
Fernando tersenyum lebar, rasanya ada sesuatu yang menggelitik di perutnya, dua kali melampiaskan hasratnya pada istrinya, wanita itu tertidur usai mandi.
Lelaki itu mengelus perut buncit itu, ada gerakan di sana, mungkin tendangan dari bayinya, tak sabar rasanya ingin segera bertemu dengan putri kecilnya.
Ada alasan ia menginginkan anak perempuan, meskipun tau resikonya, ia harus menjaga ekstra putrinya, jangan sampai bertemu lelaki brengsek macam dirinya, selain itu karena anak perempuan akan selalu membutuhkan sosok ayah kandungnya hingga suatu saat putrinya menikah.
Dengan begitu, Rara tak mungkin bisa lari darinya, istrinya akan berpikir berkali-kali untuk meninggalkannya.
Sebenarnya alasan utama hanya itu, bonusnya ia bisa memenuhi keinginan uminya yang sedari dulu ingin memiliki anak perempuan, meskipun bukan anak setidaknya cucu sudah membuat perempuan paruh baya itu bahagia saat mendengar kabar tentang jenis kelamin calon cucunya.
Umi Fatimah segala-galanya bagi dirinya, sudah hampir dua puluh tahun ia menjadi yatim, bisa saja uminya yang notabene janda kaya raya bisa menikah lagi,
Fernando pernah bertanya, mengapa uminya tidak menikah lagi, dan perempuan paruh baya itu menjawab, "umi ingin berkumpul dengan vatre di surga nanti,"
Sebesar itulah cinta uminya pada vatre,
Fernando berharap Rara juga sama seperti uminya, yang dengan setia selalu berada disisi vatre hingga keduanya dipisahkan oleh maut, bahkan hingga saat ini, uminya masih setia.
Tapi ada sesuatu yang menyentil hatinya, mungkin apa yang kemarin dilakukan Pradikta dan Rara, itu sebagai balasan dosa masa lalu untuk Fernando, mengingat bagaimana brengseknya dia dulu.
Tak terhitung jumlahnya, perempuan yang dibuatnya menangis dan patah hati, berkali-kali ia menduakan pacar-pacarnya, mengkhianatinya dan menyakiti perasaan mereka dengan sikap dan ucapan pedas yang keluar dari mulutnya.
Sejak ditinggalkan begitu saja oleh Tamara, Fernando seolah ingin membalas sakit hatinya, karena ulah pacar pertamanya itu, meskipun tidak benar-benar cinta, tapi harga dirinya terluka ketika melihat dengan mata kepalanya sendiri, Tamara berciuman dengan teman sekelasnya saat prom night kelulusan, padahal dua malam sebelumnya, wanita itu tidur dengannya.
Sejak saat itu ia bertekad membuat wanita layaknya ****** seperti Tamara yang dengan mudahnya berciuman dengan lelaki lain, walau tidak sampai tidur bersama, tapi tetap saja saat itu cukup melukai harga dirinya.
Tapi soal Nicholas ia yakin, memang remaja itu putranya, terlihat kemiripan secara fisik dan tes DNA yang ayah-anak itu lakukan demi membuktikan jika dirinya adalah ayah biologis dari Nicholas, hal itu dilakukan supaya bisa memasukan putranya di kartu keluarga miliknya.
Kata umi Fatimah, Nicholas adalah anak diluar nikah tidak berhak untuk dinisbatkan dan mendapatkan hak waris dari dirinya kelak.
Tak masalah untuk nasab, karena Nicholas adalah anak laki-laki, tapi untuk waris, Fernando dan umi Fatimah bersepakat untuk menghibahkan beberapa aset milik keduanya pada remaja itu, sudah ada beberapa yang sudah berubah atas nama remaja itu, tentu itu semua atas sepengetahuan Rara, justru wanita hamil itulah yang awalnya menyingung masalah itu.
Fernando bersyukur memiliki istri yang pengertian dan mau menerima Nicholas bahkan sampai memikirkan masa depan remaja itu.
Sebuah lenguhan menyadarkan Fernando dari lamunannya, ia mengelus kembali perut buncit istrinya, agar wanita itu nyaman, namun sepertinya tidak berefek.
Rara mendesis, ia memegangi perutnya, ia membuka matanya, dan melihat jam dinding yang menempel di dinding kamar, waktu menunjukan pukul sepuluh pagi.
"Apa ada yang membuat kamu tidak nyaman?"tanya Fernando mendengar istrinya mendesis.
"Aku kebelet pipis,"jawab Rara sambil berusaha bangkit.
Fernando yang melihat istrinya kesusahan, bangkit dan menggendong wanita hamil itu menuju kamar mandi lalu mendudukkannya diatas kloset.
__ADS_1
"Kalau udah selesai panggil aku ya!"usai mengatakan itu, Fernando keluar dari toilet.
Tak lama, Rara keluar dari toilet, ia mendapati suaminya sedang menunggunya didepan pintu toilet.
"Kan aku bilang panggil kalau kamu sudah selesai,"ucap Fernando melihat istrinya berjalan melewatinya lalu duduk disisi ranjang.
"Apa kamu lapar?"tanya Fernando, "apa ada makanan yang kamu inginkan sekarang?"tanyanya lagi.
"Aku haus,"jawab Rara singkat, "apa kamu lihat ponsel aku?"tanyanya sambil melihat ke sekeliling kamar.
"Aku ambilkan minum,"
Rara bangkit, "aku ambil sendiri, aku mau cari ponsel aku,"ujarnya.
Fernando mengikuti istrinya berjalan menuju dapur,
Rara mengambil gelas lalu mengisinya dengan air hangat pada dispenser, lalu membawanya ke meja makan, wanita itu duduk di kursi dan mulai meminumnya hingga tandas.
Wanita itu melihat sekeliling ruangan hingga ke ruang tv yang tidak ada penghalang dengan ruang makan, terlihat ponselnya yang berada di meja.
Fernando mengernyit heran, istrinya berjalan menuju ruang tengah dimana ponsel itu berada.
Wanita hamil itu duduk sambil membuka ponsel miliknya, entah siapa yang akan dihubunginya.
"....."
"Syukurlah kalau begitu, aku khawatir banget, nanti aku usahain ke situ,"
"...."
"Tapi Tante ini semua gara-gara aku,"
"Iya, sebisanya Tante aja,"
"..."
"Maaf aku Buru-buru Tante, aku sampai bayangin rasanya,"
"...."
"Sekali lagi maafin Rara ya Tante,"
Wanita itu mengakhiri panggilannya usai mengucapkan salam.
__ADS_1
Fernando yang duduk di kursi panjang bertanya, "siapa Ra?"
"Tante Arini, aku tanya keadaan Dikta, semalam dibawa ke rumah sakit, untung nggak sampai menginap,"jawab wanita itu santai.
Fernando menghembuskan nafasnya kasar, ia pikir setelah apa yang terjadi kemarin, istrinya tak akan berurusan dengan keluarga dari Pradikta lagi.
"Kalau kamu mau marah, jangan sama Dikta, marahi saja aku, ini aku lakukan sebagai wujud rasa tanggung jawab aku karena perbuatan suamiku,"setelah mengatakan itu, Rara memasuki kamar.
Fernando mengikutinya dari belakang, "aku cemburu Ra, kamu istri aku, milik aku, dan aku nggak rela kamu disentuh lelaki lain selain aku, suami kamu,"
Rara menghela nafas, "bagaimana dengan aku?"
"Apa maksud kamu? Memangnya kamu kenapa?"
Rara membuka lemari, mencari gamis yang akan dikenakannya, setelah menemukan yang diinginkannya, ia menutup lemari lalu menatap suaminya.
"Coba kamu jadi aku mas, bagaimana aku menerima kamu dengan segala masa lalu kamu yang kelam, apa perlu aku ungkit satu persatu dari awal dulu kita bersama hingga saat ini? Membayangkannya saja, rasanya aku ingin meninggalkan kamu,"
Rara menghela nafas lagi, rasanya dadanya sesak memikirkan itu, "kamu pikir aku nggak cemburu saat kamu lebih memilih mengobrol dengan mantan teman kencan kamu saat pertama kalinya kita berbelanja, bahkan saat itu kamu tidak menyadari aku pergi dari sana, belum lagi didepan mata aku, kamu berciuman dengan mantan pacar kamu dengan dalih yang menurut aku nggak masuk akal, lalu ada pacar yang baru kamu putuskan, meminta aku untuk meninggalkan kamu belum lagi, ah... Sudahlah aku lelah, kamu egois,"
"Ra, itu hanya masa lalu aku, setelahnya hanya kamu satu-satunya, tidak ada yang lain, kenapa diungkit sih?"
"Maaf tidak seharusnya aku mengungkitnya, tapi aku kesal aja, bisa-bisanya kamu semarah itu sama Dikta yang lebih lama aku kenal dibanding kamu, aku, Ayudia dan Dikta itu sudah seperti keluarga, dulu kami selalu bersama, mungkin Dia dan Dikta ada rasa saling suka, tapi tidak dengan aku, Dikta hanya sebatas sahabat dekat aku, tidak lebih,"
"Tapi kamu sudah punya suami Ra, aku suami kamu, bagaimana bisa kamu masih mau dipeluk bahkan dicium sama dia, bukankah secara agama kamu lebih mengerti dibandingkan aku? Kita sudah pernah membahasnya Ra, tolong jangan ulangi lagi aku nggak rela, aku cemburu,"
"Maaf aku melupakan itu, mungkin karena sudah kebiasaan, aku akan berusaha tidak mengulanginya lagi, tapi aku tidak suka cara kamu berbuat kasar sama Dikta, aku pikir kamu hanya seorang player tapi ternyata aku salah, kamu tak ubahnya preman yang menyelesaikan apapun dengan kekerasan, aku kecewa sama kamu,"ungkap wanita itu sambil berganti baju.
"Oke aku minta maaf soal itu, aku emosi Ra, aku nggak rela,"
"Jangan minta maaf sama aku, harusnya kamu minta maaf sama Dikta dan orang tuanya,"
"Amara..."
"Minta maaf atau aku akan menghilang lagi,"ancamnya.
"Kamu mengancam aku Amara?"
Rara yang baru saja selesai memakai jilbabnya, lalu mendongak dan menatap suaminya,
"Iya aku mengancam kamu, kenapa? Kamu mau pukul aku? Atau mau patahkan kaki aku supaya aku tidak kemana-mana, dengar Fernando jangan pikir karena kamu suami aku, dan aku sungguh mencintai kamu, aku tidak bisa berbuat nekad, aku tidak peduli, kemarin mungkin Dikta yang jadi sasaran amukan kamu, lalu nanti, saat aku berbuat salah, dan kamu marah, kamu bisa saja melakukan hal yang sama ke aku, lebih baik setelah aku melahirkan, kamu kembalikan aku ke mas Andi atau mas Dika,"
Fernando melotot, ia terkejut mendengar ucapan istrinya, ia menggelengkan kepalanya, "Sampai kapanpun kamu akan jadi istri aku Amara,"
__ADS_1
Lelaki itu menghembuskan nafasnya kasar, ia mencoba meredam amarahnya, "oke aku kan minta maaf dengan Dikta dan keluarganya, puas kamu," usai mengatakan itu, Fernando berganti baju.