Istri Untuk Fernando

Istri Untuk Fernando
seratus dua puluh dua


__ADS_3

Natasha memeriksa kembali istri dari sahabatnya, sambil menanyakan beberapa hal,


"Dikit lagi Ra, sudah pembukaan delapan, semalam abis berhubungan ya?"tanya dokter kandungan sambil tersenyum.


Wajah Rara memerah malu,


"Nggak usah malu gitu Ra, santai aja, katanya nggak tega, bisa aja nih Dodo,"canda Natasha, "jangan tegang Ra, santai aja, ngobrol lagi gih,"lanjutnya mempersilahkan kedua sahabat itu melanjutkan pembicaraan yang terhenti.


Rara mengangguk, tubuhnya yang tadi terlentang dengan kaki menekuk karena diperiksa dokter, kembali ia luruskan dan kembali memiringkan tubuhnya menghadap Pradikta.


"Ta, menurut kamu, nama yang cocok buat anak aku siapa?"tanya Rara.


Pradikta menggenggam tangan sahabatnya, ia menaikan matanya menatap plafon ruangan dengan dominasi warna putih, setelah beberapa saat ia mengalihkan pandangan menatap sahabatnya, "menurut aku, perpaduan antara nama kamu sama suami kamu,"


"Iya aku ngerti, tapi masih bingung,"


"Bukannya masalah nama itu hak suami kamu Ra?"tanya Pradikta.


"Iya sih, tapi aku ingin satu kata aja, kalau nggak nama panggilannya aja deh, ayo kasih pendapat dong,"


"Nama lengkap suami kamu siapa Ra?"


"Fernando Wolfer,"


Pradikta terdiam sejenak, "nama panggilan aja kan Ra?"tanyanya.


Rara mengangguk.


"Fernando, Amara, Nando, Rara..."Lelaki itu sampai mengernyitkan keningnya, "karena anaknya cewek, gimana kalau dipanggil Rana, gabungan Ra nya dari Rara, na dari Nando,"


Rara mengangguk, "0Ta, kok tiba-tiba aku pengen makan kroket ya, tadi aku lihat di kantin, waktu kita makan soto, kayaknya enak deh,"setelah mengatakannya, Rara sampai menelan ludahnya,


Mendengar keinginan sahabatnya, Pradikta bangkit, "aku beliin ya Ra, kamu mau berapa banyak?"tanyanya.


"Aku pengin lima kalau ada,"jawabnya.


"Ya udah kamu tunggu sini, aku ke kantin dulu,"


Rara menggeleng, "kamu sini aja ta, temenin aku,"


"Terus kalau aku disini siapa yang mau disuruh beli, kamu ada-ada aja sih,"


Rara memanggil dokter Natasha,


"Kenapa Ra? Apa udah mules lagi?"tanya wanita yang sudah berganti baju berwarna hijau itu.


"Mbak Asha, bisa minta tolong, suruh orang buat beliin aku kroket yang ada di kantin, lima aja,"jawabnya.

__ADS_1


Dokter kandungan itu terkejut dengan permintaan pasiennya, tapi tak berani membantah, teringat bagaimana suami dari pasiennya segalak apa, sehingga terpaksa ia  menyetujuinya.


Natasha keluar dari ruangan itu, entah siapa yang hendak dimintai tolong,


Pradikta tertawa kecil, "kamu ngerjain dokternya Ra?"


Rara Ikut tertawa, "sekali-kali Ta, ngobrol lagi yuk,"


Pradikta mengangguk, "Ra, soal perempuan yang tadi kamu temui di cafe, bukankah dia itu mantan pacar suami kamu? Memangnya kamu nggak takut, suami kamu direbut atau kembali lagi sama dia? Bagaimanapun mereka pernah berhubungan bukan?"tanyanya heran.


"Sama sekali tidak, Sejak dia putus dengan mas Nando, hidupnya terpuruk Ta, yang tadinya tinggal di apartemen sekarang tinggal di kontrakan didalam gang, dulu dia model, tapi sekarang kerjanya jadi kasir supermarket, aku jadi merasa bersalah ta, karena bertemu aku, mas Nando nggak mau kembali sama dia,"jelasnya.


"Udah jalan hidupnya Ra,"


"Iya aku tau, tapi aku cuman bantuin dia dikit kok,"


"Dikit gimana sih Ra, kamu beliin dia motor baru, dibayar lunas lagi,"


"Itu karena mau aku ajak dia join  bisnis online aku, selain jualan dia bisa jadi modelnya, masalah motor itu untuk transportasi dia,"


"Semoga dia nggak mengkhianati kamu Ra,"


"Aamiin,"


Umi Fatimah datang bersama Anna masuk ke ruang bersalin itu, terlihat raut terkejut dari wajah kedua wanita paruh baya itu.


"Apa ini sahabat kamu yang dipukuli oleh Nando beberapa hari yang lalu?"tanya umi Fatimah melihat sisa-sisa lebam di wajah Pradikta.


Rara mengangguk sambil tersenyum,


"Terus kalau sampai Nando lihat kamu sama dia lagi, apa anak umi nggak bakal ngamuk lagi?"tanyanya lagi.


"Ya nggak boleh lah mi, lagian Dikta yang antar Rara kesini, jagain sampai sekarang, dia yang hibur Rara supaya nggak tegang,"jawabnya santai, terkesan kurang ajar, tapi itu kenyataannya.


Giliran Anna angkat bicara, "jadi kamu yang menyebabkan Ben dan Ayu bertengkar hebat, hingga mantu saya terbaring koma hingga sekarang,"


"Tapi Dikta juga yang bangunin sahabat aku, bukan anak Tante yang bisanya marah-marah dan mengamuk sama Ayu,"bantah Rara, entah keberanian dari mana, sehingga wanita penakut itu berani melawan dua wanita paruh baya itu.


Pradikta mencoba menenangkan sahabatnya, "udah Ra, jangan marah-marah, ingat tekanan darah kamu harus normal,"


"Iya Ta, kerongkongan aku kering, tolong ambilkan air, aku haus,"ujarnya.


Pradikta mengambilkan air hangat yang disediakan pihak rumah sakit,


Rara meminumnya hingga tak tersisa, ia meminta sahabatnya meminta lagi pada perawat yang berjaga.


Menyadari jika menantunya tidak boleh tertekan, umi Fatimah menghampirinya dan meminta maaf,

__ADS_1


"Harusnya Rara yang minta maaf dan sadar diri,"ujarnya.


Belum sempat membalas ucapan menantunya, Natasha datang membawa pesanan Rara,


"Nih Ra pesanan kamu,"ujar dokter kandungan itu.


Lagi-lagi kedua perempuan paruh baya itu terkejut dengan kelakuan Rara,


"Ta, suapi aku,"perintahnya pada sahabatnya,


Pradikta melirik sekilas kepada perempuan paruh baya yang sedari tadi menatapnya tajam, tapi ia tak ada pilihan selain menuruti kemauan sahabatnya yang sebentar lagi akan melahirkan.


Rara menerima suapan dari sahabatnya, ia mengunyah dengan wajah berbinar, rasanya puas sekali keinginannya terwujud,


Tiga kroket habis oleh wanita itu makan, setelah meminum air hangat lagi, Rara berucap syukur,


"Makasih ya Ta, kamu udah mau temenin aku, sisa dua, kamu yang habiskan ya, aku liatin,"


Terpaksa Pradikta memakan sisa kroket milik sahabatnya, walau rasanya kerongkongannya sulit menelan, karena tatapan tajam dari kedua wanita paruh baya itu, "Iya Ra, ini kewajiban aku sebagai sahabat kamu,"


Rara meringis, ia berusaha mengatur nafasnya, "Ta, bukannya aku mau ngusir, tapi kayaknya anak aku udah mau lahir deh, tapi aku minta kamu tunggu aku diluar ya, kalau ada yang jahat sama kamu, kasih tau aku nanti, pokoknya kalau aku keluar dari ruangan ini, kamu nggak ada di pintu keluar, aku bakal marah banget,"ucapnya memperingati sahabatnya,


Rara sengaja mengatakannya dengan suara agak tinggi, supaya orang-orang yang ada di ruangan itu mendengar ucapannya.


"Iya Ra, aku tunggu diluar, kamu yang kuat ya, pokoknya aku nggak mau tau, kamu harus sehat, Pradikta sayang Amara,"usai mengatakannya, Pradikta mencium punggung tangan sahabatnya dan mengusap kepala yang masih tertutup hijab marun itu.


Natasha yang paham, langsung memerintahkan bidan dan perawat yang berjaga untuk segera bersiap membantu kelahiran istri dari salah satu pemilik saham rumah sakit ini.


Sementara Anna ijin keluar, hanya umi Fatimah yang menemani menantunya.


"Pokoknya tunggu aba-aba dari aku ya Ra, baru kamu mengejan,"ujar Natasha yang sudah bersiap dibawah sana bersama bidan.


Rara memegang tangan mertuanya, seolah minta dikuatkan, entah mengapa ia tak memikirkan suaminya.


"Tarik nafas panjang, terus hembuskan sambil mengejan, ayo Ra, kamu bisa,"ucap Natasha melihat dibawah sana mulai terbuka.


Percobaan pertama belum berhasil,


Rara meminta diambilkan minum, tenggorokannya kering,


Umi Fatimah sigap mengambilkan menantunya minum,


Satu gelas air hangat langsung tandas,


Umi Fatimah menyeka sudut matanya, "yang kuat ya Ra, bentar lagi ketemu sama anak kamu,"ujarnya memberi semangat pada menantunya.


Hingga pintu terbuka, Fernando datang terengah-engah.

__ADS_1


__ADS_2