
Fernando kembali ke ibukota keesokan harinya usai mengantar putranya ke sekolah.
Dirinya berjanji pada Aileen akan datang menemui balita itu.
Sebelum ke rumah sakit ia mampir terlebih dahulu ke minimarket yang ia lewati.
Bukan hanya cokelat batangan, tetap susu uht rasa cokelat juga dibelinya.
Sampai di rumah sakit, ia menghentikan langkahnya saat di lobby, ada kedai kopi yang menyediakan cupcake dengan toping cokelat, ia membeli satu kotak, juga membeli milkshake strawberry dan sepotong kue dengan rasa yang sama untuk dirinya sendiri.
Sesampainya di kamar rawat Ayudia, dirinya disambut dengan senyuman balita yang sedari tadi menunggunya.
Ayudia sudah bisa berjalan, walau belum terlalu cepat, wanita itu duduk di sofa bersebelahan dengan Ainsley.
Sementara Aileen duduk di pangkuannya, masih saja mengoceh menceritakan betapa membosankannya bermain dengan saudara kembarnya yang kaku.
"Si AA, masih aja suka Strawberry, sama kaya temen Ayu,"celetuknya saat sedang membuka paper bag untuk mengambil cupcake cokelat permintaan Aileen, "ngomong-ngomong, Amara kemana ya! Terakhir ketemu waktu di rumah Dikta, kenapa aku bisa lupa sama sahabat sendiri sih,"keluhnya.
Fernando yang sedang berbicara dengan Aileen menghentikan ucapannya, ia terdiam mendengar Ayudia membicarakan tentang Amara.
Ayudia mulai memakan cupcake sambil menyuapi Ainsley, tak lupa memberikan pada Fernando agar menyuapi Aileen.
"AA ingat temen Ayu, yang namanya Amara kan? Itu loh yang mau AA deketin tapi Ayu larang, abisnya AA playboy masa dapet cewek kayak Amara yang polos, kasihan Amara dong,"
Fernando tak menanggapinya, ia lebih memilih menyuapi Aileen sambil sesekali mengomentari ucapan balita itu.
"Si AA kenapa diem aja sih, AA masih marah, gara-gara Ayu larang deketin Amara ya!"
Fernando mencoba bersabar, "makan dulu Ayudia, nanti keselek kalau ngomong mulu,"
Ayudia memanyunkan bibirnya, hal itu malah membuat Aileen tertawa melihat tingkah bundanya.
"Dengelin kata papa Nando, nanti nggak dibeliin cokelat lagi bunda,"celetuk Aileen.
Usai makan cokelat itu, Aileen mengajak Fernando untuk bermain bersama di ruangan sebelah yang diubah layaknya ruangan bermain anak, sejak Ayudia koma.
Hal itu tentu mudah bagi Benedict, mengingat lelaki itu pemilik sebenarnya rumah sakit ini.
Ainsley menyusul setelah beberapa saat, jadilah Fernando bermain dengan dua anak kembar itu hingga jam makan siang tiba, dan Anna datang, membawakan makan siang untuk cucunya.
"Makasih loh do, udah jagain cucu Tante, oh ya, tadi Tante bawain makan siang buat kamu di kamar sebelah,"ucapnya, "Aileen sama Oma dulu ya, papa Nando gantian temenin bunda makan siang,"
Aileen mengangguk sambil memanyunkan bibirnya.
Fernando mengetuk terlebih dahulu ruang rawat Ayudia, di sana sedang ada Natasha.
"Eh do, gue ditawarin makan siang sama Tante Anna, sekalian buat Lo katanya,"ujar wanita yang baru saja melepas jas putih kebesarannya menyisakan kemeja biru toska.
Fernando menuju wastafel untuk mencuci tangannya.
Ayudia sedan memakan makanan yang disediakan rumah sakit, sedangkan Natasha mulai membuka bekal yang dibawa Anna.
Wanita itu menyiapkan juga buat sahabatnya.
Tak ada obrolan dalam makan siang kali ini, hanya terdengar suara sendok beradu dan gigitan kerupuk udang yang dibawa Anna.
Hingga makanan itu tandas dan dibereskan oleh Natasha.
Dokter kandungan itu tak segan mencuci kotak bekal di wastafel.
"Aa masih marah sama Ayu?"tanyanya.
Fernando yang sedang mengupas apel, menghentikan kegiatannya, "marah kenapa sih ayu? Perasaan biasa aja,"jawabannya.
"Dari tadi AA diem aja sih, Ayu bingung,"
"Lagi pengen diem aja Ayu,"
"Nggak mungkin, aa pasti lagi ada masalah ya?"tanyanya.
Fernando menyodorkan piring berisi buah apel yang telah dipotong-potong.
__ADS_1
"Setiap orang yang masih hidup pasti punya masalah Ayu,"jawabnya.
"Tuh kan bener, AA nggak mau cerita gitu sama Ayu?"
"Masalahnya nggak berat kok ayu, urusan kerjaan aja,"
"Maaf deh A, gara-gara Ayu, aa jadi tertahan disini buat jaga Ayu sama si kembar,"ungkapnya merasa bersalah, "kata dokter, beberapa hari, Ayu bisa pulang dari sini, tapi bisa nggak kalau Ayu pulangnya ke rumah ibu yang ada di Bogor?"
"Udah di omongin ke Tante Anna belum?"tanya Fernando.
"Tadi udah, kata ibu terserah Ayu,"
Natasha ikut nimbrung, mencomot potongan apel itu,
"Do, Oscar ngajakin Lo rapat ini, Lo ditelpon kenapa nggak diangkat-angkat?"ucapnya.
"Hape gue ketinggalan di mobil, entar abis Aileen tidur siang gue naik deh,"
"Satu lagi, Alex tadi pesan kalau gue ketemu Lo, nanti malem disuruh ngumpul di cafenya Rama, gue nanya ada acara apaan, masa Alex bilang urusan laki-laki, kurang ajar bener tuh orang,"ujar Natasha kesal.
"Ya udah nggak usah tau,"ucap Fernando santai.
"Kenapa sih seharian ini cowok-cowok lagi pada nyebelin banget?"ungkapnya kesal.
"Lo kali yang lagi PMS, makanya sensi, perasaan biasa aja deh,"timpal lelaki blasteran itu.
"Gue udah kelar PMS nya,"bantah Natasha.
Ayudia tertawa melihat perdebatan dua sahabat itu.
Tak lama Aileen datang menghampiri Fernando, meminta lelaki itu menemaninya tidur siang.
Lelaki blasteran itu hanya menuruti kemauan balita perempuan itu.
Fernando membaringkan diri diantara dua balita yang mengapit dirinya, ia membacakan cerita dari buku yang diberikan oleh Anna.
Baru dua halaman buku dibaca, kedua balita itu terlelap, dengan hati-hati, ia beranjak dari sana dan mematikan lampu ruangan.
Didepan lift Natasha tengah menunggunya, "naik sha,"ajaknya.
Didalam lift itu hanya ada mereka berdua, "gue denger dari Sandra, Amara pergi lagi do?"tanyanya.
Fernando terdiam, ia menatap pintu lift, di sana terlihat bayangannya dan sahabatnya.
Hingga lift terbuka, ia belum juga membuka suara, membuat Natasha heran.
Keduanya tiba di ruangan Oscar, seperti biasa, Fernando masuk tanpa mengetuk pintu, tentu tak akan ia dapati hal aneh di ruangan direktur rumah sakit.
Oscar sedang berada di balik mejanya, entah apa yang dilakukannya.
Lelaki yang memakai kemeja maroon itu, melirik sekilas kedua sahabatnya yang duduk di sofa.
"Bentar ya, gue nunggu Alex sama Rama dateng,"ujar Oscar sambil mengetik sesuatu di laptop miliknya.
"Lah bukannya nanti malam ngumpulnya?"tanya Natasha heran.
"Abis isya gue ada operasi, kemungkinan lama, jadi gue bilang ketemu sekarang aja,"jawabnya.
"Emang mau ngomong apa sih? Gue mau visit jam dua,"ujar Natasha sambil melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.
Belum sempat menjawab, Alex datang bersama Sandra lalu menyusul Rama dan Sinta beserta Rayan.
"Karena udah pada ngumpul gue mulai ya!"ucap Oscar.
Semuanya tengah duduk di sofa saling berhadapan.
"Gue dengar dari Alex, Amara ngilang do?"tanya Oscar.
Raut terkejut terlihat jelas di wajah, Rama dan Sinta.
"Lo udah pulang ke rumah emang?"tanya Rama.
__ADS_1
Fernando mengangguk, "gue bahkan baru tadi Dateng dari Sukabumi,"jawabnya.
"Emang ada masalah apaan Lo sama Amara?"tanya Oscar.
Fernando menggeleng, "gue nggak tau, gue pusing banget sumpah,"keluhnya.
"Gue liat, emang nomornya terakhir aktif awal tahun ini, gue juga nggak ngeh lagi,"ujar Sandra angkat bicara.
Fernando menatap Sinta, "sin, gue minta alamat, tempat Lo kabur bareng Rara dong,"
Sinta yang sedari tadi diam, terkejut dengan permintaan Fernando.
Ibu satu anak itu mengangguk, lalu teringat sesuatu, "kayaknya gue masih nyimpen nomornya Fitri deh, mending gue telpon dulu deh, dari pada jauh-jauh kesana ternyata Rara nggak ada kan?"
Sinta mengutak-atik ponselnya, hingga ia menemukan nomor Fitri, ia melakukan panggilan, lalu menyalakan mode loud speaker.
Usai mengucap salam dan berbasa-basi dengan Fitri, ia bertanya, "fit, disitu ada Rara nggak? mbak hubungi nomornya nggak aktif ya?"tanyanya.
"Oh itu hapenya mbak Rara jatuh di stasiun, terus nggak sengaja terinjak sama orang yang kebetulan lewat, rusak deh,"jawab Fitri dari seberang sana menjelaskan.
Orang-orang yang ada di sana bernafas lega,
"Terus Rara mana? Mbak mau ngomong dong,"pintanya.
"Yah sayang banget, mbak Rara baru tadi pagi dijemput temennya balik ke Jakarta,"
Mendengar hal itu, mereka saling pandang, seolah bertanya siapa?
"Yang jemput namanya siapa Fit?"tanya Sinta lagi.
"Em... mbak Titi namanya, orangnya cantik banget kayak model,"
"Oh ya udah makasih banyak ya fit, salam buat Mbah Sarmi sama ibu kamu,"
"Iya mbak Sinta, nanti Fitri sampaikan,"
Usai mengatakan salam, Sinta mengakhiri panggilannya.
Mereka saling pandang,
Sandra bergumam, "namanya Titi cantik kayak model, orang yang Deket sama Amara selain kita-kita,,,"
Semuanya terdiam sibuk dengan pikirannya masing-masing,
"Eh Titi itu Cristy bukan sih?"tanya Sandra, "setau gue Rara bukannya nggak punya banyak temen disini, yang cantik kayak model ya cuman mantan Lo do,"lanjutnya sambil menatap Fernando.
"Iya bener, Cristy itu Titi, Lo pada ingat waktu kita ngumpul pas bulan kemarin, Cristy kan ikutan dan akrab banget sama Amara,"ujar Natasha.
"Sejak kapan bini gue akrab sama mantan gue?"tanya Fernando heran.
"Lo heran apalagi kita-kita do,"jawab Alex yang diiyakan oleh semua orang.
"Jalan satu-satunya Lo samperin Cristy,"saran Alex.
"Kalau nggak salah, Cristy balik lagi ke kontrakannya dulu, gue pernah denger Rara cerita,"ucap Sandra.
"Kenapa mesti urusan sama itu cewek lagi sih?"ujar Fernando memegangi kepalanya.
"Bini Lo kelewat baik do, ya kali malah ngajakin mantan pacar suaminya temenan,"celetuk Alex.
Fernando berdiri,
"Mau kemana Lo?"tanya Oscar.
"Mau jemput bini gue, mau apalagi?"
"Do, menurut Lo, perjalanan naik kereta berapa lama nyampenya?"tanyanya lagi.
"Baru sampai sore kayaknya, mending malem aja Lo ke sana,"ujar Alex, "entar gue temenin,"
Fernando mengangguk, dan menuruti ucapan sahabatnya.
__ADS_1