dari ruang kerja lelaki itu.
Fernando menahan tangan wanita itu, "kan aku bilang, malam ini kita menginap disini, aku masih ada pekerjaan,"ucapnya dengan tatapan tajam.
Rara melepas paksa genggaman tangan besar lelaki itu, "aku mau pulang sekarang, kamu silahkan bekerja,"
"Nggak bisa begitu Amara, kamu harus tetap disini sama aku,"
"Maaf mas aku nggak bisa,"
"Kenapa? Kenapa nggak bisa? Apa kamu marah sama aku?"
Tanya lelaki itu menatap tajam wanita dihadapannya.
Rara menyunggingkan senyumannya, tak banyak bicara, wanita itu berlalu meninggalkan Fernando.
Tepat di lorong tepat di ruangan kerja miliknya, Fernando mencekal tangan wanitanya, "kamu belum jawab pertanyaan aku, kenapa kamu pergi begitu saja,"
Rara berjalan, namun baru beberapa langkah ia berbalik, ia mengambil ponselnya, ia mengutak-atik sejenak dan bertanya,"berapa nomor rekening kamu, aku kembalikan uang kamu yang tadi pagi kamu transfer?"
Fernando menatap tajam wanita itu, nafasnya mulai memburu, tangannya mengepal kuat,
"Ayo sebutkan nomor rekening kamu, kasihan supir taksinya nungguin aku,"ujar Rara mulai gusar.
Fernando menghampiri wanita itu, ia mengambil ponsel milik Rara, ia mengamati ponsel itu, ia menyunggingkan senyumnya, lalu Prang... Ia membanting ponsel ke lantai tepat disampingnya lalu menginjaknya berkali-kali,
Rara menganga melihat perbuatan lelaki itu, ponsel yang susah payah ia beli satu tahun lalu, dengan sistem cicilan dan baru lunas bulan lalu, sekarang tak lebih seonggok barang rongsokan, yang hancur berkeping-keping.
Wanita itu berjongkok, ia memungut bangkai ponsel miliknya, matanya berkaca-kaca, hasil keringatnya sendiri sia-sia sudah, rasanya ingin marah, ataupun memaki lelaki itu, tapi kata-kata itu tertahan di tenggorokannya.
Bukan hanya menghancurkan ponsel milik Rara, Fernando juga merebut paksa Sling bag-nya.
Setelahnya, ia berlalu meninggalkan wanita itu sendiri, beruntung lorong sedang sepi, sehingga tidak ada yang melihat pertengkaran kedua sejoli itu.
__ADS_1
Rara berlari mengejar Fernando yang masuk ke ruang kerjanya.
Lelaki itu tengah duduk di kursi kebesarannya, di hadapannya ada laptop yang tengah menyala, terdengar ketukan jari keyboard perangkat itu.
"Mas, kembalikan tas aku, kasian supir taksinya nungguin aku,"ucap Rara berdiri didepan meja kerja lelaki itu.
Tak ada tanggapan dari Fernando yang sedang sibuk bekerja.
Pegal terlalu lama berdiri, Rara memutuskan untuk duduk di sofa ia bersandar dan menatap langit-langit ruangan itu, sama seperti dikamar yang tadi, ruangan ini didominasi oleh material kayu.
Setengah jam berlalu, lelaki itu masih sibuk dengan laptopnya, sedangkan Rara hanya menghela nafas lelah, seingatnya ia tidak pernah menyakiti laki-laki manapun, bahkan ia pernah disakiti oleh mantan calon suaminya yang pertama, ia juga tidak pernah mempermainkan laki-laki, kenapa sekarang dirinya malah berurusan dengan playboy sialan itu, kesal sekali rasanya.
Sedari dulu, Rara bukan orang yang dengan mudah mengekspresikan perasaannya, ia lebih sering memendam apapun itu, tak ada keberanian dalam dirinya.
Ada salah satu sahabatnya sewaktu SMA, yang selalu mendorongnya untuk lebih berani, namun hingga saat ini keberanian itu tak juga muncul dari dalam dirinya.
Amara Cahyani dengan segala ketakutannya, ia lebih memilih diam menerima atau menghindari masalah yang menimpanya, pernah saat dulu ia gagal menikah, ia memilih mengunjungi kakaknya yang ada di Kalimantan, dan tinggal di sana selama tiga bulan, untuk menyembuhkan luka hatinya.
Dan sekarang, hatinya kembali terluka, calon suaminya yang kedua telah menikah siri dengan wanita lain, dan sekarang saat ia mulai membuka hati, ia malah salah pilih, sialnya ia terjebak dengan playboy yang gagal taubat.
Pintu diketuk dari luar, ada beberapa pekerja resort yang membawakan nampan berisi makan malam, juga satu pekerja yang membawakan paper bag dari salah satu brand ternama.
Melihat hal itu, Fernando menutup laptop-nya, lalu berjalan menuju wanita itu dan duduk disebelahnya.
Ia menyodorkan sepiring pasta kepada Rara, tak lupa memberikan garpu yang telah ia buka tisunya.
Tak ada pembicaraan apapun diantara keduanya, hanya terdengar dentingan garpu yang beradu dengan piring.
Hingga makanan itu telah tandas tak tersisa.
Fernando kembali melanjutkan pekerjaannya, lagi-lagi lelaki itu mendiamkan wanita itu,
Kalau dipikir-pikir bukan kah lelaki itu yang salah, kenapa jadi dirinya yang seolah bersalah disini, seharian ini lelaki itu bahkan sangat dekat dengan wanita lain, dan yang lebih parah, Rara melihat dengan mata kepalanya sendiri, Fernando berciuman dengan wanita dengan dress kuning itu.
Dan yang membuatnya ingin memaki lelaki itu, dikarenakan ponsel yang harganya tak sampai dua juta dengan cicilan dua belas bulan dengan bunga nol persen itu, hancur berkeping-keping karena dibanting dan diinjak-injak oleh lelaki kaya itu.
Namun lagi-lagi amarahnya hanya sampai di tenggorokannya saja.
__ADS_1
Bisa dibayangkan bagaimana rasanya ketika Amarah sudah di ubun-ubun, namun tak bisa dengan mudah melampiaskannya.
Sesak rasanya, tapi Rara tak bisa berbuat banyak.