
Rara merebahkan tubuhnya di ranjang usai terlebih dahulu mengganti baju.
Ia menyentuh sisi ranjang yang biasa ditempati suaminya, terasa dingin, seperti hubungan keduanya saat ini.
Bohong kalau dirinya tidak cemburu, mendengar cerita Pradikta soal kedekatan antara suaminya dan sahabatnya saja rasanya hatinya terbakar.
Jika wanita seperti mantan-mantan teman kencan suaminya, ia tidak terlalu cemburu, tapi ini sahabatnya.
Rara tau Ayudia adalah wanita baik-baik, itu yang jadi masalahnya, ada ketakutan dalam dirinya, jika suaminya berpaling darinya.
Ini pertama kalinya sepanjang dirinya mengenal Ayudia, ia merasakan perasaan cemburu pada sahabatnya sendiri, apalagi status yang telah berubah.
Bisa dibilang sekarang sahabatnya telah menjanda, tak menutup kemungkinan jika Fernando akan berpaling pada Ayudia, apalagi keduanya sangat dekat.
Ah... Memikirkan lalu membayangkannya saja membuat matanya berkaca-kaca, sedih tentu saja, ia harus berbagi kasih sayang suaminya dengan wanita lain, apalagi mereka telah lama tidak bertemu.
Perasaan cemburu membuatnya sesak, air matanya luruh sudah, dirinya mulai terisak, punggungnya bergetar, "kenapa jadi nangis sih? Aku nggak boleh sedih,"gumamnya sendiri.
Rara menghapus air matanya yang tak mau berhenti mengalir, "berhenti dong, malah tambah deres sih,"keluhnya, sambil terus mengusap air matanya, bahkan ingusnya mulai mengalir.
Entah mengapa kali ini ia sedih sekali, apa sesakit ini rasa cemburu, padahal hanya mendengar cerita, bagaimana jika dirinya melihat langsung?
Hal itu tak mau ia bayangkan, karena memikirkannya saja, air matanya tak berhenti menangis.
Apa dirinya terlalu takut kehilangan suaminya?
Sehingga rasanya sakit sekali, dadanya sesak.
Pintu kamar terbuka, tau siapa yang datang, Rara yang memunggungi pintu, menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut tebal, ia terlalu malu pada suaminya, ia tak ingin lelaki itu tau kalau dirinya tengah terbakar api cemburu.
Terdengar pintu kamar mandi terbuka dan tertutup, mungkin suaminya tengah membersihkan diri.
Rara membuka selimutnya, lalu bergegas keluar dari kamar, tujuan pertamanya adalah dapur, ia butuh membasahi kerongkongannya yang kering, mungkin akibat menangis.
Setelahnya, ia akan duduk sejenak dihalaman belakang sampai perasaannya membaik mungkin.
Dengan hati-hati ia menutup pintu di samping dapur sambil menguncinya dari luar, ia tak ingin suaminya melihatnya dalam keadaan seperti ini.
Ia mendongak menatap langit, selain untuk menghentikan air matanya, dirinya ingin menatap langit malam yang gelap, tak ada bintang satupun, tentu saja, sejak kapan di kota seperti Jakarta terlihat bintang-bintang, ada pernah ia lihat tapi tidak lebih dari jari ditangannya.
Berkali-kali ia menarik nafas dan menghembuskannya, ini ia lakukan supaya perasaannya lebih tenang.
Rara mencoba memikirkan hal menyenangkan, mungkin saat dirinya mengunjungi pantai selatan bersama para pekerja yang sebagian besar ibu-ibu tetangga Mbah Sarmi.
Rara tersenyum kecil mengingatnya, sungguh hari yang membahagiakan untuknya.
Atau saat dirinya, Fitri dan Cristy sedang menjalani sesi Foto di pematang sawah yang membuat kaki Fitri masuk ke dalam sawah, sehingga sebelah kakinya penuh lumpur dan bau.
Rasanya menyenangkan sekali saat itu, sejujurnya ia malas untuk kembali kesini, tapi nasehat Cristy membuatnya tersadar akan perannya sesungguhnya.
"Ra, kamu seorang istri, sudah selayaknya menuruti dan mengikuti suamimu, Arana butuh sosok Ayah, aku pernah merasakan rasanya hidup tanpa seorang ayah, Kamu tau hidup aku sekarang kayak apa kan?"
__ADS_1
Ucapan mantan pacar suaminya membekas dihatinya.
Rara tersadar, harusnya ia lebih bersyukur tentang apa yang didapatkannya.
Bukankah berkali-kali Fernando bilang, jika lelaki itu tak akan melepaskannya hingga mati, apakah Rara boleh percaya diri dengan pernyataan suaminya?
Air matanya tak lagi mengalir, tapi setelahnya, dirinya sadar matanya pasti sembab, dan itu mungkin akan disadari oleh suaminya.
Ketukan pintu menyadarkan dirinya, suaminya memanggilnya.
"Amara, aku tau kamu disitu, buka pintunya kalau tidak, aku akan dobrak pintu ini,"
Rara menghela nafas sekali lagi, padahal dirinya ingin menenangkan diri sebentar, kenapa lelaki itu tak sabar.
Dengan terpaksa Rara membuka pintu cokelat itu, ia memilih menunduk tak berani menatap mata hijau suami.
Ia melewati begitu saja lelaki itu, ia berjalan menuju kamar, ia tau jika sudah begini, suaminya pasti akan mengikutinya, malu sekali rasanya.
Belum sempat mencapai gagang pintu kamar, tangannya telah dicekal suaminya, "kamu ngapain malam-malam diluar sendirian?"tanyanya.
Rara menunduk tak berani menunjukkan mata sembab miliknya,
"Kenapa menunduk, kamu nggak mau lihat aku Amara?"
Wanita itu menggeleng, terdengar hembusan kasar lelaki dihadapannya.
Tangan Fernando menyentuh dagu istrinya, agar kedua mata itu saling bertatapan.
Alangkah terkejutnya lelaki itu melihat mata sembab Rara, "kamu abis menangis Amara? Apa kata-kata aku ada yang menyakiti kamu, sehingga kamu begini?"
"Lalu kenapa? Apa karena larangan aku soal Cristy dan sahabat kamu?"
Wanita itu menggeleng lagi.
Fernando memeluk istrinya dan membisikkan kata maaf, sedangkan Rara membalas pelukan itu.
Hangat seperti biasanya, ah... Akhirnya ia bisa memeluk suaminya setelah sekian lama, rasanya nyaman sekali.
Belum puas rasanya, tetapi lelaki itu melepaskan pelukannya terlebih dahulu,
"Sekarang kita tidur ya, udah malam,"ucap Fernando sambil merangkul istrinya menuju kamar mereka.
Rara pergi ke kamar mandi terlebih dahulu, ia butuh membasuh wajahnya agar lebih segar, rasanya lengket karena air mata.
Di atas ranjang, Fernando menunggu istrinya sambil memeriksa pekerjaan di I-pad miliknya.
Melihat istrinya keluar dari kamar mandi Fernando mematikan i-pad nya dan meletakkannya di atas kabinet.
Rara merebahkan diri terlentang, menatap langit-langit kamarnya, entah mengapa kantuknya justru hilang setelah membasuh wajah.
Fernando menyingkirkan guling yang jadi pembatas antara dirinya dan istrinya, lalu membaringkan tubuhnya miring
__ADS_1
menghadap sang istri.
Tangan besar itu mengelus lembut pipi sebelah kiri istrinya, "apa yang sedang kamu pikirkan?"tanyanya.
Rara melirik sekilas, "banyak,"
"Bisa beritahukan aku salah satunya,"
"Aku bersyukur suamiku kembali dengan selamat,"
"Tentu aku akan kembali, hanya saja waktunya tidak sesuai yang aku ucapkan, karena ada beberapa masalah di sana,"
"Apa kamu terluka?"
"Tidak sama sekali,"
Terdengar ucapan rasa syukur dari mulut istrinya.
"Apa kamu pikir aku tidak akan selamat?"tanya Fernando masih mengelus sisi pipi istrinya.
Rara berbaring miring menghadap suaminya, "kalau kamu jadi aku kira-kira bagaimana? Ketika suamiku bilang akan pulang sebulan lagi, tapi sampai dua bulan lebih aku menunggu, tak ada kabar apapun, bahkan sekedar chat ataupun panggilan,"
Fernando mengelus pipi di satu sisi yang lain, "segala alat komunikasi aku disita, supaya aku tidak meninggalkan jejak apapun, maaf aku lupa menjelaskannya,"
"Apa semua sudah selesai?"
Fernando mengangguk, "seperti biasanya,"
"Apa kamu akan kembali lagi kesana dan menjalankan misi berbahaya yang lain?"
Fernando mengangkat bahunya, "untuk saat ini tidak, aku dan Ben hanya dipanggil jika ada misi khusus saja,"
"Maksudnya?"tanya Rara bingung.
"Kami hanya menjalankan misi yang sulit ditangani anggota lain,"
Rara menghela nafas, "apa tidak bisa kamu berhenti?"
"Tidak setiap saat kami melakukannya, jadi kamu nggak usah khawatir, aku tidak akan meninggalkan kamu sering-sering kok,"
"Bukan itu maksud aku, bisakah kamu bekerja yang tidak membahayakan nyawa kamu, oke nggak usah pikirkan aku, setidaknya Arana butuh ayah hingga dewasa,"
"Aku akan selalu berhati-hati Rara sayang, suami kamu lebih hebat lebih dari yang ada dipikiran kamu,"
"Terserah kamulah, aku mau tidur,"ucapnya kesal sambil membelakangi suaminya.
Fernando memeluk istrinya dari belakang, "kamu marah?"
"Memang marahnya aku ada pengaruhnya buat kamu?"tanya Rara kesal.
"Tentu saja karena kamu perempuan yang sangat berarti buat aku,"
__ADS_1
"Tidur mas, udah malam, besok ngobrolnya dilanjut,"ucapnya sambil menutup mulutnya yang hendak menguap.
"Baiklah Rara sayang, Ich liebe dich,"ungkapnya lalu mencium rambut panjang istrinya.