Istri Untuk Fernando

Istri Untuk Fernando
seratus sembilan belas


__ADS_3

Rara duduk bersama Pradikta di ruang tunggu tak jauh dari ruangan dokter Natasha.


"Kenapa nggak langsung telpon dokternya aja sih Ra? Kalau nggak ke UGD aja biar sekalian, pasti nggak ngantri gini,"ujar Pradikta, ia tak habis pikir dengan sahabatnya, bisa-bisanya hendak melahirkan tetapi masih santai.


Rara hanya tersenyum lalu mengambil ponselnya tas ransel kecil miliknya, ia menghubungi mertuanya, dan meminta nomor mbak Narti, dari seberang telpon, umi Fatimah bertanya, kenapa menantunya meminta nomor mbak Narti juga menanyakan keberadaannya, Rara mengaku ingin makan soto ayam dan sekarang masih diluar.


Usai menyelesaikan pembicaraan dengan mertuanya melalui sambungan telpon, Rara menghubungi mbak Narti meminta tolong untuk mengantarkan koper berwarna merah yang ada di kamarnya menuju rumah sakit dimana dirinya berada, wanita yang hendak melahirkan itu juga sudah memesankan ojek online yang akan mengantarkan mbak Narti.


Rara menyandarkan kepalanya ke bahu Pradikta ketika mulas itu datang kembali,


Pradikta merangkul bahu sahabatnya, mengelus kepala yang tertutup hijab maroon itu,


"Yang kuat ya Ra, ada aku disini,"


"Sakit Ta, perut aku kayak diremas-remas,"keluhnya sambil mengelus perutnya.


Pradikta melepaskan rangkulan itu, ia menunduk lalu berbisik tepat didepan perut sahabatnya, "keponakan om Dikta, yang cantik, sebentar lagi kita ketemu, jadi sabar dikit ya, kasihan Uma kesakitan,"tak lupa mengelus lembut perut buncit itu.


Rara tertawa melihat tingkah sahabatnya, dan ajaibnya, mulas itu seketika berkurang,


"Ra, aku telpon mama sama papa ya, seenggaknya saat nanti kamu mau lahiran ada mama yang temenin kamu didalam,"


Rara menggeleng, "aku nggak mau ngerepotin Tante Arini, dengan kamu disini udah lebih dari cukup buat aku Ta, aku nggak mau heboh, aku butuh ketenangan, jadi ajak ngobrol aku, buat aku mengalihkan rasa sakit ini,"pintanya.


Pradikta melihat sekeliling, masih kira-kira lima orang pasien lagi sebelum akhirnya giliran Rara masuk ke ruang praktek dokter Natasha.


Lelaki itu menghela nafas, ia merangkul kembali bahu sahabatnya, lalu bercerita saat masa orientasi sewaktu keduanya baru masuk Sekolah menengah akhir.


Saat itu Pradikta belum mengalami yang namanya mimpi basah, alias belum Akil baligh, fisiknya memang belum berkembang layaknya anak seusianya, entah mengapa, hingga membuat orang tuanya membawanya ke dokter, menanyakan apakah dirinya normal atau tidak.


"Mama sampai bawa aku ke dukun juga Ra, saking takutnya aku nggak normal,"


Rara tertawa teringat ketika pertama kali dirinya datang bersama Ayudia ke rumah Pradikta, saat itu Arini sangat senang karena putranya mempunyai pacar sampai dua sekaligus.


Tentu saja Pradikta menyangkal, saat itu juga, dirinya mengaku jika dia menyukai Ayudia, Rara justru tertawa karena melihat wajah kecewa Arini.


"Ya kali ya Ta, nggak pernah pacaran tau-tau punya pacar dua, menang banyak dong,"


"Mama itu ada-ada aja,"Pradikta juga ikut tertawa teringat kejadian itu.

__ADS_1


"Tapi ngomong-ngomong soal mimpi basah, kamu mimpi sama siapa Ta?"tanya Rara penasaran, mereka memang cukup terbuka satu sama lain, tapi untuk hal itu, Pradikta tidak pernah mau bercerita.


Mendapat pertanyaan dari sahabatnya, Pradikta tersedak ludahnya sendiri, ia sampai melepaskan rangkulannya, untuk memukul dadanya yang sesak karenanya,


Rara segera memberikan air mineral miliknya, sambil menepuk punggung lelaki itu.


Setelah dirasa tenang, Rara kembali tertawa karena reaksi sahabatnya, "bukan Dia atau gue kan ta?"tanyanya.


Pradikta menggeleng, "jangan ngeledek gue ya Ra, asli aku malu banget, aku nggak nyangka bisa mimpi yang enggak-enggak sama perempuan itu,"


"Iya, jadi siapa perempuan yang ada dalam mimpi kamu Ta?"


Pradikta menghembuskan nafasnya kasar, "Bu Resti,"


Rara melongo mendengar pengakuan sahabatnya, "kok bisa sih Ta? Bu Resti wali kelas kita sekaligus guru biologi kan?"


"Emang ada lagi di sekolah kita selain Bu Resti yang itu?"


"Ya nggak sih, tapi menurut aku wajar sih, kalau sampai kamu mimpi Bu Resti, secara beliau saat itu masih muda, terus bodynya aduhai, ramah, cantik banget pula,"


Wajar Pradikta memerah, "aku mimpinya setelah kejadian itu Ra, saat beliau jadi guru privat aku,"


"Ya gitu lah, oh ya ada satu rahasia yang aku pendam selama ini, apa kamu mau tau?"


Rara mengangguk,


"Selain mama, Ayudia dan kamu, aku bisa dekat dengan Bu Resti, aku menangis di pelukan beliau saat aku dirawat di rumah sakit, gimana menggambarkannya ya, em..."Pradikta menghentikan ceritanya,


Rara menutup mulutnya, ingin tertawa tapi kasihan dengan nasib sahabatnya.


"Tidak ada seorangpun yang tau Ra, selain aku sama beliau dan sekarang kamu,"


Rara mengangguk, wanita hamil itu serius mendengarkan cerita sahabatnya, hingga melupakan untuk apa ia berada di ruang tunggu itu.


"Aku memang trauma dengan perempuan, tapi tidak semua Ra, apalagi Bu Resti adalah wanita yang ada di mimpi aku, sepulang dari rumah sakit,"


"Setelah aku mimpi basah, tak lama mama meminta Bu Resti jadi guru privat aku, usai mengajar di sekolah, beliau memberikan les privat di rumah, dari siang kadang sampai sore atau malam,"


Pradikta menghela nafas, "sebulan setelah beliau rutin menjadi guru privat aku, saat itu mama dan papa sedang keluar kota, selesai belajar, hujan turun dengan lebatnya, sehingga beliau tertahan di rumah aku, entah karena terbawa suasana atau bagaimana, saat kami menonton film bersama sembari menunggu hujan reda, kami berciuman, menyadari hal itu, beliau mengakhiri ciumannya, lalu meminta maaf dan bilang jika kami seharusnya tak melakukan itu, entah setan dari mana, aku malah mencium beliau, hingga terjadilah sesuatu yang harusnya tidak terjadi diantara guru dan murid,"

__ADS_1


Rara menganga mendengar pengakuan sahabatnya, "berarti kamu udah nggak perjaka dong Ta, kenapa kamu bohongi Kami semua?"ujarnya kecewa.


"Denger, ini belum selesai, mau lanjut nggak?"


Rara yang terlanjur penasaran lebih memilih mengangguk,


"Kami sering melakukannya ketika keadaan memungkinkan, kamu tau, itu adalah masa paling bahagia didalam hidup aku Ra, rasanya trauma saat aku dilecehkan sirna sejak kami dekat,"


"Tunggu deh Ta, bukankah Bu Resti sudah bertunangan saat itu? Bukankah tunangannya seorang tentara?"selanya.


Pradikta mengangguk, "itu yang jadi masalah Ra, bisa dibilang hubungan kami terlarang, aku yang memang masih muda penasaran dengan hal semacam itu juga beliau yang jauh dari tunangannya, membuat kami terbuai dalam cinta semu,"


"Papa dan mama aku kerja, ada bibi yang bersih-bersih di rumah, tapi siang bibi pulang ke rumahnya, sehingga aku sendirian di rumah, dari siang hingga mama dan papa pulang kerja, aku selalu bersama Bu Resti, selama lima hari dalam seminggu, bisa dibayangkan bagaimana kami sering melakukannya,"


"Emang Bu Resti nggak hamil ya? Apa kamu pakai pengaman?"tanya Rara masih penasaran.


"Aku nggak pernah pakai pengaman, beliau mengkonsumsi pil kontrasepsi,"


"Jangan bilang kalau kamu trauma bukan karena kejadian waktu di gudang sekolah, tapi karena ditinggal menikah oleh Bu Resti?"tebak Rara.


"Kamu bayangin aja Ra, kami berhubungan sampai seperti itu, tiba-tiba dia ninggalin aku gitu aja, bahkan tiga hari menjelang beliau akad nikah, kami masih bercinta dengan hebatnya di ranjang milik aku, yang buat semakin bingung, saat terakhir kami bercinta, beliau bilang sangat mencintai aku dan membenci tunangannya,"


Pradikta menunduk, ia menutup wajahnya, "Ra, aku memang pernah bilang mencintai Ayu, tapi dengan Bu Resti aku juga mencintainya sekaligus berhasrat padanya, rasanya mengetahui dia menikah, seketika rasa itu menjadi rasa benci, aku dendam padanya, saat aku ingin meminta penjelasannya, beliau meninggalkan aku tanpa pamit, aku dengar beliau mengikuti suaminya bertugas di Surabaya,"


"Jadi itu alasannya kamu kuliah di Surabaya? Kamu ingin mencari beliau?"


Pradikta mengangguk, "tapi aku nggak bisa menemukannya Ra, aku benci dia Ra, aku benci diri aku yang tidak bisa menggapainya, hingga detik ini, aku tidak tau dimana keberadaan beliau,"


Rara menepuk pelan pundak sahabatnya, "ikhlaskan Ta, mungkin dia udah bahagia dengan keluarganya, buka hati kamu untuk yang lain, berdamai sama masa lalu kamu,"


"Aku udah coba Ra, bayangan kebersamaan kami, membuat aku sulit mengikhlaskannya, terlalu sakit,"


Punggung Pradikta bergetar, untuk pertama kalinya, ia bisa jujur bercerita tentang rahasia yang selama ini ia pendam seorang diri, ada rasa lega.


Rara memeluk sahabatnya, ia ikut menangis merasakan rasa sakit itu,


"Kenapa jadi Melo gini sih Ra, tadi kamu minta aku buat ketawa, malah jadi nangis sih,"ujar Pradikta sambil melepaskan pelukan itu,


Keduanya tertawa bersama, menyadari dimana mereka sekarang, beruntung disekitar mereka tidak ada orang.

__ADS_1


Hingga nama nyonya Amara Cahyani dipanggil, barulah keduanya bangkit masuk ke dalam poli kebidanan.


__ADS_2